
"Sorry lama, Far." laki-laki matang itu baru keluar dari rumahnya kembali setelah satu jam setengah bermain drama dengan anaknya.
"Ngantuk aku nungguinnya, Bang." padahal aku baru kembali dari ngobrol dengan orang-orang yang berada di masjid wakaf dari almarhum Lendra.
"Gimana, Far? Canda udah ada bilang ke kau?" ia menghampiriku yang duduk di teras rumah Key ini.
Jadi, Canda memang diminta oleh suaminya untuk bercerita padaku?
Aku mengangguk, "Udah, Bang." jawabku singkat.
"Besok kau tinggal ke kantor pak Ruslan aja, buat tanda tangan tangan aja." ia duduk di tempat istrinya duduk tadi.
"Siap, Bang. Terus apalagi?" aku tidak tahu apa yang ia kerjakan selama tiga hari di perusahaanku.
"Banyak. Udah itu aja, yang lain udah beres. Perjanjian sih dua tahun, Far. Nanti kau dua tahun lagi harus cari vendor lokal terbaik. Karena kalau nunggu lahan papah yang lagi peremajaan itu, sekitar empat tahun ke masa panennya. Soalnya kan, ini pohon ditebas habis. Udah tak produktif lagi soalnya."
Aku manggut-manggut, "Apa bulan depan aku mulai stabil?" aku bertanya seolah aku bos.
Ya memang bos juga. Entah kenapa, memang seperti yang buruh aku merasanya.
"Mungkin stabil." bang Givan menoleh ke arah kau, "Ria yang megang posisi Novi kemarin." lanjutnya kemudian.
Ria adiknya Canda. Sebenarnya, Ria maupun Canda memang sosok menyebalkan.
"Oh iya, Bang. Menurut kau, usaha aku yang di Bali baiknya gimana? Kurang produktif, Bang. Malah semakin dikurangi." aku meminta saran untuk usaha travelku itu.
Ia terdiam sejenak. Kemudian, ia memutar posisi duduknya dengan menghadap ke arahku.
"Kau gandeng beberapa pihak. Kek toko oleh-oleh, yang gandeng bus pariwisata. Jadi kan toko mereka laku, tapi ada perjanjian kesepakatan tuh antara pihak bus dan toko oleh-oleh."
Wah, benar sekali. Aku teringat akan bus yang selalu singgah di tempat toko oleh-oleh besar dan ternama.
"Terus gimana lagi, Bang?" aku akan memikirkan satu saran itu dan mendiskusikan dengan tangan kananku yang mengurus usaha itu.
"Terus gandeng juga pihak bandara contohnya, jadi turis turun bandara ini bisa naik travel kau gitu. Bisa juga kau gandeng pihak tempat wisata. Jadi travel kau khusus nganter turis ke tempat wisata itu, dengan begitu kan tempat wisata juga laku pengunjung karena jasa travel kau."
__ADS_1
Aku ingin bertepuk tangan.
"Kau juga bisa pikirkan, untuk ajak kerjasama dengan villa tertentu. Biar turis minta rekomendasi villa pas pulang dari tempat wisata, kau bisa arahin ke villa itu, atau tawarkan villa itu untuk istirahat para turis. Pandai-pandai cakap dan rayu sajalah. Tapi kau pun, minta kesepakatan dan bagian juga dengan pihak villa."
Pantas bang Givan penguasa usaha di antara kami semua. Sarannya terbaik dan belum pernah terpikirkan olehku semua.
"Itu kerjasama, biar travel kau hidup. Jadi bukan kek orang jualan musiman pas bulan puasa aja usaha kau, tapi bisa terus bertahan bahkan berkembang. Perbaiki juga fasilitas mobil kau, biar para penumpang itu lebih percaya dengan travel kau daripada travel orang. Contohnya, AC mobil kau dingin dan tak bau. Ah iya ah, nanti kalau pergi-pergian pakai travel ini aja, nyaman mobilnya, ramah juga supirnya. Begitu loh." ujar bang Givan kemudian.
Benar juga.
"Coba kau berjuang di sana, biar Abang handle di sini. Istri kau di sini aja urus anak kau, karena kau tak bisa bawa dia sengsara di sana. Biar anak kau diawasi dan terkendali. Untuk masalah setia, aku yakin kau tak mungkin nikah lagi di sana." ia terkekeh geli.
Aku meliriknya sinis, aku malah tersinggung di sini.
"Aku tak mungkin begitu, Bang. Memang kau tak keteteran urus usaha kau?" aku takut merepotkannya.
"Abang ada orang yang megang usaha Abang. Tetap di pantau juga, tapi untuk sekarang aman aja kalau Abang bantu kau." bang Givan menekuk satu kakinya.
Aku terdiam. Karena aku memikirkan biaya hidup, jika aku memiliki dua dapur. Ya maksudku, biaya hidup Novi dan anak-anak di sini, juga biaya hidupku sendiri di Bali.
"Ada tak uang pegangannya? Besok Abang cairkan, kalau tak ada buat pegangan."
"Tak ada, Bang." aku menjawab lirih.
"Ya udah besok Abang cairkan. Langsung action aja, biar cepat ada perubahan. Belum nanti Novi hamil, biaya hidup kau bertambah karena susu hamil dan lain sebaginya. Belum lagi kalau anak mereka lahir."
Setiap membicarakan perkembangbiakan, aku merasa tersindir hebat.
"Ya, Bang." aku bingung akan menyahuti apa.
"Jadi aku ke pabrik tak, Bang?" tanyaku kemudian.
"Datang aja, ikuti arahan Dewi aja. Biar besok Abang yang cairkan uangnya buat kau, nanti Abang kasih ke kau langsung. Sekalian ambil buat jatah Canda dan anak-anak." ia mengusap lebar.
Aku mengangguk, "Ok sip, Bang. Aku balik dulu, Bang." aku pamit pulang, karena bang Givan sepertinya butuh istirahat cepat.
__ADS_1
Sesampainya di kamarku. Aku malah melihat anak-anak yang masih bermain di jam menjelang tengah malam ini, dengan Novi yang pulas di tengah ranjang.
Ya ampun, Novi.
"Kok belum tidur, Kak Kal? Adek Kaf? Besok sekolah loh." aku menghampiri anak-anakku.
"Mau bobo sama Papa." Kaf merengek dengan memeluk kakiku.
"Tante suruh pulang aja, Pa. Aku bobo di mana?" giliran anak yang besarku, yang memeluk kakiku.
Novi tak mungkin aku minta pulang. Tapi bagaimana dengan kedua anakku yang menangis ini?
"Ya besok sore nanti kita benahi kamar. Sekarang, kita bobo di kamar Kaf atau Kak Kal nih?" aku tersenyum, dengan menyetarakan tinggiku dengan anak-anak.
"Di mana aja, yang penting sama Papa."
Apa Novi tidak bisa merayu mereka? Apa Novi tidak bisa mendekatkan diri pada anak-anakku? Setidaknya, membuat mereka nyaman dengan kehadirannya begitu? Karena anak-anakku tidak terbiasa tinggal dengan orang asing.
"Yuk, ke kamar Kak Kal aja ya yang kasurnya agak luas." aku menggendong mereka berdua.
Huft, Kin. Lihatlah, bagaimana aku menyayangi buah hati kita.
"Papa sebetulnya kenapa sih, kok tante Cantik di rumah kita terus?" pertanyaan itu lolos dari Kaf.
Kaf adalah anak yang mudah diberi pemahaman sederhana. Tidak seperti Kal, yang kadang sering ngotot dan keras kepala.
Aku menurunkan mereka di lantai bagian ranjang, yang memiliki karpet berbulu lembut. Kemudian, aku merapikan susunan bantal dan membenahi seprai kamar ini. Tidak lupa, aku pun menepuk-nepuk kasur yang pasti ditempati setan ini. Karena lama tidak digunakan.
"Sini naik." aku mengajak mereka berdua.
Dua anak ini langsung mengambil tempat masing-masing.
Aku merebahkan tubuhku di tengah-tengah mereka, "Jadi tuh, tante Cantik bakal tinggal sama kita terus. Ingat tak, waktu ada acara di rumah nenek itu?" aku mengusap-usap kepala dua anak ini.
"Ya ingat, Pa." jawab Kal kemudian.
__ADS_1
"Yah, jadi tuh mulai hari itu tante Cantik tinggal sama kita terus. Karena, Papa sama tante Cantik udah…
...****************...