Istri Sambung

Istri Sambung
IS233. Tamu usil 2


__ADS_3

"Sering aja kau begini ya, Canda?!!!" Aku terburu-buru mengenakan pakaianku.


Membagongkan, celana cargoku mendadak tidak bisa diresleting karena kepenuhan isi. Mana di Cendol tetap berdiri di tempatnya, dengan menutup matanya pula.


"Ya kau ngapain sih? Bikin iri aja, abis hujan begini. Mana suami lagi di toko material lagi." Canda tetap memejamkan matanya, hingga puding di tangannya di ambil alih dulu.


"Hey! Cuci tangan dulu." Canda menunjuk puding yang dibawa lari Aca ke dapur.


"Ya udah kau ke sana!" Aku masih mencoba menyembunyikan Black Mamba dalam wadahnya ini.


Siapa yang berdosa, jika suami istri tengah berhubungan lalu ketahuan seperti ini? Kami kah? Atau orang yang melihat kami?


"Ma…." Canda nyelonong masuk ke dapur.


Canda tukang nyelonong masuk, karena merasa rumah saudara sendiri. Aku pun teledo mengunci pintu rumah, karena pikirku tak ada yang akan masuk tiba-tiba saat hujan turun.


Eh, malah kami tidak menyadari jika hujan sudah digantikan dengan pelangi.


Aku berlari ke tangga saja, menuju kamarku untuk mengganti celana kolor. Kocak sekali, sekali tegang tidak bisa dikondisikan lagi.


Si Cendol malah tengah memakan puding yang ia bawa sendiri, ketika aku turun dari kamarku. Sulitnya berjalan, dengan keadaan ini tegangan tinggi.


"Udah cuci, Far?" Pertanyaannya terdengar santai. Padahal, pertanyaannya menjurus ke hal yang kami lakukan tadi.


"Udah." Sebenarnya aku sungkan menjawab.


Aku berkomunikasi dengan pandangan mata dengan istriku. Ia menggeleng berulang, saat aku memberikan tatapan dalam. Ia memberatkan Canda, ketimbang harus menuntaskan keinginanku dulu. Candanya lagi, bukannya pulang, ia malah betah di sini.


"Cobain, Far." Ia menyuapkan sesendok puding tersebut ke arahku.


Di depan istriku? Sungguh, aku takut perpecahan terjadi. Namun, Aca mengangguk ketika melihat ke arah kami.


Ya sudah, aku membuka mulutku lebar-lebar.


"Buatan siapa ini? Hambarnya."


Plek….


Mulutku malah dihantam dengan belakang sendok oleh Canda. Lihatlah, istriku sampai terbahak-bahak.


"Kalau buat anak kecil, memang jangan terlalu manis."


Alasan klasik. Anak kecil juga punya indra perasa.

__ADS_1


"Mana Cani? Kau keluyuran ke sini, Cani tak dibawa?" Aku memperhatikannya yang membabad makanan yang berada di mejaku.


"Tak, di mamah dari sebelum hujan. Udah aku telpon, katanya udah tidur di sana." Ia begitu asyik memakan apa yang ada di sini.


"Lemak semua badan kau, Cendol. Suami kau tak minta kau olahraga kah?" Aku mencubit-cubit lengannya.


"Lengan sulit kurus lagi lah, kalau udah pernah gemuk. Mulut kau rewel betul ya, Far! Pantas Novi kabur." Ia kembali menepuk-nepuk bagian belakang sendok ke mulutku.


Aku terkekeh mendapat tanggapannya. "Pantas juga lah kau lebih milih bang Givan, daripada aku." Aku bertopang pipi dengan memperhatikannya.


Tawanya lepas, lalu ia menoleh ke arah Aca yang duduk di sampingnya dengan menunjukku. "Masa mau sama perawan rasa janda ya? Rugi dong." Ia tertawa garing.


"Sekarang seleranya malah yang penting punya sarang aja. Sama aku, dia mau." Aku tidak percaya dengan celetukan Aca.


Setelahnya, dua orang wanita aku malah tertawa lepas.


"Ghifar enak kah?"


Jujur, aku melongo saja mendengar pertanyaan Canda.


"Enak, penuh. Gimana Givan? Masih enak dia?"


Hah???


"Enak betul memang Lendra?" Pembahasan seperti itu dengan Aca, sepertinya itu adalah hal yang menarik untuknya.


Canda mengangguk cepat beberapa kali. "Jarang nyentuh, sekalinya nyentuh malah pernah sampai buat aku terkencing-kencing. Tapi kata dia, itu air aku, bukan air kencing." Canda terus menggiling beberapa makanan dengan obrolan itu.


"Oh, ya?" Mata Aca samping bulat sempurna. Aku curiga nanti malah dia ingin dibuat seperti itu, sedangkan aku tidak tahu cara mainnya.


Canda mengangguk berulang. "Iya, mas Givan juga pernah. Tapi aku selalu tak mau di buat kek gitu, soalnya lemas betul."


Aku malah jadi tertantang, tapi minta arahan pada siapa ya? Masa pada papah?


"Kenapa sih? Kan enak?" Benar penasaran terpancar dari wajah istriku.


"Mau keluar itu ditunda terus, sampai akhirnya tak tahan sendiri. Dilepas lagi, diganti lagi gayanya. Gitu terus, sampai berkali-kali. Malahan waktu sama mas Givan, tangan aku diikat pakai dasi. Jadi tak bisa apa-apa coba, ribut mulutnya aja."


Wow.


Tapi Canda sedang diapakan?


"Kekerasan kah, Canda?" Aku malah ikut penasaran saja.

__ADS_1


Canda melirik ke arahku. "Tak sih, pelan betul malah. Cabut lagi, ngayun lagi."


Ya ampun, salah arti rupanya.


"Bukan gituannya keras-keras! Tapi, itu suami kau pakai kekerasan kah? Sampai ikat-ikat tangan kau segala?" Mesti saja dengan kesabaran jika berbicara padanya ini.


"Tak juga sih. Masa itu aku bilang, kalau skillnya itu kurang. Apalagi kalau dibandingkan sama bang Daeng, skill dia tak ada apa-apanya. Langsung tak terima dia. Siang-siang gerah, aku diperdaya." Canda menyatukan kedua tangannya sejajar. "Diikat lah aku, terus ditali ke kepala ranjang."


Seperti humor untuk kami, kami terus dibuat tertawa karena cerita jadi Canda. Ia mendeskripsikan cerita mesum, tapi seperti lawakan. Ekspresinya kocak sekali, matanya melebar dan mengecil seketika.


"Kau masih hidup tapi ya?" Aca masih ingin terus mengetahui akan cerita tersebut rupanya.


Barulah Canda tertawa sendiri. "Masih, padahal udah ampun-ampunan aku. Aku tak mau salah ngomong, takut dibuat kek gitu lagi. Disiksa pakai rasa nikmat itu, lebih menyiksa ternyata. Coba bayangkan aja, tinggal sekali dorong aja bisa keluar. Dia lepas aku gitu aja. Lagi ngebet kek gitu, segala diganti o*** dulu sama dianya. Aduh, ya ampun ini laki-laki. Tak habis pikir aku sama tindakannya. Harga diri itu, rupanya betul-betul tinggi. Dibandingkan sedikit aja, tak terimanya malah menyiksa."


Sekarang Canda mengerti o*** dan segala macamnya.


"Lagi berjalan kek gitu tuh, terus berhenti gitu buat dia o*** kita dulu gitu?" Pertanyaan Aca langsung diangguki Canda. "Apa tak jijik kah dia? Kan koyak betul itu padahal, baunya juga pasti udah kecampur khas padahal dianya belum keluar juga."


"Memang kau dulu tak pernah digituin sama mas Givan?"


Herannya, di antara mereka ini. Tidak sama sekali terlihat raut cemburu atau marah. Padahal, yang diobrolkan adalah pasangannya.


"Tak lah, kan cuma sekali aja. Dia lepas perjaka, aku lepas perawan. Malah yang ada panik bareng-bareng, takut bareng-bareng. Karena kita tak paham dulu itu kan? Khawatirnya, malah hamil gitu. Padahal, begituan tak buat hamil juga yang penting ada caranya. Kalau pertama kek gitu, hawanya takut aja."


Aku yang malah tidak suka pembahasan istriku ini. Dia bercerita tentang masa lalunya lewat gurauan bersama Canda dan dengan suami Canda juga pelakunya.


"Kek aku dulu digesek-gesek Ghifar, aku takut, aku nangis." Canda menunjuk wajahku dengan ia tertawa lepas.


"Apa yang kau pikirkan, sampai nangis kek gitu?" Istriku pun melirik ke arahku.


"Entahlah, memang takut aja kali. Ke sananya, malah diberi pengalaman aneh-aneh. Udah pasrah betul aku sebenarnya, udahlah dosa-dosa sekalian. Dibeginikan, dibegitukan. Kata aku, udah begituan sekalipun tak apa, yang penting aku jangan ditinggalkan." Tawa mereka membahana kembali. "Cacat betul akhlak aku sama dia, padahal aku baru betul keluar dari pesantren. Mabok laki-laki, aku sampai pasrah."


Kriuk dari kerupuk yang digigit Canda, terdengar begitu renyah.


"Tapi kau dulu tak sampai begituan ya sama Ghifar?" Istriku melirikku. Aku merasa, bahwa ia memang penasaran dengan masa laluku.


Apa ia berpikir, bahwa aku laki-laki buruk di masa lalu? Karena aku sampai berani menyentuhnya lebih dulu, padahal masa itu kami belum ada ikatan.


"Tak, kuat imannya meski aku nginep di rumahnya juga. Kaget aja aku sekarang, kok bisa Ghifar jadi gatal sekali. Berarti, kalian sering ya begituan?" Canda memperhatikan kami bergantian.


"Sebenarnya…..


...****************...

__ADS_1


__ADS_2