
"Kok tak ada bilang mau nginep, Pa." Kak Aca membukakan pintu rumahnya.
Aku hanya mengangguk saja, kemudian langsung kembali ke motorku untuk mendorongnya masuk. Aku tetap kehujanan, meski sudah memakai jas hujan, beberapa bagian pakaianku pun ada yang basah tetap basah.
"Air hangat apa teh manis, Pa?" Kak Aca mengepel bekas ban motorku yang basah.
Aku kembali lagi ke luar, untuk melepaskan jas hujanku dan mengangin-anginkanya. Setelahnya, aku langsung diberikan handuk dan diminta untuk membilas diri di kamar mandi.
"Teh hangat aja kah, Pa?" Kak Aca berseru ketika aku berada di dalam kamar mandi.
"Air hangat aja." Aku sudah mandi di kantor, jadi sekarang aku hanya membilas saja.
"Mau makan kah? Aku angetin sayurnya ya? Aku masih punya sayur sop sayap ayam." Kak Aca menyodorkan air hangat, ketika aku baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Udah makan kok, minta selimut aja deh." Aku menerima gelas tersebut dan memberikan pakaianku yang setengah basah padanya.
Aku sudah niat akan menginap sejak pagi, di hari Kamis pagi tadi, neneknya anak-anak sudah kembali dari Pintu Rime. Beliau mengatakan, agar aku berangkat bekerja saja. Dengan bukti nyata beberapa dokumen yang lumayan banyak, aku berkata akan lembur. Mamah bisa memahami itu, beliau pun menyarankan aku untuk tidak usah pulang seperti Ria, jika terlalu malam untuk berada di jalan. Dengan aku yang sengaja tidak memberitahu kak Aca bahwa aku ingin menginap di sini, sukses menjadi kejutan meski aku harus hujan-hujanan terlebih dahulu.
Aku takut gagal lagi, jika aku merencanakannya sejak awal. Jika tidak mengatakan seperti ini kan, mau jadi atau tidak, kak Aca tidak mengharapkan aku datang dan tidak marah juga jika aku tidak bisa datang.
"Selimut? Masuk aja ke kamar dulu deh. Aku mati-matikan lampu dulu." Kak Aca menerima gelas air hangat tadi yang telah kosong.
"Baju aku yang pernah aku minta Mama suruh bawa, simpan mana?" Aku menyelipkan beberapa stel pakaianku ketika ia pindahan.
"Oh, di lemari yang paling atas." Kak Aca mengambil gantungan baju dari bawah jemuran handuk yang berada di dekat kamar mandi ini.
Aku meliriknya yang tengah berkutat dengan pakaian yang aku kenakan tadi, sebelum aku akhirnya masuk ke kamar satu-satunya di rumah ini. Nahda pulas dengan menghadap tembok, sedangkan Ra berada di dekat kepala ranjang. Cara tidur mereka melintang, seperti huruf L.
Aku langsung mencari pakaian, kemudian mengenakannya. Ke mana selimut disimpan? Rasanya begitu dingin, sampai tubuh rasanya ingin bergetar terus.
Bayangkan saja, udara di sini sudah amat sejuk ketika Ashar datang. Ditambah lagi, hujan angin mengguyur Kota Dingin ini. Rasanya, aku seperti berada di titik mengkerut.
Aku langsung naik ke atas tempat tidur, kemudian menutupi kakiku dengan bantal dan memeluk Nahda. Suhu badan Nahda normal, membuatku sedikit merasa hangat bersentuhan kulit dengan anak ini.
"Nih, Pah. Katanya selimut." Kak Aca langsung menyelimuti tubuhku.
__ADS_1
Demi kesan pertama tidur malam bersama, aku sampai rela mengusahakan pulang padanya meski hujan seperti ini.
"Peluk, Kak." Aku merasakan tempat di belakangku sedikit bergoyang.
Tidak begitu sempit, karena ranjang ini berukuran 200×200. Ditambah lagi, Ra yang berada di atas kepala, membuat tempat di sini sedikit lega. Nahda pun, meringkuk anteng dengan menghadap tembok sambil memeluk guling. Posisi mereka sudah sama-sama nyaman sepertinya.
"Kak apanya?! Kedudukan aku istri Papa sekarang, jangan panggil kak. Aku tau, aku lebih tua dari Papa." Aku merasakan hangatnya pelukannya.
Susah, jika sudah terbiasa. Padahal, aku sudah berencana memanggilnya Aca saja dalam narasi.
"Dingin betul, asli. Selimut tadi ke mana sih?" Gigiku sampai bergemeletukan ketika berbicara.
"Dipakai buat kemah-kemahan anak-anak."
Aku masih kedinginan, tapi tangannya segala masuk dan mengusap-usap perutku.
"Nanti, Ma. Masih dingin." Aku paham, tapi aku tidak yakin bisa memberinya untuk malam ini.
"Ya sini coba nurut, diangetin." Aca menarikku untuk tertidur terl*nt*ng.
"Tak lagi haid kah, Ma?" Aku memeluknya, dan mengusap-usap punggungnya. Teraba dari tanganku, jika di punggungnya sudah tidak ada pengait wadah lagi.
"Tak, bulan ini udah haid, Pa. Haid aku cuma lima harian." Aca mulai menyerang bibirku.
Uhh, perempuan ini. Meski caranya seberani Kin, tapi ia tidak mengingatkanku pada Kin. Ia memiliki cara tersendiri, begitu lembut dan menghanyutkan. Kontak pandang yang ia lakukan sesering mungkin, membuatku merasa begitu dicintai.
Apalagi, ketika ia mau dan tanpa sungkan menurunkan kepalanya perlahan dari wajahku sampai ke bagian tengah-tengah tubuhku. Ia memberikan timbal balik, meski tidak di waktu yang sama.
"Pelan aja, Ma. Anak-anak takut terganggu." Aku membantunya menaikan selimut sebatas bahunya.
Aku khawatir anak-anak terbangun, lalu melihat kami yang seperti akan mandi ini. Baju kami lenyap, dengan sisa saliva yang membasahi kami.
"Begini kah?" Aca mulai menggerakkannya.
"Atur aja." Aku tersenyum lebar.
__ADS_1
Tanpa komando pun, ia bisa bergerak sendiri. Kehidupan dari sarang yang memerangkap Black Mamba pun, membuatku terhipnotis dengan alur permainannya. Terkadang bergerak cepat, terkadang begitu lambat sampai aku gemas sendiri.
"Bisa bantu kasih hentakan?" Tatapannya begitu dalam. Ia sudah kalah dengan rasa ingin dan puncaknya rupanya.
"Bisa, sini." Aku memeluknya erat.
Rasanya deg-degan bercampur semangat. Di samping ranjang yang bergerak seiring gerakanku, aku takut anak-anak terbangun. Ditambah lagi, kak Aca yang bersembunyi di ceruk leherku semakin membuatku semakin diburu oleh amunisi yang super kuat.
"Ayo bareng." Suaranya bergetar merdu.
"Jangan, Sayang. Sok duluan." Aku mengerti z bahwa ia sudah dekat dengan pusatnya.
Namun, ia tiba-tiba melepaskan penyatuan kami.
"Aku tak mau keluar dulu." Aca berbaring di sebelahku.
"Mau gimana?" Aku sudah memeluknya dari belakang.
"Spooning."
Aku langsung melaksanakannya dan mulai bergerak kembali. Aku sangat menyukai, jika melakukan hal seperti ini dengan saling berpelukan. Apapun gayanya, jika sudah berpelukan itu aku merasa hatiku diisi oleh hamparan bunga-bunga yang membuat. Entah bagaimana deskripsi akan rasa itu, seperti bahagia tersendiri seperti itu.
"Kenapa udah dekat malah dicabut?" Jika aku yang mengatur seperti ini, aku bisa bertahan dua kali lebih lama.
"Baru sebentar masa keluar? Nanti takut udah capek duluan aku, Pa." Aca menggenggam punggung tanganku yang tengah menangkup pabrik ASI alami tersebut.
"Oh, yang lama jadi nih?" Aku memberi variasi untuk bergerak.
"He'em."
Selimut tidak kami tinggalkan, selimut masih kami pertahankan, untuk menjaga tubuh kami sendiri. Selain karena adab, ini pun untuk berjaga-jaga juga.
"Tahan, Ma." Aku ingin sedikit memberikan sensasi lain padanya.
...****************...
__ADS_1