Istri Sambung

Istri Sambung
IS203. Meja dapur


__ADS_3

"Aku lagi pergi sama kak Aca, aku belanja banyak di minimarket. Aku lupa, malah bawa kartu ATM yang tak ada isinya. Bisa tolong transfer dulu tak, Bang?"


Waduh, sulit. Aku mengirimkan pada Novi, pasti istriku berpikir lain. Tapi bukannya aku sudah pernah bilang ya? Jika aku masih menjamin Novi. Semestinya, ia sudah tahu dan tidak kaget lagi.


Namun, khawatirnya aku ia malah berpikir bahwa aku masih mensupport Novi habis-habisan. Pasti banyak pikiran buruk kak Aca tentang suaminya ini.


"Eummm…. Pakai uang kak Aca aja dulu, Nov." Ini paling aman.


"Kak Aca cuma bawa cash dua ratus ribu. Kalau tak bisa, Abang ke sini aja deh."


Aku tak mungkin pergi dari kantor, aku baru saja datang. Aku bahkan melalaikan beberapa tumpuk pekerjaanku.


"Duh…. Ya udah mana nomor rekeningnya, Nov. Kirim aja di chat, nanti aku transfer secukupnya." Aku belum membahas lagi tentang uang untuk Novi pada kak Aca. Aku takut ini menjadi salah paham.


"Dua juta aja, Bang."


Bahkan, semalam aku baru memberi istriku enam ratus ribu. Sedangkan pada mantan istriku, sampai dia juta rupiah. Bukan aku perhitungan, tapi nilai tersebut pasti menjadi perdebatan dengan kak Aca. Harusnya ia lebih besar, ya harusnya sih.


"Oke, oke."


Aku mematikan panggilan telepon ini, kemudian mentransfer sejumlah uang ia butuhkan. Atas dasar rasa tidak enak hatiku pada kak Aca, aku langsung mengiriminya pesan.


[Maaf.]


Lama tidak terbaca, sampai akhirnya aku disibukkan dengan aktivitasku lagi. Saking banyaknya pekerjaan yang menumpuk, aku baru pulang ke rumah setelah pukul tujuh malam.


Bidadariku masih di sini, ia baru pulang dari pondok biyung untuk mengantar anak-anak mengaji. Aku lebih memilih untuk mandi lebih dulu, agar badanku sedikit lebih segar. Daripada menyapa mereka, dengan keadaan bau keringat seperti ini.


Tidak beruntung. Saat aku turun ke lantai bawah, kak Aca dan anak-anak sudah masuk ke dalam kamar. Penjagaan yang sama, papah duduk di sofa ruang tamu dengan mengobrol bersama mamah.


"Eh, Far. Sini!" Mamah melambaikan tangannya, ketika melihatku melongok ke arah mereka.


Tadi aku hendak ke dapur dan mengisi perut. "Ya, Mah." Aku berjalan ke ruang tamu, yang bersebelahan dengan kamar yang kak Aca tempati bersama anak-anak.


"Mau makan kah?" Mamah menarik lenganku, kemudian aku duduk di sebelahnya.


"Iya, Mah. Kenapa?" Aku memperhatikan dua orang tuaku bergantian.


"Aca keteteran bayar utang kau katanya. Minta tarik rumah aja, terus ada kembalian berapa gitu. Karena dia mau ambil perumahan aja katanya. Mamah tawarkan, biar Mamah yang bantu perbaikan rumah. Dia tak mau, katanya mau jerih payah sendiri."

__ADS_1


Kak Aca sudah melancarkan aksinya rupanya.


Aku manggut-manggut. "Ya, Mah. Nanti aku rinci kembali, yang udah dibayar berapa, yang masih nunggak berapa." Jawaban yang profesional bukan? Padahal aku sudah tidak mau tau lagi, berapa jumlah hutang istriku padaku.


"Ya udah, sana makan dulu! Mamah masak semur telur aja, sama mie bihun. Tak ada yang jual sayur, Mamah kehabisan stok sayur."


Aku tidak masalah mamah masak apa saja, yang penting tangannya yang membuat. Entah kenapa, rasanya berbeda jika buatan orang lain.


Aku bangkit dan berjalan ke arah dapur. Rintik hujan terdengar membasahi halaman belakang, hawa dingin pun menyeruak. Andaikan, kami tidak menikah diam-diam. Pasti, kami saling memeluk di dalam selimut.


[Pulang jam berapa?] Pesan teks ini, masuk sekitar jam lima sore. Aku baru membukanya, ketika sedang makan di dapur ini.


Aku mengunyah, dengan bermain ponsel juga.


[Barusan, terus langsung mandi. Ini lagi makan di dapur.]


Seperti sulap. Beberapa detik kemudian, wanitaku muncul dengan sudah tidak berhijab lagi.


Ia hanya melirikku, kemudian berjalan ke sisi lain. Tidak disangka, ia kembali dengan segelas air putih yang ditempatkan di sebelah piringku.


"Kirain belum ambil nasi," ucapnya dengan mengusap bahuku.


Ia mengangguk. "Udah, Pa. Ke kamar dulu ya? Takut anak-anak nyariin, masih ngobrol gulang-guling."


Ia langsung berlalu pergi. Urat wajahnya biasa saja, berarti ia tidak marah. Namun, ketika aku menchatnya meminta maaf. Ia tidak menjawab iya ataupun tidak.


[Masih marah kah?] Tetap aku tidak yakin, karena ia tidak menjawabnya.


[Karena apa?]


Loh, ia malah bertanya balik. Waktu makanku dua kali lebih lama, karena sambil bertukar pesan. Satu rumah, tapi rasa LDR. Kami bercakap-cakap, hanya lewat telepon saja.


[Ngasih uang Novi.] Aku memilih tidak berbelit-belit di sini.


[Tak juga, Pa."


Biasanya tidaknya perempuan itu adalah iya.


"Baru makan, Bang?"

__ADS_1


Ehh, tadi istriku. Sekarang, tinggal jandaku.


"Iya, Nov. Masih tinggal di sini kah?" Aku memperhatikannya yang berjalan ke arah lemari pendingin.


"Iya, Bang. Rumah Giska lagi perbaikan." Ia membawa air dingin, lalu duduk di hadapanku.


Menurutku, ini adalah saat yang pas. "Mau masuk ke kantor lagi tak? Tapi kedudukannya bukan lagi CEO, mungkin setara HRD aja."


Aku sudah memiliki istri, aku tidak enak pada istriku karena masih memberi mantan istri tunjangan saja. Meski ia mengatakan, bahwa ia tidak marah. Tapi, aku yakin dia kesal padaku.


"Eummm, aku mau ikut bisnis sama Canda aja deh. Aku mau anteng di rumah gitu, tinggal posting aja. Mau daftar jadi seller, di salah satu platform belanja online. Kata Canda, aku boleh ambil barang darinya, meski dia udah punya official shop di platform belanja online itu."


Bisnis seperti Tika lagi.


"Butuh dana berapa?" Aku akan menceritakannya pada kak Aca.


"Nanti papah cairkan uang bunda yang di Bank aja. Aku udah bilang ke mamah sama papah."


Syukurlah jika begitu.


"Tapi, Nov. Ini aku tak bisa nyanggupin kebutuhan kau lagi, iddah kau pun udah lama selesai. Aku cuma kasih jatah percuma ke kau kemarin itu." Maksudnya, jatah karena memang tidak tega saja.


"Iya kok, aku paham. Maaf ya reportin terus?" Ia malah menggenggam punggung tangan kiriku, yang tengah menggenggam ponsel ini.


"Santai aja." Aku menarik tanganku.


"Ehh, aku denger katanya Abang lagi sama kak Aca ya?"


Aku langsung memperhatikannya dengan seksama. Tahu dari mana ia? Apa ia pun berpikir, bahwa aku memiliki hubungan dengan kak Aca sejak kami masih bersama.


"Kata siapa?!" Aku sampai melupakan nasiku yang belum selesai dimakan.


"Yaa, ada deh. Bener ya itu?"


Mau aku berbohong, khawatir malah berimbas pada istriku. Mau aku jujur, khawatirnya malah rahasia pernikahan ini diketahui lebih awal.


"Tapi katanya ditentang ya, Bang? Apa karena pengalaman Abang kemarin? Jadi ayahnya kak Aca, takut anaknya dicampakkan kek aku lagi."


Loh? Siapa yang mencampakkannya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2