
Jika aku ke sana, pe*se*u*uh*n pasti terjadi lagi. Dua kali memang aman, aku bisa mengontrol dan tidak membuatnya hamil. Tapi, besok-besok mana tau benih itu nyelonong masuk ke rahimnya.
"Jangan nangis, Sayang. Aku tak kabur, aku pasti nikahin kalau restu udah di tangan." Aku tak tega melihat air matanya terus mengalir seperti itu.
"Aku sampai dimarahi ayah, Far. Sebelumnya, ayah tak pernah semarah itu." Ternyata kak Aca mendapat tekanan dari orang tuanya.
Jika boleh jujur, mamah pun keberatan. Berbeda dengan papah yang setuju saja, karena memang terbiasa menikah antar saudara di sini. Jika di Cirebon, itu sangat jarang terjadi.
"Mau tetap nikah tanpa restu kah?" Aku paham, ini pasti beresiko.
"Aku bingung. Aku tak mau udahan, tapi nikah pun gimana? Ayah udah bilang mak cek, biar larang kau datangi aku. Mak cek pun iya aja, entah gimana nantinya. Tadi kita VC bertiga."
Kami pun sekarang dalam panggilan video.
"Kau tetap pengen nikah sama aku?" Sejujurnya, aku ingin tetap menjadikannya istri. Tapi jika pilihannya harus meninggalkannya, ya aku tak bisa memaksa. Apalagi kami belum menikah, kami pun tidak terikat berpacaran. Aku yakin, kami pun pasti akan sama-sama tersakiti. Jika harus saling meninggalkan.
"Iyalah, kita udah jauh." Mungkin karena kami sudah berhubungan badan, makanya ia berpikir kami begitu jauh.
"Jalan keluarnya gimana?" Aku bingung untuk memutuskan, lebih baik kutanyakan dulu pendapatnya.
"Kita liburan."
Apa hubungannya? Healing kah begitu?
"Terus nikah di sana. Kalau pada akhirnya mak cek kompak sama ayah, kita benar-benar tak ada harapan bersama. Setelah nikah pun, kita tak apa tak serumah. Tapi, kau janji tak boleh pacaran apalagi nikah sama yang lain. Ini untuk ngunci kita aja, sembari nunggu waktu yang tepat untuk minta restu lagi."
Nekat. Nyaliku tak sebesar itu untuk membawa perempuan kawin lari. Bagaimana caranya kami menjadi suami istri, jika ingin memilikinya pun sampai bersembunyi seperti ini.
"Kau setuju kan, Far?" Kak Aca adalah manusia nekat yang pernah aku temui.
"Mana bisa menikah tapi tak serumah. Macam LDR aja, kita dekat-dekatan loh." Beristri pun, aku akan memikirkan ibu untuk anak-anakku. Bukan hanya tentang kami dan ranjang kami.
__ADS_1
"Sementara aja, biar orang tua pun tak bisa pisahkan kita, kalau suatu saat kita ketahuan udah nikah. Kalau kita masih tak ada hubungan gini, otomatis mudah aja kami dipisahkan."
Kenapa benar sekali ucapannya?
"Ya udah, mau kapan?" Aku akan menyanggupinya.
"Lusa tak apa. Kau punya kota, yang tak punya keluarga di sana? Atau kau punya teman dekat, biar aku bisa nitipin anak-anak?"
Ke mana ya? Siapa ya?
"Bali, tapi tak mungkin kita bawa anak-anak liburan sejauh itu. Orang tua pun pasti curiga, kalau kita alasannya liburan." Apalagi ibuku yang cerdas itu.
"Ya udah, nanti aku buat cerita kalau aku mau pulang dulu ke Cirebon. Ra bisa dipegang Givan dulu, terus kau yang antar aku ke bandara. Kita nikah, terus kita buat alasan kalau pesawatnya delay atau gagal penerbangan. Barulah kita balik lagi, dengan status kita yang udah sah secara agama. Kalau kita terlalu jauh ke Bali, atau kau antar aku balik ke Cirebon, otomatis orang rumah bakal curiga. Kalau hanya ngantar ke bandara, orang rumah tak akan curiga."
Kelak nanti anak-anakku sudah akan memilih pasangan, aku tidak akan melarang mereka menikah dengan pilihan hatinya. Jika memang aku ragu, aku akan memberikan pengawasan ketat untuk anakku yang dibawa suaminya. Agar tidak terjadi kenekatan seperti ini.
"Oke, aku sanggupi. Aku cari kyai dulu, yang mau nikahin kita di tempatnya." Akan kuturuti, jika memang bisa membahagiakannya.
Setelah esok harinya, setelah pulang kerja aku langsung ke luar daerahku. Untungnya, Sabtu selalu pulang lebih awal. Pukul sebelas siang, aku sudah berada di daerah Takengon. Aku mendatangi sebuah kampung, di mana tambak milik almarhum paman dari papahku berada. Tambak ini pun, diwariskan ke pak cek Safar. Tapi beliau sudah jarang ke sini, karena beliau sering sakit-sakitan.
Setelah berbaur dengan beberapa orang di tambak, aku di antar ke rumah ketua RT setempat. Aku langsung mengutarakan niatku, tentu dengan penolakan langsung dari RT setempat. Namun, tentu uang yang berbicara di sini.
Pak kyai pun sudah aku dapatkan, aku langsung memberitahukan waktu yang disepakati oleh kak Aca juga. Setelah itu, uang merah kuberikan kembali pada kyai tersebut.
Selesai, esok tinggal aku pergi bersama kak Aca untuk akad secara siri. Nahda pun tentunya akan dibawa, tapi kak Aca akan mengusahakan Nahda untuk terlelap lebih dulu sebelum kami menikah. Karena Nahda pandai mengadu, ia akan bercerita segalanya pada orang-orang terdekatnya.
[Gimana, Kak?] Aku menanyakan tentang alasannya pada bang Givan dan mamah, apakah bisa dimengerti oleh mereka?
[Udah, mak cek bahkan ngajuin untuk transfer ongkos pesawat. Tapi aku bilang, ongkosnya udah dibayar dan tiketnya udah dipesan sama kau. Besok jam tujuh kita berangkat dari rumah ya berarti?]
Balasan itu berselang sekitar sepuluh menit. Mungkin karena kak Aca sembari menghandle anak-anak.
__ADS_1
Pakdhe Arif, sungguh bukan aku yang berniat mengelabui. Tapi anak pakdhe sendiri yang mengajakku bekerja sama untuk ini.
Mungkin kak Aca gatal. Entah-entah lah. Tapi masalah mengobrol dan teman curhat, aku sudah mentok padanya. Ia pun tidak cemburu pada Canda, dengan alasan yang belum diketahui langsung.
[Iya, akad jam sembilan di mushola setempat. Aman kok, orang tambak juga tak ada yang kenal sama papah.] Aku bahkan mengatakan pada orang tambak, bahwa aku adalah kerabat luar kota dari keluarga pak cek Akbar.
[Maharnya berapa?] Ini yang tak pernah dijawab oleh kak Aca.
[Semampu kau aja, Far. Kau sih dari kemarin musingin mahar aja, seadanya aja lah, yang penting sah.]
Ngebet.
[Sebutin aja, aku bakal usahain.] Mahar adalah tuntutan.
[Mepet waktunya. Uang aja kah?] Balasnya kemudian.
Perhiasan pun ada, tapi milik Kin. Cincin nikah Kin yang turun temurun pun, sudah berada di brankas yang sama.
[Iya tak apa, bebas deh.] Aku akan mencoba untuk memenuhinya.
[Nominal yang unik, di tanggal besok tak apa.]
Aku teringat nominal maharnya, yang sama dengan tanggal pernikahannya sendiri suaminya. Kak Aca pernah mengatakan hal ini, ia pernah memberitahuku.
[Lima puluh juta, delapan ratus ribu, dua puluh dua rupiah. Gimana?] Sepertinya aku menyimpan uang cash senilai tersebut. Atau, bisa juga kutuliskan dalam check.
[Kalau kau mampu, ya tak apa. Aku mau mahar yang tak memberatkan kau, tapi nilainya tidak merendahkanku juga.]
Agak lain memang jika janda, mereka agar sedikit paham tentang hal seperti ini.
[Oke, aku siapin langsung. Biar keluar mobil, orang rumah tak curiga karena aku bawa masuk uang banyak.] Aku segera turun dari ranjangku, kemudian berjalan ke rumahku.
__ADS_1
...****************...