
"Gila, kaum kita ini tak ada yang baik." Papah geleng-geleng kepala.
Termasuk dirinya juga.
"Tapi aku niat mau nikahin nih, Pah. Bunda di sana ngomong, kau kasih makan satu anak kau tak, tapi malah kasih makan dua anak orang. Yang intinya, tak setuju juga. Bener-bener tak menarik sih si Aura ini, tapi aku ngerasa kasian terus sama dia. Gara-gara aku nih, dia sampai begini loh. Sampai ditinggal suaminya pun, dia tetap berpenampilan layaknya laki-laki." Bang Ken merogoh saku celananya.
Aku yakin, ia tidak ingin memberiku jajan. Mungkin ia tengah mengambil ponsel, untuk menunjukkan foto Aura itu.
"Dia mau kau nikahi?"
Pertanyaan yang sama seperti yang papah tanyakan pun, muncul di dalam kepalaku.
"Mau tak mau, dia tak punya penghasilan. Mungkin dia mau, karena anak-anaknya. Anaknya tak ada yang kasih dia biaya hidup, dia juga jadi beban orang tuanya lagi. Aku ada mikirnya, Aura pasti manja nih, aku tak mungkin diceraikan kek kasusku sama Riska lagi. Manja dalam artian, dia tak punya penghasilan. Dia cuma ngandelin kita, sebagai suaminya." Bang Ken mengutak-atik ponselnya, kemudian menunjukkan sebuah foto.
Potongan rambut perempuan tersebut, mirip-mirip seperti Nike Ardilla. Wajahnya lumayan ayu, hanya saja memang tidak berdandan layaknya perempuan. Dia pun tidak berhijab juga.
"Tapi salah juga loh pemikiran kek kau ini, Ken." Papah mengusap-usap punggung bang Ken.
__ADS_1
Kenapa papah menyalahkan?
Padahal, Kin pun dulu dilarang bekerja oleh papah. Bahkan, saat ekonomiku masih sulit pun sama. Papah lebih memilih memberiku dan Kin makan, ketimbang menyuruh menantunya bekerja.
"Papah kan tau sendiri, gimana mamah kalau papah yang salah." Sepertinya, kasus mamah meninggalkan rumah beberapa tahun silam didengar bang Ken.
"Ya memang, tapi kan kita laki-laki. Kita bisa kerja. Kalau perempuan, gimana coba? Tak mungkin kan mereka dadakan jadi buruh angkut pasar? Kasian loh gitu, mending aja kalau kita ninggalin usaha, mereka tak kesusahan." Ini pun pernah diucapkan papah, ketika beliau tinggal bersamaku karena konflik dengan mamah.
"Kita jadi keset kamar mandi loh, Pah. Kalau para istri bisa cari nafkah sendiri tuh. Aku ngerasain sendiri, kala pendapatan gaji aku lebih besar dari pemasukan usahanya Riska." Bang Ken menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Iya, sih. Tapi…. Entah-entah, Papah ngerasa tak tega kalau istri papah yang pergi dengan nelangsa. Istri kita loh, yang nemenin kita berjuang dari minus. Dari kita di bawah nol, dari kita jadi beban mertua. Terus masanya kita udah kaya, dengan teganya kita depak mereka. Istri kita juga berjuang loh, dia mau doain kita, urus anak kita, urus rumah, urus pakaian kita, urus biologis kita juga meski dengan kelelahannya. Coba kalau dihitung dengan nilai uang. Ke kyai, minta doa, nyalamin minimal lima puluh ribu tuh. Itu sekali datang, sekali doa. Nah, istri kita di setiap doanya, di setiap ibadahnya. Dibikin sholat wajib aja lima waktu, udah dua ratus lima puluh ribu tuh kita bayar jasa doa. Terus jasa urus anak, baby sitter. Kita buat, gajinya dua juta sebulan. Sama istri kita, gratis loh urus anak. Terus urus rumah, misal pakai asisten rumah tangga. Kita harus keluar tuh sekitar tiga juta sebulan, sama istri kita gratis aja. Terus urus pakaian kita, di tukang laundry sekilo tujuh ribu. Dibuatlah sehari sekilo, tubuh ribu dikali tiga puluh, udah dua ratus sepuluh ribu. Jasa biologis, di prostitusi itu, paling murah dibuat seratus ribu, sekali pakai itu. Kita sama istri, sehari kadang ngulang dua kali. Ada juga yang seminggu tiga kali. Kalau diuangkan, sebulan satu juta dua ratus, itu kalau seminggu tiga kali. Total bayar jasa mereka semua, enam juta enam ratus lima puluh. Sama istri gratis itu, cuma ngasih makan dia aja. Skincare pun, kadang kalah juga sama jatah rokok kita. Kita lebih pentingkan rokok, ketimbang dempulnya perempuan. Padahal dempul seratus ribu sepaket aja, itu para istri udah seneng loh. Sehebat itu mereka berjuang untuk kita, tapi lepas kita kaya dengan teganya kita depak begitu? Kalian harus putar posisi kepala kalian, kalau kalian masih berpikir begitu." Papah menunjuk-nunjuk pelipisnya sendiri. "Kasian loh. Sehebat itu perjuangan istri nemenin kita, gratiskan semuanya. Tapi dengan tidak tahu dirinya kita, main sepak aja. Untuk kalian di luar sana yang seperti ini, fix kalian akan bangkrut di tangan yang tepat. Karena biasanya, Yang Kuasa itu tidak membalas secara langsung. Tidak membalas lewat tangan yang sama juga. Tidak juga membalas, dari manusia yang kalian sakiti," ungkap papah sampai nafasnya ngos-ngosan.
"Dengan teganya kau bilang, kita bagai keset kamar mandi. Kalau kita bagai keset kamar mandi, istri kau dianggap apa? Apa yang dia pikirkan juga, masanya dibuang begitu aja? Jadi, wajar ajalah misal cerai pun dia dapat hasil. Dia kerja rodi, pas jadi istri kita," tambah papah kembali.
Kenapa ucapan teungku haji ini selalu benar?
Herannya lagi, kenapa persepsi yang ada di otak kami ini ternyata salah juga.
__ADS_1
"Panutan." Bang Ken langsung memeluk papah.
Namun, papah melepaskan pelukan bang Ken.
"Udah, tak sudi aku."
Tawa kami meledak seketika.
Aku jadi berpikir, untuk memberi Novi sebuah usaha atau beberapa hartaku. Karena bilamana perceraian itu benar terjadi, aku tidak bangkrut karena telah mendepak seorang istri tanpa nilai kemenangan untuknya juga.
Karena seperti yang papah katakan. Yang Kuasa itu tidak membalas secara langsung. Tidak membalas lewat tangan yang sama juga. Tidak juga membalas, dari manusia yang kalian sakiti.
"Jadi aku udah bener nih kemarin, Pah? Aku kasih modal usaha, yang sekarang usahanya sukses di tangan Riska," ucap bang Ken kemudian.
"Malah kurang, karena ada anak kau sama dia. Kau nafkahi anak kau tak? Kau pikirkan biaya pendidikan anak kau tak? Kau mikirin, biaya masa anak kau sakit tak? Memang, semua orang tua bakal berpikir kenapa kau malah nafkahi anak orang, sedangkan anak kau tak kau penuhi biaya hidupnya. Karena perceraian karena orang ketiga begini pun, dilihat dari sisi mana saja tetap salah. Ini bukan tentang anak sambung pun, akan jadi anak kau selamanya. Tapi, dilihat dari asal mulanya kenapa kau tinggalkan anak kandung kau. Kemudian, kau malah merdekakan anak dari janda di luar sana. Memang, anak-anak tidak bersalah. Mereka tak tau apapun, mereka kewajiban kita. Tapi, dari mata umum pasti kita ini jelek. Sekalipun, yang kita hidupi itu anak dari janda yang suaminya meninggal. Kasarnya, anak yatim lah. Tapi tidak dengan menjandakan istri sendiri, terus membuat jarak dengan anak sendiri. Sekalipun yang gugat si Riska, sekalipun kau awalnya cuma chatting sama si Aura. Jangan hakimi kesalahan Papah kemarin, Papah cuma lagi menasehati apa yang benar menurut Papah." Setelah mengatakan hal itu, papah berjalan ke arah teras rumah.
Aku dan bang Ken hanya bisa saling memandang. Papah memang baper, khawatir akan dirinya sendiri yang diungkit masalahnya di sini.
__ADS_1
"Jadi, dalam semua nasehat itu. Mengandung arti, bahwa sebaiknya aku……
...****************...