
Novi malah terlihat pasrah, dengan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aku hanya bisa tepuk jidat di sini. Benar-benar konyol konsepnya.
Seumur pernikahanku dengan Kin, Kin tidak pernah diam pasrah seperti itu. Aku yang malah bingung di sini.
"Kok diam aja?"
Hufttt….
Bismillah.
Aku langsung memeluk Novi dengan berat yang aku tumpukan di siku kiriku. Aku malah seperti bujang, yang tidak tahu teori berkembang biak.
"Berat." Novi tertawa geli.
Aku membalasnya dengan senyum lebar. Kemudian, aku menggulingkan tubuhku di sampingnya. Tangan kananku mendarat di pinggangnya, dengan Novi yang menghadap padaku.
Kini, kami berhadapan dengan saling memandang.
"Bang…. Abang tuh manis kali, hidungnya besar kek pak wa Adi. Matanya tak simetris, satu kek pak wa, satu kek mak wa." ia mengusap bagian yang ia sebut.
Aku menangkap tangannya, "Panggil mereka mamah sama papah. Sekarang mereka mertua kau, orang tua kau." aku merapikan anak rambut keemasannya.
Rambutnya memang sejak kecil tidak berwarna hitam. Novi dominan ibunya, ketimbang ayahnya.
Novi mengangguk samar, "Terus kita gimana lagi ini?" Novi berucap sembari tertawa malu.
Aku jadi malu sendiri, karena wanitaku terlihat menuntut. Kemarin, aku yang seolah objek untuk Kinasya. Seringkali aku hanya diam, tahu beres.
Aku mendekatkan wajahku, dengan menabrakan indra pengecap kami. Yang penting jalan saja dulu, meski aku tidak tahu stepnya.
Katakanlah aku menjadi bapak dua anak, karena Kin yang membuat dirinya sendiri dihamili olehku. Meski aku paham cara menyerang wanita, tapi aku terbiasa diserang.
"Abang bisa tak?" Novi mendorong dadaku, sehingga rasa makanan yang Novi makan tadi terlepas.
__ADS_1
Aku menahan tawaku, "Tak bisa. Sok duluan." dengan begini, mungkin aku akan dapat stimulasi.
Jika memang tidak sedang menggebu-gebu, aku bahkan tidak mimisan karena tidak minat. Ya, rasa ingin itu sulit datang. Apalagi jika perempuannya hanya menerima saja seperti ini.
"Aku tak bisa, Bang. Pacaran aku tak ada begini-begini lah." tangannya iseng melewati ujung dadaku beberapa kali.
Ia sengaja memainkan kutil itu.
"Memang pacarannya gimana?" Novi terlihat memiliki kerutan halus di area mata, ia benar-benar sudah tua rupanya.
Aku jadi ingat Kin yang selalu rutin skincare, filler, botox, juga macam-macam perawatan wajah. Kin memang rutin datang ke klinik kecantikan, mungkin sekitar sebulan sekali.
Novi juga akan aku beri bebas akses untuk perawatannya. Jika memang ia bisa mengurus anak dan mengatur keuangan. Aku belum bisa percaya sepenuhnya pada Novi.
"Pegang-pegang, ciuman." Novi meluruskan punggungnya kembali pada tempat tidur.
"Area sensitif juga?"
Ya, jika menurut agama. Ada adab dan tata cara yang sudah diatur. Namun, manusia jaman sekarang mana bisa diatur.
"Pacaran pun tak baik menurut agama. Apalagi pegang-pegang ke area sensitif."
Novi langsung menoleh cepat, dengan memamerkan giginya. Mungkin ia tersindir.
"Ayolah gerakannya, Bang. Dua malam, aku tidur dalam keadaan suci terus."
Ia meminta, tapi ia tidak paham cara mengajak laki-laki dengan benar.
"Nanti episodenya tak lulus review loh." aku membenahi posisi bantalku.
"Sedikit aja, aku udah penasaran."
Aku tidak tega, jika perempuan sampai memohon seperti ini.
__ADS_1
"Oke." aku turun dari ranjang.
Kemudian, aku menurunkan celana jeansku berikut sabuknya. Live show sekalian, semoga aku tidak mempermalukan diriku sendiri.
Aku bisa melihat dengan jelas Novi ternganga dengan mata yang tidak berkedip.
Aku mengusap Black Mamba yang susah diliarkan ini. Ia terlalu jinak, bahkan hanya tertidur saja dari tadi. Coba laki-laki lain, sepertinya Novi sudah terkoyak.
Aku kembali ke ranjang, dengan menari bed cover. Aku pun mengurung Novi di dalam bed cover juga, aku terbiasa seperti ini jika dengan caraku sendiri.
Aku merasa seperti ada yang menonton, jika tubuh telan*ang tanpa penutup apapun di atas ranjang. Aku tidak nyaman, jika tidak ada kain penutup.
"Jangan begini, kan jadi gelap." aku mengurungnya sampai ke kepala juga.
"Aku biasa begini. Kecuali, aku sebagai objek." aku sengaja tidak mengatakan dan menyebut nama Kin.
Khawatir moodnya akan berubah buruk.
Aku menyesapi setiap jengkal ruas tebu, yang melewati masa panennya. Cukup kenyal, karena belum memproduksi ASI. Tapi cukup terasa, bahwa keelastisitasnya menurun.
Bukan aku mengomentari, nanti pun akan aku modali. Hanya saja, aku menjabarkan benda yang tengah aku pegang sekarang.
"Mama tak suka Papa terlalu lama main itu. Tak nyaman, jangan terlalu sering distimulasi."
Kenapa penggalan kalimat itu, yang malah aku ingat. Novi dan Kin orang yang berbeda. Mungkin Kin memang tidak suka, jika aku memainkan pabrik ASI itu terlalu lama. Tapi bisa berbeda, karena Novi bukan Kin.
"Awhhh…"
Kulitku langsung meremang merinding, mendengar suaranya. Kenapa suaranya lebih menarik, ketimbang kulit kenyal ini yang aku genggam?
Oleng sudah.
...****************...
__ADS_1