Istri Sambung

Istri Sambung
IS295. Memperindah istri


__ADS_3

"Kek, ni apa?"


Aku tergelak renyah, melihat Cani menggaruk biji kecil yang menyembul di kaos papah. Pantas saja anak itu diam saja sejak tadi, rupanya ia tengah memperhatikan biji dada papah.


"Nen, mau kah?" Papah malah menyingkap kaosnya.


Cani menggeleng dengan memundurkan kepalanya. Aku lebih keras tertawa, melihat wajah polos Cani. Ia seperti begitu terheran-heran melihat itu.


Cani pasti bertanya-tanya, kenapa ada beberapa helai rambut yang tumbuh di sekitar biji tersebut. Lagi pun, bentuknya tidak sama dengan ASI milik biyungnya.


"Ra kecil pernah begini juga, tapi sama Givan. Givannya lagi geblek, diASIin pakai biji dadanya coba. Si Ra lagi, dia malah lahap aja meski airnya tak keluar-keluar. Givan ngakak aja, lihat anaknya nemplok aja sama biji dadanya."


Jangankan bang Givan masa itu. Aku yang hanya mendengar ceritanya saja, sampai terpingkal-pingkal karena membayangkan hal itu.


"Minum ASA, jadi anak ayah dia," celetukku semakin membuat suasana semakin penuh tawa, padahal hanya aku dan papah saja di ruangan penghubung tangga ini.


Sebenarnya, dulunya ruangan ini adalah ruang keluarga. Hanya saja, aku merubah posisi barang-barang sejak Kin meninggal. Sofanya, aku bawa naik ke lantai atas. Ruangan ini pun penghubung ke dapur juga. Tapi, aku malah pernah mengajak Aca berhubungan di sini dan ketahuan oleh Canda.


"Cucu tak, Kek." Cani bangkit dan berjalan di sekitar sini.


"Minta ke Papa, Dek. Tokonya udah tutup keknya." Papah menahan tangan Cani, agar anak itu tidak melangkah jauh.


"Pa, cucu tak." Cani menengadahkan tangannya padaku.


"Susu kotak? Coklat apa strawberry?" Aku menariknya untuk naik ke pangkuanku.


"Uklat, Pa." Cani menggenggam hidungku. Apa ia kira dengan hidungku ini?


"Yuk, ambil susu dulu." Aku menggendongnya ke dapur.


Sepertinya, Cani sudah mengantuk. Aku menyediakan susu kotak ini, karena anak-anakku doyan. Tidak yang kecil, tidak yakin besar, mereka semua penyuka susu kotak.


"Ambil, mau yang mana?" Aku membuka lemari atas di dapurku ini.

__ADS_1


Aca stok banyak, apalagi jika tahu tengah diskon. Sebagian ada di kulkas, sebagian lagi ada di lemari penyimpanan di bagian paling atas ini.


"Uklat, Pa." Cani enggan untuk mengambil, ia hanya menantikan untuk diberi.


"Mau berapa?" Wanginya Cani mirip dengan wangi Canda. Entah karena Cani masih ASI, jadi ia tercampur dengan bau khas tubuh Canda.


"Dua, kek atu."


"Uhh, sayang kakek rupanya. Kakek sampai dikasih juga." Aku membawa dua buah susu kotak, kemudian kembali menghampiri papah.


"Aca tidur belum, Far?" tanya papah ketika aku kembali dari dapur.


"Tak tau, Pah. Tadi sih udah merem, ya mungkin mamahnya juga merem di sana." Karena tadi saja terlihat mamah sudah mengantuk.


"Dek, anteng. Minim susu kotaknya sambil duduk." Papah menarik Cani untuk duduk di dekatnya.


"Utuk Kek." Cani memberikan satu buah susu kotak yang masih utuh. Ia benar-benar memberikannya pada kakeknya.


Dimakan atau tidak dimakan, barang apapun itu. Kami orang tua tetap menerimanya, ketika diberi oleh anak. Dengan seperti ini, anak-anak pasti merasa pemberiannya dihargai.


"Iya." Cani sudah berada di pangkuan papah lagi.


"Pah, minta dipercepat pengesahan pernikahannya," ucapku langsung.


"Kan udah masuk uang, tunggu aja lah


Belum seminggu ini." Papah mengusap-usap pelipis Cani, mungkin agar anak itu mengantuk. Sudah hampir jam sebelas malam, Cani masih berkeliaran bersama papah saja. Herannya lagi, Canda atau bang Givan tidak mengambil paksa anaknya. Kan hari sudah malam, apa mereka tidak takut anaknya dimakan setan?


"Ada orang ketiga, Pah. Soalnya dia berani. Dia chat katanya pernikahan aku dan Aca ini cuma siri, tak punya kekuatan hukum." Aku langsung buka kartu di sini.


Papah memandangku kaget. Matanya terlihat tegas. "Orang ketiga dari siapa? Kau apa Aca?" Papah terlihat menyimak dengan serius.


"Dari aku, Pah. Dia relasi bisnis aku. Aku pun tak berniat untuk dekati dia, aku malah jaga jarak sama dia." Aku tidak kegatalan di sini.

__ADS_1


"Lah, ya gimana? Istri kau lagi hamil, Far. Lagian, kalaupun cerai. Apa kau tak takut diamuk pakdhe kau? Apa kau tak takut mamah kau murka?"


Ah, iya. Aku baru ingat jika pakdhe begitu menentang diriku kemarin. Bisa habis makiannya, jika aku sampai meninggalkan anaknya.


"Aku pengen lanjut sama Aca, Pah. Perjuangan Farida tak ada apa-apanya dibandingkan Aca kemarin. Aku tak mungkin ninggalin yang lama, demi orang baru kek Farida. Cuma lapar mata tuh, Pah. Toh, aku pun tak ladenin dia. Tapi, perempuannya agresif betul. Datang lagi, datang lagi. Bahkan, sampai bawa relasi bisnis baru untuk perusahaan aku." Ya aku pikir, aku hanya lapar mata.


"Ohh…." Papah memperhatikan cucunya lagi.


Cani sudah berganti-ganti posisi. Ia sepertinya amat mengantuk, tapi tidak rewel merengek seperti anak pada umumnya.


"Wajar lapar mata, istri lagi hamil itu lagi ada di fase kurang menarik di tampilan. Tapi kau coba perhatikan lagi, bentuk part belakangnya yang bertambah besar, belum lagi dadanya yang mangkal. Itu cuma sembilan bulan loh mereka begitu, kadang baru mulai di usia empat bulanan. Lebih baik kau fokus sama keindahan lain pada diri istri kau, daripada ingat yang lagi kurang enak dipandangnya. Papah pun pernah merasa lapar mata, tapi Papah alihkan dengan hal-hal yang ada di mamah kau."


Aku paham, papah tengah mencoba membuatku mengerti. Bukan tengah membuka aibnya dengan istrinya, atau mengajari yang tidak benar.


"Sekalipun besar gitu kan, tapi kulitnya itu pecah. Kemarin aku kasih dia perawatan, nyatanya itu tak hilang sekali treatment." Janji yang klinik kecantikan berikan sangat meleset menurutku.


"Sabar, sampai lepas menyusui biasanya. Apalagi jadi Papah, istri masih menyusui udah hamil lagi. Tak selesai-selesai tubuh mamah kau yang harus diservis. Makanya, giliran anak-anak pada besar dan dirinya udah tak hamil-hamil lagi. Mamah kau nakal di klinik kecantikan tuh, sekali pergi bisa habiskan sekian juta sampai ratus. Maaf-maaf nih yah, bukan ngomong jorok. Bagian terdalamnya pun bisa diservis, kek laser gitu loh. Meskipun mahal, kalau rutin pasti ada hasil. Servis dada juga, Papah pernah lihat sendiri, ikut masuk nemenin mamah kau di dalam gitu. Ya dia sampai tiga kali rutin, teksturnya udah kek anak gadis lagi. Kenyal, tak bergelayut, kalau ukuran kan memang segitu-gitu aja kalau tak lagi hamil atau menyusui. Tapi kekenyalannya boleh diadu gitu lah, asal mau berani keluar uang. Tapi yaaa, sebanding sih menurut Papah. Karena kita tak sekali pakai aja, sehari dua atau tiga kali pakai pun tetap gratis. Yang penting bagaimana kita aja, kuat apa tak."


Secara tidak langsung, papah seperti tengah mensponsori klinik kecantikan.


"Memang kosmetik kek gitu tak ngaruh, Pah?" Aku pernah melihat iklan penghilang strecthmark dan bekas noda hitam di tubuh.


"Lama, harus satu lusin habis pakai produk dulu mungkin. Mamah pernah dan dirinya pun tak sabar. Kalau di klinik kan, diambil tindakan gitu. Sebenarnya, strecthmark itu tersamarkan sendiri setelah dua tahunan kalau tak salah. Tapi ya tak memperbaiki tekstur kulitnya, tetap pecah gitu. Di klinik pun sama, tapi bisa benar-benar samar tak terlihat tuh." Papah sembari mempuk-puk Cani yang sudah lemas di pangkuannya.


Mengantuk, tapi enggan tidur.


"Sekali datang aja, keluar seharga satu motor," sahutku dengan bersandar pada tembok.


"Tak seberapa, mamah sering ratusan keluar. Fatal-fatalnya pas baru pertama nikah keknya, seratus sepuluh atau seratus berapa gitu. Itu mamah tak balik-balik, ada sih delapan jam di klinik. Keluar banyak itu pun, belum ada hasil karna baru satu kali. Kau ngerti tak sih? Jadi kek setrika baju gitu. Satu kali gerakan itu, ya masih terlihat lusuh. Harus dikasih pelicin pakaian, terus diulang lagi gosoknya. Barulah licin dan wangi. Mirip-mirip lah prosesnya begitu. Kadang tuh Papah ngerasa, makan tak seberapa, tapi memberi makan ego itu perlu biaya ekstra. Kek begitu aja contohnya. Di samping karena perempuan pengen terlihat cantik di depan kita, itu pun karena egonya. Ditambah ego kita sebagai laki-laki yang merasa ingin mendapatkan wanita yang selalu indah, ya jalan keluarnya memperindah istri. Di samping masalah klinik, kau pun harus paham kalau perempuan itu hamil karena kita, Far. Dimakan sama kita habis-habisan, hamil, ngandung anak kita. Kau sadar tak sih, sebenarnya yang di perutnya perempuan kita itu anak kita? Cacing kita yang tumbuh di rahimnya, sedangkan yang punya rahim hanya memberi wadah dan memberikan nutrisi untuk tumbuh kembangnya mendapat bentuk sempurna di rahimnya."


Aku mencoba memahami teori kecil yang papah jelaskan tadi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2