Istri Sambung

Istri Sambung
IS40. Dapur


__ADS_3

"Far…. Kemarin kau ngajakin aku. Kenapa kau ngomong kek gitu? Bukannya kau pernah bilang juga, kalau rasa itu bisa datang dengan sendirinya, yang penting kita sering bersama. Nah terus, aku pikir kau ini keluarga aku. Rasanya aku tak begitu rugi, dengan kasih yang aku jaga selama ini sama sepupu aku sendiri. Yang selanjutnya, aku tau gimana kau. Kau tak mungkin sia-siakan aku kan, Far? Kau tak mungkin seenaknya aja sama aku kan, Far? Lagian, kau laki-laki baik. Bekas juga, cuma bekas istri kau kan? Memang perjaka di luar sana ada yang baru? Mereka juga bekas semua, sayang aja tak ada bekasnya. Memangnya perempuan, yang kalau udah berhubungan badan, bakal ketahuan dari selaput darahnya. Laki-laki kan akan tetap utuh, tak bisa kita bedakan juga."


Aku ingin mencari perempuan yang tidak hebat berbicara saja, seperti Canda contohnya. Dikit-dikit menangis, bukan secerdas ini menjawab. Aku mau bagaimana lagi coba? Aku selalu kalah jika berdebat dengan Novi.


Aku sekarang seolah bersalah, karena sudah memberi Novi ajakan. Padahal hanya ajakan dalam nada gurauan, bukan janji atau bagaimana.


Bagaimana jika sudah seperti ini?


Aku tak mungkin mengecewakannya. Tapi, jika sudah menikah. Pasti Novi lebih akan dibuat kecewa, karena aku tak mampu menghamilinya.


Sedangkan, angan-angannya ingin hamil dan memiliki keturunan.


"Nanti aku obrolkan sama mamah papah. Pernikahan bukan mainan, Nov. Aku harus minta pendapat mereka tentang kau, aku harus dengar nasehat mereka juga untuk pernikahan kedua aku." aku sudah bingung meladeni debat Novi.


Ia terlalu cerdas, untuk menjadi lawanku. Ya jelas juga sih, makanya ia bisa mengemban tanggung jawab sebagai seorang CEO.


"Apa sih yang bikin kau ragu sama aku, Far?"


Rasanya aku ingin pura-pura pingsan saja. Aku tidak bisa menjawabnya, aku takut orang bersangkutan tersinggung.


"Kal tuh maunya Roza. Sedangkan Roza tak bisa, aku diminta nunggu lima tahun. Aku tak bisa nunggu selama itu, paling aku mampu nunggu lima bulan aja. Kalau Kaf sih gampang dibujuk, dia mau siapa aja, yang penting dia tak sendiri di rumah. Dia trauma di rumah sendirian, dia takut kecelakaan lagi dan lama bantuan datang. Intinya, Kaf tak mau di rumah sendirian." aku sampai menjeda-jeda kalimatku, aku takut ia tersinggung.


"Jadi dalam artian, kau ragu aku mampu urus dan jaga anak-anak kau. Mungkin Kal perlu waktu untuk ngenal aku. Aku sibuk kerja, kau tau itu, aku tak ada waktu pendekatan sama anak-anak kau. Apalagi, Kal tak selalu ada di rumah mak wa Dinda. Gimana caranya aku tegur sapa coba? Masa iya aku selalu datang ke rumah kau begini? Apa kata tetangga? Dengan Kin meninggal aja, aku digegerkan yang jadi penyebabnya. Sampai mau tak mau, aku harus jalani hubungan sama Nando. Aku juga awalnya tak cinta sama Nando. Karena sering bersama dan chat setiap hari aja, bikin aku jatuh cinta sama dia."


Tuh, kan? Harus bagaimana lagi aku? Novi selalu bisa menjawab. Tapi, aku jadi tahu alasannya berpacaran dengan tukang jagal seperti Nando itu.


"Iya, iya. Aku pikirkan lah. Nanti aku ngomong dulu ke mamah papah, aku tak mungkin langsung ngawinin kau aja." aku mengacak-acak rambutku sendiri.

__ADS_1


Aku yang malah tersudutkan di sini. Aku yang malah merasa tak enak hati padanya.


Novi bangkit dari duduknya, "Jangan berpikir untuk nikahi Aca. Aku lebih dulu kau ajak ya, Far! Jangan bikin aku jadi anarkis nanti." ia mengacungkan jari telunjuknya.


Ia malah mengancamku?


"Nih bawa map-nya. Aku berangkat kerja telat. Udah apa kata nanti masalah itu. Tak mungkin juga aku ajak nikah perempuan yang masih masa iddah." aku berjalan ke arah pintu, agar Novi cepat pulang. Lalu aku bisa mengunci pintu segera.


Otakku sudah mumet berdebat dengan Novi. Ia ternyata lebih cerewet dan lebih lancar berbicara, daripada kelihatannya.


"Ok. Cepet ngomong ke aku. Jangan sampai aku udah tiga puluh tiga, terus kau baru ngajakin ke pelaminan." ia berjalan melewatiku yang memegangi pintu.


Aku menghela nafasku, "Iya, Nov!" aku lelah sekali padanya.


Novi melirikku sampai ke ekor matanya. Lalu ia lanjut melangkah keluar dari rumahku.


~


"Mah…." aku mengganggu mamahku yang tengah memasak.


"Kau tak kerja? Kaf kan udah kau antar ke sekolah kan?" mamah menjawab, dengan sibuk menumis sesuatu di atas kompor.


Aku duduk di kursi makan, sembari memperhatikan aktivitas beliau.


"Udah berangkat. Aku udah bilang ke Novi, aku agak telat berangkatnya." aku mencomot tempe goreng, yang berada di atas meja makan.


"Kenapa tak on time? Apa karena kau yang punya pabrik?" mamah menaruh hasik masakannya di atas meja makan.

__ADS_1


Kemudian, beliau kembali ke depan kompor.


"Aku mau ngomong sama Mamah, dikit aja." aku sudah merencanakan ini sejak semalam.


"Ngomong apa, Far? Butuh asisten rumah tangga? Atau butuh pengasuh anak lagi?" mamah membuang nafasnya, "Menurut Mamah sih, udah aja Kal sama Kaf bolak-balik kek gini lah. Kal udah bisa main, papah kau pun jadi biasa marahin Kal dan nyari Kal juga. Kemarin ada Kin yang baper, kalau anaknya papah marahin. Kaf sih masih anteng di sini. Jasmine tak nyamper, ya Kaf tak main. Hadi tak ke sini, ya dia anteng di rumah aja." lanjutnya dengan melangkah ke arah lemari pendingin.


Anakku berbanding terbalik.


"Aku kapok nyari pengasuh, Mah. Aku malah tak tenang, rumah ditempati orang asing. Perhiasan Kin aja sampai raib, untung bisa aku ambil lagi. Tinggal cincin nikah punya Kin aja, sampai sekarang pihak yayasan belum bisa nemuin." aku baru bercerita tentang ini pada mamah sebetulnya.


Mamah langsung memandangku dengan mengerutkan keningnya, kemudian ia geleng-geleng kepala. Mamah menutup lagi lemari pendingin tersebut, lalu berjalan ke depan kompor lagi.


"Makanya, apa-apa itu jangan ngelangkahin orang tua. Contoh coba abang kau, pengasuh sama asisten rumah tangga itu, dia minta rekomendasi mamah. Buktinya awet tuh sampai sekarang. Key masih sama Ifa, Chandra masih sama Devi. Zio masih sama Lia, ibu Muna masih jadi asisten rumah tangganya. Ceysa pun tak rewel sama Dwi, tinggal Tuyul aja yang susah dapat pengasuh. Ada yang mau, baru tiga hari dia pamit, angkat tangan sama tingkah Ra." mamah terkekeh kecil, "Kek Ghavi dulu harusnya kau ini, barulah tukar pikiran sama orang tua."


Aku kaget di sini. Ghavi bagaimana? Apa mamah tahu sesuatu.


"Ghavi kenapa memang, Mah?" aku bangkit dari kursi, lalu berjalan ke arah rak gula dan kopi.


Aku pura-pura polos dan tidak tahu apa-apa.


"Nikah lagi kan dia? Kek tak butuh orang tua, diem-diem aja."


Hah?


Mamah tahu?


Demi Allah, bukan aku yang memberitahukannya pada mamah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2