
"Bagaimana kondisi Alice dan janinnya?" Tanya Anton kepada dokter Maria yang sudah keluar dari kamar tindakan setelah memeriksakan kondisi Alice.
"Keadaan janinnya sebelumnya sedikit tidak stabil, untunglah kalian segera membawanya kesini.. Kau tahu untuk trimester pertama ini agak rentan pengaruhnya terhadap obat bius.. Apalagi berupa bius total, kita tidak tahu jenis bius apa yang sudah di berikan kepada Alice maupun berapa dosis yang di berikannya dan lagi usia kehamilan Alice masih sangat muda. Untuk saat ini aku sudah menangani Alice dan janinnya, aku berharap semuanya akan baik-baik saja." Ucap Maria sambil menepuk pundak Anton.
"Ya.. Aku tahu jika dilakukan pembiusan dalam trimester awal kehamilan bisa menyebabkan banyak komplikasi dan bahkan membahayakan bagi bayi, bahkan dapat melahirkan bayi dengan kecacatan sistem saraf pusat. Selain itu, juga dapat berisiko terkena katarak kongenital dan cacat lainnya seperti hidrosefalus." Gumam Anton melanjutkan ucapan dokter Maria sambil melihat ujung sepatunya.
"Hem.. Ya.. Namun aku masih tetap berharap ini semua akan baik-baik saja.. Kau tahu Alice dan janinnya sangat kuat bukan.. Berdoalah untuk kesehatan mereka berdua." Ujar Maria.
"Terima kasih dokter Maria, aku pasti akan selalu mendoakan mereka dalam keadaan baik." Ucap Anton dan berani menatap langsung wajah Maria.
Tiba-tiba seorang suster keluar dari dalam kamar tindakan Alice dengan wajah yang pucat dan keringat di pelipisnya, "Dokter Nyonya Alice mengalami perdarahan!" Teriak suster itu dengan wajah cemas dan membuka pintu itu lebar untuk membiarkan dokter Maria masuk kedalam dan menutup kembali saat Anton hendak berlari menuju ruang tindakan itu.
"Alice!" Teriak Anton dan hendak masuk ke dalam ruang tindakan itu.
"Dokter Anton, saya tahu anda saat ini sedang khawatir namun saya mohon anda tenang dahulu jika anda ingin masuk kedalam." Ujar perawat itu mengingatkan saat wajah Anton sudah pias dan tampak gusar.
"Saya akan membantu dokter Maria kedalam." Ucap perawat itu lagi dan masuk kedalam ruang tindakan itu.
Anton yang mendengar itu hanya mematung dan memandang pintu ruang tindakan itu tertutup.
"Bisakah aku ke dalam jika terjadi hal yang buruk? Tapi apakah aku tega membiarkan Alice berjuang sendiri.. Tidak! Tidak! Aku harus kuat! Aku seorang suami! Aku seorang Ayah! Dan aku juga seorang Dokter!" Ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.
Namun sebelumnya Anton menenangkan dirinya sendiri dengan mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan selama tiga kali dna kemudian pria itu masuk kedalam ruang tindakan.
Dapat Anton lihat di dalam ruangan itu beberapa perawat sibuk kesana kemari untuk membantu menangani perdarahan yang dialami Alice.
"Dokter Anton.. Maaf sekali, perdarahannya sangat hebat.. Janinnya tidak bisa diselamatkan.. Aku sudah mengusahakan beberapa cara namun tetap tidak berhasil. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan Alice saat ini untuk menghentikan perdarahannya adalah dengan Kuretase." Ujar dokter Maria meminta maaf sambil memperlihatkan gumpalan-gumpalan kecil di dalam nierbeken yang sudah di alasi kassa putih yang sudah mulai terbentuk itu.
"Tapi jika perdarahannya masih tidak bisa di hentikan dengan terpaksa kita harus.." Dokter Maria menggantungkan perkataannya.
"Ya aku mengerti dokter Maria.. Jika perdarahannya tidak bisa di hentikan maka kalian akan mengangkat rahimnya juga.. Lakukan tindakan apapun untuk menyelamatkanya.. Aku sudah kehilangan janin kami, aku tidak ingin kehilangannya.. Selamatkan dia.. Aku percaya kepada mu."
Anton yang memandang tertegun dengan apa yang dilihatnya hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan mengambil nierbeken itu dengan sedikit meneteskan air matanya.
Dokter dan perawatpun segera mempesiapkan prosedur tindakan kuretase untuk Alice maupun tindakan pencegahan dan oprasi lainnya yang mungkin saja akan terjadi.
"Bisakah bantu merapihkan ini, aku akan memakamkannya nanti." Ujar Anton kepada salah satu perawat yang ada di sana.
"Baik dok." Ucap salah satu perawat.
Dua perawat sibuk membantu dokter Maria dengan beberapa peralatan dan Anton berjalan kedepan wajah Alice menggenggam tangan istri tercintanya dan menciumi pelipis gadis itu.
Wajah Alice tampak pucat dengan selang oksigen di hidungnya.. Gaun pengantin putih cantiknya sudah berganti dengan piyama pasien namun kini hanya terpasang bagian atasnya saja. Satu tangannya terpasang infus cairan dan satu tangannya lagi terpasang transfusi darah.
__ADS_1
"Kau harus kuat dan bertahan.. Aku membutuhkan mu." Ucap Anton berbisik di telinga Alice.
"Maafkan kelalaian aku karena tidak bisa menjaga kalian." Ujarnya lagi sambil mengecupi pelipis Alice lagi.
Tidak ada sahutan pada istrinya itu.. Alice masih dalam pengaruh bius, namun entah mengapa setetes air mata lolos menetes dari sudut matanya.
Anton yang melihat itu menghapus tetesan bening itu dan kembali menciumi kening Alice.
"Aku ada di sini.. Aku akan selalu menemani mu, maka dari itu jangan tinggalkan aku." Gumamnya berbisik di telinga Alice sambil menggenggam tangan Alice hangat.
Beberapa waktu kemudian tindakan itupun selesai. Alice kembali di rapihkan pakaiannya dan di atur sedemikian rupa agar gadis iti nyaman saat terbangun nanti.
"Syukurlah oprasi kuretasenya sudah selesai dan kita hanya perlu mengobservasi perdarahannya lagi." Ucap dokter Maria.
"Ya terima kasih banyak dokter Maria." Ucap Anton tersenyum hangat kepada dokter wanita itu.
"Aku turut berduka untuk calon bayi kalian.. Kau harus tetap kuat dan menguatkan Alice kalian pasti bisa melewati cobaan ini." Ucap Maria dan memeluk tubuh Anton menenangkan pria itu.
Bagaimanapun mereka adalah teman lama dari sejak awal masa kuliah dahulu, meski berpisah saat mengambil dokter kejuruannya. Maria yang lebih memilih mengambil Dokter Spesialis Kandungan, sedangkan Anton mengambil jurusan Dokter Spesialis Anak, namun mereka masih sering bertemu di beberapa pertemuan di kamus mereka itu.
"Terima kasih Maria." Ucap Anton singkat.
"Jika ada yang kalian butuhkan kalian bisa kapan saja memanggil ku." Ujar Maria mengingatkan.
Dokter maria pergi meninggalkan Anton di ruang observasi dan membiarkan pria itu menemani istrinya.
"Permisi.. Maaf dokter Anton.. Ini janinnya.." Ujar perawat yang masuk kedalam ruangan observasi itu.
Anton melihat sebuah kendil yang terbuat dari tanah liat dan di serahkan kepadanya.
"Maaf dokter aku hanya menemukan ini untuk tempatnya." Ucap perawat itj meminta maaf.
"Ya.. Tidak apa-apa.. Terima kasih.. Bisakah kau menjaga istri ku sebentar? Aku harus mengurus pemakaman." Ucap Anton meminta perawat itu untuk menemani Alice sejenak.
"Tentu dokter." Ucap perawat itu setuju.
Anton dengan langkah gontai keluar dari kamar rawat dan segera mencari ponselnya di seluruh tubuhnya namun tidak dapat menemukan ponselnya itu. Untubglah saat dia keluar ada Alex yang sudah berdiri tepat di luar pintu itu.
"Tuan.. Anda tidak apa-apa?" Tanya Alex khawatir melihat raut wajah tuannya pucat pasi.
Alex dengan berinisiatif menopang tubuh tuannya yang hampir limbung dan mendudukannya di kursi ruang tunggu ruang oprasi.
"Aku tidak dalam keadaan baik Alex.. Apakah kau melihat ponsel ku? Atau berikan aku ponsel milik mu." Ucap Anton lagi mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
"Ini ponsel anda tuan.. Saya mengamgilnya di mobil." Alex menyerahkan ponsel berwarna hitam kepada Anton.
Anton segera menghubungi orang tuanya dan memberitahu prihal Alice yang sudah di temukan dan kabar duka keguguran Alice. Lida yang mendengar berita itu sedih dan terpuruk begitu juga dengan kedua kakak iparnya. Namun mereka semua berjanji akan membantu Alice dan menenangkan gadis itu bersama-sama.
📞"Kami akan segera kesana." Ucapan dari Lidia saat panggilan telepon itu berakhir.
Setelah menghubungi beberapa orang keluarganya, Anton segera mengurus pemakaman janin mereka ditempat yang tidak terlalu jauh dari rumah baru yang akan ditempati oleh mereka nantinya setelah pernikahan itu. Namun kini harapan tinggal di rumah baru itu sepertinya harus ditunda, Anton tidak mungkin akan membiarkan Alice sendirian dirumah. Dia akan berencana tinggal di mansion utama Baskoro agar Alice tidak kesepian.
Setelah menyelesaikan prosedur pemakaman, Anton bergegas kembali menemui Alice istrinya. Ibunya memberitahunya bahwa Alice sudah sadar dan sudah di pindahkan ke ruang perawatan Presidential.
Anton juga membawakan beberapa makan siang kesukaan Alice. Pria itu berusaha kuat dan tegar menghadapi cobaan ini. Namun saat dia sudah berdiri di depan ruang rawat Alice, Anton jadi sedikit ragu untuk membuka handle pintu itu. Bahkan ada sedikit ketakutan dalam bayangan Anton, saat pria itu melihat kekecewaan dan kesedihan yang akan tampak pada wajah istrinya nanti saat dia memberitahukan kebenarannya.
Ceklek! Anton membuka handle pintu itu dan masuj dengan wajah tersenyum.
"Sayang.. Kamu sudah sadar?" Tanya Anton gembira dan meletakkan barang bawaannya dinatas meja dekat sofa.
"Heemm satu jam yang lalu aku sudah sadar.. Kenapa kau baru kemari? Kemana saja kau?" Tanya Alice heran.
"Aku ada sedikit urusan." Jawab Anton menenangkan Alice.
"Ohh urusan apa?" Tanyanya heran, namun Anton masih enggan untuk menjelaskannya.
"Ehemm.. Alice.. Ayah, Ibu dan juga kakak ipar mh lergi keluar sebentar ya." Ucap Lidia memotong pembicaraan dan memilih untuk keluar dari ruangan itu.
Lidia dan yang lainnya tahu, mereka bersua membutuhkan waktu untuk menyendiri dan saling menguatkan.
"Ahh baiklah kalau begitu bu." Ucap Alice menurut.
"Anton.. Kami ke bawah dahulu." Ujar Bram dan mendapatkan anggukkan dari Anton.
Lidia, Bram, Sisil, Amanda dan para suami mereka keluar dari ruang perawatan itu.
"Anton.. Apa yang terjadi? Dari tadi aku bertanya kepada mereka kemana kau pergi mereka semua tidak ada yang mau menjelaskannya pada ku.. Bahkan tidak ada satupun darinmereka yang mau menjelaskan kondisi ku." Ujar Alice panjang lebar.
"Sayang.. Maaf.." Cicit Anton sambil menatap lurus pada manik mata Alice.
"Maaf untuk apa? Anton aku tidak mengerti?" Ujar Alice namun matanya tiba-tiba mengembun. Entah mengapa firasatnya tidak enak tentang hal ini.
"Alice.. Istri ku.. Maafkan atas kelalaian aku.. Bayi kita.." Ucap Anton menggantung tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Tidak! Tidak! Kau pasti sedang bercandakan?" Ucap Alice menolak apa yang terlintas didalam pikirannya. Anton hanya menatap sendu kearah manik mata milik Alice.
"TIDAK!!" Teriak Alice histeris.
__ADS_1
Bersambung....