JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Mencoba Bertahan4


__ADS_3

“Mmm.. Mana dia? Dia sudah pulang?” Tanya Galih saat tiba di dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu sambil mencari keberadaan Anton.


“Hemm..” Jawab Alice hanya dengan bergumam dan duduk di sofa sambil melihat televisi namun tidak fokus menontonnya.


“Kenapa apa yang terjadi? Sudah selesai masalah kalian?” Tanya Galih penasaran dengan keadaan sahabatnya itu.


“Ya dan tidak.” Jawab Alice singkat sambil bersandar ke sandaran sofa.


“Maksudnya?” Tanya Galih bingung dengan jawaban gadis itu. Alice beranjak duduk tegak dan kemudian mulai berbicara serius.


“Tidak ada.. lupakan.. Galih aku mendapatkan informasi baru. Aku akan menceritakannya pada mu, aku tahu siapa yang membawa ku ke panti asuhan. Ibunya Anton Lidia Handoko yang membawa ku ke panti asuhan untuk melindungiku dari sesuatu. Sepertinya keadaan keluarga ku sedikit rumit.” Alice mengalihkan pembicaraannya dan mulai menceritakan semua keadaannya kepada Galih kecuali mengenai Anton adalah ‘The K’ ketua genk Mafia The Black Phanter. Bagaimanapun juga itu adalah privasi pria itu selain itu, informasi itu tidak ada hubungannya dengan pencarian informasi mengenai siapa keluarganya.


“Jadi ada kemungkinan kau memang tidak di inginkan oleh pihak keluarga mu, begitu?” Tanya Galih menyimpulkan.


“Hemm sepertinya begitu.” Jawab Alice cepat.


“Lalu di rumah sakit mana dia menemukan mu? Aku bisa mencoba mencari data sebelumnya. Bagaimanapun pasti ada informasi mengenai keluarga pasien bukan.” Ucap Galih menganalisa.


“Hemm kau benar.. Astaga! Aku lupa menanyakannya.. karena terlalu banyak mendapatkan informasi membuat otakku tidak bekerja. Astaga Alice kau bod*oh sekali.” Rutuk Alice sambil sedikit memukul samping kepalanya gemas.


“Astaga.. ya sudahlah.. jangan kau pukul lagi, nanti yang ada kau jadi bod*oh benaran. Ya sudah nanti aku bisa mencarinya sekalian aku selidiki juga semua kebenarannya. Kau jangan terlalu khawatir, aku akan segera memberitahumu jika aku sudah mendapatkan informasi.” Ucap Galih menenangkan Gadis itu.


“Baik.. Terima kasih Galih.” Ucap Alice sambil memandang sahabat baiknya itu.


“Tak masalah. Jadi sudah bisakah aku makan malam sekarang?” Tanya pria itu yang merasa alarm dari perutnya yang mulai meminta jatah akan segera berbunyi.


“Astaga aku lupa… tunggu sebentar ya.” Ucap Alice berdiri dan segera lari menuju ke arah dapur dan melanjutkan aktifitas memasaknya yang tertunda sebelumnya.

__ADS_1


Krubukkk krubukk krubukk suara perut Galih berbunyi akhirnya.


“Astaga.. sabar ya cacing-cacing ku..” Galih menghembuskan nafas kasar sambil mengusap-ngusap perut kotak-kotaknya yang sudah mulai berdemo meminta untuk segera di isi.


***


“Anton.. bagus ya kamu keluar dari rumah sakit tidak memberitahu kami.. kami tadi berkunjung ke rumah sakit dan mereka bilang kau sudah keluar. Astaga kau ini benar-benar keterlaluan ya. Ayah dan ibu pergi ke negara B Karena khawatir kepada mu, dan kau malah pergi entah kemana dan membuat kami bingung dengan kepergian mu. Dan sekarang kamu tiba-tiba muncul di sini. Benar-benar deh.” Gerutu Lidia sambil duduk di sofa saat melihat anak bungsunya muncul di ruang keluarga rumah utama.


“Maaf Bu.. aku terburu-buru.. lalu bagaimana ibu sudah ada disini?” Tanya Anton bingung yang melihat ibunya sudah tiba di rumah utama. Dia pikir ibu dan ayahnya masih tinggal di negara B.


“Menurutmu untuk apa kami di sana, jika kaunya tidak ada. Ya lebih baik pulanglah.. Lagi pula besok ayah mu ada keperluan di sini.” Jelas Lidia masih mengomel.


“Baiklah maaf buu.. Bu aku mau keatas dahulu.” Ucap Anton dan berjalan meninggalkan ruang keluarga.


“Makan dulu Nak, sebentar lagi makanan sudah siap.” Ucap Lidia saat melihat anak bungsunya meninggalkan ruang keluarga.


“Apa benar dia sudah makan? Wajahnya masih sangat pucat. Apa dia sudah minum obat. Astaga anak itu.. maafkan perbuatan ibu ya nak.. Ibu melakukan ini untuk kebaikan kalian berdua.” Ucap Lidia monoton kepada dirinya sendiri.


***


“Bu Lisa.. bisakah nanti tolong bawakan makan malam ke kamar untuk Anton. Entah mengapa aku berpikir bocah itu pasti belum makan.” Ucap Lidia kepada bu Lisa yang merupakan pengasuh Anton saat kecil dahulu.


“Tentu saja Nyonya.” Ucap Lisa yang sedang duduk makan malam bersama dengan Lidia dan Bram. Sedangkan Alious dan Axel memiliki rumah mereka sendiri. Mereka akan datang berkunjung saat weekend atau saat ada acara keluarga.


Bu Lisa mengantarkan makan malam untuk Anton yang di bawakan oleh seorang pelayan ke atas bersamanya.


Tok Tok Suara ketukan pintu yang dari arah luar kamar Anton.

__ADS_1


“Masuk” Ucap Anton dari dalam kamarnya.


Bu Lisa masuk ke dalam kamar dan menyuruh pelayan itu meletakkan nampan berisi makanan, minuman dan buah di atas meja sofa di ruang kamar itu. Kemudian pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua. Anton tampak duduk di sofa sambil fokus menghadap laptopnya. Bu Lisa duduk di samping Anton dan menyentuh bahu anak asuhnya itu.


“Aku sudah makan Bu Lisa.. bawa saja makanannya ke bawah.” Ucap Anton menolak untuk makan, padahal Bu Lisa belum mengucapkan apapun.


“Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi anda tetap harus makan untuk memulihkan kondisi anda. Bukankah anda sebelumnya terluka Den.. makanlah meski sedikit.” Bujuk Bu Lisa samil mengusap pundak Anton.


“Aku sudah makan Bu Lisa..” Tolak Anton lagi, pria itu masih fokus membaca laporan di laptopnya.


“Saya lebih tahu sifat anda den. Saya sudah bersama Anda dari saat Anda keluar dari rahim Nyonya. Anda tidak bisa menipu wanita tua ini.” Ucap Lisa lagi.


“Baiklah.. saya akan memakan buah apel nya saja, yang lainnya simpan saja.” Ucap Anton akhirnya. Pria itu mengambil sepotong apel dan memasukkannya kedalam mulutnya. Bu Lisa tersenyum melihatnya.


“Tidak apa.. yang penting perut mu tidak kosong den.. Kalau begitu saya permisi dahulu.” Ucap Bu lisa dan mengambil nampan berisi makanan dan berlalu meninggalkan anton sendirian di kamarnya. Setelah Bu Lisa pergi, Anton menyimpan piring itu ke atas meja dan kembali fokus mengerjakan laporannya-laporannya untuk rumah sakit dan juga memeriksa beberapa laporan dari The Black Phanter. Bagaimanapun juga pria itu sedang melakukan banyak pekerjaan sekaligus untuk mengalihkan pikirannya dari gadis yang sangat di rindukannya itu.


Telepon hitam milik Anton memancarkan tanda ada sebuah email yang masuk, Anton membuka emailnya dan mendapatkan informasi dari Paul. Anton segera menghubungi pria itu.


“Ada informasi apa?” Tanya Anton.


“Tuan.. semua Mafia Black Mouse musnah, sesaat anda tertembak. Dan pria yang menyekap Alice beserta wanita itu juga tertembak dan mati di tempat.” Ucap Paul menjelaskan berita yang baru di dapatkannya.


“Apa? Siapa yang melenyapkan mereka? Kita belum sempat mengintrogasi mereka. Kau mendapatkan sesuatu dari sana siapa kira-kira dalang di balik semua ini?” Tanya Anton tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi.


“Kami menemukan sebuah korek api besi dari salah satu bar di negara X. Saya sudah menyelidikinya, Bos Black Mouse tidak pernah datang ke negara X. Hari itu ada seorang pria menggunakan sepeda motor yang datang kesana, sepertinya barang ini adalah barang yang dia tinggalkan dengan tidak sengaja. Dan saat di hutan tempat nona Alice di sekap, kami juga berpapasan dengan seorang pria mengenakan motor yang sama yang terekam cctv.” Jelas Paul kepada Anton.


“Siapa dia? Apakah kalian sudah menyelidikinya?” Tanya Anton penasaran.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2