
"Pegang p******nya." Aku melepaskan ikat rambut Novi.
Aku suka rambutnya urakan, apalagi karena aku.
"Udah cuci kan, Bang?" Novi seperti ragu-ragu untuk melakukannya.
"Hmm, udah." Aku memperhatikannya yang terlihat canggung.
Kapan ia tidak jijik padaku? Kapan wajahnya terlihat bersemangat, ketika sedang mengerjakan tugasnya? Kapan ia terlihat ikhlas dan tidak berat melakukannya, ketika aku tengah meminta hakku?
Aku memilih untuk terpejam dan menikmati sensasinya. Aku ingin fokus, agar warisan turun temurun bisa bereaksi.
Beginikah rasanya rindu akan stimulasi? Meski tidak sama dan rasanya jauh berbeda, tapi kali ini aku merasakan amat menggebu.
Ekhmmm. H***panya, terasa membuat kepalaku berdenyut.
Semoga aku tidak mimisan.
"Ininya, Nov." Aku menarik warisan turun temurun darinya.
Terlihat, ia seperti akan menolak. Namun, aku menariknya untuk lebih dekat ke titik koordinat yang aku maksud.
Aku sudah begitu kelabakan, tapi rasanya sulit sekali untuk memperlakukannya karena keadaan warisan turun temurun yang tidak bisa digunakan transaksi ini.
"Nov." Aku mengisyaratkan tindakan yang aku inginkan.
"Begini?" Novi mengerjakan tugas yang aku inginkan.
Aku mengangguk, kemudian membawanya untuk memberi tindakan lagi. Jika tidak begini, Novi tidak mengerti.
Aku kembali diam, dengan kebodohan atas keinginanku sendiri. Ditambah harum parfum yang familiar, membuat seleraku tidak lekas sirna. Aku tidak membayangkan orang yang wangi parfumnya masih aku ingat, tapi wangi itu menciptakan keminatan yang sama seperti dahulu.
Aroma itu, seperti memiliki pemikat tersendiri untukku.
"Ini, Nov." Aku mengusap rambutnya.
Novi mengangguk, kemudian ia langsung berpindah ke titik yang aku inginkan.
"Novia." Aku memperhatikan kegiatannya sejenak, kemudian aku merasakan perkembangan yang berarti.
"Alhamdulillah…." Gerakan tangan Novi terlihat cepat.
Aku mengikuti arah pandangannya. Benar sekali, Black Mamba mengembang.
Aku tersenyum lebar. Aku cukup senang, melihat kemajuan ini. Setidaknya, aku akan mampu memberi nafkah batin untuknya dengan pergerakan yang cukup bagus ini. Aku tidak benar-benar mengalami disfungsi yang akut.
Terlihat Novi bertambah bersemangat. Melihatnya demikian, aku menjadi senang.
Aku sudah tidak bisa diam. Aktivitas kami sempat beberapa kali berhenti, karena sibuk membuang pakaian.
"Nanti kau ulangi lagi ya?" Aku menarik lengannya.
Novi tersenyum, ia mengangguk dan langsung mengikuti ajakanku.
Segila ini aku karena wangi yang penuh dengan sejarah ini. Tapi, tidak mungkin Novi menggunakan parfum Kin. Karena memang, sudah tidak aku simpan lagi di rumah ini. Aku pun tidak tahu parfum apa yang Kin gunakan, karena aku hanya tau menyesapi wanginya saja.
"Abang." Novi menarik kepalaku.
__ADS_1
Suaranya malah lepas, ekspresinya seperti kesakitan tetapi begitu terlihat candu.
"Ya ampun, Abang. Hampir putus." Novi cemberut, dengan memeriksa alat untuk mentransfer ASI untuk anaknya kelak itu.
Aku memamerkan gigiku, "Tapi agak lain ekspresi wajah kau, Nov." Aku menurunkan kepalaku ke titik koordinat lain.
Harum di bagian ini pun menggugah selera. Aku jadi bersemangat untuk memakannya.
"Abang, Abang."
Entah apa yang ia rasakan. Novi terus menerus memanggil namaku. Aku yakin ini masih segelan pabrik, karena masihlah seperti jalan buntu.
"Coba, Nov." Aku berjalan dengan lututku di atas ranjang ini.
Setengah tiang.
Apa aku perlu mencobanya? Tapi apakah bisa masuk?
"Sambil gini tangannya." Aku mengisyaratkan tanganku yang aku inginkan dari Novi.
Ia berpindah pada bagian lain, dengan gerakan cepat seperti yang aku inginkan.
Aku merasakan seperti nyawaku berkumpul di tengah-tengah tubuhku.
"Bisa loh, Bang." Novi tetap memberikan gerakan cepat.
"Oke, oke." Aku menempatkan diriku.
Ini lebih dari setengah tiang, tapi tidak begitu seperti kayu yang keras juga. Lumayan lah, aku pikir ini cukup.
"Tak kok."
Aku berbohong.
Kin yang strong saja, ia sampai berteriak lepas dan menangis tersedu-sedu.
Akhirnya, kumenemukanmu.
"Allohumma qawwi li dzakari fa inna fihi shalahan li ahli." Aku fokus untuk memulai.
"Kok beda doanya, Bang?"
Aku melirik wajahnya sekilas, "Kau baca yang satunya. Doa ini untuk laki-laki, yang punya kelemahan di bagian alat rep*od*ksinya." Aku kembali.
"Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa." Novi melafalkan hal itu, bersamaan dengan berkenalan dengan warisan turun temurun.
Aku sampai bergidikan, istriku ini membuat linu kepala. Seperti tidak masuk, belum lagi empuknya. Aku jadi tidak menghiraukan perutku yang mulai mengeluarkan bunyi alarmnya, karena kemarin sore aku terakhir makan.
"Abang, stop dulu." Novi menahanku.
Aku menghela nafasku. Baiklah, aku harus ingat bahwa istriku perawan.
"Udah kah?" Keringatnya sudah membasahi pelipisnya.
Apa ia tegang?
Aku tersenyum dan terkekeh ringan, "Belum." Aku mencondongkan tubuhku untuk bisa memeluknya.
__ADS_1
Berbarengan dengan tindakanku, otomatis ada kemajuan penekanan di sana. Aku merasa, ini sudah setengah jalan.
"Abang udah aja, pedih betul." Novi merengek di leherku.
Sudah begini, aku tidak mungkin menggagalkannya.
"Enak aja!" Aku membingkai wajahnya, kemudian meledeknya dengan mengadu hidung kami.
Aku ingin mengalihkan perhatiannya, agar tidak terulang teriakan kesakitan itu. Aku masih ingat jelas, bagaimana Kin mempermalukanku setelah tangisnya pecah. Bukan hanya satu orang yang mengetuk pintu kamar pengantin kami, lantaran mereka khawatir ada insiden terjatuh atau bagaimana. Padahal, aku tengah memberi nafkah batin sah pada hakku sendiri.
Apakah hanya sebatas ini?
Atau, ini adalah penghalang keramat tersebut?
Aku teringat ucapan bang Givan.
~
"Pas kau tekan di bagian bawahnya, cium bibirnya. Jadi tak ada drama teriak-teriakan, coba deh."
~
Itu adalah saran yang tidak aku hiraukan, saat pernikahan pertamaku dulu
Aku mengadu indra pengecap kami. Sensasi mint yang tertinggal dari pasta gigi, menimbulkan kesegaran tersendiri.
Hingga Novi mulai terhanyut, ia meladeni l****ku yang mengajaknya bergelut.
Tanpa menunggu kesadaran akan rasa pedih itu pulih, aku mendorong semua untuk masuk ke dalam tubuhnya.
"Humppppp…." Tubuh Novi sampai tersentak, kemudian ia melepaskan rasa mint yang aku berikan.
"Stttttt….." aku membingkai wajahnya.
Novi seperti menahan tangis. Namun, mulutnya seperti menarik oksigen lebih banyak. Aku tidak tahu pasti bagaimana rasa sakit yang ia rasakan, tapi pasti itu memang sakit.
"Tahan, Nov. Cuma di awal." Aku berusaha menenangkannya.
"Perut aku penuh, Bang." Novi meringis dengan pojok matanya yang basah.
"Makanya jangan disepelekan. Sekali mengembang, kelar hidup kau." Aku menggorok lehernya dengan tangan kosong.
Novi bisa tertawa kecil, ia sudah terlihat rileks sekarang.
Aku menegakkan punggungku.
Terbenam sempurna matahariku. Aku menariknya, tapi malah membuat Novi menjadi bergidikan. Merah segar menghiasi warisan turun temurun yang sudah menunjukkan ukuran aslinya itu. Dia hidup dan kokoh sekarang. Padahal tadi, masih sepertiga dari kerasnya saja.
Jadi aku menang perawan lagi kali ini?
"Udah selesai kah, Bang?"
Apa ia tidak pernah melihat film dewasa? Bagaimana ceritanya baru masuk sudah selesai? Banteng saja, perlu menyeruduk toreronya beberapa kali agar K.O karena tanduknya.
...****************...
Kebiasaannya siapa nih. Berantem, kelon, berantem, kelon? 😆
__ADS_1