
Sedangkan di sisi lain..
Flash back on..
“Rara bangun.. Sudah giliran mu mandi.” Kata seorang gadis yang mengguncang-guncangkan tubuh gadis lain yang masih memeluk mimpinya itu.
“Emmhh iya iya, aku bangun.. Makasih Tan sudah dibangunin.” Katanya kepada sahabatnya Intan yang membangunkannya, kemudian dia bergerak sambil sedikit meregangkan tubuhnya yang kaku akibat tertidur dengan posisi yang salah.
Gadis yang di panggil Rara itu lalu bergegas mengambil handuk yang terletak di atas samping tempat tidur kayu susunnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Hari ini dia memiliki jadwal praktik siang namun sebelumnya dia harus menemui dosen pembimbingnya dahulu di kampus untuk mendiskusikan kasus yang akan dia ambil untuk tugas akhir semester enamnya ini. Jadi mau tidak mau dia harus segera bergegas mandi sekarang juga.
Lima belas menit kemudian..
Tok tok tok, suara pintu di ketuk dari arah luar kamar mandi.
“Rara cepetan! Katanya mau ke kampus dahulu, nanti keburu terlambat.” Kata seorang gadis di balik pintu luar kamar mandi.
“Ya ya baiklah Tan.. Aku akan segera keluar.” Jawab gadis itu dari dalam kamar mandi sambil keluar sudah rapih lengkap dengan seragam yang dia kenakan.
“Aku duluan ya Ra, aku masuk pagi.” Ucap Intan sambil berlari menuruni tangga kamar asrama lantai dua itu.
‘Astaga memang sudah jam berapa sekarang? Aku lupa belum menyiapkan alat-alat untuk ku bawa praktek siang ini dan bahan yang harus aku bawa menemui Bu Anita.’ Ucap gadis itu di dalam hati dan menyadari atas keteledorannya itu.
Gadis itu lalu bergegas merapikan buku saku, pena, juga tidak lupa membawa stetoskop dan membawa bahan yang akan dia serahkan kepada dosennya. Gadis itu langsung mengenakan jam tangannya dan sepatu pantofelnya.
Gadis itu adalah Naira Aguera atau orang-orang terdekatnya selalu memanggilnya dengan sebutan Rara. Dia adalah mahasiswi semester enam Jurusan Keperawatan. Saat ini dia tinggal di asrama wanita bersama teman teman satu angkatannya.
Salah satu rutinitas paginya sebelum berangkat ke kampus adalah mengantri bergilirannya mandi dan berangkat ke kampus atau ke tempat praktiknya bersama sahabat terdekatnya Intan.
Gadis itu dan Intan saat ini sedang sibuk praktek di salah satu RSUD milik kampus yang tak jauh dari asrama maupun kampus mereka. Namun saat ini karena Rara dan Intan tidak memiliki jadwal praktik yang sama. Dan terlebih lagi Rara harus terlebih dahulu melaporkan salah satu kasus yang akan dia ambil untuk tugasnya kepada salah satu dosennya, untuk pengajuan tugas di setiap akhir semester genapnya.
‘Astaga semua terasa sangat mendebarkan sekaligus membuat ku bersemangat.’ Batin gadis itu setelah bertemu dengan Dosen yang membimbingnya. Syukurlah pengajuan tugas akhir ini dosennya setuju dia mengambil salah satu penyakit infeksi menular yaitu TBC (Tuberkulosis).
Gadis itu segera keluar dari ruang dosen dan akan bergegas ke tempat praktiknya.
Namun,
“Raa hari ini di bagian apa?” Tanya Intan yang tidak sengaja berpapasan dengannya didepan ruangan dosen.
“Loh kamu kok disini Tan? Hari ini aku jadwal di ruang VK (Verlos kamer/kamar bersain), kamu dimana Tan?” Tanyanya balik pada sahabatnya itu.
“Aku di ruang Perina (Ruang perawatan khusus bayi baru lahir yang bermasalah), iya ada urusan sedikit.” Jawab Intan singkat.
“Ohh kalau begitu sampai jumpa nanti di asrama.” Kata Rara padanya dan hendak pergi dari sana.
Namun belum sempat Rara akan pergi, gadis itu segera menghentikan Rara pergi, “Ahh ya aku lupa Ra, nanti malam temani aku keluar asrama ya.” Ucap Intan sambil memperlihatkan wajah memelasnya.
“Ada apa? Bukankah kamu tau asrama tidak bisa keluar masuk seenaknya jika sudah jam malam.” Tanya Rara heran dengan permintaan sahabatnya itu.
“Aku benar-benar harus pergi nanti malam Ra, kamu temani aku ya. kumohon.” Pinta Intan masih dengan wajah memelasnya.
Rara yang memang terlalu baik dan memiliki hati yang tidak tegaan langsung bertanya kepada sahabatnya itu, “Lalu nanti bagaimana dengan Ibu asrama?” Tanya Rara sedikit khawatir dengan keputusannya itu.
“Tenang saja, aku sudah minta izin kok tadi. Jadi kamu mau ya temani aku Ra?” Tanya Intan lagi dengan wajah memohonnya lagi.
__ADS_1
“Ya sudah deh aku mau.” Jawab Rara akhirnya mengalah dan mau mengikuti keinginan sahabatnya itu.
“Terima kasih Rara.” Ucap Intan sambil memeluk Rara cepat.
Rara yang merasa risih dindepan umum segera melepaskan pelukannya itu, “Ya sudah aku pergi dulu, sampai jumpa di asrama nanti.” Ucap Rara dan segera pergi dari sana.
10 menit gadis itu berjalan kaki dan tiba di salah satu RSIA tempatnya praktik. Dia melakukan rutinitasnya seperti memeriksa keadaan pasien seperti mengukur suhu tubuh, mengukur tekanan darah, nadi, pernafasan, pengeluaran dan pemasukan cairan, dan menanyakan keluhan pasien, mengecek tetesan cairan infus dan memastikan pemberian obat sudah di berikan.
Tak terasa dia sudah menyelesaikan tugasnya seharian ini.Ia akan berpamitan kepada kepala ruangannya karena ini adalah hari terakhirnya praktik kerja lapangan.
“Bu Anya, terima kasih atas bimbingannya dan ilmunya. Rara minta maaf jika ada salah. Hari ini hari terakhir Rara.” Ucap gadis itu sambil berpamitan kepada kepala ruangan VK.
“Iya sama-sama Rara, kalau ada apa-apa Rara bisa temui Ibu.” Ucap Anya, wanita yang sangat keibuan dan sangat sayang kepada Rara meskipun baru beberapa minggu praktik bersamanya. Rara terkenal sebagai anak yang rajin dan giat dan selalu mau belajar maupun membantu pasien atau rekan magangnya. Sehingga dia selalu di puji oleh setiap kepala ruangan atau para pekerja yang Rara ikuti.
Setelah berpamitan kepada semua orang yang bertugas di Vk, Rara bergegas ke asrama dan mendapati intan sudah siap rapi dengan dress berwarna merah di atas lutut tanpa lengan dengan high heels setinggi 15cm.
“Yuk, cepatan.” Ucap Intan yang baru saja melihat Rara.
“Wow, tumben rapih banget mau kemana sih? Ohya tunggu sebentar, aku mandi dulu ya, ga enak seharian udah berkeringat.” Ucap Rara.
“Ya sudah cepatlah, gak usah banyak tanya. Cepat ya Ra, ga pake karet.” Kata Intan dengan kesal dan membiarkan Rara pergi ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Rara siap dengan dress selutut berlengan panjang berwarna biru tosca, kulitnya yang putih bersih sangat kontras dengan drees yang dia kenakan, Rara juga mengambil handbag hitam kesayangannya .
“Ayo cepat kita udah terlambat.” Ucap Intan sambil menarik Rara agar gadis itu cepat bergerak.
“Kita mau kemana sih?” Tanya Rara bingung, dari tadi pertanyaannya tidak di jawab dan malah Rara di tarik-tarik kesana kemari dan di bawa berjalan cepat cepat mengikuti pergerakan Intan.
“Udah ikut aja.” Ucap Intan tetap tidak mau memberitahukannya dan segera menghentikan sebuah taksi yang lewat di depan mereka.
“Ngapain kita kesini?” Tanya Rara semakin bingung dengan sahabatnya itu.
“Aku mau merayakan kita selesai PKL.” Ucap Intan cepat sambil menarik tangan Rara dan membawa masuk Rara menuju lobi hotel itu.
“Tapi ini restoran mewah Tan, ga biasanya kamu bawa aku kesini?” Tanya Rara heran dengan kelakuan Intan saat ini.
“Aku lagi dapat vocer makan gratis di sini, udah cepat masuk ayo nanti keburu malam banget.” Ucap Intan sambil menarik masuk paksa Rara kedalam lift menuju lantai restoran yang berada di dalam hotel itu.
Intan memilih duduk di bangku pojok dekat jendela yang menampakkan pemandangan malam yang indah pada lantai 20 itu. Cahaya lampu kota, lampu gedung-gedung tinggi dan kendaraan yang berlalu-lalang menerangi malam bagaikan lukisan malam yang di hiasi kerlap-kerlip lampu yang indah di bawah sana, belum lagi bulan purnama yang berbentuk bulat penuh yang menghiasi malam yang gelap menambah kesan cantik pada malam itu.
“Tan kamu serius kita akan makan disini? Kamu taukan aku gak akan bisa buat bayar makanan di sini?” Ucap Rara sedikit khawatir.
Ya.. sebenarnya Naira tidak pernah memberitahukan sahabatnya itu bahwa dia adakah anak dari pengusaha hebat di kota A.
“Iya Ra, tenang saja. Aku yang traktir.” Ucap gadis itu. Setelah mereka duduk dengan nyaman dan seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan buku menunya kepada kedua gadis itu.
Intan memilih Fluer Burger 5000 dengan isi keju, daging wagyu, sayuran dan campuran mayones serta saus dengan topping truffle serta foie grass yang di sajikan bersama sebotol minuman chateau petrus 1995.
“Kau yakin memilih itu Tan? Astaga itu bisa buat makan selama dua tahun.” Ucap Rara pelan melihat harga yang tertera di dalam buku menu itu.
'Bukankah selama ini Intan dari keluarga sederhana? Mengapa gadis itu kini sangat royal?' Batin Naira heran.
“Sudah ku bilang Ra, kau pilih saja Ra. Aku memiliki vocer gratis makan apa saja yang ada di hotel sini tanpa limit, jadi kamu tenang saja. Gak usah khawatir. Makanlah yang ingin kau makan.” Ucap Intan menenangkan Rara sahabatnya itu.
Setelah mendengarkan ucapan Intan Rara memesan Posh Pie sejenis pastry yang terkenal di restoran ini, di buat dari daging sapi premium, lobster rock Australia, juga truffle musim dingin di lengkapi beberapa botol Penfolds Grange Reserve, dan sentuhan akhir berupa daun emas sehingga menarik dan menggugah selera untuk di santap.
__ADS_1
Rara memilih itu, karena itu adalah harga yang paling murah yang ada di daftar harga buku menu itu. Dia sedikit tidak tega kepada sahabatnya itu jika harus menghabiskan uang tabungan gadis itu.
Tidak memakan waktu lama, makanan mereka tiba, Rara yang masih tidak yakin akan makanan dan minuman yang dia pesan hanya diam memandangi makanan dan minuman di depannya.
“Sudah makan lah Ra.” Ucap gadis itu kembali menenangkan sahabatnya itu.
“Kau yakin kita akan baik-baik saja meminum ini?” Tanya Rara sedikit ragu, minuman yang di depannya adalah minuman sejenis anggur merah. Dan dia sudah tahu bahwa dia pasti akan di marahi oleh abang maupun kedua orang tuanya jika mereka mengetahui ini.
“Kau tenang saja, kan ada aku Ra. Apa yang kamu takutkan sih.” Ucap Intan semakin meykinkan Rara untuk meminum minuman pesanannya.
Setelah itu Rara mulai memakan pie makanan yang di pesannya hingga dia menghabiskan tak tersisa dan dia mulai meminum minuman anggurnya perlahan hingga tanpa dia sadari gelas itu telah kosong. Melihat hal itu Intan minta izin pamit sebentar untuk pergi ke toilet.
“Ra, aku ke toilet sebentar ya.” Ucap Intan setelah melihat Rara sepertinya sedikit kurang nyaman dengan keadaan tubuhnya saat ini.
“Iya Tan tapi jangan lama-lama ya, tiba-tiba kepalaku berat sekali.” Ucap Rara sambil memegangi kepalanya yang terasa berat dan tubuhnya terasa tidak nyaman.
“Iya, Cuma sebentar kok.” Jawab Intan dan pergi meninggalkan Rara yang menelungkupkan kepalanya di atas meja sesaat setelah Intan pergi.
Intan menghampiri seorang lelaki tampan berpakaian rapi dan bersih serta wangi, pria itu memakai pakaian mahal dan di damping oleh dua orang pengawal pria yang menurut Intan bertampang menyeramkan.
“Sesuai permintaan Anda. Aku sudah membawakan gadis itu.” Ucap Intan kepada pria tersebut dan menunjuk gadis yang sedang duduk di pojok ruangan itu dengan dagunya.
“Kau yakin dia masih suci?” Tanya pria itu untuk memastikannya lagi.
“Tentu saja, dia bahkan belum pernah berciuman.” Ucap Intan meyakinkan pria itu.
“Baiklah, ini bayaran mu. Setelah malam ini selesai, jika gadis itu tidak mengecewakan, aku akan memberikan tambahan biaya yang sama.” Ucap pria itu sambil tersenyum sinis.
“Baiklah, penuhi janji anda Tuan, karena anda tidak akan pernah kecewa.” Ucap Intan dan hendak pergi dari sana, namun dia berhenti sejenak dan melihat kearah sahabatnya itu yang sedang tertelungup di atas meja makan mereka. Intan melihat Rara beberapa lama untuk yang terakhir kalinya dan berbicara.
“Ah ya aku serahkan dia pada Anda, dia sudah pingsan sepertinya.” Lanjutnya sambil pergi meninggalkan area restoran hotel itu tanpa menoleh lagi ke belakang.
“Tentu saja. Dia akan menjadi milik sahabatku malam ini.” Ucap pria itu dan memberikan isyarat kepada pengawalnya untuk membawa gadis itu. Gadis itu di gendong oleh seorang pengawal dan membawanya langsung ke presidential suite di hotel itu, pengawal yang lainnya membawakan barang yang di miliki gadis itu.
“Tinggalkan dia di sana.” Ucap pria itu kepada pengawalnya agar menaruh gadis itu di atas kasur yang luas itu saat tiba di dalam kamar hotel presidential suite itu.
“Kalian pergilah bawa pria yang sedang mabuk itu.” Ucapnya pada kedua pengawalnya itu lagi. Kemudian kedua pengawalnya pergi tanpa membantah perkataan dari tuannya itu.
“Hemm kau cantik dan tubuhmu sangat indah Nona, namun kau terlalu sopan dalam berpakaian. Itu tidak bisa membuatnya lebih panas. Sini biar aku bantu.” Ucap pria itu dan membantu membuka 3 kancing atas depan dress yang gadis itu gunakan, hingga menampakkan apa yang berada di dalamnya.
“Nah kalau begini kau lebih menggoda Nona.” Ucap pria itu melihat dua benda kenyal yang mengintip keluar dari celah kancing yang terbuka. Dan tak berapa lama para pengawalnya sudah membawa tubuh seorang pria yang sedang mabuk di atas kasur tepat di samping gadis itu tertidur.
“Lepaskan baju dan celana bajingan itu.” Ucap pria itu menyuruh pengawalnya. Kedua pengawalnya melaksanakan tugasnya dengan melemparkan dasi, jas, kemeja dan kaus serta celana panjang yang di kenakan pria itu dan melemparnya ke sembarangan arah.
“Sudah tinggalkan mereka.” Ucap pria itu kepada para pengawalnya. Kedua pengawalnya membungkuk kepada pria itu dan segera pergi dari ruang kamar itu.
“Tugas ku sudah selesai, sekarang tinggal tugasmu kan broo. Selamat menikmati hadiah dari ku. tidak perlu berterima kasih.” Ucapnya sambil pergi meninggalkan kedua orang yang sedang pingsan itu .
“Ku harap kau tidak akan mengecewakan ku Nona. Aku sudah membayar banyak untuk melakukan ini.” Ucap pria itu sambil melihat wajah gadis di depannya itu.
“Dan aku harap kalian melewati malam yang menyenangkan.” Lanjut pria itu lagi dan mengunci pintu kamar presidential suite itu dari luar, agar keduanya tidak bisa pergi keluar dari kamar hotel itu. Kemudian pria itu memberikan pas card itu kepada salah satu anak buahnya.
“Besok pagi baru bukakan pintu kamar itu. Sebelum pagi jangan buka pintu kamar itu.”Perintah pria itu kepada salah satu anak buahnya dan meninggalkan lorong jalan kamar hotel itu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Bersambung....
__ADS_1