Istri Sambung

Istri Sambung
IS55. Tentang sentuhan stimulasi


__ADS_3

"To the point aja. Kau mau aku gimana? Terus apa kau bisa mulai jadi ibu ibu yang baik untuk anak-anak aku setelah aku turuti?" aku mengunci pandangannya.


"Aku mau, besok aku udah tak perawan lagi. Aku mau, kita tidur bareng dengan anak-anak di kamar mereka masing-masing. Mereka terlalu besar, untuk tidur bersama orang tua mereka." ia berani menantang pandanganku.


"Oh, gitu? Silahkan lakukan, kalau memang kamu bisa dan mampu." aku merentangkan kedua tanganku, meski aku masih duduk di kursi.


"Maksud Abang gimana?" alisnya naik sebelah.


Mau bagaimana lagi? Mengelak pun tiada guna. Aku terpojokkan, dengan pembicaraan ini.


"Aku mengidap DE." jawabku lirih.


"Apa itu menular?"


Aku memijat pelipisku sendiri. Kenapa ia bisa berpikir bahwa penyakit itu menular?


"Tak. Aku punya trauma dulu, jadi tak bisa sembuh sampai sekarang." aku tidak mengada-ada.


Jika kalian membaca novel Belenggu Delapan Saudara, kalian pasti tahu rasa traumaku.

__ADS_1


Trek…..


Gelang giok itu berbenturan dengan meja, "Tolong jelasin itu apa? Terus kenapa Abang tak bilang sejak awal kita sebelum nikah? Apa Abang sengaja mau nipu aku?"


Tuduhan macam apa itu?


"Aku tak ada niat buat nipu kau. Ini adalah alasan terbesar aku, untuk urung menikahi kau. Tapi kau sendiri, yang minta aku buat segera nikahin kau." aku tidak bermaksud untuk merendahkan Novi, karena ia seolah mengemis pernikahan padaku.


"DE itu apa?" tanyanya, dengan dahi mengkerut.


"Disfungsi e*e*si, aku memiliki minat, tapi aliran darah di sana tidak kondusif. Kin yang nyambuhin aku, makanya aku nikah dan bisa punya anak sama dia. Meski setelah menikah kadang-kadang kambuh, tapi Kin bisa menanggulanginya." aku bangkit dari kursiku, kemudian berjalan ke arah ranjang.


Aku duduk di sana, dengan bersandar pada kepala ranjang.


Ia duduk di hadapanku, "Apa pernah periksa?"


"Pernah, tapi tak lanjut karena aku merasa normal kalau sama Kin." ini alasanku dulu untuk menolak memberikan diri.


"Terus kita gimana? Aku gimana bisa punya anak?" ia malah memberiku pertanyaan.

__ADS_1


Harusnya, ia mengatakan tentang bagaimana Kin menyembuhkanku. Lalu, ia mempraktekkan cara Kin kembali padaku.


"Nanti aku cari jalan keluarnya, kalau memang kau mau hamil. Tapi, mungkin itu bukan anak aku." aku kurang mengerti ilmu medis tentang reproduksi buatan.


"Pernikahan kita gimana?" suaranya menurun, seiring dengan isakannya.


"Aku tak akan ceraikan kau, kalau kau bisa jadi ibu untuk anak-anak aku. Kalau kau mau buat anak-anak tidur misah, kau pun harus bisa bikin mereka berani di kamar mereka masing-masing." aku tidak keberatan tentang keinginan Novi agar anak-anak tidur sendiri.


"Sebenarnya, Abang cari ibu istri atau cari pengasuh?" kasarnya mulut itu berucap.


"Aku nyari ibu sambung untuk anak-anak aku, aku nyari istri sambung untuk diri aku juga. Kita, mungkin bisa harmonis. Dengan cara, kau kasih stimulasi yang Kini lakukan dulu." aku paham, kehidupanku tidak berakhir dengan berakhirnya hidup Kin.


"Stimulasi?" tanya Novi, dengan menarik sebuah bantal.


"Ya. Kau kasih aku sentuhan. Tapi, resiko di awal aku pasti mimisan parah." jawabku, dengan bersedekap tangan.


"Sentuhan stimulasi yang kek gimana? Apa aku bisa? Apa cuma bisa petugas medis aja?"


Aku sudah mencium bau-bau sentuhan di sini.

__ADS_1


"Kau pun bisa lakuin sendiri, Nov. Kau bisa mulai dari…….


...****************...


__ADS_2