Istri Sambung

Istri Sambung
IS72. Mendekatkan hubungan


__ADS_3

"Ya coba denger aja nanti ucapan gurunya. Berangkat telat juga tak apa, biar langsung ketemu gurunya. Uang belanja maunya gimana?" aku tak berniat memberitahu tentang Kal yang panjang tangan.


"Ini tuh uang belanja sama apa aja?" Novi memperhatikan telapak tangannya yang kosong.


"Uang belanja sayur, daging. Secukupnya makan sehari, sama sangu dan jajan anak-anak sebenarnya sih. Tapi cukup tak?" karena kembali lagi, setiap orang berbeda.


Kin cukup, bukan berarti Novi cukup.


"Sangunya berapa, jajannya berapa?" wajah kami cukup dekat.


"Sangu Kaf tujuh ribu, Kal sepuluh ribu. Nabungnya, lima ribuan. Nabung itu, langsung simpan di buku tabungan pas pagi itu. Jajannya ya terserah mau ngasih berapa. Kemarin sih aku sepuluh ribuan, pas pulang makan siang. Tapi kan kau ada di rumah aja, kasih aja dua ribu atau lima ribu setiap kali minta jajan." aku merapikan rambutnya yang tidak berwarna hitam ini.


"Tiga puluh lima ribu ya? Masak enam puluh lima ribu. Dapat apa ya?" malah Novi yang seolah pusing.


"Dapat banyak loh masak segitu, Nov. Ikan lele, atau ayam. Sayurannya juga dapat. Buat makan kita berempat, tak perlu beli sampai sekilo." ini hanya untuk makan sehari-hari biasa, bukan untuk makan besar kumpul keluarga.


"Ya udah besok aku coba begitu. Abang tak usah kasih mereka sangu, nanti dari aku aja."


Aku mengangguk cepat. Itu hal mudah, tapi semoga Novi tidak melupakannya sendiri.


"Terus kapan mulai berobat?"


Aku mengatur nafasku beberapa kali. Aku pun ingin, tapi aku sudah tahu harus bagaimana. Maksudnya, Novi pun bisa melakukannya sendiri. Hanya diceramahi, kemudian di sana ia diminta untuk menstimulasi. Jika memang seperti itu kan, Novi bisa melakukannya sendiri di rumah.


"Aku ada rencana mau ke Bali, biar usaha di sana stabil. Perusahaan aku, lagi tak stabil. Aku pernah sekali berobat, papah sih yang bayar. Tak dicover BPJS, tak dicover asuransi juga waktu itu, karena ke teman papah sendiri. Kan tak enak gitu kan, teman sendiri?" Novi langsung mengangguk mengerti, "Nah, biaya ngobrol sama tes itu. Keluar sekitar tujuh juta, padahal cuma tes darah biasa. Belum cek air laki-laki, belum cek lain-lain. Itu pun, jarak seminggu diminta datang lagi." lanjutku menceritakan.


"Memang uangnya tak ada ya? Kan, uang di tabungan Abang banyak."


Aku menoleh cepat, "Tau dari mana? Di tabungan aku, tak sampai sepuluh juta. Investasi, bisa cair tiga tahun lagi. Tabungan lain, abis buat masa nganggur itu." aku jujur di sini.


Novi memicingkan matanya, "Coba tanya ke bang Givan atau mamah, keknya bukan segitu. Aku tau, tapi aku ragu ini. Soalnya, kek apa ya gitu?" Novi mengetuk-ngetuk dagunya sendiri.


Benarkah?


"Jadi gimana kalau aku ke Bali dulu? Bang Givan mau bantu usaha di sini. Ya mungkin, bakal aku upah dia juga."

__ADS_1


"Aku ikut, boleh?"


Masalah, anak-anak dengan siapa?


"Kau sama anak-anak aja, Nov. Biar aku sendiri di sana, aku tak lama." aku pun tak yakin.


"Kita masih terlalu baru, untuk jauh-jauhan begitu." Novi bersandar di bahuku.


Jadi bagaimana caranya ini? Apa aku hutang saja? Atau menyuruh seseorang, yang bang Givan percayai? Maksudku, meminta orang tersebut untuk mengembangkan usahaku di sana. Agar aku bisa tetap berada di sini bersama anak dan istriku.


"Biar nanti aku pikirkan lagi." aku ragu sebenarnya untuk mengusahakan sendiri.


Aku tidak mampu apa-apa, tanpa perintah dan saran dari orang yang aku percaya. Katakanlah, aku otak buruh.


Aku tidak tahu stepnya, aku pun tidak tahu harus melakukan apa dahulu. Aku benar-benar blank, jika sudah dihadapkan di lapangan. Aku orang bodoh, yang tiba-tiba mendapat warisan besar. Membuatku tidak tahu apa-apa seperti ini, tetapi diminta untuk mengembangkan perusahaan bagianku.


"Besok minta dimasakin apa? Tapi dimakan ya? Jangan makan di rumah bang Givan lagi. Aku tersinggung." ucapnya, dengan memainkan bulu daguku.


Nafasnya menerpa sebagian wajah dan leherku. Aku takut gila masalahnya, aku takut drop sendiri.


Harusnya sih, Novi tidak cemburu juga pada Ria. Jika memang pada Ria cemburu, itu cukup keterlaluan. Ria masih seperti anak kecil untukku. Ia masih seperti Ria yang suka berlarian bersama anak-anak seperti dulu.


"Jadi masih laper?" jemarinya menyentuh dadaku yang tertutup kaos.


Aku menikmatinya, tapi aku risih. Aku takut ini menjadi bumerang untuk diriku sendiri.


"Ya tak juga." aku sudah gelisah.


"Boleh aku cium?" Novi sudah condong ke arahku.


"Itu hak kau, Nov. Yang penting tak di depan anak-anak aja, nanti mereka merasa aneh. Karena mereka tetap belum paham-paham juga, kalau kau ibunya sekarang." aku tak ingin Novi mengulangi pertanyaan yang seperti itu.


Ia tak perlu meminta izin untuk menyentuhku. Aku milik ibuku, tapi aku haknya.


Cup…..

__ADS_1


Basahnya bibir itu, ketika menyentuh permukaan pipiku. Remuk redam rasanya, begini ternyata rasanya menerima orang baru.


Apa aku akan selalu belajar mencintai orang baru? Maksudku, aku tidak pernah mengejar perempuan atau mencintai lebih dulu.


Dengan Canda apalagi, ia setengah mati mengejarku. Dari aku risih padanya, sampai aku terbiasa dengan kehadirannya. Dengan Kinasya pun, aku dibuat candu saat dirinya sudah habis-habisan menstimulasiku.


Aku yakin, saat itu pun aku mencintai Kinasya juga. Tapi, rasa cinta itu bercampur dengan ketergantungan akan dirinya dan candu yang ia berikan.


Entahlah perempuan yang lain sih, seperti Fira atau Rauzha. Mereka hanya sekadar perasaan, yang mudah sirna. Apalagi pada Fira, yang sengaja mengibarkan bendera perang lebih dulu. Tidak butuh waktu lama untuk melupakannya, aku malah sudah nyaman dengan Canda saat berjumpa dengannya kembali.


"Apa bisa kita saling jatuh cinta?"


Aku langsung menoleh pada Novi. Aku yakin dari awal ia menginginkan aku menikahinya, ia sudah ada rasa padaku.


"Bisa, tapi kadang tak kita sadari. Tapi aku tak pernah ngomong tentang cinta, kau bisa paham dari sikap aku ke kau." aku tersenyum manis padanya.


"Tapi aku udah cinta, harapan aku besar sama Abang."


Aku paling tidak suka, jika ada perempuan yang mengatakan lebih dulu seperti ini. Ini membuatku teringat kisahku dengan Canda yang tiada endingnya.


"Alhamdulillah. Tinggal patuhnya aja." aku meraup wajahnya pelan.


"Abang memang tak demikian?"


Sialnya lagi aku ditanya. Para perempuan, tolong jangan mencari tahu kebenaran yang akan menyakiti diri kalian sendiri. Lebih baik, kalian tidak tahu.


"Belum aja mungkin." aku menjawab dengan tertunduk, aku tidak enak hati padanya.


"Belajar cintai aku ya?" Novi bergelayut di leherku.


Aku mendekapnya, "Iya." aku mengusap punggungnya yang terlapisi gaun malam berkain sutra ini.


Cup…..


Mataku membulat, aku mematung dengan tindakan wanitaku ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2