Istri Sambung

Istri Sambung
IS70. Musuh jadi guru


__ADS_3

"Coba jangan nuntut Novi terus, kasih pengertian anak-anak kau juga. Ya kau juga harus mengerti keadaan. Karena ya, Far. Yang Abang rasain hidup dengan perempuan yang berbeda itu, kek sama Nadya kemarin. Ya memang kaget rasanya, dengan aturan dan kebiasaan mereka mengurus kewajibannya. Tiap orang itu, beda caranya. Kek Canda gini kan, dia nanya nih mau masak apa. Abang tak rewel makan, ya bilang lah terserah aja. Dihidangkan sop bakso, sama sayuran yang sengaja mentah pun, ya Abang makan. Mungkin kau yang rewel makan sama kek anak-anak kau, ya coba request ke Novi. Masak udang pedas manis, cek tutorialnya di YouTube. Mungkin itu lebih mempermudah Novi, ketimbang kau bilang terserah, tapi kau tak mau makan. Sama Nadya kemarin, dia jarang masak, tapi beli makanannya berani. Dia masak, cuma buat anaknya aja. Buat kita yang dewasa, ya beli. Makanya, mungkin boros di situ."


Benar juga setiap ucapannya.


"Masalah ranjang pun, ya disamakan kek prosedur masak gitu. Kau request lah, begini atau begini. Biar tak jadi diskomunikasi, kek Abang sama Canda dulu. Abang se*s, lebih bebas sama Nadya. Tapi karena banyak permasalahan dan selalu bikin dongkol hati, kan jadinya minat pun berkurang. Kalau Canda, dulu dia tak mau coba karena trauma mungkin. Sekarang, dia enjoy aja karena mulutnya berani ngomong. Kalau memang tak enak, ya dia kasih saran. Ya mungkin, dia dapat ilmu pas kami pisah itu."


Masalah ranjang, aku pernah membicarakan pada Novi. Ya tentang Novi agar mau memberikan stimulasi, tapi Novi mengatakan seolah itu adalah hal jijik.


Jadi, siapa yang perlu dinasehati di sini? Apa aku seret Novi, agar mau mendengarkan ceramah bang Givan?


"Kalau masalah ranjang, terus ada satu pihak yang nolak gimana?" aku sebelumnya tidak pernah mendapatkan penolakan oleh Kin.


Malahan, ia yang kadang langsung menarik resleting celanaku.


"Ya ke Abang ke Canda dulu mungkin ya? Jadinya hambar, ya satu-satunya jalan ya dibicarakan. Kalau didiemin kek Abang dulu, ujung-ujungnya pisah. Jadi se*s itu, kek cuma nyari pelepasan. Bukan nyari hiburan, atau bener-bener ngerasain kontak sama istri. Jadi kek, yang penting keluar aja gitu. Abang keluar, Canda juga keluar. Udah selesai. Bulan ketemu tahun begitu, kan jadi anyep aja gitu. Ngaruh ke perasaan juga."


Sekompleks itu ya permasalahan se*s? Sampai menyerempet ke masalah perasaan.


"Serius, Bang?" aku belum pernah merasakannya soalnya.


"Ya, serius. Jadi celah untuk orang ketiga masuk itu lebar, meski dari awal tak ada niat selingkuh atau hanya iseng semata. Makanya, apa-apa itu diomongin sama istri. Jangan sampai, karena kurang komunikasi jadinya berantakan."


Dulu bang Givan adalah musuhku. Sekarang, dia adalah guruku. Karena bertukar pikiran dengan papah, bukan hal yang bagus menurutku. Mereka yang sudah tua, terkadang berpikir terlalu kolot. Belum lagi, aku yang pasti akan malu jika bercerita ribut dengan Novi. Orang tua pasti ikut terbebani saja, mendengar rumah tangga anaknya yang tidak harmonis.

__ADS_1


"Terus, kau pernah tak setengah tiang gitu? Kau udah maksa, tapi tetap setengah tiang? Atau Canda yang nuntut gitu?" aku ingin tahu kisah laki-laki normal di usia tiga puluh ke atas.


Apakah, memang seusia kami ini mulai kesulitan?


Bang Givan menatapku heran, "Tak keras maksud kau?" tanyanya kemudian.


Aku mengangguk dengan meringis kuda. Aku malu sendiri, karena ia pasti berpikir aku demikian.


"Pasti pernah lah, Far. Apalagi, kalau posisi badan lagi tak fit." ujarnya kemudian.


Bukannya langsung menjelaskan permasalahan dan solusinya. Dengan ia menjawab setengah, mau tidak mau aku harus bertanya lagi.


"Terus kau ngapain, Bang?" jika dia bukan abangku sejak kecil, rasanya aku sungkan bertanya seperti ini.


"Minum jamu campur telur plus madu di sana." bang Givan menunjuk arah selatan, "Terus pulang, tidur deh. Jangan dipaksakan, kalau memang lagi tak kuat tempur. Nanti malah kesal sendiri. Tak kesampaian, mana tak tuntas kalau dipaksakan. Mending bawa istirahat aja."


"Kau masih kek dulu?"


Aku langsung menoleh cepat, "Dulu gimana?"


Aku pura-pura tidak tahu saja. Semoga bang Givan sudah lupa, dengan permasalahanku dulu saat dituduh menghamili Canda yang masa itu sudah menjadi istrinya.


"Canda pernah cerita, kalian pernah petting katanya?" bang Givan menepuk punggungku, "Canda juga bilang, kau tak bisa ngembang waktu sama dia." bang Givan merendahkan suaranya.

__ADS_1


Dasar, Cendol ember!


Memang tidak bisa dipercaya mulut Canda itu. Padahal sudah janji tidak akan memberitahu siapapun. Tapi, ia memberitahu suaminya.


"Ya begitulah, Bang." aku hanya mampu menghela nafasku.


Mengelak pun percuma.


"Jujur, Far. Abang kau ini tak percaya." ia malah terkekeh.


Aku meliriknya, "Masa iya mau aku tunjukkan?"


Namun, tawanya malah lepas.


"Aku tuh tak bisa, Bang. Kalau perempuannya tak nyerang duluan. Gatal sendiri begitu, tetap aku kadang susah berdiri biarpun sama Kin juga. Tapi kalau udah error, ya liat Kin lewat aja gel alami itu udah keluar sendiri saking tak tahannya." kadang aku begitu menggebu-gebu pada Kin.


"Novi seksi loh, Far. Makanya Abang tinggalkan dia di rumah Abang sendiri waktu dulu, karena menghindari makanan enak. Mau bagaimanapun, kita punya sifat buas. Ria kalau modelan Novi juga cara berpakaiannya, ya mungkin udah jadi istri kedua Abang. Tapi Ria kan, kek perempuan pra laki-laki gitu. Celana training terus yang dipakai, hoodie juga. Ya memang, pemerkosaan itu biasanya korbannya bukan yang berpakaian seksi. Tapi kan kita merasa saudara gitu, sama Novi atau Ria. Jadi pakaian minim itu, kek jadi nilai plus untuk mereka buat narik keminatan kita. Abang kalau tinggal bareng Novi kemarin, ya mungkin dia habis juga. Tiap kan Abang cari aman, sama Ria pun tak satu rumah. Abang tinggal di rumah, Ria di perusahaan. Di ruangan Abang, ada basecamp yang bisa jadi rumah dadakan. Ada kamar, lemari kosong, kamar mandi, ruang TV. Aman dia di sana, kecuali kalau kantor kebakaran." ia malah melawak garing.


"Ya kau yang mati, kalau kantor kau kebakaran." aku teringat insiden beberapa tahun lalu, saat Putri mengebom dua alat berat beserta operatornya.


"Jangan lagi lah." bang Givan terlihat khawatir.


Ialah, ia pasti khawatir.

__ADS_1


"Papa……


...****************...


__ADS_2