
"Ayah Ra ada tak?" Sepagi ini aku sudah bertamu ke rumah bang Givan.
"YAYAH…." Ra berteriak lepas menghadap area dalam rumah.
Dasar, anak Cendol. Bukannya ia masuk dan memanggilkan, tapi malah teriak-teriak.
"Apa sih, Ra?! Yayah lagi salin." Canda yang muncul dengan membawa sepiring nasi.
"Eh, Far. Mau jemput Ra kah? Gih bawa." Seringan itu Canda mengucapkan.
"Tak sih, mau jemput suami kau." Aku nyelonong masuk dan duduk di kursi tamunya.
"Tak mau banyak-banyak, Biyung." Ra menutupi mulutnya dan berlari masuk.
"Ini piring buat ayah, bukan buat Ra." Canda masuk kembali ke dalam rumahnya.
Tak lama kemudian, anak laki-laki yang sejak dulu dipuji tampan oleh banyak keluarga, kini muncul dengan sepiring nasinya.
Apa lauknya? Hanya telur setengah matang dan kecap saja. Dari dulu memang ia tidak pernah memilih makanan, apa yang dihidangkan ya pasti dimakan.
"Udah sarapan belum kau?" tanyanya dengan duduk di sofa yang dekat denganku.
"Udah, Bang. Dari setengah enam, udah matang sarapan." Aku pun tidak tahu Aca bangun jam berapa. Ketika aku terbangun, ia sedang mengolah masakan di dapur.
"Rajin ya istri kau."
Apa ia merasa iri.
"Canda pagi-pagi melek, mas dingin. Ya udah lanjut kelon."
Kok aku yang malah iri?
__ADS_1
Aku terkekeh. Wanita yang manja, ternyata ada hal yang menariknya juga. Perempuan mandiri memang selalu jadi idaman, tapi yang manja rupanya bisa memberikan kenyataan juga.
"Mau ngobrolin apa? Aku curiga kalau kau main ke rumah." Sesekali bang Givan memakan sarapannya.
"Gini, Bang. Aca udah kalang kabut aja, aku pun was-was sendiri. Soalnya, Farida ini gerak langkahnya makin berani. Ia sampai berani bahas pernikahan siri aku yang tak punya hukum kuat. Jadi pikir panjang, gimana kalau aku putus kerjasama dengan pihak Farida aja? Bener-bener mengganggu, aku pun takut tergoda juga." Aku langsung berbicara to the poin.
Bang Givan menelan makanannya terlebih dahulu. "He'em, tadi di ruangan sama aku pun dia banyak ngomong. Segala komentarin si Aca lagi. Meski aku tak pernah suka-sukaan sama Aca, tapi telinga aku panas dengar Aca dikomentari sedemikian rupa."
"Eh, memang kau urus peresmian pernikahan kau belum sih?" Bang Givan memandangku sekilas.
"Udah lah, Bang. Dalam antrian, tapi udah ada pelicinnya sih. Soalnya kan, ratusan nih kasus kek aku begini. Nikah siri, udah lumrah di sini." Aku langsung menjawab pertanyaannya itu.
Tapi, aku malah gagal fokus pada ucapan Farida tentang Aca. Mengomentari apa dia?
"Farida bilang Aca gimana, Bang?" tambahku kemudian.
"Dia tak percaya kau dapat Aca itu secara alami, disangkanya dijodohkan orang tua. Ya aku jelaskan aja sekalian, aku bilang aja kau udah nginep terus di rumah Aca. Langsung diam aja dia, mungkin dia tak ngira kalau kau seberani itu. Soalnya aku tanyakan kenapa ada tertarik ke adik aku kan gitu, dia bilang soalnya pembawaan kau yang kalem dan manis katanya. Belum tau aja dia, semanis-manisnya turunan mamah, akan buas di ranjang juga akhirnya."
"Terus dia bilang Aca gimana lagi, Bang?" Aku bersiap mendengarkan versi lengkapnya.
"Wajahnya judes katanya, bikin segan kalah mau nyapa. Udah gitu, baru hamil anak satu aja katanya melar betul. Pantas aja pak Ghifar ngelirik perempuan lajang, soalnya Aca tak bisa berhias diri di tengah profesi suaminya yang dilirik banyak perempuan katanya. Pengen aku tampol gitu mulutnya, dia bilang Aca judes, belum tau aja dia rupa mamah kami yang lebih killer. Kalau ada rupa mirip mamah gitu, apalagi saudara sendiri, diejek gitu, aku sendiri yang tak terima."
Rupanya Farida tidak pulang, masanya aku pamit pulang padanya dan bang Givan.
"Aca bukan hamil anak pertama," sahutku membenarkan.
"Ya aku kasih tau juga tuh, dia hamil anak kelima. Lama mereka siri, aku bilang. Mereka ini udah ada anak sebelum hamil yang sekarang, ini juga anak Aca aku bilang, aku nunjuk Ra. Harusnya terkecoh dia, apalagi Ra sama kau udah papa-papa aja. Nah lepas itu, dia diam aja. Mungkin mikir kan, duda banyak anak ini, resiko menikah sama duda anak segudang, udah mirip resiko buat yayasan panti asuhan."
Ada saja perkataan nyeleneh yang membuatku tertawa lepas.
"Orang bisnis, pasti resikonya kan diperhitungkan dulu tuh, Far. Harusnya sih, dia masa itu lagi memikirkan resiko tuh, cuma entah kenapa dia diam aja," lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Iya betul, Bang. Terus dia ngatain Aca apalagi?" Aku memperhatikannya yang tengah makan kembali.
"Kurang bisa memantaskan diri dengan kau katanya. Mungkin masa itu, pakaian Aca kurang mewah kali ya, Far? Tapi aku pun tersinggung tuh, karena tiap hari Canda dasteran terus. Mana sering kali dia ini tak dobel celana stretch, alasannya biar pipisnya mudah. Udahlah, ada aja gitu yang buat aku tersindir. Masalahnya, kalau pakaian terlihat terlalu mewah sedangkan bukan di tempat yang semestinya juga, malah kesannya norak gitu. Memang istri-istri kita ke mana pakai pakaian mewah tuh? Izin pergi ke toko pakai gaunnya Cinderella, ya repot juga dia melangkah. Wajar aja sih menurut aku tentang pakaian istri-istri kita. Waktunya diajak kondangan ke relasi bisnis, gaun harga jutaan pun jadi pemantas tubuh Canda. Mereka lihat Canda sama Aca di rumah, ya pasti daster busana mereka. Ada lagi dia bilang, harusnya wanginya itu tercium dari jauh, kek dia sendiri gitu. Dia tak tau misk thaharah wanginya memabukkan ketika diendus."
Aku terbahak kembali, aku tahu parfum apa itu. Selain Novi, Aca pun memakainya.
Parfum itu memang mengundang minat laki-laki, apalagi ketika aku mencium area sensitif istriku. Sudah mencium area sensitif, ditambah dibangkitkan dengan wewangian mengundang hasrat. Rupanya pun, Canda mengenakan parfum kecil itu, sampai bang Givan tahu dan menariknya dalam kalimatnya.
"Memang sih, wangi betul si Farida ini. Anteng dia di ruangan tuh, seruangan bau dia." Tetapi wanginya tidak mencolok, terkesan lembut dan feminim.
"Menurut aku, sewangi-wanginya perempuan tuh. Kalau bukan aroma khas tubuh mereka sendiri, apalagi aroma khas mulut keduanya, ya wewangian kek gitu tetap mengganggu di hidung aku."
Ada pula yang mengatakan bau milik perempuan lebih menarik. Ada-ada saja memang para jantan sepertiku ini.
"Macam sanggup o*** tiap bermain aja kau." Aku sengaja meledeknya.
"Hm, meledek." Ia menoleh ke arah dalam rumahnya. "Canda…. Sini!"
Waduh-waduh, apa ia ingin menembuskan langsung pada Canda?
"Apa?" Canda cepat muncul, mungkin karena posisinya tidak jauh dari ruang tamu.
Bang Givan membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Kemudian, ia menjulurkan alat pelafalannya.
"Ghifar nanya aku sering gini tak katanya." Bang Givan seperti tengah membasahi area jemarinya yang dibuat lingkaran lonjong itu.
Aku melongo saja melihat tingkahnya. Bertambah seperti menonton film dewasa yang absurd, Canda malah mengangguk.
Sejurus kemudian. "Selalu, soalnya kadang pelumas habis kan dia pakai air liurnya sendiri. Aku nolak lah, kek apa aja. Jadi dia langsung basahi pakai mulutnya." Pengakuannya membuat bang Givan tertawa puas melihat raut bodohku yang terkaget-kaget ini.
Benar-benar pasangan yang absurd.
__ADS_1
...****************...