
"Kan masih tiga harian lagi tanggal limanya, Far. Di sini aja dulu lah, sambil ngobrol gimana rencana pernikahan nanti." Budhe langsung mengatakan seperti ini, ketika aku mengatakan bahwa aku ingin membawa Aca dan Nahda ke Jakarta segera untuk sekalian pulang ke Aceh.
"Tak ada akad nikah, Budhe. Kita sidang, biar dapat buku nikah. Habis itu kita foto studio, dandan ala pengantin buat foto aja. Atau, Budhe mau ngadain acara kah?" Aku baru saja menghabiskan sarapanku.
"Oh, kirain ada akad. Acara sih entah, Far. Pasti repot, sedangkan Aca lagi ngandung juga."
Mereka ingin menjadi saksi pernikahan kami.
"Kita akad ulang pun tak apa. Nanti Budhe datang ke Aceh ya?" Aku melirik istriku yang kembali masuk ke dalam rumah.
"Kenapa gak di sini aja, Far? Budhe males pergi-pergi jauh. Makanya gak pernah pulang ke Banjarmasin lagi, pulang pas nganter orang tua ke tempat peristirahatan terakhir aja."
Ya ampun, beliau pulang ketika orang tuanya meninggal saja? Harusnya sebelum meninggal sempat pulang, untuk meminta maaf atau mengurus orang tua seperti mamah dulu.
"Aku kelak tak bakal larang Aca pulang ke orang tua, dengan niat berbakti ke orang tuanya. Tapi harus ada izin dari aku, Budhe. Masalah akad, ya kan nanti Aca hamil tua. Bolak-balik Cirebon-Aceh, kan takut lahiran di jalan." Aku takut dengan resikonya.
"Duh, iya ya? Baiknya gimana?" Budhe garuk-garuk kepala.
Di sini tidak wajib memakai tudung kepala, banyak perempuan tidak berhijab tapi berpakaian cukup sopan. Tapi pakaian masa kini, tetap mengikuti tanpa ketinggalan zaman.
"Ca, sini dulu," seru budhe pada anaknya yang tengah menyeka keringatnya itu.
Aca terlihat kelelahan. Ia pun langsung berjalan dan duduk di sampingku.
"Ca, kamu maunya akad ulang gak? Ayah pengen walikan pernikahan kamu."
Oh, itu alasannya.
"Tak, Bun. Ya kemarin kenapa ngelarang, udah sah agama malah pengen walikan. Ya gimana?" Aca menggaruk kepalanya.
Rambutnya sampai basah kuyup. Berkramas, ditambah dengan keringat.
__ADS_1
"Ya namanya juga orang tua, Ca." Budhe meminum teh manisnya dengan menggunakan sendok.
"Nanti aku kirimkan foto studio aku setelah resmi nikah, biar bisa dipajang di rumah." Aca mengambil teh manis milikku dan mencicipinya.
Kaf muncul dengan pinggang terlilit handuk. Ia melangkah dengan ragu-ragu, aku yakin karena ia malu.
"Salin dulu, Bang. Terus sarapan sini." Aca menunjuk kamar kami.
Kaf mengangguk, kemudian ia langsung nyeruntul ke dalam rumah.
"Sunat belum anak kamu, Far?"
Aku mengalihkan pandanganku pada budhe kembali. "Udah, Budhe. Sunat pas bayi dia ini, soalnya katupnya merah bengkak pas baru lahir tuh. Padahal bayi baru lahir, jadi langsung sunat di rumah sakit. Dia lahiran di Brasil itu, Budhe. Pas mamah keguguran itu, kan kita lagi nengok mamah di sana." Masa-masa itu, di mana rumah tanggaku tengah tidak tentu arah.
Sejak hamil Kaf, Kin mudah sekali mengamuk. Sulit diajak ngobrol, sulit diajak bergurau, tapi tidak sulit diajak bergumul. Tetap saja, aku ingin komunikasi dengan istriku terjalin balik. Bukan baik ketika tengah menyatu saja.
"Ohh, yang masa keguguran yang terakhir itu ya?"
Aku langsung mengangguk mantap. Subur sekali memang mamahku. Perempuan yang hormon begituannya oke, katanya memang cenderung subur.
"Mau anaknya dibuat kek Ra kah? Jadi anak Yayah." Aku meliriknya dengan senyum geli.
"Ya tak lah, nanti Papa gimana kerjanya?" Rasional dan logis, benar menurutnya.
"Kamu takut banget Ghifar gak kerja lagi, Ca?" Pertanyaan budhe, seperti meledek.
"Takut dia tak pandai cari nafkah. Anak banyak, apalagi ditambah Ra. Givan udah chat katanya bantu asuh Ra, dia tak bisa kerja soalnya. Meski digaji pun, kan jelas pasti nambah kebutuhan hidup. Kalau anak aku lahir, udah langsung ngempanin lima anak."
Ah iya, benar sekali. Aku tak menghitung jumlah anakku. Aku akan membentuk keluarga besar, tapi nanti ketika jarak usianya pas. Agar anak kami tidak berebut kasih sayang, seperti masa aku kecil dan saudara-saudaraku. Yang paling berasa adalah, aku dan Ghava Ghavi.
"Canda tuh memang gimana sih, Ca? Gak ngerti dengan istrinya Givan itu, dia ke mana gitu? Apa dia kerja juga? Soalnya waktu di sini pun, anaknya sering sama Givan. Ra itu digandeng, tiap kali dia main ke sini. Nah, si kecil yang pakai kerudung terus itu digendong Givan. Kalau ditanya istrimu mana, cuma jawab ada. Gak ngerti tuh, sibuk apa dia. Givan juga cerita, kalau anak-anaknya dijaga pengasuh, makanya dia tenang ninggalin anak-anaknya di Aceh tuh. Mana katanya, ibunya Canda di sana juga ya?"
__ADS_1
Jangankan budhe, aku saja bingung dengan keluarga itu. Terlebih lagi dengan Canda, karena memang anaknya sering dititipkan orang.
"Candanya lagi berbenah, masak, urus baju, gitu biasanya kalau anak-anaknya dibawa Givan semua tuh. Gerakannya tuh lambat, jadi dia butuh waktu lama. Tapi hasil kerjanya bagus gitu, bersih dan rapi. Aku tau sendiri, dia nyetrika satu kemeja aja itu dibolak-balik beberapa kali. Bener-bener licin dan wangi tuh."
Aca tahu akan hal itu?
"Ma…." Kaf sudah muncul dari dalam kamar. Ia sudah memakai pakaian biasa.
"Sini, makan." Aca melambaikan tangannya pada Kaf.
Kaf langsung menghampiri, kemudian duduk di dekatku. Anakku pemalu semuanya, apalagi Kal belum terbangun seperti ini.
"Kan punya pembantu di rumahnya kan?" Budhe masih ingin membahas Canda sepertinya.
"Punya, kan giling baju anak-anak Canda. Sama nyapu ngepel, cuci piring gitu-gitu." Aca mengambilkan nasi dan lauk pauk yang terhidang di meja.
"Kamu pun nanti di rumah Ghifar, semuanya dibabat sendiri?"
Oh, ternyata budhe tengah menguak perlahan tentang bagaimana anaknya ketika ikut bersamaku di Aceh. Sepertinya, ia takut jika aku menjadikannya pembantu.
"Ada ART, namanya bu Tami." Aku yang menjawab hal ini.
"Ohh…. Terus nanti apa gak repotin Dinda, anak kalian banyak gini?"
Konsep anaknya takut dijadikan baby sitter tengah dikorek di sini.
"Mamah udah carikan baby sitter, minggu depan datang katanya." Aku pula yang menjawabnya.
"Kalau bisa sih, anak Givan gak usah sama kamu, Ca. Anak kamu udah banyak sendiri, kamu pun udah jadi istri Ghifar. Masa, masih mau kerja jadi baby sitternya anak Givan? Memang, bukan kerjaan yang rendahan. Tapi anak sendiri udah empat, masa mau ngurus anak orang?"
Umumnya pikiran seorang ibu. Satu cucu saja, sang nenek pasti ikut menjaganya. Ia akan memikirkan bagaimana repotnya anaknya, dengan anak yang tidak sedikit itu.
__ADS_1
Bagaimana ya menjelaskan pada budhe?
...****************...