Istri Sambung

Istri Sambung
IS279. Bukan meminta orang tua menasehati


__ADS_3

Aca masuk bersama mamah, mereka tengah mengacak-acak isi kantong belanjaan. Aca pun meminta, agar belanjaannya diturunkan juga. Ia merasa jatah yang aku berikan untuk dapur mamah terlalu sedikit, sedangkan ia tahu bahwa yang makan di dapur ini bukan hanya dua orang. Mamah tidak meminta, mamah pun tidak pernah menolak. Apalagi, suaminya masih mampu memberinya makan enak. Mamah hanya mencoba menghargai pemberian anaknya, dengan cara menerimanya tanpa berkomentar.


"Lahiran loh istri kau, kalau kau tak bisa tahan." Papah melemparku dengan bekas bungkus biskuit yang menjadi cemilannya tadi.


Aku menoleh ke arah beliau, aku meluruskan kakiku dan menghela napasku. "Istri Papah kali yang lahiran." Aku tidak bisa bercerita secara langsung, karena papah nanti mengetahui siapa yang lebih dominan di ranjang rumah tanggaku.


Karena normalnya, suami yang dominan. Meski aku tahu mamah seperti Aca, tapi gelora papah di atas ambang keinginan mamah. Bujang yang dulunya mendapatkan janda satu anak itu, masih tetap terlihat menggebu-gebu pada istrinya.


"Ya Papah pengalaman, makanya bilang begini. Kan jangan sampai kejadian, apalagi kandungan Aca masih trimester dua. Ya kali lahiran, malah bahaya untuk anak kalian nanti. Minimal kalau tak sampai sembilan bulan, ya udah di trimester tiga lah. Ini baru enam bulan, tahan lah satu bulan sih, cari aman." Papah menasehatiku dalam nada santai dan cenderung lirih.


"Papah memang tak pernah ngerasain sendiri, kalau istrinya di posisi kalah sama hormon kehamilannya?" Apa pertanyaanku mengerucut ke Aca? Aku rasa tidak ya? Hanya seperti bertanya biasa saja.


"Pernah, tapi lebih milih ngeladenin ribut. Kesalahan Papah diungkit semua, dimarahin tiap hari, dimaki sepanjang menuju persalinan. Macam-macam cerita di setiap mamah kau ngandung anak-anaknya. Ya gimana lagi, kalau keadaannya memang tak baik untuk berhubungan biologis? Ya udah aja ladenin aja mulutnya ngajak ribut itu. Udah capek mereka marah, kita peluk dan dengerin aja bualan yang belum selesai itu. Capek sendiri nanti pasti ngajak usap-usap punggung, tidur. Atau tak, diajak jalan-jalan terus belanja. Tergantung sikon aja, yang penting amarahnya mereka itu berakhir dengan hal manis gitu. Bukan berakhir di ranjang, terus bertarung fisik. Hormonnya siap, tapi fisik mereka tak siap. Apalagi waktu mamah kau hamil Giska, dari hamil muda udah ngeflek aja. Sekali ditiduri, ngeflek berakhir rumah sakit lagi. Dengan keadaan mamah kau yang pasti lemah kalau ngflek, ya dia tak ngajakin lah, dia khawatir sendiri sama keadaan dirinya dan bayinya."


Kok tidak dengan Aca ya? Kenapa istriku berbeda?


"Kalau kekeh?" Aku tidak sebut nama dan menjelaskannya di sini.


"Ya nasehati ulang, alihkan kesenangan mereka. Dibuat capek fisiknya, tapi tak ke arah ranjang. Mamah keras kepala pun, tapi bisa dinasehati. Jadi tak pernah Papah nyuruh mamah kau ngerjain ini itu, biar badannya capek dan tak mikir ke arah begituan. Mamah kau ngeflek, ya kesempatan untuk dia bersemedi di atas kasur. Malah suka ngatur-ngatur, manjanya dua kali lipat, kek aji mumpung gitu loh." Papah sampai geleng-geleng kepala.


Aku terkekeh kecil, melihat raut wajah papah yang seperti kesal dan lelah membayangkan kejadian dirinya menjadi pesuruhnya mamah itu.


Jadi aku harus bagaimana, jika Aca memaksa meminta untuk melakukan lagi? Bang Givan sudah menjadi penyuluh se*s dadakan, tapi aku tak yakin itu membuat Aca mengerti. Bukan hanya keras kepala, Aca ini memang susah untuk diberi perintah juga. Ia bertindak, sesuai dengan inginnya. Ia akan melakukan, sesuai yang mereka ucapkan.

__ADS_1


"Waktu Kin keguguran dulu kan, karena habis berhubungan badan tuh. Kau tariklah cerita itu, buat nakut-nakutin Aca."


Eh, apa isi hatiku terdengar di telinga papah? Apa narasiku bocor? Aku tidak sebut nama, dalam mengajukan pertanyaan tadi. Tapi, papah bisa tahu ya?


"Kan beda kasus, Pah. Kin dulu kan, karena punya kista kecil pas ngandung yang ketiga, katanya janinnya terdesak karena pertumbuhan kista." Aku tidak tahu pasti penyebab Kin keguguran, karena tidak hanya satu sudut pandang. Yang pertama, keguguran itu terjadi setelah berhubungan badan denganku. Yang kedua, Kin memiliki kista kecil berukuran dua sentimeter yang menurut Kin kista itu akan keluar bersama dilahirkannya bayinya. Lalu yang ketiga, karena janin Kin yang tidak berkembang. Jadi keadaan janin kami, seperti sudah mati begitu. Entahlah mana yang benar, yang jelas ia keguguran sebelum kandungannya genap tiga bulan.


"Yang penting dia ada takutnya, kau karang lah cerita kalau kau ngapain gitu jadi Kin keguguran."


Aca terlalu cerdas untuk karanganku yang tidak pernah berbohong ini.


"Ya nanti dia jawab ya tinggal jangan lakukan hal yang buat dia keguguran," sahutku kemudian.


"Bilang ke mamah kau, suruh mamah yang nasehati."


"Udah apa kata nanti aja." Aku akan mencoba menasehatinya kembali, jika Aca kembali memaksa.


"Ya jangan apa kata nanti, cucu Papah yang kau pertaruhkan. Jangan buat mainan, apalagi nyawa anak."


Loh?


"Aku tak main-main masalah nyawa anak, aku usahakan juga. Maksudnya, biar Aca mau ngerti gitu," jelasku kemudian.


"Ya makanya bilang ke mamah, mamah suruh ngebilangin Aca. Kalau mulut kau tak mempan, ya nyuruh mulut orang lain. Papah dulu tak pernah didengar, ya nyuruh mak cek Handa, neneknya Ahya itu. Karena biasanya nasehat dari orang yang lebih tua itu didengar, ketimbang nasehat pasangan kita sendiri." Papah melepaskan kaosnya, kemudian mengusapkan ke lehernya.

__ADS_1


Teh apa yang papah minum? Sampai membuatnya berkeringat di tengah udara dingin seperti ini? Aku jadi curiga.


"Teh dari tabib ya, Pah?" Aku seperti dominan menuduh, bukan bertanya.


"Bukan lah." Papah malah tertawa geli. "Kau kira Papah kau minta obat kuat ke tabib apa?!" Papah mengangkat gelas tehnya yang sudah habis.


"Ya terus apa?" tanyaku kemudian.


"Beli online, mamah kau. Teh ada rasa jahenya gitu. Kalau tak salah, M*j*n kah namanya."


Hah, aku tahu.


Aku tergelak lepas. "Iyalah, itu obat kuat. Aku pernah diobati itu sama Kin kalau capek."


Papah malah tertawa lepas. "Papah malah tak tau kalau itu obat kuat, disediakan ya diminum. Rupa makanan, ya dimakan. Dibuatkan jamu, ya diminum tanpa nanya. Tapi tak ngerasa kuat, cuma panas aja karena sensasi jahenya." Papah seperti anak yang polos, aku sampai ngik-ngikan sendiri.


"Bukan teh rasa jahe. Diseduh sama air hangat, ya kek wedang jahe. Dicampur teh, ya jadinya teh rasa jahe. Itu kek rempah kering gitu, Pah. Jahe ala-alanya, padahal rempahnya komplit. Telinga sampai panas sendiri, tanpa ada yang manas-manasin juga." Itu adalah reaksi yang aku rasakan.


"Entah, Papah cuma gerah aja. Tak ada telinga panas, tak ada itu panas. Biasa aja rasanya." Papah lanjut mengusap tubuhnya.


Apa memang geloranya sudah tinggi? Jadi tidak ada efeknya pada tubuhnya. Oh, iya. Ini bukan lagi endorse ya? Tapi jika ingin mencoba produk untuk suaminya, cari saja produk yang kami maksud.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2