Istri Sambung

Istri Sambung
IS246. Tidak kembali


__ADS_3

"Loh, Mah? Aca mana?" Aku tercengang, saat menjemput rombongan dari Cirebon ini di bandara. Tidak ada Aca dan Nahda, hanya mamah dan papah saja yang begitu modis dengan kacamata yang memiliki nilai jual tersebut.


"Nanti dia nyusul." Papah merangkulku.


"Tapi, Pah." Leherku diseret untuk mengikutinya.


"Dia di mana? Nyusul ke mana?" Aku terus bertanya, ketika orang tuaku memaksaku untuk melangkah ke luar bandara.


"Di Cirebon, Far. Nanti kapan-kapan nyusul ke sini. Dia kan ada rumah di sini, jadi otomatis pasti balik dong," jawab mamah yang berjalan di sisi lain. Papah di tengah, mamah di samping kirinya dan aku di samping kanannya. Aku masih bagaikan kerbau albino, yang akan dibawa ke pasar lelang.


"Aku susul ke sana ya, Pah? Kalian bawa mobil aku aja." Aku mencoba mogok melangkah.


Namun, leherku semakin dijepit dan ditarik. Mengerem pun percuma, karena resikonya kepalaku yang akan putus.


"Pah…. Mah…." Aku merengek seperti anak kecil.


"Nanti di rumah, Far," sahut mamah kemudian.


Hufttt….


Hanya menurut jalan keluarnya sekarang. Berakhir aku minta dilepaskan dan berjalan di samping mamahku. Beliau memeluk lenganku, karena suaminya itu tengah menarik koper berukuran cukup besar.


"Nanti di jalan, kau turun dulu buat belikan Mamah makanan. Lapar betul, pengen makanan berat." Mamah mengusap-usap perutnya.


"Ya, Mah." Jenis Aca, Canda, Kin dan juga mamah. Adalah perempuan berperut karet. Memakan makanan banyak pun, tubuhnya tetap segitu-gitu saja. Ukuran perutnya pun tidak bisa dibayangkan seberapa luasnya ketika melar, tapi akan ramping seketika ketika lapar kembali.


"Udah makan di pesawat tadi kita, Dek," tambah suaminya yang berada satu langkah di depan kami.


"Kurang, Bang." Suara manjanya mengingatkan aku pada istriku.


Ya ampun, ma. Kau janji akan ikut rombongan. Kenapa malah ceritanya lain lagi?


Beberapa saat kemudian, aku sudah murung saja di sofa ruang keluarga. Kedua orang tuaku tengah sibuk membuka isi koper, dengan menantunya yang hobi menitipkan anak.


"Kok terasinya banyak betul, Mah?" Canda membuka-buka seluruh kantong plastik yang terikat rapi.


Bau terasi buatan Cirebon begitu khas menurutku. Di sini juga ada, tapi memang beda. Entah apa perbedaannya, sampai-sampai memiliki bau dan bentuk yang berbeda.


"He'em. Kau mau, ambillah." Mamah fokus pada oleh-olehnya saja.


"Tau Mateng aja deh, Mah. Aku tak mau minta mentah."


Hm, hm, hm….


"Udah kebiasaan kau begitu!" ketus papah.


Lihatlah, Canda hanya bisa menimpali dengan tawa ringan saja.


"Mah, kok Aca tak diajak pulang?" Aku menanyakan ini sudah ketujuh kali, tapi tidak juga dijawab oleh beliau.


Bermacam-macam alasannya, tadi beliau berkata tengah makan, mamah baru sampai, istirahat sebentar, mamah lagi beres-beres, mamah lagi bongkar-bongkar oleh-oleh.

__ADS_1


"Dilarang pakdhe kau." Papah begitu santai mengatakannya.


Aku tidak bisa berkedip. Bagaimana bisa istriku ditahan untuk kembali ke suaminya?


"Far…. Far…. Jangan pingsan." Canda menggoyang-goyangkan lututku.


Aku berkedip cepat, lalu memperhatikan Canda yang tengah menatapku penuh khawatir.


"Kau tak apa?" Tangan Canda masih berada di lututku.


"Papa apa???" Anak bungsu Canda ikut menggoyangkan satu lututku yang tidak disentuh ibunya.


Posisiku duduk di sofa. Dengan Canda dan kedua orang tuaku berada di lantai, dengan membongkar isi koper.


"Papa pusing itu, Nak. Obati Papa dulu gih." Canda membenahi hijab anaknya.


"O ya?" Cani berkulit lebih putih dari saudara-saudaranya, ia sebersih kapas. Canda pun kalah putihnya dengan Cani, bang Givan lebih cenderung kuning cerah.


"Iya, Cantik." Aku mencolek pipinya.


"Bobo, Pa." Cano menepuk-nepuk sandaran tangan pada sofa ini.


"Yuk?" Aku merebahkan tubuhku, sesuai yang ia inginkan.


"Ni obat." Cani tersenyum amat manis, dengan menepuk-nepuk dadaku pelan.


Cucu-cucu Adi's Bird memiliki kecenderungan telat berbicara. Tapi pada masa taman kanak-kanak, mereka sudah bisa berkomunikasi secara lancar meski ada juga yang tidak bisa melafalkan huruf R.


"Ini namanya siapa?" Aku menunjuk diri Cani.


Ya sudahlah, terserah saja.


"Kak Ra mana, Dek?" Apapun namanya dan kedudukannya dalam keluarga. Jika ia berbicara dengan orang yang lebih tua, pasti akan disebut dek.


"La? Ma yayah, yi cis." Giginya sampai terlihat semua.


"Kak Ra, Dek. Masa Ra aja?" Ketika berinteraksi dengan anak kecil, aku merasa lebih rileks. Tentu saja, jika anak kecilnya tidak seperti Ra. Modelan Ra, sudah pasti lebih akan membuat pusing.


"Ela."


Suka-suka Cani sudah.


"Papa bobo dulu ya?" Aku meminta izin pada anak ini. Canda sengaja membuat anaknya sibuk denganku, karena ia tengah sibuk membuka oleh-oleh.


"Entut." Cani malah berusaha untuk naik ke sofa yang tengah aku tiduri.


"Masa entut? Cani sama Biyung aja lah." Aku melirik Canda yang sok sibuk tersebut.


"Entut, Pa." Cani sudah duduk di atas perutku.


Sudah sejak bersama Novi, aku menginginkan anak perempuan. Sampai sekarang masih belum terealisasikan saja, karena aku belum memiliki istri secara resmi.

__ADS_1


"Pa…. Papa Ipang…." Manjanya suara yang mendayu itu.


"Iya…. Apa?" Aku mencoba mengikuti cara Cani berbicara.


"Ngerayu itu, soalnya tak ada temennya. Biar mau nemenin dia," ujar papah.


Sepertinya beliau paham dengan kemauan cucu paling kecilnya ini.


"Yuk? Bobo?" Aku menggulingkan tubuh kecil ini ke dekat sandaran sofa.


Ia tidak bisa berkutik, karena memiliki tempat yang kecil.


"Yung…." Ia langsung merengek ketika tubuhnya tidak bisa bergeser.


Canda kecil ini, sama cengengnya.


"Dak iyeh! Papa peluk." Aku menirukan kosa katanya, dengan memeluk tubuh kecilnya.


Tangisnya pecah. "Yung…."


Namun, aku yang malah digaplok oleh kakeknya. Canda yang malah tetap anteng bermain dengan oleh-oleh tersebut, malah mertuanya yang bertindak.


"Jangan isengin aja bocah napa, Far!!" Papah marah cucunya dibuat menangis.


Benar jika ada bahasa, kakek dan nenek lebih sayang pada cucunya.


"Gemes." Aku menarik kaki Cani, yang tubuhnya tengah diangkat oleh papah.


Cani langsung berteriak histeris, dengan kaki yang menendang tak tentu arah. Namun, saat ia sudah berada di gendongan kakeknya. Ia malah tertawa lepas ketika melihat wajahku.


"Hmmm, cucu Kakek yang paling cantik ini." Papah sudah menciumi Cani habis-habisan.


"Jajan, Engkek."


Aku begitu puas, mendengar Cani yang meminta jajan pada kakeknya tersebut.


"Dek, minta uang." Papah mendekati istrinya.


Ya ampun, teungku haji.


"Pah, aku minta es kelapa." Menantu kurang ajar memang Cendol ini.


"Hmmm…." Papah hanya berdekhem saja.


Papah pergi dengan cucunya, setelah uang yang ia dapat dari istrinya. Kini, aku ingin membujuk mamah untuk bercerita.


"Mah, ada apa di sana? Aku jemput Aca ke sana ya?" Aku sudah kalang kabut sendiri sejak tadi. Kaki ini rasanya ingin berlari saja untuk menemuinya.


"Ada apa lagi? Ada apa lagi? Ya tak ada apa-apa, Far." Mamah menjawab tanpa memalingkan perhatiannya.


"Bohong kalau tak ada apa-apa tuh." Aku tidak percaya jika tidak ada apa-apa.

__ADS_1


Mamah menghela napasnya. "Aca bilang, dia udah ni…."


...****************...


__ADS_2