
"Aduh, tolong." Aku menutupi wajahku sendiri.
Kak Aca tertawa geli, ia menarik tanganku dari wajahku sendiri. Ia menempatkan tanganku di pinggangnya, lalu ia menyambar bibirku.
Aku sudah berusaha tidak merespon, tapi perempuanku yang begitu gencar. Ia sampai begitu buas menyerangku.
Di mana-mana, perempuan takut dengan laki-lakinya ketika sepi. Di sini, aku yang malah takut dengan perempuanku ketika sepi. Bahaya sekali model kak Aca dan Kin ini, aku dipaksa untuk berperang melawannya agar tidak lemas.
"Kau tuh kalau diperhatikan mirip Jonas Rivanno, bedanya kulitnya hitam manis. Kalau Jonas Rivanno, kulitnya putih cerah." Kak Aca mengusap-usap pipiku.
Di mana-mana, laki-laki yang modus pada perempuannya. Di sini, aku malah dimodusin kak Aca.
"Kau pun mirip mamah betul, rasanya mesum sama ibu sendiri."
Kak Aca malah tertawa lepas. Ia memelukku dan melepaskan kembali, ia menyatukan dahi kami dengan aroma pasta gigi yang masih terasa.
"Tinggal di rumah aku aja, aku di rumah mamah. Biar aku tak susah ngawasinnya, berdiri depan pagar udah nampak rumah akunya." Aku membuka pembicaraan, agar aku tidak perlu mandi besar setelah ini.
"Biasanya bersyarat nih."
Sepertinya, ia adalah korban bujuk rayu laki-laki.
"Tak juga lah, aku tulus kok. Asal lepasin aku sekarang ini, aku mau siap-siap berangkat kerja." Mungkin ia akan marah setelah ini.
"Boleh, tapi keluarin aku dulu."
Ambigu, tapi kalian pasti mengerti. Kalian pasti paham, apa yang ia pinta untuk aku keluarkan.
"Pakai apa maunya?" Kalian juga paham, banyak jalan menuju Roma.
"Inilah." Ia menyentuh yang berada di dalam sarungku.
Sama saja bohong. Aku diminta untuk keluar juga, jika begitu konsepnya.
"Lama nanti, aku belum berdiri." Aku pun selalu mengalihkan perhatianku ke arah lain, agar tidak bangun.
"Aku e*** deh. Kek biasanya aja."
Sulit ditolak.
"Ya udah, gas."
__ADS_1
Ia langsung girang saja. Inong oh inong, selalu saja membuatku kalah.
Untungnya lagi, Ra dan Nahda tetap terlelap meski ayam berkokok lantang beberapa kali. Suara tubrukan kulit pun, terdengar samar karena aku melakukannya di balik selimut tebal.
Kak Aca benar-benar ingin, sampai seperti tengah berenang. Kabut minatnya pun, sampai membuat matanya sayu.
"Buka mulutnya." Aku mempercepat gerakanku.
Aku sudah blingsatan.
Kak Aca dengan sigap melepaskan dan mengganti dengan mulutnya. Gerakannya begitu cepat, sehingga benihku langsung menuju ke kerongkongannya.
Sial, aku malah berzina lagi. Padahal, aku baru pulang dari masjid untuk sholat subuh.
"Udah setengah tujuh, aku ada rapat jam tujuh lebih sepuluh." Aku mengatur napasku.
"Aku buatkan mie ya?" Makanan yang begitu praksis.
"Aku jarang makan mie, Kak. Aku suka jerawatan kalau makan mie dan pasta." Aku meraih pakaianku lagi.
Aduh, lututku dan pinggangku.
"Ohh, aku baru tau nih. Tak makan apa lagi?" Kak Aca pun memunguti pakaiannya.
"Anak-anak kalau makan ikan, mesti dipresto atau filled. Aku biasa makanan sehat, daging yang tak begitu matang juga. Aku juga suka sayuran yang setengah matang, empat sehat lima sempurna. Nanti kalau udah nikah, kita bicarakan uang belanjanya mana tau kurang." Aku mengenakan sarungku lagi.
Lutut sampai begitu linu, karena olinya jarang diganti seperti ini. Sekali ganti oli, rontok tenaga. Start jam lima pagi, finish jam setengah tujuh pagi.
"Aku langsung pulang ya?" Aku sudah siap berpakaian.
Kak Aca mengangguk. "Dari pintu belakang aja, tapi cuci dulu ya? Terus, jangan lupa telpon aku." Ia duduk kembali di tepian ranjang, ia pun pasti kelelahan sekarang. Ia mau bergantian juga, tak melulu aku yang bergerak.
"Iya," sahutku kemudian.
Setelah dari kamar mandi, aku melangkah keluar dari pintu belakang. Karena banyak jemuran di sini, pintu belakang tertutupi dengan sprei dan kain-kain yang dijemur sepagi ini.
Sudah pahala-pahalaku menjadi pertaruhan karena berzina tadi. Kini, giliranku yang berpapasan dengan mamah. Aku baru keluar dari jejeran jemuran, dengan mamah yang lewat dengan menenteng kantong plastik berwarna putih.
Sial memang.
Mamah mematung, dengan memperhatikanku dari ujung kepala sampai kaki. Lalu, mamah mendengus aroma tubuhku.
__ADS_1
"Bau saliva." Mamah melirikku malas.
"Far, Far…. Mamah kira kau masih molor." Mamah berjalan mendahuluiku.
Aku bergerak cepat, lalu menyetarakan langkahku dengan mamah. "Dari mana, Mah?" tanyaku berbasa-basi.
"Beli sarapan untuk anak-anak kau, papah, sama kau. Kau kan tau, Mamah kalau pagi repot. Kau bantu lah anak-anak kau salin, biar Mamah bisa buat sarapan. Kau tak turun tangan, ya Mamah jadi yang urus mereka. Makanya sarapannya beli begini, tak buat." Mamah menjawab santai.
Sepertinya, beliau akan mengamuknya di rumah. Bukan di jalan seperti ini.
"Maaf, Mah." Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku pergi sejak Subuh.
"Nanti makan siang pulang, Mamah mau ngomong."
Sudah kuduga.
"Ya, Mah." Aku memang berbuat, aku pun akan menanggung akibatnya.
Mau bagaimana lagi? Masa aku menyalahkan kak Aca? Jelas-jelas, aku yang minat sendiri dengan ajakannya.
"Jangan sampai papah kau tau, Mamah tak mau papah drop."
Aku teringat ketika aku ketahuan mesum dengan Kin oleh papah, papah memang langsung meletup-letup dan drop setelahnya.
"Ya, Mah." Aku mengikuti alur dari mamah saja.
"Sana duluan, bawa nih sarapan. Kau mandi, suruh anak-anak kau sarapan. Nanti biar papah antar anak-anak kau sekolah, Mamah mau langsung ke orang jualan sayur dulu." Mamah memberikan tentengannya padaku.
Beliau pun tengah sibuk, maka dari itu tidak bisa berbicara langsung. Tapi aku yakin, mamah ingin membahas tentang bau saliva ini. Mamah lebih jeli dengan bau-bauan khas seperti ini, jadi mengelak bukanlah jalan keluarnya.
Sayangnya, jam makan siang pun aku tak bisa pulang. Aku benar-benar sibuk, karena banyak rapat di luar kantor bersama Ria.
Mengenai pekerjaan untuk Novi. Novi menolak untuk bekerja lagi padaku, entah apa alasannya. Novi mengatakan, ia tengah menunggu KTP jandanya dulu. Barulah, ia akan berani membuat surat lamaran kerja.
Hingga malam harinya, jam delapan malam ini mamah datang ke kamarku. Tampilkan kak Aca dalam wujud yang lebih imut, memang keluarga yang begitu mirip.
"Apa, Mah?" Aku duduk bersila di atas ranjang.
"Jangan mentang-mentang Aca udah janda, jadi main-main pun tak berbekas. Kau anak baik-baik, Far. Kau bilang ke papah kau, DE kau kemarin kambuh pas sama Novi. Sampai kau bolak-balik ke tabib, karena di RS pengobatannya lama. Tapi sekarang, rupanya udah rutin ya minta jatah? Sependiemnya perempuan, Mamah yakin mereka tak akan minta di awal kalau kau tak buat mereka kecanduan. Jadi jangan banyak alasan, apalagi nyalahin pihak perempuan. Kalau kau udah tak tahan, ya udah nikahin. Jangan kelamaan, takutnya keburu bosan. Mamah telpon pakdhe Arif ya? Kau minta restu dia ya? Kau bilang niat baik kau."
Waduh, aku langsung gugup.
__ADS_1
...****************...