Istri Sambung

Istri Sambung
IS54. Perdebatan sengit


__ADS_3

"Mau keluar tak, Nov? Ada kan uang pegangannya? Yang aku kasih itu. Sok pakai aja dulu." aku baru selesai menikmati makanan yang diantarkaqn ke kamar kami.


Novi terlihat tidak selera makan. Bahkan, ia tidak menghabiskan makanannya.


"Memang Abang mau ke mana? Kenapa nyuruh aku keluar sendiri?" Novi menaruh sendok makannya, dengan bersedekap memandangku.


Kami makan di meja memiliki satu pasang kursi, kami hanya makan di dalam villa ini.


"Aku di sini aja, lagi tak pengen ke mana-mana." aku mengusap mulutku dengan tisu kering yang tersedia.


"Kenapa?" tanyanya datar.


Aku meluruskan pandanganku, matanya menyiratkan kepedihan. Padahal, tidak ada bawang di sini.


"Kau yang kenapa? Keknya nangis terus." aku meminum air mineral kemasan botol.

__ADS_1


"Sebenarnya kita nikah buat apa sih? Sebenarnya kita liburan buat apa sih?"


Apakah terlalu kasar, jika aku menanyakan aku menikahinya untuk apa?


"Aku yang harusnya nanya itu. Kita menikah sebetulnya untuk apa? Kau benar-benar kah cuma cari status janda aja? Kalau memang begitu, mending aku ajukan pembatalan pernikahan." aku bukanlah orang yang berbelit-belit untuk memberikan keputusan.


Bahkan, Canda dulu aku tolak lebih awal. Ya, dia lebih dulu mengutarakan niatnya untuk selalu berada di dekatku.


Namun, Novi malah terisak.


"Nov, kau tau aku kerja. Kau tau aku punya tanggungan di rumah juga. Setidaknya, pahami keadaan kalau aku kerepotan di luar sana. Tolong lah handle dan urus anak-anak. Meski mereka udah besar dan punya kaki tangan sendiri, tapi mereka butuh sosok ibu. Kau memang mau dipanggil tante terus?" aku berbicara dengan nada lembut.


"Jadilah ibu yang baik untuk mereka. Aku tau kau bukan Kin, yang bisa jadi ibu rumah tangga terbaik. Tapi kau bisa belajar dari ipar kau, mereka cukup bisa jadi yang baik, meski kaca rumah mereka sampai berdebu tebal. Mereka urus dengan anak-anak mereka, mereka telaten dengan anak-anak mereka. Tak Giska, tak Winda atau Tika, mereka tokoh terhebat untuk anak-anak mereka. Mereka adalah nama yang selalu disebut anak-anak mereka, ketika baru masuk rumah." aku tak menarik nama Canda, karena anak-anaknya full dengan pengasuh. Canda hanya peran ibu, yang membimbing mereka dan memberi perintah pada mereka.


"Kau bilang, aku nyapu, ngepel, lap-lap dan cuci baju. Aku tak nuntut itu. Tapi, apa kau nyaman kalau rumah berpasir dan pakaian kotor numpuk? Meski memang kau urus rumah demi kenyamanan kami, tapi anak-anak jangan kau lalaikan. Aku sampai menomorduakan pekerjaan, hanya untuk anak-anak. Tapi kau malah menomorsatukan pekerjaan rumah ketimbang anak-anak. Sebelum nikah aku bilang begini-begitu, kau jawabnya aku bukan Kin. Iya aku tau, kau dan Kin itu orang yang berbeda. Tapi setidaknya kau tau, kalau Kin ngurus kami ini begini loh." aku masih mempertahankan nada lembutku.

__ADS_1


Karena sepahamku, perempuan langsung drama 'maafkan aku' jika suaminya sudah berubah menjadi reog.


"Di hari pertama, aku maklumi. Hari kedua pun, aku coba ngertin kau Nov. Kadang aku tak paham, dengan jiwa naluri kau sebagai perempuan. Aku pulang kerja, anak-anak masih di rumah Canda dan mereka belum mandi. Sedangkan kau, kau lagi ngeringin rambut kau. Udah kek gitu, anak-anak belajar, bukannya perhatikan dan bimbingan mereka, kau malah gosok kuku kau. Aku juga perlu siapin dokumen buat besok kerja, bukannya malah ngurus anak dan PR mereka. Pagi-pagi pun, setidaknya sarapan siap. Kalau memang tak sempat buat, ya belikan. Biar kami udah siap dengan seragam kami, keluar kamar udah tinggal makan aja." ini adalah kegondokanku dua hari belakangan.


"Nasi putih, tempe goreng, itu pun bisa jadi menu sarapan kita. Kita gak muluk-muluk, tak harus makan sarapan dengan menu berat. Aku paham, kau bukan Kin yang jam terbang masaknya udah kek chef terkenal. Bukan aku nuntut kau jadi Kin, tapi coba dengar sedikit cerita aku tentang Kin di rumah." aku mengambil nafas lebih banyak, "Bangun subuh tuh, Kin hanya mandi kalau keadaannya lagi junub, biar bisa sholat. Kalau keadaannya suci, dia cuma ganti baju, cuci muka dan sikat gigi aja. Dia sholat, terus langsung sibuk di dapur. Jam enam tuh, dengan keadaannya yang lagi nyiapin sarapan, dia pun lari ke kamar anak-anak. Dia bantu anak-anaknya mandi, sikat gigi, terus berpakaian. Setelah itu dia masuk ke kamar aku, buat siapin baju aku yang harus aku pakai hari ini. Udah tuh, dia balik lagi ke dapur. Tak lama kemudian, kita makan sarapan bersama dengan menu berat. Ayam panggang, asam manis, atau menu berat lain ala resto. Makan siang pun, kami dengan menu yang sama. Terus jam tiga sore nih Kin masak lagi, untuk buatkan makan malam kita. Waktu ashar, anak-anak itu udah mandi dan rapi. Aku pulang kerja pun, Kin udah enak dipandang. Masalah nyapu ngepel dan lap-lap. Itu jarang dilakukan Kin, apalagi anak-anak ini disiplin. Mainan ya dibereskan lagi, kasur mereka berantakan ya mereka bisa bereskan sendiri. Mungkin nyapu yang tiap hari, sama lap kaca itu menjelang lebaran itu pasti. Selebihnya, kadang nyuruh orang. Ngepel full serumah, lap-lap furniture dan hiasan rumah, rapikan halaman belakang atau samping. Kita bayar langsung, setelah orang tersebut selesai kerja. Itu pun tak setiap hari, seminggu sekali pun tak nentu. Kin ngepel sendiri itu, paling di satu ruangan yang dianggapnya kotor. Atau, lantai yang terkena najis. Misal anak-anak pipisnya tak ketahan, mereka pipis sambil lari ke kamar mandi. Jadi kan, mau tak mau Kin harus ngepel. Aku selama ditinggal Kin pun begitu. Karena ngepel satu rumah itu capek. Ruangan rumah aku besar-besar, belum lagi banyak kamar dan tingkat dua. Aku paham, itu pasti bakal nguras tenaga betul." aku masih memandangnya yang terisak lirih, "Aku tak berniat membandingkan kau sama Kin. Aku cuma lagi cerita aja, kalau Kin begini loh." lanjutku kemudian.


"Tapi Abang seolah pengen aku jadi Kin." aku harus ingat, bahwa Novi berani menyahuti.


"Heh, masalah urus anak dan sarapan. Aku kira itu umum untuk seorang istri, Nov! Kecuali, kau kerja jadi TKW ke Taiwan. Kau kerja, aku ngurus anak di rumah." rasanya aku ingin membogem kepalanya.


"Tapi itu kan aktivitas Kin, Abang mau aku kek yang Kin lakuin."


Astaghfirullah, Novi!


"Terus mau kau kek mana, Nov? Kau mau ngasih makan anak aku mie instan terus? Gimana cara kau ngurus anak-anak kau? Apa sarapan sama makan siang digabung? Atau, kau mau buat kami makan sehari sekali pas malam aja?" aku memberinya pertanyaan beruntun.

__ADS_1


"Harusnya aku balik nanya ke Abang. Apa Abang udah jadi suami yang baik? Apa udah ngasih hak-hak untuk aku sebagai istrinya? Apa Abang udah menuhin segala kewajiban Abang untuk aku? Apa Abang udah bertugas sebagai suami yang baik? Jangan seolah buat aku terus berdosa dan bersalah, sedangkan Abang lalai dengan kewajiban sendiri."


...****************...


__ADS_2