JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Hilang


__ADS_3

"Sudah hentikan.. Aku lapar." Ucap Maya sambil terus melihat Juna yang masih menciumi tangannya dengan wajah bahagia.


"Baiklah ayo makan.. Aku sudah membuatkan makanan malam untuk kita." Ujar Juna riang dan menarik tangan Maya lembut untuk bangkit dari kasurnya.


Maya mengikuti Juna dengan menurut tanpa mengeluh apapun.


Saat sampai di meja pantry bar, disana sudah di sediakan iga bakar madu dan salad sayur dan anggur merah.


"Kau membuatnya?" Selidik Maya sambil duduk di salah satu kursi tinggi itu.


"Iya.. Aku membuatnya sendiri, ku harap itu sesuai dengan selera mu." Ucap Juna lagi dan ikut duduk di samping Maya.


Maya dengan sigap mengambil nasi dan menaruhnya kedalam piring kemudian menyerahkannya kepada Juna. Pria itu tersenyum bahagia saat dia di layani oleh Maya dengan baik.


"Mau ini?" Tanya Juna sambil mengangkat botol anggurnya di hadapan Maya.


"Hmm tentu." Jawab Maya dengan senyumannya.


Juna menuangkan botol anggur merah kedepan gelas kosong milik Maya, kemudian menuangkannya ke gelas kosong miliknya. Di atas meja juga terdapat gelas air putih.


Mereka berbicara sambil makan dan menyesap anggur merahnya dengan suasana hangat. Kejadian insiden sore hari tadi seperti tidak pernah terjadi dianatara mereka.


Beberapa saat saat mereka sudah selesai makan dan hanya menyisakan gelas anggur yang masih berisi setengah dan piring kotor.


Maya hendak bangkit dan membersihkan meja namun tangannya di tahan oleh Juna.


"Biar aku yang bereskan saja." Ucap Juna dan hendak mengambil piring-piring kotor itu.


"Tidak perlu, nanti saja. Kau bawa botol anggur mu saja ke ruang tamu." Ucap Maya yang membawa gelas berisi anggur merah dan membawanya kearah meja ruang televisi.


Juna mengangguk mengerti dan membawa gelasnya beserta botol anggur yang masih sisa setengah botol dan membawanya keruang tamu sesuai permintaan Maya.


Juna duduk di samping Maya di sofa itu. Mereka kemudian melanjutkan berbincang sambil menonton televisi dan menyesap anggur merah mereka.


Juna menuangkan kembali anggur merah ke gelas kedua mereka. Juna menyesapnya sambil mengajaknya mengobrol mengenai saluran televisi yang sedang mereka tonton.


Maya meminum anggurnya dengan cepat dan kemudian meletakkan gelas kosong di atas meja. Dan mendorong tubuh Juna hingga bersandar ke sandaran sofa.


"Maya.." Juna yang bingung dengan kelakuan Maya namun tidak mendorong balik tubuh wanita itu.


Maya dengan cepat mengecup bibir Juna dengan berani.


"Maya apakah kau mabuk?" Tanya Juna lagi namun tetap tidak memdorong tubuh wanita itu.


"Aku tidak mabuk Juna.." Ucap Maya dan kembali mengecup bahkan kini gadis itu ******* bibir Juna lembut. Juna bertahan dengan dorongan yang begitu besar di dalam dirinya untuk tidak membalas ataupun menanggapi ciuman dari Maya itu.


"Apakah kau tidak ingin membalas ciuman ku." Ujar wanita itu di sepa ciumannya dan kemudian mencium dan ******* kembali bibir Juna posesif.


'Persetan dengan semuanya.' Batin Juna dan mulai membalas ciuman Maya bahkan mendominasi ciuman itu. Sesapan, ******* dan lilutan di dalam ciuman itu membuat tubuh mereka semakin panas.


Namun Juna masih sadar agar tangannya tidak nakal kemana-mana dan hanya mengelus punggung wanita itu dan memegang tengkuk Maya. Juna tidak ingin kejadian sore tadi kembali terulang dan dengan sadar dia mengontrol pikirannya.


Maya tahu tindakan Juna tidak akan melangkah lebih lanjut, wanita itu lambat laun memelankan tempo ciuman mereka dan lambat laun bibir mereka mulai terlepas berjauhan. Terlihat benang tipis di antara kedua bibir mereka.


"Kau sangat manis." Ucap Maya ambigu.


Wanita itu berfikir Juna adalah lelaki yang baik yang tidak memaksakan kehendaknya lagi. Tapi itu saja tidak cukup untuknya.


Juna melihat basah di samping bibir Maya, pria itu mengelap bekas ciuman mereka dengan ibu jarinya.


"Dan kau sangat cantik." Ujar Juna dan kemudian mengusap pipi Maya dengan lembut.


Keduanya saling berpandangan kedua mata mereka saling terkunci. Meski di bibir mereka tidak mengucapkan kata cinta, namun dalam pandangan mereka itu sudah membuktikan bahwa mereka memang saling mencintai.


Maya memutus pandangan mereka dan mengalihkan wajahnya kearah televisi lagi.


"Ini sudah terlalu larut. Seharusnya kau pulang bukan." Ucap Maya sambil tersenyum cerah.


"Ahh ehem.. Ya ini sudah jam setengah 12.. Baiklah aku akan pulang.. Besok pagi aku aka kesini mengajak mu saraoan bersama." Ucap Juna dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Hemmm.." Hanya gumaman saja yang terdengar dari mulut Maya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu." Ucap Juna dan segera beranjak dari sofa menuju pintu keluar.


Sebelum Juna pergi, Maya mendekatkan tubuhnya dan memberikan kecupan cepat pada bibir pria itu, kemudian dengan cepat Maya kembali menarik dirinya menjauhi tubuh Juna.


Juna yang bahagia dengan perlakuan Maya, dengan cepat pria itu menarik kembali tubuh Maya agar mendekat kepadanya lagi dan memeluk tubuh gadis itu lalu memberikan kecupan hangat di kening Maya.


"Selamat malam.. Semoga mimpi indah.. Sampai berjumpa besok pagi." Ucap Juna dan kemudian benar-benar meninggalkan unit apartemen Maya.


Maya terus melihat punggung Juna yang lama lama menjauh hingga punggung itu menghilang dari pandangamnya.


"Maaf dan selamat tinggal." Ucap Maya dan menutup pintu apartemen itu rapat.


Maya mengambil ponselnya dan mengirimkan email kepada bosnya.


✉'Tuan.. Maaf saya tidak bisa melanjutkan misi menjaga nona Alice. Saya akan kembali ke markas utama segera setelah saya menyelesaikan urusan pribadi saya.' Itu isi pesan yang di kirimkan Maya kepada email milik 'The K'.


Setelah mengirim email itu, Maya membereskan dapur dan meja pantry dan menyimpannya seperti saat sebelum dia datang kerumah itu. Setelah membereskan dan membersihkan seluruh rumah, Maya segera mengemasi beberapa barangnya dan memasukkannya kedalam koper. Bahkan wanita itu juga menulis surat resign dari kantor RJP.


Maya membawa surat pengunduran dirinya dan kopernya keluar dari unit apartemennya itu.


"Selamat tinggal semuanya." Lirik Maya saat dia berdiri di depan pintu unit apartemennya dan kemudian berjalan menuju pintu lift.


Ini masih menunjukkan pukul 6pagi. Semalaman wanita itu tidak tidur semalaman dan membereskan seluruh barang di rumahnya dan saat ini wanita itu berdiri di depan kantor RJP.


Wanita itu mendekati ruang resepsionis, "Mba Sisil saya nitip barang dulu ya.." Ujar Maya menitipkan kopernya kepada Sisil sang resepsionis.


"Ahh iya Bu Maya." Ucap Sisil dan menunduk hormat.


"Ohya Pak Andre ada di ruangannya tidak?" Tanya Maya lagi.


"Pak Andre ada di ruangannya Bu, beliau dari semalam ada di ruangannya." Jawab sang resepsionis.


"Baik.. Terima kasih Sisil." Ucap Maya dan segera naik keatas menuju ruangan Andre.


Andre adalah wakil keamanan kantor itu. Dia bawahan langsung dari Juna atau tangan kanannya Juna yang merupakan atasan langsung Maya.


Tok tok tok. Maya mengetuk pintu ruang kerja Andre.


"Masuk." Ucap Andre dan melihat sosok Maya dari balik pintu itu.


"Ahh Maya.. Ada apa? Tidak biasanya kamu kesini." Ucap Andre heran.


"Saya mau menyerahkan ini." Ucap Maya sambil menyerahkan surat pengunduran dirinya di hadapan meja kerja Andre.


Andre mengerutkan dahinya heran.


"Maya kau tahu kan, kau di bawah langsung pak Juna, aku tidak bisa menerima ini tanpa sepengetahuan beliau." Ucap Andre kembali menyodorkan surat pengunduran itu.


"Pak Juna sudah tahu, dan dia menyetuhuinya. Nanti mungkin siang dia baru ke kantor. Dia meminta ku agar menyapaikan ini kepada mu agar memprosesnya kebagian HRD untuk mengurusnya." Ucap Maya berbohong kepada Andre.


"Benarkah itu?" Andre mulai curiga.


"Ya tentu saja. Untuk apa aku berbohong. Aku sebelumnya cidera. Pak Juna meminta ku untuk istirahat beberapa waktu, aku memilih mengundurkan diri ku untuk pemulihan ku beberapa saat kedepan." Jawab Maya meyakinkan Andre.


"Baiklah jika begitu aku akan menyampaikan ke bagian HRD nanti." Ucap Andre akhirnya dan menerima surat pengunduran diri Maya.


"Baiklah kalau begitu terima kasih Andre.. Kalau begitu aku pergi dahulu ya." Ucap Maya dengan senyum mengembang lalu keluar dari ruangan pria itu.


Andre sedikit curiga namun ada benarnya juga jika Maya memang meminta waktu pemulihan dengan jangka waktu yang panjang.


"Ya sudahlah nanti siang coba aku tanyakan lagi ke Pak Juna sebelum menyerahkannya ke kantor HRD." Ucap Andre dan kembali mengerjakan tugasnya.


Maya sudah kembali turun ke lobby dan mengambil barang yang di titipkannya di resepsionis dan tidak lupa wanita itu berterima kasih kepada Sisil.


Maya menghentikan taksi tepat di depan kantor RJP saat taksi itu melintasinya. Maya menyerahkan kopernya untuk di masukkan oleh supir taksi itu dan kemudian masuk ke dalam kursi belakang penumpang.


"Mau kemana Nona?" Tanya supir taksi itu sopan.


"Bandara pak." Jawab Maya singkat.


Supir taksi itu dengan tenang mengendarai mobilnya menuju bandara kota A. Jalanan lalu lintas pagi itu masih sepi sehingga mereka dengan bebas mengendarai dengan kecepatan tanpa hambatan.

__ADS_1


Hanya membutuhkan waktu 30 menit sampai di bandara. Dengan cepat wanita itu memasuki gate keberangkatan yang sebelumnya dia pesan tiket menuju tiga tempat dengan pemesanan atas namanya dan satu pesanan atas nama orang lain.


Maya masuk gate menuju pesanan atas nama orang lain dan bukan atas namanya. Kemudian wanita itu menunggu hingga penerbangan pertama menuju kota B di negara A tiba.


Penerbangan dua jam dan perjalanan darat 45menit wanita itu sampai di pesisir pantai K yang ada di kota B.


"Wanita itu masih menggunakan identitas palsu untuk membooking paviliun sederhana di tepi pantai yang tertutup.


Langit kini sudah terik, Matahari berada di puncak kepalanya. Hawa gersang dan panas menyengat kulitnya namun wanita itu merasa damai berada disana. Hembusan semilir angin dari arah pantai membuatnya sedikit sejuk saat dia berada di bibir pantai berjalan kaki tanpa mengenakan alas kaki.


***


Sedangkan di sisi lain di waktu sebelumnya..


Juna dari pagi menekan bel di pintu unit apartemen Maya namun masih belum ada jawaban.


"Aihh apa wanita itu masih tidur? Tapi ini sudah jam8 pagi. Biasanya dia sudah bangun jam segini." Keluhnya dan masih menekan bel apartemen wanita itu.


"Ya sudahlah mungkin dia masih istirahat. Aku ke kantor saja dahulu melihat situasi disana baru nanti siang ajak doa makan siang." Ujar Juna dan melangkahkan kakinya menuju lift untuk pergi ke kantor RJP.


Saat tiba di kantor RJP, pria itublangsung masuk kedalam ruangannya dan menyelesaikan tugas yang belum seleaai kemarin.


Tiba-tiba pintunya di ketuk dari luar.


Tok tok tok..


"Masuk." Jawabnya cepat.


"Siang Pak Juna.. Maaf mengganggu, tadinya saya akan datang siang sesuai permintaan. Namun mengetahui bapak sudah datang pagi ini saya langsung datang saja ke kantor bapak untuk menyerahkan ini." Ucap Andre dan menyerahkan surat berwarna putih dengan tulisan pengunduran diri di atasnya.


"Andree kau mengundurkan diri? Ada apa?" Tanya Juna dengan heran.


"Ahh maaf pak itu bukan surat pengunduran diri saya. Itu surat pengunduran diri Maya." Ujar Andre cepat untuk menjelaskan kesalah pahaman Juna.


"Saya masih betah kerja disini Pak." Ucap Andre lagi.


Juna yang mendengar nama Maya di sebut langsung mengambil surat yang ada di atas mejanya dan membacanya. Dan benar saja itu adalah surat pengunduran diri dari wanita itu.


"Kenapa surat ini bisa ada di tangan mu?" Tanya Juna dengan wajah kesal.


"Emhh tadi pagi Maya datang ke ruangan saya dan menyerahkan surat itu sendiri Pak Juna. Saya sudah katakan untuk menyerahkannya langsung kepada anda Pak. Namun Maya bersikeras bahwa anda sudah mengetahuinya dan menyuruh saya segera memprosesnya ke HRD." Jelas Andre lagi khawatir dia akan di salah kan lagi.


"Apa tadi pagi?"


"Iya Pak sekitar pukul 6 pagi." Jawab Andre lagi.


Dengan cepat Juna segera pergi dari ruangannya meninggalkan Andre yang bengong dengan tingkah bosnya yang kemudian meninggalkannya sendirian di ruangan itu.


"Astaga sebenarnya ada apa ini?" Gumam Andre heran.


Juna bergegas menuju lantai lobby dan segera masuk menuju Apartemen melalui jalan pintas. Pria itu berlari sekencang-kencangnya hinga masuk ke dalam lift menuju unit apartemen milik Maya di lantai 8.


Teng tong.. Teng tong.. Teng tong..


Berkali-kali Juna menekan bel itu namun tidak ada sahutan dari dalam. Dengan cepat Juna mengambil kunci cadangan miliknya dan membuka kunci pintu unit apartemen itu.


Saat melihat kedalam ruangan itu begitu bersih, Juna segera lari menuju kamar dan membuka pintu kamar. Kamar itu sudah rapih seperti tidak di tiduri dari semalam. Bahkan tidak ada peralatan makeup yang biasanya dia lihat di atas meja rias wanita itu.


Dengan perasaan takut yang menghinggapi dadanya pria itu berlari menuju lemari pakaian dan membukanya. Dan benar saja seluruh pakaian di lemari itu kosong melompong.


Pria itu kembali berlari menuju kamar mandi, bahkan seluruh pernak pernik mandi wanita itupun tidak ada di sana.


"Ada apa ini.." Ujar Juna dengan frustasi saat melihat seluruh ruangan itu bersih dan kosong seperti saat sebelum gadis itu masuk ke dalam apartemen itu.


Juna berjalan gontai menuju arah pantry bar dan tangannya menyentuh meja pantry itu untuk menopang tubuhnya yang akan goyah.


Pria itu masih merasakan kehadiran Maya saat tadi malam malan bersamanya dan bahkan bercerita dan bercanda bersama. Piring-piring dan peralatan kotorpun sudah kembali di bereskan ke tempat mereka masing-masing. Benar-benar seperti rumah kosong pada awalnya.


Pria itu memandang kearah meja ruang televisi dan membayangkan kemesraan mereka malam tadi di sofa itu. Siluet kemesraan mereka masih membekas di memory Juna.


"Maya.. Kau kemana? Kenapa kau meninggalkan aku tanpa bicara sepatah katapun.." Gumam pria itu akhirnya luruh di atas lantai dengan tubuh bersadar pada meja pantry bar.

__ADS_1


"Apa salah ku.."


Bersambung....


__ADS_2