JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Khawatir2


__ADS_3

Tiga jam sudah oprasi Anton berlangsung, Alice di temani oleh Nabila. Sebelumnya Nabila menyuruh Alice untuk istirahat di sebuah ruang kamar yang telah di sedikan untuk Anton.


Bram Hadijaya langsung menelpon pemilik rumah sakit Healthy Centre yang merupakan rekan bisnis sekaligus sahabatnya itu. Semua orang yang bekerja di sana sibuk membantu kelancaran dalam oprasi itu dan bahkan telah menyiapkan kamar rawat inap president suite untuk Anton. Namun gadis itu tetap ingin menunggu kekasihnya di depan pintu ruang oprasi itu. Kadang Nabila sedikit bercerita dan bertanya agar Alice sedikit teralihkan dengan keadaan Anton.


Flashback On


Tiga jam sebelumnya beberapa waktu setelah panggilan telpon dengan orang tua Anton terputus, tiba-tiba datang serombongan orang dengan menggenakan jas sneli berwarna putih berdiri di depan Alice dan memberi salam. Nabila yang melihat itu langsung berdiri dan memberi salam dengan sedikit membungkuk kepada orang itu.


“Selamat malam.. Apakah anda Nona Alice?” Tanya pria paruh baya yang berdiri di depan rombongan itu yang mengenakan jas sneli.


“Iya saya..” Ucap Alice bingung dan ikut berdiri juga.


“Saya Bagas Angkara.” Ucap pria itu mengulurkan tangannya.


“Saya Alice.” Ucap gadis itu menyambut uluran tangan pria tua itu.


“Saya pemilik rumah sakit ini sekaligus sahabat Bram. Saya baru saja mendapatkan kabar kecelakaan putra bungsunya. Anda pasti sangat khawatir dan cemas. Tidak ada yang perlu kamu cemaskan, saya sudah memberikan tim terbaik rumah sakit kami untuk menanganinya. Dan saya sendiri yang akan memantau perkembangannya langsung. Kamu bisa istirahat. Sepertinya Bram sangat mengkhawatirkan kamu juga. Istirahatlah nak. Kami sudah menyiapkan ruangan untukmu.” Ucap pria tua itu.


“Tidak perlu dokter. Saya di sini saja menanti Anton.” Ucap gadis itu menolak.


“Hahaha.. Benar kata Bram kau memang gadis keras kepala. Aku tahu kau pasti tidak akan mudah di bujuk. Baiklah jika kau lelah pergilah ke kamar PS 1.. emhh dan kau adalah..” Ucap dokter tua itu dan coba mengingat Nabila yang sedang berdiri di samping Alice.


“Saya Nabila perawat bedah.” Ucap wanita itu langsung menjawab.


“Ahh ya,, saya ingat kamu.. kamu perawat yang sedang kuliah kedokteran kan? Saya bangga kepadamu. Kamu bisa membantu Alice untuk ke kamarnya bukan jika dia lelah?” Tanya dokter tua itu.


“Tentu dok. Saya akan menemani Alice.” Jawab Nabila cepat.


“Baik terima kasih atas bantuanmu Nabila.” Ucap dokter Bagas dan menepuk sedikit pundak Nabila.


“Baiklah jika ada apapun yang kamu butuhkan silahkan minta Nabila atau dokter Broto manager rumah sakit ini.” Ucap dokter Bagas dan sedikit menepuk lengan dokter Broto yang berdiri di sampingnya itu.


“Saya Broto..jika perlu sesuatu bisa menghubungi saya.” Ucap dokter itu mengulurkan tangannya.


“Saya Alice. Terima kasih banyak dok.” Ucap Alice dan menyambut uluran tangan dokter itu.


“Baiklah saya akan kembali memantau semuanya. Lebih baik kamu beristirahat Alice.” Ucap Bagas.


“Baik pak dokter..” Ucap Alice penuh hormat.


“Jangan panggil dokter.. panggil saja paman.. Anton juga memanggil saya paman.” Ucap pria tua itu ramah.


“Baik terima kasih paman Bagas.” Ucap Alice.


“Anak pintar.” Ucap dokter Bagas dan sedikit menepuk pundak Alice menenagkan dan menguatkan gadis itu kemudian rombongan mereka pergi ke dalam pintu ruang oprasi itu.


Flashback Off


Brakk …


Pintu ruang oprasi terbuka dan muncul seorang pria mengenakan baju oprasi berwarna hijau tua masih mengenakan topi oprasi dan masker yang berwarna senada kemudian mendekati kearah Alice.

__ADS_1


“Keluarga Antonius?” Ucap dokter itu setelah membuka masker yang di gunakannya dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.


“Saya dokter. Bagaimana dengan oprasinya dok.” Ucap Alice dan sedikit khawatir dengan jawaban dokter.


“Saya dokter Widi yang menangani pasien. Oprasi pasien berlangsung kurang lebih selama 3jam dan kami baru saja menyelesaikannya. Peluru sudah di ambil, pelurunya sampai gepeng dan dalam. Untungnya tidak sampai terkena organ dalamnya kerena masih ada lapisan lemak saat ini kondisi pasien stabil dan akan di bawa ke ruang perawatan dan menunggu pasien siuman.” Ucap dokter pria itu menjelaskan.


“Syukurlah.. terima kasih banyak dokter.” Ucap Alice terlihat lega dengan penjelasan dari dokter itu.


“Baiklah jika ada sesuatu yang di butuhkan anda bisa menghubungi saya atau rekan yang lain.” Ucap pria itu dan melirik kepada Nabila. Nabila sedikit mengganggukkan kepalanya memberi hormat kepada dokter pria itu dan meninggalkan Alice bersama Nabila.


Beberapa saat kemudian brankar yang berisi Anton yang masih dalam pengaruh bius keluar dari ruang oprasi bersama dengan beberapa perawat yang mendorong brankar itu. Alice mengikuti brankar itu sampai ke sebuah ruangan perawatan.


Alice melihat sebuah ruangan luas seperti sebuah kamar suite hotel dengan sofa lebar dan nyaman berwarna putih, Bedside cabinet, Overbed table, Meja TV, Smart TV 72 inch, Lemari pakaian, Dispenser, Meja, Sofa bed, Bed penunggu, Telepon, Ruang makan dan ruang keluarga, jangan lupakan lampu Kristal mewah yang berada di tengah ruangan itu.


Ini benar-benar seperti sebuah kamar hotel presiden suite bedanya kamar ini memiliki hospital bed elektrik (Ranjang pasien yang dapat di control oleh remote control yang dapat mengatur posisi panel untuk naik turun punggung, punggung dan kaki, punggung-kaki-seluruh badan serta posisi miring yang berada di sebelah kiri di bawah pagar pengaman).


Alice melihat Anton di pindahkan dari brankar ke ranjang pasien, dan memasangkan alat-alat ke tubuh Anton. Kemudian salah seorang perawat memberitahukannya mengenai penggunaan remot yang berada di sebelah kiri di bawah pagar pengaman itu.


Tok tok suara pintu di ketuk dari luar.


“Masuk” Ucap Alice.


Kemudian tak berapa lama dokter Widi masuk ke dalam ruangan itu dengan menggunkan pakaian yang berbeda. Pria itu menggunakan kemeja berwarna biru langit beserta celana hitam dan jas sneli putih yang membalutnya. Pria itu datang melihat Anton dari dekat dan memperhatikan cairan infusan pria itu kemudian mendekati Alice yang berdiri di bawah ranjang pasien.


“Saya akan menjelaskan hal lainnya, kalian bisa keluar.” Ucap dokter Widi kepada ketiga perawat itu.


“Baik dok kami permisi.” Ucap para perawat itu dan meninggalkan ruangan itu.


Karena pembiusan ini seluruh organ tubuh pasien di buat tidur dan berhenti bekerja kecuali jantung. Setelah oprasi bius total perlahan akan menghilang dan organ tubuh akan bekerja kembali, namun pemulihan kinerja organ tubuh ini tidak selalu bisa terjadi secara serentak. Salah satunya adalah saluran pencernaan. Jadi tujuannya adalah untuk menunggu saluran pencernaan berfungsi kembali.


Indikatornya bisa di nilai dari apakah pasien sudah buang gas atau belum. Kentut terjadi karena pembentukkan gas dalam saluran pencernaan yang menandakan adanya aktifitas yang normal dari peristaltik (Gerak kontraksi usus).


Tidak perlu khawatir, umumnya seseorang akan kentut dalam waktu 1-3 hari dan bisa di mulai dengan mengkonsumsi makan dan minum sedikit demi sedikit. Tidak perlu khawatir juga akan terjadinya dehidrasi karena untuk memenuhi asupan kalori dan cairan yang masuk pada pasien, kami memberikannya nutrisi melalui selang infus.” Jelas dokter Widi.


“Baik dok terima kasih banyak.” Ucap Alice.


“Baik. Ahh ya untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan saya sarankan agar tidak terlalu banyak gerak dahulu, bergerakklah secara perlahan. Selain agar tidak terjadinya luka robek atau perdarahan dalam luka jahitan, untuk menghindari pusing setelah obat bius juga bisa. Baik hanya itu saja. Untuk hal yang lainnya nanti anda bisa menghubungi saya dengan menekan tombol itu.” Lanjut dokter Widi dan menunjuk sebuah tombol di tembok belakang tempat tidur Anton.


“Baik dok.. sekali lagi terima kasih banyak.” Ucap Alice kepada dokter muda itu.


“Jangan pangil dok dok dok terus. Panggil Widi saja.. saya jadi ngerasa di panggil kodok.” Ucap Widi bercanda untuk mencairkan suasana.


“Ahh baik. Terima kasih Pak Widi.” Ucap Alice.


“Astaga apa saya terlihat sangat tua.. panggil kakak kek..” Ucap pria itu lagi.


“Janggan coba-coba mengganggu kekasih orang..” Ucap suara itu lirih seperti bisikan.


“Anton kau sudah sadar.” Ucap Alice terkejut dan bahagia, gadis itu langsung mendekatkan dirinya di kursi samping ranjang Anton.


“Hemm ya sayang.” Ucap Anton lirih kepada Alice.

__ADS_1


“Ahh kau sudah sadar broo.” Ucap Widi kepada Anton yang tampak masih menyesuaikan matanya dengan cahaya di ruang kamar itu.


“Bagaimana mungkin aku akan lama sadar jika tahu kekasihku sedang di goda dokter playboy sepertimu.” Ucap Anton sedikit ketus meski suaranya masih pelan.


“Hahahaha dasar pria obsesif. Ngobrol aja pelit.” Keluh Widi dengan mendekati ranjang pria itu juga.


“Sini ku periksa dahulu.” Ucap Widi dan memeriksakan detak jantung ernafasan dan nadi Anton yang ada di layar monitor di samping tempat tidur itu.


“Sudah, semuanya normal. Aku akan melepaskan semuanya. Istirahatlah. Kau tetap harus istirahat broo.” Ucap Widi kepada Anton sahabatnya itu dan melepaskan beberapa alat yang menempel di tubuhnya itu.


“Hemm.. kau melakukan oprasi broo?” Tanya Anton.


“Hemm ya aku.. emang siapa lagi dokter yang paling tampan dan hebat.” Puji dirinya sendiri.


“Pria Narsistik..” Keluh Anton, “Namun bagaimanapun thanks broo.” Lanjut Anton kepada sahabatnya Widi.


“Hemm sama-sama. Bagaimana mungkin aku mengabaikannya, sampai seorang komisaris rumah sakit datang ke ruang oprasi.. hadeh bikin tengang saja.” Ucap dokter Widi mengingat kejadian di ruang oprasi.


“Paman Bagas juga kesini?” Tanya Anton.


“Iya siapa lagi. Udah datang tiba-tiba, dan malah mandorin lagi. Udah kayak aku bakal melakukan malpraktek saja. Bingung saya, yang anaknya sebenarnya siapa.” Keluh Widi kesal. Alice hanya terdiam melihat keakraban mereka berdua.


“Hahaha.. sayang kenalkan ini Widi Angkara. Dia putra bungsu pemilik rumah sakit ini. Broo kenalin ini calon istri ku Alice.” Ucap Anton mencoba memperkenalkan mereka berdua.


Widi akan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Alice namun Anton yang melihat itu langsung berbicara.


“Ga usah jabat tangan segala, bukan acara resmi. Udah sana pergi. Ganggu orang pacaran aja.” Kesal Anton yang melihat Widi hendak menjabat tangan Alice.


“Ishh dasar posesif pelit. Lagi pula aku udah kenalan kok tadi. Ya kan Alice.” Ucap Widi sambil menaik turunkan alisnya dan melemparkan senyum mengoda. Anton yang melihat itu langsung menarik tangan Alice meminta perhatian gadis itu.


“Sayang jangan lihat dia, lihat saja aku.” Ucap Anton posesif.


“Ishh menjijikan sekali. sudahlah aku pergi.” Kesal Widi dan beranjak pergi dari sana, namun sebelum dia benar-benar pergi Widi melihat Nabila berdiri dan sedikit mengangguk memberikannya salam.


“Ahhh kau perawat yang di ceritakan Ayah, kau Nabila kan?” Tanya Widi kepada Nabila.


“Benar dok.” Jawab Nabila.


“Yuk ikut aku saja. Kau sudah makan malam belum? Dari pada di sini mengganggu mereka pacaran mending kita makan malam saja. Yuk..” Ajak Widi dan menarik tangan Nabila.


Nabila yang hanya diam saja dan melirik kearah Alice. Alice mendekat kearah Nabila yang sedang berdiri tak jauh dari sofa.


“Kak Nabila makan malam saja dahulu. Terima kasih banyak kakak sudah mau menemani ku dari tadi. Kakak pasti kelelahan dan ingin istirahat. Pergilah bersama kak Widi.” Ucap Alice dan menepuk punggung Nabila.


“Ahh baiklah kalau begitu. Saya pamit terlebih dahulu.” Ucap Nabila dan pamit kepada Alice dan Anton.


“Terima kasih banyak sudah menunggui kekasih saya.” Ucap Anton yang mendengan percakapan Alice itu.


“Iya sama-sama. Saya permisi.” Ucap wanita itu dan membiarkan Widi menarik lengannya keluar dari kamar itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2