Istri Sambung

Istri Sambung
IS49. Tawaran liburan


__ADS_3

"Nih, buat belanja sehari-hari sampai tanggal satu." aku memberikan satu juta seratus ribu pada Novi.


Uang belanja Kin, saat ia masih ada. Senilai tiga juta perbulan, hanya untuk dirinya membeli sayur dan uang saku anak sekolah. Ini pun, atas dasar Kin yang meminta sendiri dengan jumlah tersebut. Jatah sembako, kami belanja bersama, dengan aku yang membayar di luar jatah untuk sayuran tersebut. Untuk perawatannya, Kin langsung meminta untuk membawa kartu debitku.


Aku tidak keberatan ia meminta debit milikku, untuk kebutuhan dirinya sendiri. Karena pasti akhirnya, aku juga yang menikmati keindahannya.


Novi melongo saja. Ia memandangku dan uang tersebut, secara bergantian.


"Kenapa? Itu satu juta seratus." aku malah bingung di sini.


"Abang serius ini cukup?"


Ya, ampun. Novia!


Kin saja dulu cukup. Bahkan ia jajan dari yang itu juga. Ya jajanan anak-anak pasar malam sih. Tapi jika ingin pizza, atau makanan modern lainnya. Ia tinggal order, dengan aku yang membayar.


Bukannya aku membatasi biaya kami. Karena memang, kami tidak butuh biaya yang begitu besar. Kami cukup, dengan uang segitu.


Ini di luar asuransi, token, gas dan detergen. Hanya untuk keperluan makan saja.


"Kemarin sih cukup." aku mengenakan jam tanganku.


"Di dapur ada apa? Abang mau sarapan apa?"


Ia baru bertanya? Sudah telat!


"Cek sendiri aja. Bebas, masak apapun bebas. Yang penting ada sayur, protein nabati atau hewani. Kal suka brokoli, Kaf suka ikan. Menu terpisah atau dicampur pun tak masalah. Tapi biasanya anak-anak tak suka makan malam, dengan menu yang sama kek menu makan siang. Tak nuntut kau masak tiap hari, kau bisa beli juga, asal jangan tiap waktu. Tapi jamin kebersihan dan keamanan makanan itu. Ati-ati sama makanan laut, Kal pernah keracunan kerang hijau. Lebih baik presto ikannya, kalau niat mau masak ikan. Karena kita biasanya makan ikan tanpa tulang. Sayur kuah pun tak masalah, yang penting isinya jangan terlalu matang." aku hanya menceritakan sedikit, tentang kebiasaan kami.


"Gimana kalau caraku urus makanan kalian, tak sama dengan cara Kin urus?" aku harus mengingat, bahwa Novi cukup berani mengemukakan pendapat.


"Terserah. Tapi pasti itu butuh penyesuaian lagi. Aku cuma ngasih tau aja, anak-anak belum terbiasa dengan kehadiran kau di sini. Jangan paksa mereka, untuk menyesuaikan makanan mereka dengan makanan kau. Kau harus ngalah, tekan ego kau. Ambil hati anak-anak, biar mereka terbiasa dengan kau. Kalau saatnya kau mau minta mereka untuk menyesuaikan dengan aturan kau, pasti itu lebih mudah, karena mereka udah terbiasa sama kau." aku memahami aturan hidup setiap orang itu berbeda.


Novi mengangguk, "Abang udah rapi, mau ke mana?"


"Aku kerja, Nov. Esok pun, bang Givan datang kan orang kepercayaannya untuk jadi CEO di tempat aku." aku jarang menggunakan jas, tapi aku selalu membawanya.


Novi menahan tanganku, yang membawa sebuah jas hitam ini.


"Aku pikir, kita punya waktu bersama." pandangan kami bertemu, "Liburan, mungkin?" alisnya naik sebelah.

__ADS_1


Aku menggeleng, "Aku sibuk, Nov." aku melepaskan tangannya.


Aku tidak pernah berpikir sekalipun untuk berlibur. Dulu pun, kami jarang berlibur. Karena Kin sakit, jika bepergian untuk liburan.


Kepalanya merasa tidak nyaman, setelah kami melakukan penerbangan. Ditambah lagi, liburan pun ia sibuk memelototiku.


Bukannya tangan anak-anak yang ia gandeng. Melainkan, tanganku yang selalu ia cekal. Ia lebih takut suaminya hilang, daripada anaknya yang berpencar.


Aku meninggalkannya, untuk bergegas pergi ke perusahaan. Aku ingin segera menstabilkan perusahaanku, karena ladang papah sedang peremajaan besar-besaran.


Siang harinya, aku tidak pulang saat makan siang. Aku memilih, untuk makan bersama Dewi dan Jeni. Hanya sebatas makan siang bersama, agar aku tidak makan sendirian. Kami makan pun, dalam kantin kantor.


Sesederhana itu hidupku. Malah, sepertinya tidak ada pemilik perusahaan yang sepertiku. Ditambah lagi, pegawai di sini adalah masih keluarga dan tetangga. Aku tidak malu atau sungkan, berbaur bersama mereka seperti ini.


Entahlah, aku malah merasa seperti pekerja di perusahaanku sendiri. Lantaran, sahamku tidak seberapa di sini. Aku baru menyesal hari ini, karena terlalu lama mengurung diri. Membuat usahaku sendiri, menjadi goyah dan tak menguntungkan.


Pukul tiga sore, aku mendapat tamu heboh di ruanganku. Bang Givan datang, dengan Ra yang memakai tas karakter singa dan tali yang tersambung ke tangan bang Givan. Aku melihat Ra, seperti kucing peliharaan yang diberi tali pada majikannya, agar lepas tidak jauh.


"Kau tega anak kau dibegitukan." aku geleng-geleng kepala, melihat keponakanku yang paling cantik itu.


"Aku sayang, makanya aku begini. Aku tak mau loh dia terlalu jauh, bisa-bisa aku ngobatin orang soalnya."


Aku tertawa lepas, mendengar ucapan ayah lima anak itu. Ya, enam dengan masih di kandungan.


Puk….


Pukulan tangannya, tepat mendarat di mata kiriku. Bagaimana rasanya? Tentu mules sampai kunang-kunangan.


"Aku tak mau keluar uang buat ngobatin kau, Far. Tadi aku baru mingkem."


Aku segera menurunkan anak ini, kemudahan menutupi mataku sendiri.


Masya Allah, Ra. Pantas saja biyungmu berniat buang kau terus menerus. Tingkah kau di luar nalar seperti ini.


Aku duduk di kursiku kembali, sembari menunggu penglihatanku lekas membaik. Bang Givan duduk di kursi depan, dengan Ra yang tengah duduk di depan jendela besar yang tidak bisa dibuka itu.


Entah anak itu merenungi apa. Aku malah curiga, jika Ra diam seperti itu.


"Ria aja ya buat ganti posisi Novi?"

__ADS_1


Heh?


"Bang! Kakaknya kek gitu loh, apalagi adiknya. Ria bahkan tak makan bangku sekolahan. Pendidikan dia paket, belum lagi pendidikan yang mendukung lainnya." aku tidak yakin, dengan adiknya Canda itu.


"Heh! Memang kau bagaimana?! Memang kau hasil perguruan tinggi?! Kau cuma anak SMK ya, Far! Pendidikan kau tak sepadan dan tak sejalur. Sayang aja ini usaha warisan keluarga. Kalau bukan karena warisan, kau pun tetap jadi supir travel."


The real mulut tajam yang sesungguhnya. Tidak perlu susah-susah introspeksi diri, karena bang Givan membuat kita langsung tersadar.


"Kau betul, Bang." aku terkekeh malu.


"Ya memang betul. Keberuntungan aja kau dapat istri cantik terus." bang Givan memalingkan wajahnya ke arah Caera.


"Ya kau pun beruntung lah dapat Canda." aku merasa, mantan kekasihku itu cukup indah juga.


Hanya saja pendek, dengan postur badan yang seperti bebek. Tapi wajahnya teduh, terlihat damai dan tentram. Seolah tidak ada kemarahan dan dendam di wajahnya.


"Ck…." bang Givan melirikku malas.


Ia memutar kursinya, untuk menghadap ke anaknya itu.


"Kau tak akan paham kakunya jadi tau. Sampai ubanan gini, pusing kasih dia pengertian tiap saat." bang Givan mengacak-acak rambutnya sendiri.


Aku tertawa geli, membayangkan beban hidupnya.


"Eh, kau udah coblos belum?" bang Givan menaik turunkan alisnya.


Iseng sekali dia ini!


"Kenapa sih, Bang?" aku menopang kepalaku dengan kedua telapak tanganku yang menengadah.


"Barangkali belum ahli, biar tak kek Kin dulu gitu. Gih, kau pergi sama Novi. Tiga harian gitu, berduaan. Biar anak-anak kau sama Canda. Kal sama Kaf anteng, saudaranya pun paham berbagi. Mereka pasti rukun, tak akan rebutan melulu."


Apa ini konsep liburan dan bulan madu? Ini adalah tawaran yang cukup menarik, karena pasti bang Givan mengambil alih pekerjaanku.


Aku tidak mengerti, tapi pekerjaanku selalu berbuah manis jika di tangannya. Saat aku menjemput Ghava dan ia menghandle pekerjaanku saja, banyak tawaran untuk SDA baru, untuk sementara ladang papah peremajaan.


Mungkin jam terbangnya tinggi, atau bang Givan memang ahli di bidang ini. Aku merasa, usahaku akan stabil jika sementara waktu ia yang mengendalikan.


Tapi masalahnya, aku tak bisa jika hanya berdua dengan Novi. Pasti ada aktivitas fisik, karena aku laki-laki. Namun, kenyataan ini pasti membuatku sangat malu di depan Novi.

__ADS_1


Aku masih ragu, untuk membicarakan hal ini para Novi. Aku malu untuk jujur.


...****************...


__ADS_2