Istri Sambung

Istri Sambung
IS114. Riyana Studio


__ADS_3

"Coba tanya ke mamah, tanya ke Winda, Tika, gimana mereka menjadi istri itu." Aku tak akan menyeret nama Canda, karena permasalahan makin melebar.


Novi hanya menghela nafasnya, kemudian diam seribu bahasa.


"Cepet turun, Nov! Aku bersedia nunggu nih, sana kau penuhi ego kau." Kendaraanku sudah terparkir tepat.


"Iya, Bang."


Aku masuk bersama ke dalam klinik tersebut. Tidak begitu aneh-aneh, Novi hanya mengambil paket perawatan wajah saja. Mungkin ia belum tahu, bagaimana ajaibnya sulap klinik kecantikan ini. Jika sudah kecanduan seperti mamah, mereka pasti rajin bolak-balik aja ke klinik ini.


Hanya menunggu satu jam, setelah itu aku membawanya ke swalayan besar. Membeli ini dan itu, juga beberapa baju yang Novi inginkan.


Teringat akan permintaan dari Ria, biar saja aku nanti berikan uangnya. Jika pergi dengan Ria di luar pekerjaan, pasti membuat Novi cemburu kembali.


"Bang, aku mau uang sayurnya dikasih perhari aja," pintanya, ketika kami tengah membereskan perlengkapan bumbu dapur.


"Seratus sehari gitu?" Karena jumlahnya tiga juta sebulan.


"Iya, subuh kasih gitu. Nanti aku masak, terus kasih ke mamah sana buat sarapan anak-anak." Novi berjalan mendekatiku.


"Tapi, kalau bisa tambahkan. Buat pegangan aku." Novi nyengir kuda.


"Oke deh. Aku tambahin ya nanti? Sekarang istirahat dulu. Udah malam nih." Aku merangkulnya dan berjalan menuju kamar.


Sekarang pukul setengah sembilan malam, padahal pergi sejak jam sebelas siang.


~


Sebulan sudah, hidup tanpa anak-anak dan Novi tanpa ponsel. Aku melihat, anak-anak terlihat lebih berisi. Namun, kadang aku merasakan sesuatu yang lain di mata Kal. Aku tidak tahu pasti, karena apa itu. Kal seperti sedih, entah apa yang ia rasakan.


Sampai akhirnya, aku kini memberanikan diri untuk menjemput anak-anak. Tapi apa kata mamah dan papah kali ini?


"Kalau Novi udah trimester dua aja, biar fisiknya agak kuat gitu. Karena kalau trimester satu, masih mabok terus." Aku tidak mengerti, mengapa mamah mengucapkan hal demikian.


"Novi tak hamil, Mah," terangku dengan memperhatikan wanita terhebat dan cinta pertamaku itu, mamah Dinda.


"Ya berarti, dibuat hamil dulu. Karena Papah tak percaya, kau sama Novi udah baik-baik aja. Kek ada yang aneh aja, kek ada aturan di dalamnya." Papah menimpali ucapan yang membuatku melongo.


"Kal udah tak panjang tangan. Bahkan Mamah taruh uang di mana aja, sekarang masih utuh. Cek CCTV, dia udah tak lirik-lirik dompet lagi. Jadi kau tenang aja, anak-anak kau terkontrol biarpun bebas di sini," cetus mamah, dengan melipat kembali pakaian anakku yang tadi aku angkat dari jemuran.

__ADS_1


Mamah tidak tahu saja, bagaimana Kal setelah pulang bermain atau sekolah. Novi pernah bercerita, tentang Kal pulang dengan uang misterius. Nah itu adalah uang hasil keterampilan tangannya yang salah.


"Kalau dia pulang main itu gimana, Mah?" tanyaku kemudian.


Mamah menjentikkan jarinya. "Aman aja," ujar beliau.


Aku kira, beliau menjentikkan jarinya karena tahu bagaimana Kal.


"Apa tak cek tas Kal?" Aku ragu-ragu mengutarakannya.


"Cek juga. Tabungan juga normal isinya."


Kenapa aku tidak percaya, jika mamah membuat perubahan pada Kal? Mamah kan lebih suka bertindak tegas, bukan banyak berbicara. Namun, sekali menegur. Ucapannya masih teringat sampai ke alam bawa sadar kita.


"Mamah ngomong apa ke Kal?" cecarku dengan memperhatikan panutanku itu.


"Kal makan, Kal ngaji."


Tepok jidat.


Mamah memang kadang begitu lucu.


"Tak, kan Abang kan? Aku tak ada banyak nasehatin, Kal gampang nangis. Jadi bingung, belum ngomong udah nangis." Mamah menghela nafasnya.


Benar sekali. Kal gampang menangis, jadi aku bingung untuk menasehatinya.


"Papah memang bilang apa?" tanyaku dengan memperhatikan papah yang tengah menaikkan kakinya ke atas meja.


"Pencurian barang, hukuman kampung itu biasanya diusir dari kampung selama tiga bulan. Belum kalau kena qanun Aceh, lebih berat hukumannya. Bisa ada cambuk, sanksi, belum lagi malu yang diterima. Jelasin juga, hukuman pencuri menurut undang-undang itu. Dipenjara selama lima tahun, terus bayar denda juga sembilan ratus sekian. Secara agama juga, Papah jelaskan juga. Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Tapi pakai bahasa anak-anak, biar mereka mau paham," ungkap papah, dengan pandangan fokus pada televisi.


"Teungku haji soalnya, Far," timpal mamah, membuat kami tertawa renyah.


"Tapi itu tak sekali jelaskan. Diulang lagi, ngobrol lagi begini. Terus tarik cerita-cerita zaman dulu, tentang pencuri yang dihukum di zaman nabi. Jadi dia itu, kek takut gitu loh," tambah papah kemudian.


"Mesti aja Teungku haji yang maju," tambah papah, ketika aku terdiam.


Tawaku menggema kembali. Kemudian aku memilih untuk keluar dari rumah saja, aku ingin melihat sekitarku.


"Eh, Bang. Udah rapi aja? Mau ke mana?" Kebetulan sekali, aku berpapasan dengan bang Givan.

__ADS_1


Langkah bang Givan terhenti. "Mau ngobrol sama ibu tentang Ra. Kak Aca tak mau di lingkungan rumah, katanya masa aku bolak-balik aja kalau kita pulang ke rumah lagi. Kan rencana aku ini lusa berangkat ke Kalimantan. Jadi, gimana gitu kalau Ra tinggal di ibu aja sama kak Aca juga? Ibu keberatan tak gitu tuh. Untuk sementara waktu, karena rumah Ra belum dibangun. Udah pesan sama Zuhdi sebenarnya, tapi ngantri katanya. Mungkin tiga bulan lagi baru bisa," ungkapnya dengan menyatukan alisnya.


Ekspresi wajahnya memang sering seperti ini, apalagi jika tengah kepanasan begini. Urat wajahnya, memang terlihat kurang ramah.


"Tak keberatan juga keknya. Ibu pasti bolehin, coba aja." Rasanya tak mungkin saja ia keberatan jika ditemani.


Karena Ria kan tinggalnya berpindah-pindah. Kadang aku melihatnya menginap di rumah mamah, kadang di rumah Canda. Karena Ria pernah mengatakan sendiri, karena ia tidak merasa bebas merokok jika di rumah ibunya. Ibunya tidak tahu akan hal itu, Ria pun masih takut untuk terang-terangan merokok.


"Iya keknya. Aku coba ke ibu dulu, Far." Bang Givan menepuk pundakku, kemudian ia melangkah meninggalkanku.


Ah, ke Riyana Studio saja pikirku. Karena ingin mengobrol bersama Ghavi pun susah, rumahnya dipagar tinggi dan nomornya jarang aktif juga.


Begitu ramai, seperti biasa. Banyak orang-orang kreatif di sana. Ghava hanya memberi wadah saja untuk mereka.


"Papa ya?" sapa anak kecil yang memakai jilbab modern.


Itu adalah Rere, gadis kecil seumuran Ceysa. Ia adalah anak dari teman dekat Canda dan almarhum mantan suaminya.


Aku mencubit pipinya pelan. "Iya, ini Rere ya?" sahutku dengan tersenyum lebar.


Ia mengangguk dengan memamerkan giginya yang mulai rusak. Gigi susu anak-anak, bahkan tidak kuat sampai lima tahun. Sama seperti Kal dan Kaf dulu, mereka sakit gigi mulai dari usia empat tahun. Gigi susu mereka mulai rusak, kemudian harus dicabut agar gigi dewasa tumbuh dengan bagus.


"Jangan main sendiri, nanti diculik." Aku membawanya masuk ke dalam studio ini.


"Tak, aku ikut ayah." Ia menunjuk laki-laki yang sibuk di depan komputer.


"Hei! Sini, Dib!" seru seseorang, sesaat setelah Adib keluar dari salah satu ruangan.


Ternyata bukan bang Givan saja yang bekerja membawa anak. Bang Dendi dan Ghava pun membawa anaknya, saat bekerja seperti ini.


"Ke dato, Abi."


Aku mengikuti langkah Adib yang kembali masuk dalam ruangan. Ada Ghava dan mantan kekasih Novi di dalam sana.


Jadi seperti itu rupanya tempat berkeluh kesah Novi?


...****************...


Apakah akan adu jotos???

__ADS_1


__ADS_2