Istri Sambung

Istri Sambung
IS183. Ngambek


__ADS_3

"Kau gila!" Aku salah tingkah.


Baru kali ini ada perempuan yang minta video call mesum seperti ini. Pada wanita yang sudah menjadi istri dan terikat dalam tali pernikahan, aku tidak malu menunjukkannya secara langsung juga. Namun, lain ceritanya jika perempuan ini adalah sepupuku dan keponakan mamah.


Bagaimana malunya aku, jika gagal menikah dengannya? Ia sudah tahu privat part milikku, malah sengaja untuk memperlihatkan lagi.


"Nanti bintitan loh." Aku memandangnya yang berada di layar ponsel ini.


Kak Aca terkekeh kecil. "Itu sih cuma mitos aja, Far. Kau bilang besar, ya mana aku mau lihat."


Mampus kau, Far!


"Ayo sih, Far," rengek kak Aca begitu manja.


Ini perempuan sudah memaksa, aku harus bagaimana menanggapinya?


"Kak, aku malu. Kalau kita tak nikah, aku bakal malu sendiri setiap ketemu kau." Aku memilih berterus terang dengan alasanku saja.


"Ya udah kita nikah. Kau mampu kah menuhin batin aku? Kebutuhan hidup aku? Nahda? Pendidikan Nahda, perawatan aku? Kau mampu kah bimbing agama aku? Kau mampu didik Nahda dengan agama? Kau mampu kasih kami penghidupan yang layak? Tempat tinggal yang aman?"


Kenapa dengan perempuan ini?


"Kita ketemu aja buat ngomongin ini." Karena terbatas jika bertanya lewat ponsel begini.


"Sebelum ketemu, aku mau lihat itu kau dulu. Kalau bentuknya bengkok, aku mundur di awal. Tak jadi aku tanya-tanya tentang kesanggupan kau?"


Sungguh, aku baru mengetahui jika di dunia ada perempuan yang seperti ini.


"Lihat langsung aja, Kak." Aku mengusap tengah-tengah tubuhku.


Masa aku mau live streaming mempertontonkan bagian rahasiaku sendiri?


"Ck, kau buat mood aku buruk. Ya udah lah, lepas ini jangan minta mutualan, temani ke sini, ke situ, minta direspon baik. Aku kira kau serius, aku tanggepin, kau bercandain. Bikin males aja! Aku tak ada waktu, Far. Bukan cuma kau aja yang jadi bahan pertimbangan aku, bukan cuma kau laki-laki yang dekat sama aku. Kau sulit diajak kerjasamanya, ya udah kita sepupuan aja."


Tut….

__ADS_1


Panggilan video langsung terputus. Saat aku menyambungkan telepon kembali, nomor kak Aca sudah tidak aktif. Memanggil terus, tanpa berganti dengan berdering.


Jadi kak Aca ini meresponku ya? Atas dasar apa ya dia mau? Aku akan menemuinya selepas aku pulang bekerja, nanti akan kuajak ia makan malam di luar untuk membahas tentang kita.


Tidak buru-buru menikah, tapi memiliki hubungan serius dalam beberapa bulan kedepan rasanya tak apa. Jika terburu-buru, aku takut belum mengetahui sifat asli kak Aca. Aku takut kejadian seperti Novi terulang kembali.


Solo karir malam ini gagal sudah, karena langsung setengah tiang lagi setelah aku menengoknya. Aku langsung membasuhnya agar menciut, lalu setelahnya aku tertidur. Mencoba tenang, meski si Semmmmoxxxx di sana tengah ngambek. Semoga besok ia tidak sulit dibujuk.


Sayangnya, bukan hanya ngambek. Kak Aca langsung tak sudi untuk menyahuti sapaan dariku. Ia benar-benar marah, sampai tiga hari berlalu tanpa meresponku.


Aku jadi takut untuk meneruskan pendekatan ini padanya. Bagaimana jika sudah suami istri? Jangan-jangan, kita pisah ranjang ketika ia tengah marah padaku? Eh, tapi bukannya aku pun begitu? Aku memisahkan diri dari pasanganku ketika tengah marah, entah itu Kin atau Novi.


"Ngelamun aja kau, kenapa?" Mamah menepuk bahuku.


Aku sudah mengatur ulang isi furniture di rumahku, letak ranjang dan barang-barang lain pun sudah berpindah. Hanya saja, aku malas pulang. Apalagi Kal sudah begitu lengket dengan neneknya, Kal tetap ingin menjadi penghuni rumah megah neneknya. Kaf memang mau kembali, tapi aku yang malas pulang.


Hufttt, mungkin nanti ketika sudah beristri saja.


Aku menceritakan sedikit pendekatanku tidak ya? Tapi, nanti kak Aca bisa malu kalau aku mengatakan tentang asal mula jarak tercipta di antara kami ini.


Aku langsung merangkul beliau dan menyandarkan kepalaku pada bahu beliau. "Aku berantem sama kak Aca." Ternyata aku tidak bisa, jika tidak mengadu.


Mamah mengusap pipiku. "Oh, pantesan dia jarang ke sini. Kau juga anteng aja di rumah, biasanya malah dimarahin papah suruh anteng."


Ya, papah melarangku untuk tidak sering berkunjung. Aku selalu dilarang, jika ingin bertamu ke kak Aca.


"Udah tiga harian, Mah. Sejak malam aku antar Novi pulang itu." Sejak aku tak kunjung mengarahkan kameraku ke tengah-tengah tubuhku.


"Cemburu kah dia? Tapi Mamah ngerasanya dia ngerti tentang trauma kau, dia ada nanya-nanya ke Mamah soal Canda. Kau cerita banyak ke dia tentang Canda kah?" Mamah menyalakan televisi dengan remote yang beliau genggam tersebut.


"Tak cemburu ke Novi juga, murni masalah antara aku sama dia aja. Memang kak Aca ada nanya apa tentang Canda?" Aku melepaskan pundak beliau, karena barangkali mamah merasa berat.


"Nanya tentang kau ini nekat tak ke Canda, selepas Canda jadi istri orang ini. Atau cuma memang pengen Canda aman aja, tanpa pengen mesum sama Canda." Ternyata kak Aca penasaran juga padaku.


"Terus Mamah jawab apa?" Aku mengamati wajah yang harusnya memiliki kerutan itu. Namun, kulit itu dipaksa untuk tetap elastis dengan perawatan mahal.

__ADS_1


"Umumnya laki-laki, ada kesempatan ya mesum. Buktinya aja, kau pernah ajak Canda ngOyo."


Kenapa mamah jawab seperti ini sih? Kan kak Aca pasti berpikir bahwa saingan terbesarnya adalah Canda.


"Harusnya jangan jawab itu lah, Mah." Aku memasang wajah sedihku.


Bagaimana aku harus memperbaiki hubungan dengan kak Aca?


"Buat apa ditutup-tutupi?" Mamah merapikan rambutku.


Benar juga sih, tapi sebaiknya kan diamankan dulu. Agar kak Aca tidak berpikir negatif.


"Tapi kan aku tak niat jahat ke Canda juga, aku tak mau dia dapat kemalangan." Sulit untuk menjelaskan semuanya bahwa aku ikhlas Canda berbahagia dengan yang lain, tapi aku tak ikhlas jika Canda disia-siakan oleh pasangannya.


"Ya sana kau obrolin sendiri sama Aca." Mamah kembali fokus pada televisi.


"Ya udah sok Mamah minta kak Aca datang, nanti aku mau ajak makan malam di luar."


Mamah malah tertawa lepas. "Modus kau bagus betul. Nyerah ya tak bisa bujuk Aca?" Mamah malah meledekku.


Rasanya aku ingin menangis saja.


"Jangan nyerah dong." Aku mendapat tepukan di bahuku dari papah.


Aku menoleh ke arah datangnya beliau, kemudian beliau duduk di sampingku.


"Bingung, Pah." Ingin minta maaf pun bagaimana, memang letak kesalahanku di bagian mamah. Ia memaksa ingin melihat milikku, sedangkan aku tidak mengizinkannya. Apa pantas aku yang minta maaf?


Memang sulit rumus perempuan tidak pernah salah itu. Ingin menyudutkannya pun, nanti yang ada ia akan lebih-lebih marah padaku.


"Jangan minta saran dari Papah kau, sarannya pasti tak bagus. Ilmunya pemaksaan, tak mau ya nanti dihamili paksa." Dengan celotehan mamah itu, papah malah tertawa lepas.


"Terus aku harus gimana?" Aku menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian, untuk melihat mamah dan papah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2