Istri Sambung

Istri Sambung
IS306. Rokok


__ADS_3

"Kenapa sih, kok kek kesal gitu?"


Aku langsung memamerkan gigiku padanya. Aku sedang menerapkan kesabaran dan kepasrahan, sudah sepuluh menit aku diam saja ketika Aca menggangguku yang tengah menyimak dokumen di rumah.


Mulai dari mencium, mencubit, meraba, sampai menggigit ia lakukan pada suaminya ini. Entah apa yang ia inginkan, entah apa yang ia idamkan. Yang jelas, aku ini risih. Geli semua, gatal semua. Sedangkan, aku tetap harus menahan keinginanku untuk menerkamnya.


Sepertinya bang Givan memberikan saran yang salah.


"Mau beli bakso kah?" tanyaku kemudian.


Lebih baik Aca sibuk makan, daripada ngusel padaku. Aku tidak nyaman, karena cukup mengganggu.


"Eummm…. Cuanki yuk?"


Ingatlah wahai saudaraku, bahwa daerahku ini adalah Aceh perbukitan. Kecamatannya saja, namanya kecamatan Bukit. Tak semua provider kartu perdana mendapat sinyal di sini, apalagi makan khas dari daerah lain. Berbeda dengan bakso dan mie ayam, yang jelas sudah merajalela. Cuanki dan bakso malang tidak hadir di sini, ada pun di kota, tidak di daerahku.


"Bakso aja ya?" Aku tidak ingin pergi jauh ke kota, untuk membeli seporsi cuanki yang sudah melar ketika sampai di rumah.


"Pengen cuanki keliling tuh, Pa." Aca mengusel di lenganku lagi.


Semoga sawan Canda ini hanya sampai melahirkan saja, aku khawatir stress jika Aca terlalu ngusel seperti ini, Aca sudah lebih dari kucing menurutku.


"Jualan aja kah?" Aku hanya iseng mengeluarkan ide tersebut.


Eh, tidak tahunya ditanggapi serius oleh Aca. Kini, sudah dua bulan terakhir aku menggerakkan beberapa orang untuk menjadi pekerjaku berjualan cuanki keliling. Resepnya, padahal Aca membuatnya sendiri dengan resep dari Google. Lebih hebatnya lagi, sekarang kami pun mempekerjakan orang dapur sendiri untuk membuat cuanki mentah. Kami sudah menyewa ruko, untuk tempat pembuatan cuanki dan beberapa gerobak tersimpan di sana untuk berkeliling. Depok sederhana, untuk makanan yang jarang dikenal warga sekitar sini.


Mungkin benar, tentang menyenangkan hati istri, rezeki suami akan dilipatgandakan. Meski setiap hari, aku masih menahan kekesalan karena istriku masih sawan Canda saja.


"Udah berasa kah, Ma?" Sudah lima puluh kali aku menanyakan ini, setelah kami baru pulang dari bidan.


Aca sudah sembilan bulan, sudah waktunya melahirkan. Beberapa menit yang lalu pun, kami baru pulang dari bidan setempat yang mengecek keadaan Aca. Aca sudah mengalami pembukaan dua, tapi setelah menunggu dua jam di rumah bidan tidak ada kemajuan sama sekali. Akhirnya, kami diizinkan pulang dengan beberapa pesan dari bidan.

__ADS_1


Semoga persalinan istriku dipermudah, diringankan sakitnya dan mendapatkan keselamatan untuk keduanya. Aamiin.


"Masih jarang mulasnya, Pa."


Tidak hanya mamah, Canda pun ikut paniknya saja. Padahal, Aca tidak heboh juga. Ia diam, dengan berjalan-jalan ringan sesekali.


Pakdhe Arif, budhe May dan adik iparku dalam perjalanan bertolak ke kampungku. Mereka akan sampai beberapa jam mendatang, karena yang lama adalah perjalanan daratnya. Dari Cirebon ke bandara yang di Jakarta, memakan waktu empat sampai lima jam jika tidak macet.


"Lahiran di mana rencananya?" tanya Canda, dengan memberikan alat pompa ASI.


Ia mengembalikan milik Kin yang dipinjamnya saat melahirkan Cani, ia pun memberikan pompa ASI miliknya juga. Ia sudah keliling dengan suaminya, untuk membelikan pelancar ASI dan diapers untuk Aca dan bayinya.


"Di bidan aja kalau bidan nyanggupin sih." Aku percaya dengan tenaga mereka. Apalagi, bidan zaman sekarang sudah menerapkan cara tiup-tiup.


Kin pun hanya ketika melahirkan Kaf saja di rumah sakit, itu pun karena Kin melahirkan di luar negeri. Di sana tidak ada bidan yang stay di rumah, entah aku yang tidak mengerti.


"Masih ngerokok kau, Ca? Mau punya bayi kau," lirih bang Givan kemudian.


Aca sudah terlihat pucat, ia benar sudah memiliki tanda-tanda akan bersalin.


"Harus dipaksa. Aku pun dulu terpaksa, karena divonis airku lemah. Bahkan, dulu kopi atau teh pun aku tak nyentuh. Susu kambing, susu murni, terus-terusan begitu wedang aku tiap hari. Makanan yang lebih diperketat, malah sampai latah sampai sekarang kalau makan sop itu sayurannya disiram kuah panas sop itu, bukan direbus bareng tuh."


Aku kurang memaksa kah? Padahal, aku yang memegang bungkus rokok itu. Aca meminta, setiap kali ia ingin.


"Aku pun dijatah Ghifar, Van. Kalau abis makan itu, mulut aku tak enak betul. Permen, malah mual. Pernah malah muntah-muntah, makanannya keluar lagi."


Aca mengatakan yang sebenarnya, bahkan sampai terulang beberapa kali. Aku pun bingung ingin melarangnya seperti apa, tapi aku pun tak ingin Aca merokok seumur hidupnya.


"Mamah dulu pakai kantong nikotin dari V*lo, yang diselipkan ke pipi dalam. Tapi hal yang paling efektif untuk berhenti, ya ketahuan positif hamil. Langsung parno, langsung takut bayi kenapa-kenapa," tambah mamah yang berada di sini juga.


Bagi yang sudah tahu saja. Memang benar, keluarga kami bukanlah manusia-manusia suci. Pergaulan bebas, sudah menjadi lingkungan hidup papah dan mamah dulu. Jangankan rokok, untuk se*s saja mereka melakukannya sebelum menikah dengan para pacar-pacar mereka. Tapi berbeda dengan papah dan mamah sebelum menikah, mereka tidak melakukan zina besar itu.

__ADS_1


"Entahlah, Mah. Aca sih tak ada khawatir-khawatirnya." Aku mengedikan bahuku dengan menghela napasku.


"Khawatir juga, tapi memang sulit." Aca menggoyangkan tubuhku.


"Iya, iya. Udah terserah Mama aja." Aku paham bagaimana istriku, benar-benar keras kepala.


"Mamah sih gitu, tau hamil ya langsung bener-bener berhenti. Dialihkannya ke camilan, jadi badan lebih ngembang. Ngemil terus, lepas selesai makan itu. Kalau permen, memang tak efektif. Jaman sekarang malah ada permen karet nikotin, koyo atau obat semprot mulut nikotin. Ya gunanya untuk mereka yang ingin berhenti merokok. Perokok itu kan bukan kecanduan rokok, tapi kecanduan nikotin." Mamah memberi penjelasan lagi.


"Tapi tetap efeknya serupa rokok itu, Mah. Udah pakai produk itu pun, kalau memang tak niat ya susah," timpal bang Givan.


"Padahal kau tak ngerokok ya, Far?" tanya papah yang langsung kuangguki.


"Biarin aja lah, Pah. Susah kasih pahamnya Aca ini." Pikirku, Aca ingin tetap terlihat keren di mata teman-temannya ketika mulai nongkrong lagi.


Karena merokok itu, menurutku karena ikut-ikutan teman. Mereka yang merokok, tahu dari teman.


"Ummmmh….." Aca langsung memegangi selang*angannya.


"Kenapa?" Aku panik melihat matanya yang terbuka lebar itu.


Aca bangkit perlahan, kemudian air mengalir dari kakinya. Saat itu juga, kami langsung kalang kabut melihat ketuban Aca sudah pecah terlebih dahulu.


"Mah, gimana ini, Mah?" Suaraku sudah bergetar hebat karena gemetar tak terkira.


"Bawa rumah sakit dong, Far. Jangan nangis." Bang Givan dengan santainya membuka pintu rumah lebih lebar.


"Kuat tak gendongnya?" tanyanya kemudian.


Aku menggeleng. Tengah gemetar seperti ini, aku tidak kuat menahan beban Aca yang dua kali lipat dari ukuran semula itu.


"Kemas barang-barangnya, Canda. Bawa perlengkapan Aca dan bayinya, kau berangkat sama Papah atau Ghava. Aku duluan sama Ghifar ya?" Bang Givan berjalan kembali ke arahku yang tengah panik ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2