Istri Sambung

Istri Sambung
IS204. Mobil dalam sarung


__ADS_3

"Jangan mulai ya, Nov?!" Minat makanku hilang sudah.


"Loh memang kan? Aku diminta terus maklumi kesalahan Abang dan masa lalu Abang, tapi Abang tak bisa kasih toleransi sedikit."


"Bukannya keputusan kemarin ada di kau ya? Kau minta pisah kan?" Aku menunjuk dirinya.


"Ya, memang," sahutnya begitu tegas. "Tapi kenapa pilihan selanjutnya itu serumah, tapi tidak sekamar? Mau jadi apa rumah tangga kita?"


Aku bangkit dari kursi ini. "Udah terlewat kan? Ngapain dibahas? Suka betul ungkit-ungkit!" Aku meninggalkannya sendirian.


Sudah menjadi mantan istri pun, rupanya masih suka mengungkit masalah kami kemarin.


~


Keadaan di rumah mulai stabil, setelah satu bulan selalu heboh dengan berbagai masalah. Novi yang sudah kembali ke rumah Giska, dengan kak Aca yang sudah menempati perumahan baru.


Rumah yang hampir roboh itu dibeli olehku sendiri, dan selebihnya digunakan untuk biaya pengambilan perumahan baru tersebut. Aku sengaja meratakan rumah tersebut, karena kerusakannya sudah begitu parah. Khawatirnya, jika diperbaiki malah merambat ke bangunan lama yang tidak diperbaiki.


Ini adalah pertama kalinya aku mengunjungi istriku, setelah sekian lama kami menanggung kerinduan kami. Sama sekali aku tidak bisa mengendap-endap ke kamarnya, karena suasana rumah selalu ramai.


"Nginep kah, Pa?" Kak Aca menyajikan es kopi yang viral itu.


"Eummm, nanti aja deh. Pasti mamah curiga, karena aku belum pindah ke rumah aku sendiri." Ditambah lagi, aku membawa mobil, yang jelas tidak bisa disembunyikan di dalam rumah.


"Tapi sekarang udah jam setengah sembilan malam, Pa. Memang mau pulang jam berapa?" Kak Aca melirik jam dindingnya.


"Mamah tau kok, kalau aku di kantor lagi sibuk. Pas kemaren aja, aku baru pulang jam setengah sebelas malam bareng Ria."


Tengah ada garapan produk baru yang membutuhkan perhatian kami semua, sehingga kami lebih lama bekerja di kantor untuk bisa segera memasarkan produk tersebut.


"Jadi sekarang pulang jam berapa?" Kak Aca berjalan ke arah kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu ini. Kemudian, ia menutup pintu kamar tersebut dan berjalan ke arahku lagi.


"Kalau udah selesai aja, terus pulang." Aku tersenyum lebar.


"Eummm, tapi mobil gimana ya? Takut ada yang lapor kalau Papa ada di sini." Kak Aca mengintip mobilku dari jendela ruang tamu ini.


"Mau dipakaikan sarung dulu kah mobilnya?" Seperti jas hujan seperti itu bahannya.


"Mobilnya aja, jangan yang mau nengok nanti." Tangannya sudah mengusap tengah-tengah tubuhku saja.


"Oke, oke." Aku terkekeh dengan keluar dari rumah minimalis ini.

__ADS_1


Perumahan baru, kanan dan kiri rumah ini pun sepi. Airnya sumur bor, listrik pun sudah teraliri semua. Di gang rumah kak Aca ini, baru ada dua rumah terisi. Pemandangan setiap harinya, adalah sapi dan kambing yang dilepaskan untuk mencari makan sendiri, sama seperti pemandangan di kampungku.


Namanya juga perkampungan dan minim pencurian, sapi yang bernilai tinggi saja diumbar seperti ayam. Tapi sapinya jinak, karena sudah terbiasa berbaur dengan aktivitas manusia. Tidak pernah ada kejadian anak-anak diseruduk sapi, atau sapi berlarian mengejar anak-anak atau orang lewat.


"Kamarnya ada satu, Pa." Informasi itu diucapkan ketika aku tengah mengunci pintu rumah dan menarik gorden jendela.


"Tapi pengen adidas, lama nih tak gerak." Aku celingukan melihat ruangan ini.


Satu kamar bersebelahan dengan ruang tamu, lalu tempat bermain yang tidak disekat dengan dapur. Kamar mandi berada di pojok paling kanan dari dapur. Sebenarnya, ruang bermain itu bisa dibangun sebuah tembok untuk pembatas. Hanya saja keadaannya baru pindahan, sehingga ala kadarnya saja.


"Apa itu?" Ia berdiri di sampingku.


"Adek di bawah, Abang di atas."


Ia malah terkekeh geli dan menutupi mulutnya.


"Eh, ada kasur lipat itu ya? Di tempat main aja deh, gelar kasur itu." Aku malah mempersiapkan tempat untuk bertempur kami.


Sulap mata.


Aku sudah mengoyak apa yang sudah menjadi milikku. Napas dalamnya terasa, dengan tubuhnya yang terguncang karenaku.


Semoga, tidak ada yang meniru menikah diam-diam ini. Karena orang tua, pasti begitu merasa kecewa.


"Pa, pengen cobain tembak dalam ya?" Kak Aca membelai wajahku.


Aku menggeleng. Aku tidak setuju untuk itu, aku ingin memiliki anak ketika kami sudah resmi. Aku tidak mau anakku dipersulit untuk mendapatkan sebuah akte kelahiran.


"Kenapa?" Kak Aca menarik leherku, sehingga membuat wajahku lebih dekat dengan wajahnya.


"Nanti kalau udah resmi ya?" Aku berhenti sejenak untuk bergerak. "Sekarang di dalam mulut aja dulu, kan sama-sama masuk juga," tambahku yang membuatnya tertawa geli.


"Iya deh aku nurut aja, daripada udah gila malah ditinggalkan."


Seperti dejavu akan ucapan Canda.


"Aku tak akan pernah ninggalin, kecuali perempuannya yang minta." Kasus Novi pun, berpisah adalah pilihannya.


"Aku tak mau ditinggalkan, aku udah mabuk Jonas Rivanno ini." Ia menyatukan dahi kami.


"Ughhhhhhh…." Tengah romantis seperti ini, aku mulai bekerja kembali.

__ADS_1


Eh, tapi aku tiba-tiba teringat akan buang di mulut ini. Tidak akan hamil kan? Cairan yang akan mendarat di lambung ini, tidak akan berpindah ke rahim kan? Tapi, apa ada saluran khusus yang memindahkan benih itu dari lambung ke rahim?


Tapi, Kin dulu sering menelan pun tak kunjung hamil. Ya, sejak keguguran adiknya Kaf itu. Kin sulit sekali hamil, padahal kami sudah melakukan hal-hal yang bersifat mudah untuk melakukan program kehamilan.


Bau khas keringatnya saja mirip mamah. Apa ini anak mamahku yang diadopsi oleh pakdhe Arif? Jika memang, apa aku mengawini saudara serahim? Apa itu benar? Sampai-sampai, pakdhe Arif melarang restu untuk kami. Bahkan untuk bang Givan pun sama.


Apa mungkin mamah melakukan dengan laki-laki lain ketika menjanda, lalu menghasilkan kak Aca begitu?


Eh, kenapa aku malah berpikiran jelek tentang ibuku sendiri?


"Lebih dalam, Pa. Aku bentar lagi." Suara lemah itu, memfokuskan kembali pekerjaanku.


Aku sudah seperti belut di dalam lumpur, bergerak cepat dan berusaha untuk menyeruak lebih dalam lumpur ini. Aku gila dengan racauannya, aku bahkan tidak bisa mengontrol pusakaku sendiri.


Lihatlah, durasiku sampai lebih pendek karena kami sama-sama kelojotan.


Hmm, melamun sudah.


Masa satu sama, pasti kak Aca belum puas karena baru dikeluarkan sekali saja.


"Nanti ya?" Aku mengusap-usap pipinya, yang berbaring di sebelahku.


"Nanti apa? Aku tak minta uang lagi kok, yang kemarin aja belum dipakai." Padahal ia di bawah tadi, tapi napasnya sampai tersengal-sengal.


"Ronde keduanya, Ma. Masa secepat ini?" Aku menempatkan tanganku di pinggangnya lagi.


"Besok lagi deh. Sekarang kita cuci, terus pakai baju." Kak Aca bangkit, kemudian duduk selonjoran.


Dilihat dari belakang seperti ini, punggungnya indah sekali.


Ehh, tapi aku mendengar suara orang mengobrol. Padahal kan, rumah yang terisi itu ada di depan gang. Sedangkan kak Aca, berada di ujung gang.


Apa ada hantu di sini?


Tok, tok, tok….


"Assalamualaikum…. Kak? Udah tidur kah?"


Astaghfirullah, aku langsung kalap dan memunguti pakaianku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2