Istri Sambung

Istri Sambung
IS145. Keterangan salah satu pihak


__ADS_3

"Gimana maksud kau, Ken?" tanya mamah, dengan menarik lengan kemeja bang Ken.


"Kalau memang Novi tak bersalah, dari awal dia pasti buka suara. Orang ketakutan itu, reflek mulutnya pasti terus ngomong terus-menerus tentang kejadian itu. Tidur ya kebangun terus, ngigau. Kek gitu, ciri orang trauma dan takut," terang bang Ken, yang menambah kerumitan di pikiranku.


"Jelasnya gimana, Ken?! Intinya gimana!" Mamah setengah membentak.


"Aku cuma puji dia cantik. Udah! Itu aja!"


Ini tidak mungkin.


"Tapi, Novi bahas pertemuan kita beberapa tahun silam. Aku juga ngerasa familiar liat dia, makanya pas pertama ketemu dia, aku minta Ghifar kenalkan, karena aku coba ingat juga namanya. Agak beda soalnya. Pas dulu kenalan, dia tak berhijab, sekarang dia berhijab rapat. Pas awal aku pun tak tau juga, kalau Novi sepupu Ghifar dan istrinya sekarang." Bang Ken mengacungkan jarinya dengan mata terpejam. "Perkenalan awal aku sama Novi, kalau tak salah pas aku pulang dari Bali bareng rombongan Canda. Aku tak tau kalian sepupuan, atau bahkan Novi penghuni rumah omah Meutia. Aku kenalan sama Novi, di luar rumah, tepatnya di pertigaan taman depan komplek perumahan omah Meutia itu. Tanya Canda, mungkin dia ingat. Aku pergi antarkan dia beli makanan soalnya, sedangkan Riska ada di rumah omah." Bang Ken kini menatapku.


"Aku tau aku bukan laki-laki baik, aku bukan abang yang pantas dicontoh. Tapi aku tak akan buas, kalau bukan perempuannya dulu yang ngawalin." Bang Ken menunjuk-nunjuk dadaku.


"Jangan seolah kau berucap, bahwa Novi yang bersalah di sini, Bang! Aku tau tatapan kau lapar, pas kau nampak Novi depan mata kau." Aku berbalik menunjuk dirinya.


"Aku mandang dia, perhatikan dia, karena aku coba ingat-ingat lagi. Betulkah dia ini Ulfa yang dulu. Sekarang namanya Novi, kenalan dulu namanya Ulfa. Pas tadi jam sepuluh pagi aku ke rumah, Novi pun ada ngomong kalau Ulfa itu dirinya. Dia benar-benar perempuan yang pernah aku ajak jalan dulu."


Ini terlampau rumit. Pening begitu mengapit posisiku.


Jam sepuluh bang Ken ke rumah. Sedangkan aku, pulang jam sebelas. Satu jam lamanya mereka melakukan apa?


"Coba, pakai perumpamaan yang lebih mudah dipahami, Ken. Mamah belum sarapan soalnya, tak bisa mikir."


Saat tegang begini, ibuku malah menjadi pelawak.


Bang Ken terkekeh, kemudian ie lebih memilih untuk berhadapan dengan mamah.


"Sebelas tahun silam, kalau tak salah. Aku pulang dari Bali, sama Canda, Ghifar, Kin, Riska. Dari bandara itu, singgah ke rumah omah Meutia. Di situ kan, kami juga ketemu sama Givan yang bawa Ai. Udah tuh, kita sibuk masing-masing. Jam tujuh pagi itu, Canda minta diantar jajan, karena dia tau dari tetangga depan rumah omah itu, katanya ada car free day gitu tiap minggu pagi. Ghifar masih tidur kata Canda, diajaklah aku buat antar dia. Aku ngekorin dia beli jajanan anak-anak buat kami semua, sampai akhirnya balik ke parkiran. Di situ, Novi kesulitan keluarin motornya, jadi aku bantu lah dia. Kek biasa, kenalan, tukaran nomor, terus bilang makasih. Balik kan aku sama Canda, malamnya aku jalan sama Ulfa yang ternyata Novi ini. Barulah besok paginya, kita balik ke Cirebon lagi. Udah tuh, lepas itu lost kontak sama Novi. Apalagi kan, aku dapat tugas praktek di Bali. Jadi ya aku sibuk urus surat-surat, aku tak respon chat atau panggilan dari Ulfa ini. Barulah tadi jam sepuluh kemarin itu, kita ngobrol lagi. Ulfa ini, nama tengah Novi katanya. Udahlah, intinya gitu aja, Mah. Bukan aku duluan. Aku tadi bilang kan? Kalau aku cuma muji dia cantik, karena memang cantik. Dah tuh lah, aku mesti ke rumah sakit. Ada operasi jam setengah delapan nanti." Bang Ken malah mencium tangan mamah, kemudian beranjak pergi dengan membawa salah satu mobil milik papah.


Aku masih bingung. Aku dan mamah hanya berkomunikasi dengan pandangan mata, sampai akhirnya kami mengedikan bahu bersama-sama.


"Papa, ayo antar."

__ADS_1


Aku mengangguk, memilih untuk menuntaskan satu persatu kewajiban untuk mengantar anak-anak.


Dalam penjelasan bang Ken, ia tidak menjelaskan secara gamblang. Ia hanya menjelaskan, awal pertemuan mereka saja. Ada penjelasan yang ia rahasiakan, atau dalam artian ia ingin Novi yang menjelaskan.


"Sini, Far!" mamah menepuk sofa ruang tamu.


Setelah mengantar Kaf ke taman kanak-kanak, aku memilih untuk duduk di samping mamah dulu. Beliau pun, sudah menggenggam ponsel dan terdengar bunyi 'tut….' seperti sedang melakukan panggilan telepon.


"Ya Mamahnya mas Givan, ada apa ya? Aku sibuk nih."


Menantu seperti ini, masih dipakai saja.


"Mintalah cerai sama suami kau, ya Canda ya?!"


Bukannya drama kumenangis, tetapi malah tawa lepas dari Canda.


"Bentar, Mah. Aku lagi kemas kotak makan mas Givan dulu. Bos Tambang udah mau OTW soalnya nih, Mah." Terdengar juga bunyi 'klik' seperti suara pengunci pada tepak makan.


"Cendol, kau pegang anak kau dulu. Udah ganteng-ganteng begini, malah kebelet BAB."


"Bentar, Mas. Nih, tanggung. Dah siap nih."


Grasak-grusuk begitu mengganggu pendengaran. Rengekan anak perempuan pun, terdengar dari sana.


"Malesnya begini kalau nelpon Canda itu." Mamah geleng-geleng kepala.


Iya juga sih, selalu ada saja kegiatannya ketika tengah menerima telepon.


"Ya, hallo. Udah selonjoran nih, Mah. Gimana?" Menantu tengil ini, sudah membuka suaranya lagi.


"Sebelas tahun lalu, kau ngajak Ken car free day tak, Dek?" Mamah langsung bertanya tentang hal yang ingin dirinya tahu.


"Hmm….." dengungan itu terdengar jelas.

__ADS_1


"Bang Ken ya, Mah?" tanyanya kemudian.


"Iya, anaknya abi Haris. Ingat tak?"


"Ya, ingat, Mah. Ohhhh, iya, iya…." Ia seperti teringat akan sesuatu, yang jelas membuat kami penasaran dengan isi pikirannya.


"Sindikat kah, Mah?" ujar Canda kembali.


"Sindikat apa coba, Canda? Ken dokter spesialis sekarang, kok bisa jadi sindikat?" Jangankan mamah, aku pun dilanda kebingungan.


"Bentar, Mah. Aku tanyakan ke mas Givan. Aku lupa namanya apa, keknya bukan sindikat deh."


Apa Canda masih bodoh saja?


"Mas…." Suaranya begitu lepas.


Suara bang Givan terdengar lamat-lamat, mungkin karena dirinya berada di dalam kamar mandi.


"Mas pacaran sama aku, terus pacaran lagi sama Ria, namanya?" teriak Canda, yang begitu nyaring.


"Mendua, Bodoh! Lagian aku tak pacaran sama kau! Aku pun tak pacarin Ria." Aku jadi membayangkan bang Givan yang tengah meng*jan dan berteriak lepas itu.


"Eh, bukanlah! Depannya S, Bang." Canda masih berbicara dengan nada nyaring.


"Tak tau! Aku lagi BAB, jangan bahas es. Bikin jijik aja kau!"


"Herannya aku, kenapa ngelahirin laki-laki absurd." Mamah tertawa begitu geli.


"Udah, kau tanya aku aja, Canda. Gimana? Es apa?" Aku mengambil alih ponsel mamah.


"Misalnya kau pacaran sama aku nih, terus kau punya hubungan juga sama Ria. Apa namanya? Depannya S, bukan es minuman dingin," terang Canda kemudian.


"Skandal kah maksud kau?" Aku mencoba mengerti maksudnya.

__ADS_1


"Ah iya, betul. Novi ada skandal kah sama bang Ken? Kan dulu itu, dia…..


...****************...


__ADS_2