Istri Sambung

Istri Sambung
IS84. Dua pilihan


__ADS_3

Aku jadi ingin melakukan kebiasaanku dulu, yang pernah padam lantaran Kin sudah berbeda. Intinya, aku merasakan Kin mulai berubah itu sejak mengandung Kaf. Mungkin saat itu, sindrom itu mulai bersemayam.


"Lagi ngapain?" tanyaku sambil memeluknya dari belakang.


Tubuhnya tersentak, kemudian ia menoleh ke bahu kirinya.


"Ya ampun, Bang. Aku kaget betul." Novi mengusap-usap dadanya.


Aku terkekeh kecil, lalu menempatkan daguku di bahu kirinya. Tingginya sebatas telingaku, tidak amat tinggi seperti Kin. Jika Kin, tingginya sama denganku. Sehingga memeluk seperti ini sedikit tidak nyaman.


"Lagi ngapain?" Aku mengulangi pertanyaanku.


"Ngucek kerah baju Kaf. Hitamnya luntur apa ya?" Novi menunjukkan baju berwarna putih padaku.


Aku tertawa kecil, "Masa iya warna kulit Kaf luntur? Coba kalau tidur nanti pakaikan baby oil, biar mandi dakinya bisa rontok bareng sabun." Ini adalah hal yang sering Kin lakukan.


Namanya juga anak-anak, apalagi jika ia aktif bermain. Sudah pasti lehernya sampai menghitam.


"Memang begitu ya?" Novi masih menggosok baju tersebut.


"Iya." Aku tak berniat memberitahunya, bahwa itu adalah salah satu cara Kin.


"Abang tak kerja?" Aku masih memperhatikan pekerjaannya dari bahunya ini.


"Tak, kata bang Givan istirahat aja dulu. Memang kenapa?" Aku meraba part depannya dari luar.


Hanya ulah isengku saja. Aku tidak benar-benar tengah mengajaknya, atau memberi kode untuk melakukan hal yang semalam.


Tapi jika Kin yang berada di posisi ini. Ia akan mengamuk, karena aktivitasnya diganggu. Kin memang suka dengan kegiatan se*s, tapi ia tidak suka saat aktivitasnya diganggu kala aku ingin. Aku harus berterus terang, daripada meraba-raba tanpa mengatakan inginku.


"Ngapain sih, Bang?" Novi tertawa samar.


"Eh, uang belanja abis kah?" Aku melepaskan pelukanku, lalu berdiri di sampingnya.


Mesin cuci belum berputar, Novi tengah memilah-milah pakaian dan mengucek bagian yang kotornya. Kin tidak pernah seperti ini. Rumah pun tidak sekinclong ini meski bersih juga. Aku akan memperhatikan aktivitas Novi hari ini, agar aku tahu bagaimana cara Novi mengurus kami semua dan kebutuhan kami.


"Eummm…. Dah lama habis, aku pakai tabunganku. Dulu kan aku kerja, gajiku tak pernah habis meski udah datang gajian lagi. Aku masih punya simpanan dari situ." Ia menoleh ke arahku sekilas, dengan tersenyum manis.

__ADS_1


"Kenapa tak bilang aku?" Aku mengerutkan dahiku, karena tidak mengerti dengan konsep Novi.


"Kan Abang bilang, lagi tak stabil. Sedangkan, aku terlalu boros. Masa buat sayur-sayur aja, tiga juta udah habis. Kan pasti Abang berpikir begitu ke aku. Aku kan kadang punya ego pengen beli baju ini, pengen beli barang ini, aku pakailah di awal itu uang belanja buat COD paket. Maaf ya, Bang?" Novi melirik dan menundukkan kepalanya.


Ya ampun, Novi.


"Nov, kau cuma perlu bilang." Aku geleng-geleng kepala di sini.


Kin pun sama, ia memiliki ego juga untuk membeli barang. Namanya juga manusia, itu hal yang normal. Tapi uang COD barang apapun. Untukku, untuknya, atau untuk anak-anak, Kin pasti mengatakan padaku dan meminta uang padaku untuk membayar itu. Jadi, uang belanja tidak acak-acakan.


"Aku masih segan." Novi sudah menjalankan mesin cuci.


"Tinggal bilang, Nov. Aku memang belum stabil, tapi dana sih ada." Aku juga tak berniat bercerita bagaimana Kin tentang paket dan egonya.


Karena ucapan Novi seolah sering mencoba menyakiti dirinya sendiri. Aku paham itu dan aku tidak suka itu.


"Iya, Bang. Lain kali aku bilang." Ia tersenyum manis padaku.


Aku mengangguk, "Aku suami kau, kau tak perlu segan." Aku bersedekap tangan, dengan memperhatikannya yang membereskan botol deterjen.


"Boleh minta panggilan kesayangan? Aku tak suka, kalau Abang aku-aku aja. Kek bang Givan sama Canda, kalau ribut malah lebih kasar. Aku tak mau kek gitu, aku mau kek papah sama mamah." Novi berkata, dengan sibuk menyusun beberapa botol itu di raknya kembali.


"Panggil lah kak Canda atau kakak ipar, kalau lagi ngobrol sama orangnya. Dia kakak ipar kita, tak sopan didengarnya. Sama Winda, atau Tika barulah panggil nama aja. Ngerti kan?" ungkapku lembut.


Novi mengangguk, "Ya, Bang," jawabnya kemudian.


"Panggilan kesayangan maunya apa? Kalau dek, rasanya kaku betul. Umur kita berjarak, badan pun sama besar. Aku tak nyaman panggil itu." Dengan Kin pun aku tak memanggilnya dek.


Usia Kin dan Novi lebih tua dariku.


"Jangan yang aneh-aneh, ayah bunda apalagi. Aku geli." Aku geleng-geleng kepala dan membuat Novi tertawa geli.


"Sambil berjalannya waktu aja mungkin ya, Nov? Biar lancar sendiri gitu." Aku dan Kin pun sama. Dulu tidak merencanakan, tapi memang keluar sendiri dari mulut kami.


Namun, saat memiliki anak malah lancar mama-papa. Karena kami pikir, untuk mengajari anak-anak juga.


Novi hanya mengangguk, "Boleh minta tolong antar ke pasar? Tapi, Abang yang bayar." Pop eyes terpajang di sana.

__ADS_1


"Hmmmm…." Aku mengusap-usap daguku, "Okelah, okelah." Aku memutar bola mataku meski hanya akting.


Novi terkekeh, "Nanti aku antar Kaf dulu. Nanti pun sebelum jam sepuluh kita harus udah di rumah." Aku hanya menganggukkan kepalaku saja, itu bukan hal yang sulit.


Kemudian ia langsung berkata bahwa ia ingin bersiap untuk mengantar Kaf sekolah. Jujur, aku malah bingung libur di rumah seperti ini. Tidak ada yang harus aku lakukan, yang ada aku menguap terus menerus.


Aku memilih untuk ke rumah mamah saja, aku ingin mengobrol dengan orang tuaku. Sembari menunggu Novi selesai mengantar Kaf, lalu bersiap untuk berangkat ke pasar.


Namun, saat aku keluar rumah. Novi masih berada di teras, dengan membantu Kaf memakai sepatunya.


Interaksi mereka cukup baik. Kaf bisa tertawa kecil dan menjawab dengan sopan. Namun, lain lagi jika ada kakaknya. Mungkin benar, Kaf banyak meniru dari kakaknya. Semoga, Kaf tidak meniru sifat jelek kakaknya.


Terlihat Canda baru keluar dari rumah Winda. Ia memanyunkan bibirnya, dengan kening yang mengkerut.


"Far…." Ia memanggil namaku.


"Hmm, apa?" sahutku dengan memakai sendalku.


"Anter ke dokter kandungan bentar. Bang Givan sibuk, Ghava Ghavi tak ada di rumah. Mangge lagi ke Pintu Rime Gayo, papah lagi ke ladang. Tak ada yang antar aku, Far. Cepatlah siap-siap, buat antar aku dulu!" Ia berkata dengan melangkah dan berjalan ke pintu besi samping.


Meminta tolong, tapi tidak sopan. Sudah meniru suaminya sepertinya.


"Jam berapa?" Aku masih memperhatikan orang hamil itu yang tengah membuka grendel pintu besi tersebut.


"Sekarang!" Ia langsung menghilang dari sana.


Aku melempar pandanganku ke arah Novi. Ia pun berbalik memandangku.


Bagaimana ini?


Padahal jarang sekali, Novi memintaku untuk mengantarnya. Ia bisa sendiri, ia cukup mandiri. Mungkin, ia hanya ingin sedikit bermanja-manja padaku. Aku tidak keberatan akan hal itu.


Namun, Canda malah meminta bantuanku untuk mengantarnya. Aku harus memilih salah satunya. Tapi aku teringat kembali, tentang Novi yang memiliki sedikit kecemburuan pada Canda.


Aku tidak tahu, itu atas dasar apa dan ia tahu apa tentangku dan Canda.


"Abang jadi tak nganter aku?" Lolos sudah pertanyaan yang membuatku bingung itu.

__ADS_1


Aku tak bisa menolak Canda. Tapi, aku pun tak mungkin menolak permintaan kecil istriku.


...****************...


__ADS_2