Istri Sambung

Istri Sambung
IS138. Security bioskop


__ADS_3

"Ada mantan aku." Novi tertunduk lesu.


Ya ampun.


"Kenapa memang? Aku lebih jelek dari mantan kau?"


Sialnya lagi, ia malah mengangguk. Rasanya, aku ingin membalik kepalanya.


"Udahlah kau! Jangan pegang-pegang! Aku mau nonton sendiri." Aku menghempaskan tangannya.


Kemudian, aku melangkah ke arah bioskop. Biar saja ia sendiri di kota ini. Malas rasanya jika begini.


Pantas saja aku tidak dipublikasikan. Ternyata, alasannya ini. Aku jadi penasaran, yang mana mantannya? Seperti apa rupanya?


"Bang…. Ikut." Novi berlari ke arahku.


Novi menghampiriku, yang sudah berada di pintu masuk bioskop ini.


"Permisi. Dicek dulu ya tasnya, Kak," tegur seorang security yang mendekati Novi.


"Oh, iya." Novi memberikan tasnya.


Tas Novi dibuka dan dilihat isinya, di atas meja security tersebut. Ada obrolan di sana, tapi terdengar pelan. Aku berjalan lebih mendekat, untuk bisa mendengar obrolan mereka.


"Aku udah ada suami," ungkap Novi yang seperti berbisik.


Aku bisa menyimpulkan, bahwa security ini adalah mantannya.


"Apa perlu waktu lama? Biar aku duluan, Nov," ketusku tidak bersahabat.


"Oh, iya. Sudah, Kak. Silahkan." Security tersebut memberikan tas milik Novi kembali.


"Terima kasih." Novi mencangklek tasnya kembali, dengan langsung menggandeng tanganku.


Masih bisa-bisanya ia menggandeng tangan suaminya? Setelah mood suaminya ia kacaukan.


Kalau saja banyak perempuan aku ladeni. Novi bukan apa-apa untukku. Rasanya ingin sombong saja.


"Bang…. Mau nonton film apa?" Novi masih menggandeng tanganku.


"Nonton sendiri, kau cari film sendiri aja. Kau pegang debit, kau bebas mau terbang ke mana." Aku berbicara tegas dalam nada pelan.


Aku tidak mau mencuri perhatian orang-orang di sekitarku.


"Ya ampun, marahnya jadi. Maaf sayang." Novi memeluk lenganku di depan umum begini.


"Kau bilang aku lebih jelek, tapi kau mohon-mohon untuk aku nikahi. Sana minta mantan kau nikahi kau! Yang katanya tampan itu," sindirku sinis.


Novi membawaku untuk berhadapan dengannya. "Apa sih, Bang?! Lebih jelek kan, bukan berarti dia lebih tampan dari Abang juga."

__ADS_1


Kalimat macam apa itu?


Aku melirik security itu lagi. Yang kebetulan sekali, security itu tengah memperhatikan kami.


Tertangkap basah kan?


"Udah ya tak perlu ngomong apa-apa lagi. Niat aku tuh liburan, romantis-romantisan. Bukan bikin bad mood gini." Setelah mengatakan hal itu, aku meninggalkannya ke sisi lain.


Aku kesal, tapi aku dalam keramaian.


"Bang…. Ke hotel dulu deh. Yuk? Abang kentara sekali lagi marah tuh, tak enak dilihat orang." Novi merangkulku, kemudian kepalanya bersandar pada bahuku.


"Aku tetap mau liat film. Sana kau balik sendiri!" Aku menemukan film yang aku inginkan, kemudian aku berjalan ke arah tempat pembelian tiket.


Novi mengikutiku kembali. Ia bagaikan anak ayam yang mengekori induknya.


"Satu, Kak." jawabku ketika ditanya oleh petugas bioskop.


"Ehh, dua. Dua, Kak." Novi yang berada di belakangku, ikut menjawabnya saja.


"Baik, Kak."


Aku langsung membayar, kemudian keluar dari antrian ini dengan Novi yang menggandeng tanganku.


Apa ia ingin menunjukkan pada mantan pacarnya, bahwa ia begitu romantis dengan suaminya? Kenapa tak sekalian ia videokan saja kegiatan anu kami, lalu ia tunjukan pada mantan-mantannya?


Geram aku rasanya.


Sampai akhirnya, leherku seperti tengah dimakan olehnya. Aku panik, kemudian segera melepaskan kepalanya yang nempel pada leherku ini.


"Jangan kek vampir coba!" Aku memberinya peringatan dalam nada amat lirih.


Aku takut dimarahin para penonton yang lain.


"Begini loh cara pacaran anak muda." Ia memperjelas artikulasi dalam pengucapannya yang menggunakan nada rendah.


"Tak ada! Anu aja sekalian! Malas aku pacaran begini, bikin pusing aja. Mending gas Oyo, daripada cium-cium di bioskop." Aku menghela nafas beratku. "Lagian heran juga, setengah tahun aku nikahi, malah bahas pacaran di bioskop. Aku mau, aku tekan sampai keluar. Ngapain juga pemanasan di bioskop, bikin palak aja kau!" Aku menggerutu padanya.


Tawa Novi langsung membahana.


Aku panik, aku langsung membekap mulutnya. Naasnya, semua orang sudah menatap marah pada kami.


Menyebalkan sekali memang Novi ini!


Huh, bikin malu saja!


"Diem! Diem! Bisa tak?" Aku mengunci lehernya nya dalam siku dalamku.


Novi mengangguk cepat.

__ADS_1


Aku melepaskannya dan langsung menonton film kembali. Aku tidak mengerti kenapa para perempuan tidak suka film aksi, padahal begitu seru menurutku.


Setelah selesai, aku meninggalkan Novi di lobi bioskop. Karena, aku tengah kebelet buang air.


Cukup lama, karena mengantri. Ternyata para penonton yang tadi menonton bersama pun, menyerbu toilet bioskop setelah film selesai.


Setelah selesai dengan hajatku. Aku keluar dari dalam kerumunan manusia di toilet ini.


Moodku bertambah buruk, saat Novi kembali tengah bercakap-cakap dengan security tadi. Security tersebut mengeluarkan ponsel, sembari bercakap-cakap dengan Novi.


Aku yakin, ia meminta nomor ponsel Novi. Syukuri untuk Novia, karena ia tidak memiliki ponsel. Biar saja aku rela bergantian ponsel dengannya, yang penting aku tidak membelikannya ponsel lagi. Bisa kumat gatalnya pada mantan-mantannya nanti.


Aku tidak suka melihatnya berkomunikasi dengan para mantannya, atau laki-laki lain di dunia maya. Karena ia pasti akan membeberkan semuanya. Novi akan membuka aib rumah tangganya, pada laki-laki yang bertanya tentang kebahagiaannya.


Novi menunjukku, kemudian ia melambaikan tangannya padaku.


Awas saja kau, Nov! Aku sumpal mulut kau malam ini.


"Nah, ini suami aku." Novi malah memperkenalkanku dengan mantan pacarnya yang katanya lebih tampan dariku itu.


Ck, cuma menang putih saja.


Rasanya aku ingin memakai skincare saja, agar memiliki kulit yang putih. Tapi apa pantas jika aku putih? Apa putih patokan lelaki idaman? Tapi papah hitam, mamah sampai mabuk kepayang.


Sebelum setua itu, di leher dan dada papah bahkan sering memiliki cap cinta dari mamah. Setelah setua ini, aku memang tak pernah melihatnya lagi.


"Dewo, Bang."


Aku berjabat tangan dengan mantan pacarnya Novi ini. "Ghifar." Aku memamerkan senyum yang kata orang-orang, aku terlihat manis dengan senyum ini.


Matanya terlampau melotot. Menurutku, aku lebih unggul darinya. Eh, tapi tidak boleh merasa seperti itu. Akan disetarakan dengan iblis nantinya.


"Asli mana, Bang?" tanyanya yang mungkin hanya berbasa-basi saja.


"Aceh, Bener Meriah." jawabku kemudian.


Aku melirik pada Novi. Kemudian aku merangkulnya, berniat membawa Novi pergi dari sini.


"Mari, Bang. Kami permisi dulu." Aku melarikan diri membawa Novi yang kegatalan ini.


Awas saja nanti kalau sudah sampai di kamar Oyo kami. Aku akan membuatnya kayang dan roll depan.


"Kau pengen main-main sama keluarga Adi's Bird?" Aku menarik lehernya dalam siku dalam tanganku.


"Tak, Bang." Novi terkekeh geli, dengan mengikuti langkah kakiku.


"Balik ke Oyo sekarang! Aku ajak gaya helikopter juga kau!" Aku memilih untuk naik ke tangga eskalator turun ini.


Aku akan membabatnya habis sore sampai malam ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2