
"Kalau Budhe sih tergantung Acanya aja, karena dia yang bakal menjalani. Tapi nanti Budhe bantu kok, Budhe nanti ceritakan ke pakdhe kamu, tentang obrolan kita ini." Budhe May tersenyum ramah.
"Semoga ada hasil, Budhe. Biar sampai Aceh lagi, bisa langsung adakan pernikahan resmi."
Eitttt, untungnya tidak mengatakan 'langsung meresmikan' kan bisa bahaya kalau keceplosan.
"Aamiin, Far. Budhe sih yakin aja sama anak-anak Dinda, karena pola didik Dinda pasti gak bakal keliru. Jujur aja, Pakdhe ragunya karena kamu anaknya Adi, bukan karena kamu anaknya Dinda. Waktu Givan minta ditunangin dengan Aca pun, pakdhe kamu ragu karena dia anak Hendra. Sama adik sendiri sih, dia yakin, cuma sama adik iparnya ini." Budhe tertawa kecil.
Kenapa ya dengan para adik ipar pakdhe ini?
"Memang kenapa dengan papah aku, Budhe?" tanyaku dengan alis berkerut.
"Katanya ingat Adi dulu poligami, ingat Adi nangis-nangis, ingat Adi diam aja waktu dipukuli pas dia nikahin perempuan kedua itu, ingat Adi diam aja juga pas diusir Dinda. Jadi katanya, ya takut aja. Takut ceritanya sama, apalagi dia yang punya anak perempuan sekarang. Dulu dia punya adik perempuan yang dipoligami, hawanya dia yang pengen gaplok Adi aja katanya." Budhe terkekeh geli sendiri.
"Tapi Adi yang menang dan hamili di Dinda itu berkali-kali, Budhe. Adi juga yang tahan dengan sifat dan watak Dinda," timpalku yang membuat budhe May malah tertawa lepas.
"Tulang rusuknya Adi patah tiga itu, Budhe. Gara-gara ulah si Dinda, tapi Adi urusin Dinda betul-betul pas Dinda kena karma retak tulang kaki." Ingin bukan menyebutkan karma, tapi nyatanya begitu nyata dengan permasalahan tulang yang sama.
Aku seperti lawak, budhe malah terus saja tertawa.
__ADS_1
"Nolak si Givan, karena wataknya takut mirip Hendra. Yang suka nyakitin perempuan, tukang selingkuh, berat ke ibu. Nolak aku, yang katanya wataknya mirip Adi. Tapi ada plusnya juga itu, karena aku tak perhitungan kek Adi."
Asli, budhe terus tertawa seperti tengah mendengarkan stand up komedi.
"Adi masih begitu ya rupanya?" Tawa beliau baru mereda.
Aku mengangguk. "Harus jelas aja sih, perhitungan sih udah tak begitu nampak. Mau hitungan-hitungan sama mamah, ya nanti malah papah yang siap-siap tak dapat jatah kalau berani sih."
Eh, budhe malah tertawa lagi.
"Intinya, semua laki-laki akan bisa mengerti di tangan yang tepat. Hendra ya udah adem aja kan, sama istrinya yang bercadar itu? Adi yang malah ikut aturan hidup Dinda, malah royal ke Dinda, gak perhitungan kaya si Haris atau Jefri cerita." Rupanya budhe mengenal dua orang yang mengukir sejarah tersebut.
Beliau mengiyakan. "Sering ke sini dulunya. Dulu budhe numpang di rumah Dinda, ini rumah dan bangunan merah milik Dinda ini. Sampai sekarang pun, gak pernah pindah nama pemilik. Budhe dulu ribut aja sama mertua, ibunya Dinda. Orang seberang katanya, sopan santunnya beda, cara hidupnya beda. Dikiranya mungkin, Budhe ini dari planet yang berbeda. Ditambah kan ujian keuangan di awal perkawinan, numpang mertua lagi, udah komplit penderitaan. Setelah Dinda menjanda dan punya rumah, Budhe diminta untuk tinggal di sini nemenin dia. Alasannya tuh begitu ke orang tua. Padahal apa coba?" Budhe menepuk lenganku.
Ghibah mode on.
"Apa tuh, Budhe?" Aku menantikan lanjutan ceritanya.
"Padahal buat jagain anaknya, si Givan itu. Ibunya gila lagi, gak anteng-anteng di rumah. Pagi aja ada di rumah tuh, jadi kalau ibu mertua Budhe ke sini anterin makanan buat Givan dan Dinda gitu, ya dia ada di rumah. Jam sembilan atau jam sepuluh pagi, intinya sebelum Dzuhur, udah tuh ilang dia bawa mobilnya. Gak pulang-pulang itu, sampai dini hari baru datang. Entah kapan masa tidurnya, karena pagi ini itu dia aktivitas biasa, urus anak, nyuapin anak. Duit ya ada terus, tapi orangnya gak ada terus. Maksudnya, keluyuran aja tuh. Tau dia bisa cari uang tuh ya? Ya harusnya sejak ada suami aja, biar gak cerai gitu. Kadang herannya, kenapa harus menjanda dulu, baru mandiri dan jadi wanita super."
__ADS_1
Loh, loh. Dalam ceritanya, tidak disebutkan bahwa ia sudah memiliki Aca. Apa benar-benar kak Aca lahir dari kegilaan mamah?
"Mungkin pengen tau perjuangan suami menghidupinya, Budhe. Kek kak Aca bilang kemarin aja, dia punya uang, dia kaya, ya dia tak butuh laki-laki. Mungkin pikiran mamah pun sama, dia mikirnya punya suami, jadi suaminya dipakai untuk menafkahi dia. Dia tak ada yang menafkahi sih, ya terbukti dia gila lagunya kan? Karena punya uang banyak itu." Sungguh, aku tidak tahu pasti cerita saat mamah dulu. Karena cerita yang disajikan orang tuaku, ya ketika mereka mulai kenal dan menjadi suami istri.
"Kek Aca begitu pikirannya. Kalau Budhe dulu, pakdhe kau kesulitan cari uang tuh, ya budhe jual-jual snack kiloan segala macam, pengen bantu suami berjuang."
Aku teringat cerita kak Aca yang mengatakan, bahwa suaminya melarangnya bekerja.
"Bisa jadi larangan dari suaminya, atau keadaan yang tidak memungkinkan tuh. Waktu Kin dulu aku larang dia tetap jadi dokter, ya karena aku pengennya dia jadi istri aku aja." Tidak semua laki-laki berpikir sepertiku, tapi pasti ada saja laki-laki yang berpikir sepertiku.
Budhe hanya manggut-manggut. Eh, aku teringat dengan asal-usul Aca.
"Berarti, bang Givan kecil diurus sama Budhe ya?" Ini adalah basa-basi pertama.
Ia mengangguk. "Diurus Budhe sama neneknya, tapi setelah nempatin rumah ini ya sama Budhe terus. Budhe belum ngandung juga pas itu, jadi gak punya kesibukan. Pokoknya, gilanya Dinda itu ya entah di luar ngapain aja. Anak sih gak tau-tau, sama Budhe terus. Kalau katanya kerjaannya dekat, ya balik dini hari itu terus sebelum Dzuhur berangkat lagi. Kalau di luar kota, ya sampai itu berbulan-bulan lamanya. Kadang Givan dibawa, kadang juga ditinggal di sini. Sampai Budhe ngandung Aca, sampai mau melahirkan itu dapat kabar ternyata dia dipenjara. Anaknya diambil alih Haris, untuk manipulasi kakek nenek kalau Dinda ini ke luar kota sama anaknya. Karena Givan tukang ngadu sih, tak bisa tuh diajak buat kerjasama bohong. Budhe melahirkan punya Aca, Dinda udah mabok Adi bujang kaya banyak warisan dari Aceh itu. Entah kapan pulang dari penjaranya dan berapa lama dipenjara, karena balik itu udah gandeng-gandeng Adi terus. Dilarang sama Adi sama orang tuanya, kabur lagi tak pulang-pulang. Yang bikin tambah khawatir ini dia bawa anaknya, jadi pikiran kadang kalut sendiri keluarga di rumah."
Wow, fakta unik tentang ibuku. Tapi, aku sudah yakin di sini jika Aca bukanlah anak mamah.
Dari obrolan yang menyambung seperti ini, aku memiliki sedikit keyakinan jika aku direstui oleh budhe May. Tapi, akan aku pastikan kembali dengan bertanya pada pakdhe juga esok hari.
__ADS_1
...****************...