Istri Sambung

Istri Sambung
IS237. Double bed


__ADS_3

"Boleh ya ambil satu kamar sama Aca, Bang?" tanyaku pada kakakku itu.


"Terserah kau, dosa-dosa kau sendiri." Bang Givan terlihat cuek, tapi aku yakin dirinya pun memata-matai.


"Kamar lain aja lah, Bang. Tak muat nanti, ada Ra sama Nahda." Wajah istriku terlihat begitu lelah.


"Ada twins bed, Ca. Aku sama Canda ambil twin, biar Cani tidak terkena guncangan. Sering malas gerak soalnya si Cendol." Bang Givan melirik istrinya.


Memang guncangannya heboh sekali kah?


"Saiko otak kau, Van!" Aca memberikan tasnya padaku.


"Memang tak apa kah Ra sama aku nanti? Maksudnya, malamnya tuh, tidurnya tuh." tanyaku dengan kembali berjalan menuju ke meja resepsionis.


"Ya tak apa, kan Aca dibayar untuk jaga Ra. Bisanya liburan, malah Ra dibalikin ke aku?" Bang Givan menyerahkan Cani pada Canda.


"Mungkin maksud Ghifar, kan kamarnya mau dipakai zina."


Lihatlah, semua yang berlalu lalang di dekat kami malah menyoroti kami semua. Ya ampun, Canda. Kota ini pun masih Aceh, di mana melarang perbuatan seperti itu.


"Ohh, yang penting jangan Ranya aja yang diajak zina."


Kami sudah sampai di meja resepsionis. Bang Givan langsung memesan beberapa kamar, yang memang letaknya saling berdempetan. Kamar dengan jenis double bed semua yang ia pesan. Satu kamar berisikan dua anaknya dan dua pengasuh.


Key dan Ceysa sekamar bersama dengan para pengasuhnya. Kemudian, Chandra dan Zio juga dua pengasuhnya. Sedangkan Jasmine dan Hala, satu kamar dengan Novi. Aku bersama dua anakku dan dua gadis kecil, berikut wanitaku juga. Kami akan memesan extra bed, agar tidak berebut tempat empuk. Tentunya, bang Givan bersama Canda dan Cani yang masih lengket dengan Canda. Karena setahuku, Cani belum lepas ASI.


Kami memutuskan untuk beristirahat dulu, karena kami begitu kelelahan dalam perjalanan . Barulah esok paginya melihat ke tempat tujuan, yaitu fenomena alam tapak kaki yang berukuran raksasa.


"Pa, aku capek betul beneran." Aca terlihat sudah sangat payah, ketika aku mendekati ranjangnya.


Ia baru saja siap menidurkan kedua gadis kecil tersebut. Sedangkan Kal dan Kaf, mereka pulas dalam ranjang yang lebih rendah. Mereka kelelahan, karena tidak tidur siang juga.


"Eummm…. Kalau gitu, aku keluar sebentar ya? Aku belum ngantuk." Aku sudah begitu lelah, hanya saja belum begitu mengantuk. Niatku untuk mengajaknya bergelut, agar aku benar-benar lelah dan tertidur pulas. Namun, Aca sudah kelelahan sendiri.


"Mau ke mana?" Ia menarik bajuku, ketika aku kembali bangkit dari ranjangnya.


"Jalan-jalan di depan, cari ngantuk." Aku duduk di tepian ranjangnya.


Ia tidur bersama anak-anak, sedangkan aku diminta untuk tidur sendiri dahulu.


"Ya udah sama aku aja cari ngantuknya." Ia bangkit dari posisinya.


"Katanya udah capek betul?" Aku tak lupa sedikitpun, kala ia menolak sebelum aku memberitahu niatku mendekatinya.

__ADS_1


"Ya dari pada Papa keluyuran di luar. Tapi, aku tak mungkin kek biasanya. Aku capek beneran, Pa." Ia bersandar pada lenganku dengan memainkan rambut daguku.


"Jadi, mau tau beres juga?" Aku menangkap sinyalnya.


"Tak lah, masa mau duel tau beres?" Tangannya sudah merajalela. Ia bisa membangkitkan, meski belum resmi hajar di atas ranjang.


"Sama Canda gitu maksudnya?"


Ia mengangguk dan tertawa kecil. "Nanti aku dikira iri jadinya, padahal aku benar lagi capek." Ia menurunkan satu persatu kakinya.


Kemudian, ia menarik kemejaku sedikit keras. Dengan gerakan lambat, ia membuka satu persatu kancing kemejaku.


"Tapi mau kan sedikit o***?" Aku tersenyum penuh harap dengan mengusap-usap bibirnya. Maksudnya, aku yang ia kerjakan begitu.


Ia mengangguk, kemudian mengusap dadaku karena kancing kemejaku sudah terlepas semua.


"Aku pengen kasih tau sedikit kesukaan aku." Aku membingkai wajahnya, agar tidak melulu begitu fokus pada dada lebarku.


Saudara-saudaraku memiliki dada bidang yang terbentuk semua. Karena sejak baligh, kami sudah familiar dengan alat-alat gym yang mamah miliki.


"Apa itu?"


"Kebanyakan perempuan, mungkin berpikir bahwa mempermainkan dulu itu favorit kami. Tapi, aku lebih suka yang langsung masuk kerongkongan. Tapi lain cerita, kalau Black Mamba belum bangun. Skill perempuan digunakan, jadi harus pandai-pandai lah." Aku tersenyum lebar ketika menjelaskan.


"Ok, aku rasa aku mampu." Ia menarikku ke ranjang sebelah.


"Pa…. Itu HP berisik aja. Matikan dulu nanti anak-anak bangun."


Eh, iya kah? Aku tidak mendengar jika ponselku berbunyi.


Aku langsung meraba kepala ranjang, di mana aku menggeletakkan ponselku. Nama yang tertera di layar ponsel, membuatku seketika terlonjak kaget.


Mamah melakukan panggilan video.


"Anteng, Sayang." Aca menahan perutku agar tidak tegak.


"Bentar, Ma. Mamah Dinda telepon ini." Aku menunjukkan layar ponselku padanya.


Aduh, ingin aku tolak. Tapi, pasti mamah akan marah besar. Aku biarkan, tapi akan mencurigai mamah.


"Panggilan video, Ma. Gimana ini?" Jelas aku panik di sini.


"Angkat aja, akting nguap, bilang udah tidur."

__ADS_1


Apa ini cara yang bagus?


Bodo amatlah, mari kita coba dulu saja.


Aku menerima panggilan video tersebut. Kemudian aku berbaring menyamping, dengan hanya menyoroti wajahku saja.


"Udah pada tidur? Tak ada kegiatan bakar jagung kah?" Aku masih melihat kesegaran di wajah beliau.


Sekarang masih pukul delapan malam.


"Belum ada, Ma. Aku capek betul, tadi nyetir tak ada yang gantiin."


Tiba-tiba Aca menarik sebelah kakiku. Ia merentangkan kedua kakiku, lalu dirinya menyelinap di bagian sana. Kini, aku menghadap plafon kamar.


"Oh gitu?"


Oh, sialan. Wanitaku menginginkan Black Mamba tetap hidup, sampai ia menghajar Black Mamba agar tetap terjaga.


"Ya, Mah. Kal sama Kaf pun udah tidur, di mobil mereka tak tidur soalnya." Aku mencoba tersenyum dengan menahan rasa geli ini.


"Di mana mereka? Coba arahkan."


Untungnya, ranjangku berada di tengah. Dengan ranjang mereka berada di ujung, sedangkan ranjang para gadis di dekat tembok.


Aku segera mengarahkan layar ponsel pada dua cucu mamahku itu. Aku sengaja tidak memutar kamera, karena akan terlihat Aca jika langsung menggunakan kamera belakang.


"Tuh, Ma. Mereka udah pulas." Lampu kamar memang remang-remang, tapi masih terlihat cukup jelas untuk pencahayaan panggilan video ini.


"Oh, oke. Mereka tak seranjang sama aku, Far?"


Eh?


"Bang Givan pesankan double bed semua, Mah."


Aku segera memejamkan mataku, karena Aca sedang menghajarku di dalam kerongkongannya. Jika tidak dalam panggilan video, mungkin aku akan gelapakan dengan menarik kepalanya untuk menyudahinya.


"Oh, jadi kau sekamar sama anak-anak aja kah?"


Aku merasa, dalam pertanyaannya ini ada sesuatu yang mamah curigai.


"Ya, Mah. Memang kenapa?" Aku mencoba berekspresi sesantai mungkin.


Tidak akan mempan jika beralasan sudah mengantuk dan kelelahan, sekali diangkat mamah akan tetap mengajak mengobrol.

__ADS_1


"Novi……


...****************...


__ADS_2