JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Murid Baru


__ADS_3

Pagi hari Galih sudah memesankan makanan sarapan dari hotel dan menyipakannya di atas meja bar, kemudian mengetuk satu persatu kamar para gadis itu.


Alice yang keluar dari kamar sudah rapih dengan seragam SMA dari sekolah Le Rosey di kota S itu. Galih yang terpana melihat gadis itu mengenakan seragamnya. Warna biru tua klasik tradisional dari seragam di segarkan dengan warna biru muda dan kuning keemasan. Satu set pakaian meliputi : jaket, celana rok , kemeja (putih atau biru), dan syal.


Alice menggunakan kemeja  biru dan rok biru muda dengan jaket berwarna biru tua kemudian gadis itu menggunakan kaus kaki panjang hingga betis berwarna putih dan sepatu pantofel berwarna hitam. Gadis itu mengikat rambutnya tinggi bagaikan ekor kuda, bagian leher gadis itu terlihat lebih jenjang.


“Wah kau tampak segar.” Ucap Galih.


“Dan kau tampak seperti kakek tua Galih.” Ucap Alice asal.


“Aku sudah memesan sarapan? Kapan baju itu tiba?” Tanya Galih penasaran sambil duduk di kursi bar panrty.


“Tadi pagi-pagi sekali, seseorang yang di tugaskan untuk pendaftaranku datang memberikan ini.” Jelas Alice dan mengikuti Galih duduk di sana untuk sarapan. Kemudian gadis itu teringat untuk melepaskan cincin yang selalu dia kenakan dan mengambil rantai kalung yang berada di saku jaketnya, kemudian memasukkannya kedalam rantai kalung itu dan mengenakannya di lehernya.


“Biar ku bantu.” Ucap Galih dan membantu mengaitkan kalung itu pada tempatnya.


“Thanks.” Ucap Alice dan menyembunyikan kalung berserta gandulan cincin dari Anton kedalam bajunya.


“Kau akan mengenakan itu?” Tanya Galih.


“Hemmm.. kalung ini agak panjang jadi bisa ku sembunyikan di dalam baju ku. Kenapa?” Tanya Alice.


“Kau gunakan ini. ini isinya pelacak, ingat jangan pernah kau lepaskan.” Ucap Galih.


“Okey.” Alice mengambil anting simple dengan satu mata kecil itu dan segera memasangnya.


“Pagi.. maaf aku terlambat bangun.” Ucap Maya menghampiri kedua orang itu.Maya mengenakan dress selutut sopan berwarna peach dengan blazer berwarna hitam. Dan menenteng sneli putih di tangannya.


“Tak masalah, ini masih pagi lagi pula.” Ucap Alice.


“Kau sangat cantik Al, baju itu sangat cocok untuk mu.” Ucap Maya.


“Kau juga cantik dengan dress itu Maya.” Ucap Alice.


“Ehem bagaimana jika aku memotret kalian berdua.” Ucap Galih.


“Tentu saja.” Ucap keduanya kompak. Kemudian mereka berdua berdiri berdampingan dan berpose di foto oleh Galih yang memberikan beberapa gaya kepada mereka.


“Ahh tunggu Al, aku ingin memotret mu sendiri menggunakan ponsel ku.” Ucap Maya menghalangi Alice yang akan beranjak duduk kembali.


“Ahh begitu kah, baiklah.” Ucap Alice dan berpose sendiri dengan senyum yang sangat indah.

__ADS_1


“Oke lanjutkan sarapan dan kalian akan segera berangkat terpisah.” Ucap Galih.


“Ingat nama mu Laila Dalimunthe usia 18, dan kau Maya Danita Freya. Kalian jangan sampai salah memanggil.” Ucap Galih mengingatkan.


“Siap Pak.” Ucap Maya.


“Hemm..” Ucap Alice.


Kedua gadis itu pergi meninggalkan hotel. Alice mengenakan taksi sendiri menuju sekolahannya dan Maya pun mengenakan mobilnya sendiri menuju tempat kerjanya itu.


Alice sampai di sekolahannya dan langsung menghadap ke ruang guru.


“Selamat pagi pak, saya Laila murid baru.” Ucapnya kepada salah seorang guru di sana.


“Ahh kau murid pindahan itu kah. Tunggu sebentar. Pak Fauzy ini murid baru untuk kelas bapak.” Ucap pria itu mengantarkan Alice menemui pria berusia 40an namun wajahnya jauh tampak lebih muda. Pria itu mengenakan kemeja berwarna putih dan jas berwarna abu abu tua yang pas di tubuhnya.


“Ahh kau yang bernama Laila kah?” Tanya pria itu.


“Benar Pak guru.” Jawab Alice.


“Aku adalah Fauzy, aku adalah wali kelas mu. Ayo aku perkenalkan kamu ke teman-temanmu yang lain.” Jelas pria itu kemudian menunjukkan jalan.


Alice mengikutinya dan sampai di ruang kelas 3.1. dari luar kelas terdengar suara riuh yang berasal dari dalam kelas. Namun saat pak Fauzy menginjakkan kakinya kedalam kelas, kelas tiba-tiba sunyi dan senyap. Semua murid duduk kembali ke bangku masing-masing.


“Baik Pak.” Jawab semua murid.


“Baiklah bapak akan menyampaikan informasi, kelas kalian memiliki teman baru. Berharap kalian akan akrab ya.” Ucap pak Fauzy.


“Pria atau wanita pak?” Ucap seorang murid wanita.


 “Haha sepertinya yang wanita akan kecewa. Teman baru kalian seorang wanita.” Ucap pak Fauzy sambil tersenyum.


“Yeyy.. cantik gak pak?” Ucap seorang murid pria.


“Astaga kalian ini.. baiklah langsung saja, Laila masuklah.”


Alice masuk ke ruang kelas dan berdiri di samping pak Fauzy.


“Perkenalkan saya Laila Dalimunthe, semoga kita bisa berteman baik.” Ucap Alice.


“Woah sangat cantik..” Ucap beberapa murid pria bersamaan.

__ADS_1


“Baiklah Laila, silahkan duduk di samping Namira, itu kursi satu-satunya yang kosong.” Ucap pak Fauzy.


“Baik pak.” Ucap Alice kemudian berjalan menghampiri kursi belakang di samping seorang gadis yang cantik yang sedang duduk di samping sebuah jendela.


“Hai.. aku Laila.” Sapa Alice. Wanita itu tersenyum ramah kepadanya.


“Hai, aku Namira.” Jawab gadis itu.


“Baiklah mari kita mulai pelajaran pagi ini.” Ucap pak Fauzy dan memulai pelajaran paginya.


Alice memperhatikan pelajaran dengan serius, meski dia sudah pernah mempelajari pelajaran ini, namun pembelajaran dari negara lain sedikit berbeda, dan Alice menyukai pembelajaran baru baginya itu.


Teng tong teng


“Baiklah, pelajaran bapak sudah habis. Setelah ini kalian bisa melanjutkan dengan Bu Zahra.” Ucap pak Fauzy saat satu jam mata pelajarannya sudah berlalu. Pak Fauzy pergi meninggalkan kelas, kelas pun kembali riuh. Keriuhan saat ini tentu saja di sebabkan oleh keingin tahuan mereka mengenai murid baru, yang tidak lain adalah Alice.


“Hai Laila, aku Diego. Kau berasal dari mana? Dialek mu sedikit berbeda.” Tanya pria muda yang mengaku dirinya bernama Diego, pria manis dengan menggunakan kacamata di wajahnya.


“Ahh ya aku pindahan dari negara A, jadi dialek ku sedikit berbeda.” Ucap Alice.


“Woah, negara A.. bukankah itu negara yang besar. Pantas dialek mu berbeda kau dari luar negara B ternyata. Mengapa kau bisa di sini. Aku Auristela.” Tanya gadis lain yang menimpali. Wajahnya manis dengan sedikit lesung pipi di pipi kirinya.


“Ayah ku di pindah tugaskan ke negara B, namun dia harus bekerja di pusat kota B, aku mau tidak mau harus menetap sendiri di kota S, saat ini aku sedang mencari kostan atau rumah bersama.” Ucap Alice berbohong.


“Ah begitu, aku akan memberitahu mu beberapa kostan di daerah sini jika kau mau.” Ucap gadis bernama Auristela itu. Namira dari tadi hanya terdiam mendengarkan pembicaraan mereka.


“Terima kasih.” Ucap Alice.


“Baiklah anak-anak kembali ketempat duduk, kita mulai pelajaran hari ini.” Ucap bu Zahra dan mulai pelajarannya.


“Emhh apakah kau membutuhkan tempat tinggal?” Tanya Namira sedikit berbisik. Karena bu Zahra masih menjelaskan materi pelajarannya.


“Hemm iya.” Ucap Alice yang sedikit berbisik juga.


“Emh tidak keberatan kah kau jika itu rumah bersama? Maksudku aku menyewakan sebuah kamar, meski tidak luas tapi aku jamin kebersihannya.” Ucap gadis itu masih dengan berbisik.


“Tentu saja tidak masalah.” Ucap Alice sambil berbisik. Kemudian Alice tersenyum bahwa misi berada di samping gadis ini berjalan sesuai rencana.


“Yang di belakang bisakah menjelaskan ini? Ibu lihat kalian sudah sangat mengerti hingga tidak memperhatikan materi yang sedang di jelaskan. Jika demikian silahkan beri penjelasan ke depan kepada teman-teman mu.” Ucap bu Zahra kepada Alice dan Namira.


"Mati aku.." Ucap Alice pelan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2