
Apa aku harus mengejar Novi yang tengah manyun dengan berlalu pergi itu? Oh, tentu tidak. Aku malah langsung menuju ke ruanganku, karena aku sangat sibuk dengan jadwalku yang banyak digantikan oleh Dewi dan Ria. Tapi aku yakin, dokumen sudah menumpuk di meja kerjaku.
Sebenarnya, lebih baik lelah otot ketimbang lelah pikiran begini. Karena jika otak terlalu capek, aku malah lebih sulit untuk terlelap.
Hm, hm, hm. Belum selesai juga rupanya.
"Pak Ghifar, ada tamu udah nunggu dari jam sebelas tadi." Dewi selalu bertutur profesional, jika berada di lingkungan kantor.
"Hmm…." Aku pura-pura tidak melihat ke arah seorang wanita yang berada di sofa ruanganku.
Aku langsung berjalan cepat ke arah meja kerjaku, dengan membawa jadwalku hari ini yang sudah tersusun rapi dan memiliki banyak ceklis. Di waktu yang sudah terlewat, jadwal ini sudah dikerjakan oleh Dewi dan Ria.
"Pak Ghifar…." Derap sepatu hak, langsung bergerak cepat mengikuti langkahku.
Ya ampun, lelahnya aku ini. Tak mantan istri, tinggal perempuan tengil yang sekarang terlihat lebih menarik dari istriku.
Aku tidak menyesali waktu yang mendekatkanku dengan Aca. Aku hanya menyesali, karena sudah dipertemukan dengan perempuan yang lebih menarik di mataku. Kenapa para wanita baru jauh lebih menarik ketimbang istri kita di rumah?
"Aku mau ngajak untuk makan siang bareng." Ternyata dia agresif juga seperti istriku.
Ampun sudah. Satu perempuan agresif yang menemani hidupku saja, sudah membuatku kehabisan kata-kata jika ia mulai keras kepala. Karena perempuan agresif, selalu diikuti dengan sifat keras kepala.
"Aku udah makan siang sama istri di rumah."
Hufttt….
Dengan papahku malah, aku hanya sengaja membuatnya sadar saja.
"Tapi kita sekalian ingin membahas beberapa rencana, Pak."
Aku tak menghiraukannya, aku lekas duduk di kursi kebesaranku. Sungguh, sebelumnya aku tak pernah sok sombong seperti ini. Pada stafku saja, aku menghargai mereka ketika diajak berbicara. Jangankan pada relasi, yang jelas bisnis terjalin di sini.
"Buat jadwal aja." Aku pun akan mengajukan alasan jika terjadwal untuk bertemu dengannya.
"Sudah, Pak. Kita ada janji temu di jam sebelas sampai malam siang. Bapak tidak tepat waktu, untuk menemui Saya." Ia duduk di hadapanku dengan menunjukkan jadwal pekerjaannya di jam sebelas tadi.
Aku melirik jadwal kegiatanku hari ini pada kertas yang aku dapatkan tadi. Sialan, benar adanya aku memiliki janji temu dengannya. Dari pukul tiga belas sampai lima belas aku kosong janji, lalu Farida sengaja menungguku begitu?
"Oh, maaf. Saya banyak pekerjaan." Aku menunjuk map-map dan puluhan dokumen yang tertumpuk tak tahu tempat ini. Aku pusing ingin mengerjakannya dari sebelah mana dulu.
Kenapa Ria atau Dewi tidak menghandle janji temuku di pukul sebelas siang tadi? Apa karena Farida sudah berada di sini dan mengatakan ingin menungguku saja?
__ADS_1
"Saya bisa menunggu, Pak."
Bagaimana perasaan kalian, jika puluhan tugas menunggu di depan mata. Lalu, ada seseorang yang tengah menungguku untuk segera menyelesaikan pekerjaanku agar memiliki waktu dengannya. Sangat-sangat tidak nyaman, aku terganggu dengan keadaannya.
"Saya tak bisa diganggu. Lagipula, pembahasan seperti biasa bukan? Harusnya Anda tidak perlu mengatur jadwal temu dengan Saya, karena sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Saya. Terus terang saja, Anda memiliki keperluan lain di luar pekerjaan kan?" Aku berbicara tegas di sini.
"Ya, Saya memiliki ketertarikan fisik dengan Anda."
Astaghfirullah….
"Saya beristri, istri Saya tengah mengandung dan Saya memiliki tiga anak." Jika orang waras, mereka akan mengerti.
"Bapak tercatat belum menikah kembali, jadi Bapak masih duda sekarang." Ternyata ia mencari informasi dengan lengkap. Ya mungkin, ia kroscek sendiri kantor urusan agama.
"Saya menikah siri kurang lebih delapan bulan yang lalu, istri Saya tengah mengandung enam bulan sekarang." Aku tidak merasa malu juga menjadi pelaku nikah siri.
Raut kagetnya terlihat jelas. "Oh, maaf." Mungkin sekarang ia menerima malu.
"Ya, dimaafkan. Mohon untuk pengertiannya, bekerja profesional saja."
Ia mengangguk. "Kalau begitu, Saya permisi dulu."
Benarkah semudah ini? Tapi, aku rasa ini adalah step awal saja.
Maksudku, wajarnya perempuan tertarik pada laki-laki itu. Ya tidak semudah ini pergi, meski status pernikahan sekalipun. Aku menaruh curiga, pada perempuan yang baru saja berlalu itu.
Semoga ia tidak bertindak aneh-aneh di luar nalar. Aku benar-benar tidak mau diganggu dengan posisi orang ketiga, aku pasti akan menangis meraung nanti jika sampai Aca meninggalkanku karena problem itu.
Karena selangkah lagi aku dan Aca akan menjalin ikatan resmi secara negara, anakku dengannya pun dalam dokumen yang aman. Aku tidak mau perjuangan kami sia-sia, hanya karena ada ketertarikan sesaat dengan orang baru.
"Pa…."
Serius? Aku mendengar panggilan manja itu.
"Pa, ATM yang Papa kasih pegangan itu ketelan mesin. Papa dari tadi ditelpon tak angkat sih. Ke rumah pak cek, katanya Papa langsung ke kantor lepas selesai urus surat di pengadilan agama." Aca berjalan ke arahku dengan memegangi tali tas selempangnya.
"Far…. Minta air putih, Far."
Ya Allah…. Ternyata Aca membawa rombongan. Canda ada di belakang, dengan menggendong Cani.
"Turun, Dek. Lari sana ke Papa." Canda menurunkan anaknya dan dirinya membenahi hijabnya.
__ADS_1
"Pada ngos-ngosan gitu sih?" Aku bangkit dan berjalan ke tempat penyimpanan air mineral kemasan botol kecil.
"Capek betul jalan dari lobby ke sini." Aca malah memilih untuk duduk di kursi kebesaranku.
"Ya ampun, dasar mamak-mamak." Aku memberikan satu persatu air mineral pada mereka.
Canda duduk di kursi dengan mengatur napasnya. Sedangkan Cani, ia tengah berselancar di ruanganku.
"Tolong blokir dulu ATM-nya, Pah."
Yah, itu adalah langkah utama yang dilakukan ketika kartu ATM tertelan mesin.
Aku mengangguk dan mencari ponselku yang berada di dalam tas kerjaku. Setelah dapat, aku langsung mengakses aplikasi mobile banking milikku.
"Mau pada ke mana ini?" Aku mengambil duduk di depan meja.
"Abis dari toko skincare, terus ke toko Tika. Belanjaannya di rumah mak cek semua, aku panik ATM ketelan di mesin ATM minimarket di depan toko Tika."
Oh, mereka habis belanja bersama.
Aku manggut-manggut. "Kenapa kau ikut ke sini juga, Cendol?" tanyaku dengan melirik ke arah Canda yang tengah meneguk air mineral itu.
Rupanya dia haus.
"Karena Aca tak tau kantor kau katanya." Canda mendekati anaknya dan menyuruh anaknya untuk minum. Cani tengah anteng duduk di dekat tak buku, dengan memainkan variasi buku.
Aku mendekati Aca, memperlihatkan tampilan layar yang sukses telah memblokir akses dengan kartu ATM tersebut.
"Hufttt, padahal begini aja. Panik aku, takut saldo ratusan juta itu melayang." Aca menyeka keringatnya.
"Nanti besok aku urus ke Bank. Mau pakai kartu yang mana dulu untuk sekarang?" Aku mengeluarkan dompetku dan menunjukkan jejeran kartuku padanya.
"Minta cash aja lah, trauma aku." Aku memandangku dengan wajah lelah.
"Iya, aku juga minta cash aja sama mas Givan tuh. Tak repot ke ATM, tak repot pergi jauh," imbuh Canda.
"Ya itu sih memang kau yang mager," timpalku dengan melirik Canda.
Aca mengenakan dress midi, dengan variasi karet di bawah dadanya. Dengan pakaian seperti itu, dadanya terlihat dominan amat besar dari perutnya. Di rumah nanti aku akan menasehatinya tentang pakaiannya. Aku tidak rela, dadanya diumbar seperti itu.
"Owh, banyak orang. Permisi, mau ambil barang yang tertinggal."
__ADS_1
Kenapa ada scene seperti ini?
...****************...