
"Kenapa, Nov?" Aku kedatangan tamu di jam sembilan malam ini. Novi menghampiriku yang tengah duduk di bangku yang berada bawah pohon mangga.
Aku baru pulang dari pekan raya, dengan membawa rombongan para bocil dan pengasuhnya. Tapi tetap pengasuh favoritku adalah mama Aca-Aca nehi-nehi, aku selalu mengekorinya karena anak-anakku ikut dengannya terus.
"Besok kita sidang ya?" Novi duduk dengan menggoyangkan kedua kakinya yang menggantung ini.
Sedangkan aku bersandar pada batang pohon, dengan salah satu kakiku terlipat.
"Ya, kenapa? Mau berangkat bareng?" Aku memperhatikannya dari samping.
Herannya, tubuhnya malah terlihat sedikit berisi. Apa ia bahagia menjadi jandaku?
"Sidang putusan ya?"
Ia tahu, segala bertanya. Apa sih maksudnya?
"Ya, Nov." Aku Novi ingin menyesali semuanya?
"Sefatal itu ya kesalahan aku?"
Oh, paham-paham. Novi ingin aku memikirkan kembali tentang hubungan yang akan diakhiri esok pagi ini.
"Kan keputusan ada di kau, kau yang mau kita pisah. Nanya kesalahan, kalau kau milih kita sama-sama, tak mungkin juga serepot ini urus perceraian." Karena awalnya pun keputusan aku serahkan padanya.
"Aku pikir, Abang bakal usahakan kita sama-sama." Novi memandangku begitu dalam.
Jadi itu harapannya dari tindakanku?
__ADS_1
"Keputusan ada di kau, aku tak minta kita untuk pisah juga. Menurut kau, ini yang terbaik kan?"
Novi mengangguk. "Tapi harusnya Abang pikirkan kalau aku pantas untuk dapat kesempatan kedua."
Loh? Apa Novi sudah lupa ingatan?
"Aku bukan tukang ungkit. Tapi ini udah kesalahan kedua kau, Nov. Yang pertama, kau masih berhubungan dengan Nando dan sebarin aib aku. Itu masuknya selingkuh dan pengkhianatan. Yang kedua, dengan bangganya kau buat cap di leher duda beranak satu. Padahal, status kau bersuami." Aku sampai bersila dan mendekatkan mulutku ke telinganya, agar Novi mendengarnya dengan jelas.
Novi menoleh cepat. "Hanya begitu loh, Bang. Bahkan, aku tak sampai berhubungan badan."
Apa ia berpikir, itu adalah salah satu keuntungan jika mempertahankannya.
"Masalahnya pengkhianatan ini, Nov. Bukan tentang berhubungan badan atau tidaknya. Yang bikin aku sakit hati, kau tak begitu ke aku, tapi begitu ke dia. Aku merasa seolah begitu kotor, sampai istri sendiri jijik. Tapi ke laki-laki lain, kau begitu lahap sampai berani nyerang duluan. Aku berpikir, saat aku setengah mati coba buat kau terhanyut belaian aku. Tapi laki-laki yang kau bayangkan itu bukan aku. Kalau kau korban pemerkosaan, mungkin endingnya tak bakal begini. Aku pasti akan lebih bisa untuk memperlakukan kau, dengan trauma yang kau punya. Tapi dengan kasusnya yang seperti ini, nyentuh pun aku segan. Aku minder, karena kau tak begitu ke aku. Mungkin warna hitam ini, pantas kau yakini sejajar dengan barang kotor." Aku menunjuk kulitku sendiri.
Novi menepis tanganku yang menunjuk warna kulitku sendiri. Logikanya seperti ini, jika kalian tidak tahu. Area tengah laki-laki itu, memiliki warna dua kali lebih gelap. Jadi jika warna kulitku hitam manis, sudah pasti warna itu sudah seperti kulit byson.
Mungkin ia jijik, karena warnanya terlihat sekotor itu. Sedangkan bang Ken yang berkulit cerah, tentu tidak begitu membuatnya jijik begini.
Tidak kupahami juga. Menurutku, Novi tengah membela kesalahannya sekarang. Ia tak mau disalahkan, dari tindakannya yang berani menyentuh bang Ken.
"Terserah kau, Nov. Udah begini ceritanya, lebih baik udah aja. Sekali lagi, ini bukan tentang sejauh mana kau berbuat salah. Tapi aku tersinggung dan sakit hati, karena kau bedakan tindakan kau ke suami sendiri dan orang lain."
Aku menghela napasku, kemudian memandang ke arah lain. Aku terbawa emosi, jika mengingat hal itu.
"Tinggal bilang aja, kalau memang udah ada yang baru." Dalam ucapannya ini, Novi seolah menyalahkan pihak ketiga.
"Kak Aca maksud kau? Asal kau tau aja, peralihan dana itu atas dasar akad hutang. Dia nyicil, dari peralihan dana itu. Tapi kau malah tarik persoalan ini, buat proses makin lama aja." Aku teringat aduan kak Aca yang mengatakan Novi menyindirnya lewat story aplikasi chat.
__ADS_1
"Bedakan alibi dan menutupi rahasia hati." Meski Novi menggerutu, tapi aku bisa mendengarnya.
Jadi maksud Novi, aku tengah beralas untuk menutupi tentang kebenaran hubunganku dengan kak Aca?
"Lagian urusan kau apa, Nov? Statusku udah longgar, kau tak bisa ngelarang lagi." Aku tak ingin bercerita pasti akan ketertarikanku pada kak Aca.
Karena aku pun tidak tahu pasti akan perasaanku pada kak Aca. Entah hanya sekedar syahwat saja, kasihan terhadap Nahda, atau dari hati. Karena awalnya pun, aku tak memiliki niat apapun. Aku hanya iseng ingin membuatnya baper, karena kak Aca menegurku beberapa kali agar tidak mengganggunya atau mendekati Nahda. Ia berpikir, aku mendekati anaknya untuk mendapatkan ibunya.
"Oh begitu ya?" Novi memandangku sinis. "Bisa aja aku buat perceraian ini tak beres sampai setahun lamanya, Bang."
Oh, jadi Novi mengancamku?
"Aku pun bisa nikah lagi, tanpa nunggu perceraian kita selesai. Kalau kau mikirnya aku begitu, sok aja lanjutkan jalan cerita kau yang pengen kita mengulur perceraian kita terus. Mau setahun, dua tahun, tiga tahun, sekuat-kuatnya kau aja sana, Nov!" Aku paling tidak suka berdebat. Tapi dari dulu, Novi ingin sekali mencari ribut denganku.
Bagaimana aku akan hidup nyaman dengannya, jika sekalinya komunikasi saja, ia terus menciptakan perkelahian. Masa seumur hidup, kami harus ribut saja?
"Kalau benar-benar itu terjadi. Aku pastikan Aca tak bakal bisa resmi dengan kau, anak kalian juga tak bisa dapatkan akte apalagi nama kau."
Apa begini sifat asli Novi? Sungguh aku terkejut, melihatnya begitu berani menunjuk wajahku dengan jarak dekat.
Melaporkannya pada mamah, rasanya itu terlalu kekanak-kanakan. Aku akan mengatakan para mamah saja, agar perceraianku dipercepat saja. Daripada melewati proses, tetapi Novi malah memanfaatkan prosesnya.
Setelah itu, Novi melenggang pergi tanpa pamit. Aku memiliki feeling, bahwa Novi setelah ini akan menyerang kak Aca. Kak Aca sudah ditandai oleh Novi, untuk dijadikan sebagai musuh utamanya.
Aku jadi ingin meminta bantuan pada rekannya almarhum bang Lendra saja. Karena kata Canda, teman tersebut bisa mengurus perceraian tanpa proses. Mungkin ilegal, tapi rasanya itu opsi yang paling mudah. Daripada melewati proses, tapi Novi begitu menguras emosi seperti ini.
Langkah pertama setelah ini, aku akan memperingatkan kak Aca dulu. Agar ia berhati-hati, karena Novi sudah turun tangan sendiri.
__ADS_1
Aku mulai mengayunkan langkahku menyusuri jalanan yang cukup sepi ini. Memang ini sudah masuk waktu yang dilarang untuk bertamu, apalagi ke lawan jenis. Tapi aku ingat dengan kak Aca yang jarang menggenggam ponsel, pasti ia akan telat untuk mengetahuinya.
...****************...