Istri Sambung

Istri Sambung
IS168. Alarm tubuh


__ADS_3

Sudah ngeres saja pikiranku. Rasanya tiba-tiba aku menjadi berminat sekali, karena pembahasan rokok ini. Pasti begitu nikmat jika dirokokin, merinding sudah aku mengkhayalkan rasanya.


"Mimisan itu!" Kak Aca melemparkan tisu saku padaku.


Benarkah?


Aku langsung menempatkan Cani untuk duduk di meja lagi, kemudian aku langsung mengambil selembar tisu kering dengan bungkus seukuran saku. Aku mulai menahan ingin, pasti terjadi seperti ini. Padahal hanya gambaran rokok merokok saja, bukan benar-benar merokoknya.


"Aduh, Papa berh*srat rupanya." Kak Aca geleng-geleng kepala, dengan bangkit dari duduknya. Ia mengangkat tubuh Cani, lalu melangkah dua langkah kemudian membelakangiku.


Entah percakapan apa, yang ia lontarkan pada Cani. Karena kepala Cani menoleh ke arah petunjuk tangan kak Aca.


Malunya lagi, kak Aca mengerti jika aku tengah berh*srat. Aduh, pasti dalam hatinya ia tengah meledekku habis-habisan. Aku segera melarikan diri ke kamar mandi, tanpa memberitahu kak Aca terlebih dahulu.


Gilanya lagi, aku malah teringat kegiatan mesumku dengan Kin di dalam mobil yang terparkir di swalayan. Saat itu aku tiba-tiba ingin, lalu Kin langsung menarikku ke dalam mobil kami yang terparkir. Sensasinya sungguh luar biasa, takut ketahuan orang padahal pasangan sah.


Mungkin aku adalah tipe laki-laki egois juga, karena terkadang ingin tahu beres tanpa bekerja keras. Baru pada Novi aku bekerja keras, karena ia yang selalu enggan mencoba.


Aku menepis pikiran tidak sopanku, karena darah mimisanku bukannya berhenti malah lebih banyak keluar. Aku tidak mengerti, kenapa ketika berpikiran jorok malah mimisan. Apa ya ilmu teorinya?


Aku memilih masuk ke satu bilik kamar mandi, kemudian duduk di atas kloset duduk yang tertutup. Aku menjernihkan pikiranku dulu, dengan melihat video lucu. Bukannya aku betah dalam toilet, hanya saja darah mimisanku masih mengalir.


Rasanya aku ingin menerkam kak Aca saja.


Eh, kok kak Aca sih? Jangan dong, lebih baik yang masih halal untukku saja. Aku sudah melempar keputusan pada Novi, jadi mau tidak mau aku harus mengikuti inginnya. Karena barangkali, ada hidayah-Nya.


Ya mungkin saja, aku harus berpikiran positif.


Drttt….


Satu getaran itu menandakan ada pesan masuk. Aku segera membacanya, yang bukan lain dari kak Aca.


[Lagi di mana? Makanan udah siap.] Tulis dalam pesan tersebut.


Bukannya segera membalas, aku malah mengklik foto profil yang tertera dalam kontak chatting kak Aca. Fotonya yang tersenyum menghadap kamera bersama anaknya dan seorang laki-laki, menunjukkan bahwa sebenarnya kak Aca belum bisa melupakan mendiang suaminya.


Sebaiknya aku mencuci wajahku, kemudian aku langsung kembali ke tempat bermain. Sedikit segar, ketika wajahku sudah dibasuh. Aku sekarang, tengah berjalan menuju ke tempat awal lagi. Di mana Canda yang sedang cosplay menjadi anak-anak yang berloncatan di trampolin.


Eh, ada sesuatu yang aku kenal. Seorang wanita, yang merindik-rindik untuk memperhatikan ke arah kak Aca dan Cani duduk. Apa ia berniat memata-mataiku? Aku akan menegurnya saja, agar ia tahu kalau ia ketahuan olehku dan malu sendiri.

__ADS_1


"Tadi diajak tak mau, sekarang datang sendiri." Novi langsung tersentak kaget, kemudian memutar arah tubuhnya menghadapku.


Apalagi maksudnya?


Apa ia berpikir, aku akan berbuat tak senonoh? Atau aku akan bermesraan dengan Canda atau kak Aca?


"Aku berubah pikiran." Novi terlihat gelapan.


Hmm, aku lebih percaya jika Novi ingin tahu bagaimana aku jika di luar rumah tanpanya. Ia ingin mencari celah kesalahanku lagi sepertinya.


"Ya udah sini." Aku melangkah mendahuluinya, tanpa merangkulnya.


Entahlah, aku selalu membayangkan agresifnya dia dengan bang Ken. Menanyakannya langsung pada Novi, jelas tidak mungkin. Karena jelas ia akan berbohong, ia pun akan merekayasa kejadian sebenarnya juga.


Terlihat kak Aca menoleh kaget padaku, tepatnya ia sekarang memerhatikan perempuan yang berada di belakangku. Mungkin ia pun terkejut, karena Novi bisa sampai di sini.


"Makan, Nov." Aku yakin kak Aca hanya berbasa-basi saja.


"Iya." Kak Aca duduk di sisi kiriku.


Aku seolah tidak memperdulikannya. Aku mengambil seporsi makanan yang sudah aku pesan, kemudian langsung menyantapnya tanpa menawarinya.


Hingga akhirnya, Canda keluar dan duduk di samping kak Aca. Dengan hijab yang diulurkan, ia malah anteng mengASIhi anaknya di depanku tanpa malu. Bagaimana jika aku tidak sengaja melihatnya? Canda benar-benar ceroboh.


"Ada kali ruang untuk menyusui sih, Canda." Aku merasa tiba-tiba makananku menjadi begitu seret di kerongkongan, karena melihat Canda mengASIhi anaknya begitu santai.


"Biar di sini aja, aku sambil makan." Canda dengan mudahnya makan sambil menyusui.


"Tadi mimisan, sekarang malah melongo aja liat Cani ASI. Jangan-jangan kau mau ya, Far?" ledek kak Aca begitu enteng.


Siapa yang aku lihat pertama kali?


Yaps, betul sekali. Aku langsung menoleh ke arah Novi, karena aku yakin ia tengah berasumsi jelek tentang suaminya sendiri. Novi tahu, akan kisah mimisanku.


"Ghifar mimisan sama kau, Kak?" Canda menyikut lengan kak Aca.


Kak Aca menoleh dengan anggukan ringan.


"Sama aku dulu tak mimisan," lanjutnya kemudian.

__ADS_1


Apa maksudnya dengannya dahulu? Di kamar hotel itu maksudnya? Benar-benar Canda ini! Apa ia tidak paham, jika Novi tengah mencari kesalahanku di sini?


"Keknya sekarang terlalu menahan, diem aja tiba-tiba mimisan." Kak Aca memperjelas keadaanku tadi, yang membuatku semakin diperhatikan Novi.


"Mana ada!" Tentu aku mengelak hanya untuk mencairkan ketegangan di hatiku saja.


Aku tegang, karena khawatir Novi mengajakku ribut di den umum. Aku khawatir ia berteriak-teriak, dengan tiduran aku selingkuh. Otomatis, aku bakal menjadi malu sekali.


"Abis ini temenin aku ke toko emas ya, Far?"


Bisa-bisanya Canda masih melangsungkan niat awalnya?


Aduh, tepok jidat.


"Sama kak Aca tuh, aku ngawasin anak-anak." Aku menunjuk kak Aca dengan daguku.


"Ya udah deh, kau rupanya takut betulan sama mas Givan. Padahal pasti aku jelaskan ke mas Givan juga."


Aku percaya, bang Givan percaya pengakuan istrinya. Tapi, khawatirnya ia malah minim kepercayaan padaku. Ia sudah tahu, tentang aku yang belum bisa melupakan istrinya. Bagaimana nanti, jika kecemburuannya terus bertumpuk menjadi satu? Aku khawatir malah nanti Canda benar-benar tidak bisa dijangkau dengan pandangan lagi.


"Paham sih, paham." Kak Aca melirikku, dengan terkekeh geli.


Paham apa dia? Apa ia paham, jika aku memiliki taktik untuk tetap mendapat kepercayaan dari bang Givan agar Canda sedikit bebas di pandanganku?


"Keknya, kedatangan aku ganggu kebersamaan kalian ya?"


Aku menoleh ke arah Novi. Ia tengah memperhatikan kami satu persatu.


"Abang pun jadinya kaku gitu ngobrolnya." Novi mengusap-usap lenganku.


Ya ampun, tangan itu. Pasti ia pernah gunakan di hari itu, untuk mengusap sisi lain dari bentuk tersembunyi dalam pakaian bang Ken.


Aku nyesek sendiri, ketika membayangkannya.


"Benar kan kalau aku ganggu, Bang?" Novi bertanya hal yang tidak perlu dijawab menurutku.


Ia hanya membuat keadaan menjadi canggung saja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2