JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Masalah datang silih berganti


__ADS_3

Alice dan Anton tiba di rumah sakit kepolisian itu, Alice melihat lokasi di mana sebelumnya Jhon di rawat dan memeriksa kedua petugas yang saat ini baru saja selesai dengan pengobatan.


"Bagaimana keadaan kalian?" Tanya Antin kepada kedua orang penjaga itu yang kini sedang terbaring di atas tempat tidur pasien.


"Maaf atas kelalaian kami.." Ucap Keduanya bersamaan.


"Kita bahas itu nanti, bisakah beri tahu apa yang telah terjadi sebelumnya?" Tanya Alice ingin mendengar langsung dari kedua orang pria itu.


"Maaf bu.. Sebelumnya ada seorang wanita perawat yang menawarkan kopi, dan saya tidak curiga apapun dan meminumnya begitu saja, hingga tertidur begitu saja dan saat tersadar kami sudah berasa di atas ranjang pasien." Ucap salah satu petugas itu.


"Baiklah kalau begitu.. Lalu bagaimana dengan rekaman CCTV?" Tanya Alice lagi kepada salah satu anak buahnya yang lainnya.


"Maaf Bu.. CCTV entah bagaimana rusak di waktu tersebut.." Jawab salah seorang yang menangani kasus itu.


"Kalau begitu tolong buatkan sketsa wajah gadis tu dan berikan beberapa keterangan yang bisa membuat kita bisa mencari dan memperkirakan siapa wanita itu." Perintah Alice lagi tegas.


"Baik siap Bu.." Ujar beberapa anak buah Alice yang berada di dalam ruangan perawatan itu.


"Baiklah kalau begitu saya aka menemui dokter yang menangani Jhon.." Ujar Alice dan kemudian bergegas menuju ruang perawatan lain.


Ya.. Karena percobaan pembunuhan sebelumnya penjagaan tersangkanya jadi dua kali lipat di tingkatkan keamanannya. Alice melihat kondisi Jhon dari balik jendela besar yang menampilkan tubuh tuanya yang kini tampak lemah dengan di bantu beberapa selang dan peralatan yang di tempelkan di tubuhnya. Yaa Jhon kini masuk kedalam ruangvperawatan ICU dan terlihat salah satu dokter sedang memeriksa tubuh pria itu dari dalam ruangan.


"Malang sekali nasib mu Jhon.. Aku berusaha membantu mu agar kau bisa membayar semua perbuatan jahat mu semua di dalam penjara. Namun kini kau malah terbaring lemah di atas ranjang pasien akibat perbuatan seseorang yang mencoba untuk meracuni mu." Gumam Alice merasa sedikit iba dengan hidup pria tua itu.


Dokter yang sudah melakukan tugasnya kini keluar dari ruangan ICU dan mendatangi Alice.


"Dokter bagaimana keadaannya?" Tanya Alice menanyakan situsi kondisi Jhon saat ini.


"Sudah melewati masa kritisnya, namun sepertinya untuk kesadarannya kita masih menunggu sampai dia benar-benar sadar. Dan saya berharap tidak ada efek samping dari obat itu karena beberapa organ dalam juga sedikit terkena dan usianya juga sudah tidak muda lagi." Ujar dokter itu sambil menatap kaca yang memperlihatkan Jhon terbaring di dalamnya.


"Baiklah.. Terima kasih atas kerja keras anda dok.. Kita akan lihat bagaimana perkembangannya." Ucap Alice.


"Baiklah kalau begitu saya pamit dahulu, saya harus memeriksa beberapa hal yang masih harus saya beri laporkan." Ucap dokter itu sopan.


"Baik dik.. Selamat bertugas kembali." Ucap Alice dan kembali melihat kaca besar itu.


"Aku hanya berharap ini bukan karma karena perbuatan mu selama ini yang suka menghancurkan dan membuat orang lain menderita.. Karena kematian mu terlalu mudah dan terlalu indah untuk mu.. Setidaknya kau harus sembuh dan menerima hukuman mu." Gumam Alice dan meninggalkan ruangan ICU itu dan kembali menemui suaminya yang sedang menunggu di lantai dasar kopi shop.


Ya.. Untuk sementara akses keluar masuk di buat lebih ketat di beberapa jalan untuk masuk, untuk menghindari kejadian serupa.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Anton saat melihat Alice datang menghampirinya dan gadis itu duduk dengan manis di hadapan Anton.


"Dia koma, dan masih belum tau kapan dia akan sadar.. Kedua petugas sudah siuman dan akan membantu memberikan keterangan mengenai siapa tersangkanya. Semuanya jadi lebih rumit.. Sebenarnya apa yang terjadi, aku juga jadi sedikit bingung." Alice menyandarkan punggungnya di punggung kursi.


"Sebenarnya aku mendapatkan sedikit informasi dari Paul.. Sepertinya Jhon selama ini memang selalu bertindak sedikit gila dan banyak dari musuh-musuhnya memanfaatkan kondisi ini untuk menghancurkannya." Ujar Anton memberikan pemikirannya.


"Maksud mu?" Tanya Alice heran.


"Beberapa minggu ini saham Stary Grup benar-benar sudah hancur baik dari intern maupun dari luar. Grup itu sudah hancur, dan beberapa orang yang sebelumnya usahanya di buat mati oleh Jhon mereka mencoba membalasnya dengan membuat perusahaan itu benar-benar tidak bisa bangkit lagi. Sebelumnya Jhon berbuat begitu terhadap beberapa perusahaan-perusahaan kecil dan mengambil semua keuntungannya. Dan kini semua orang berlomba-lomba membalasnya dengan melakukan hal serupa." Ucap Anton lagi.


"Mungkin salah satu penyerang itu adalah orang yang pernah di lukai oleh Jhon.. Dia benar-benar bisa melakukan apapun bukan." Ucap Anton lagi.

__ADS_1


"Haish.. Aku hanya ingin segera menyelesaikan kasus sebelumnya dan kini malah terjerumus kedalam kasus lainnya." Ujar Alice sambil menghembuskan nafasnya panjang.


"Tenang.. Aku pasti akan membantu mu untuk mengungkap kasus ini.. Jangan terlalu banyak berpikir, kita pasti akan segera menemukannya." Ucap Anton lagi memberikan semangat.


"Ini untuk mu.. Aku memesan ini untuk membuat perut mu sedikit hangat." Ucap Anton sambil menyodorkan sepotong kue dan juga coklat panas yang ada di atas meja.


"Terima kasih.. Aku memang sedang membutuhkan ini.." Ucap Alice dan menyesap coklat panasnya perlahan. Hangatnya cairan itu mengalir di kerongkongan Alice membuatnya sedikit bersemangat.


Alice mulai memotong kue stroberi cheese nya dengan sendok dan menyuapkannya kedalam mulutnya dengan potongan yang lumayan besar hingga mengotori sudut bibirnya dengan cream.


Anton yang melihat itu tersenyum geli melihat tingkah istrinya itu. Tingkahnya benar-benar seperti bocah yang sedang memakan kue. Semuanya berantakan di mana-mana.


"Makanlah perlahan, tidak akan ada yang merebut makanan mu.. Jika itu masih kurang, aku bisa memberikan mu kue yang lainnya." Ucap Anton sambil menjulurkan tangannya untuk mengusap sudut bibir istrinya dengan menggunakan ibu jarinya.


"Ini terlihat sangat lezat, aku jadi tidak tahan jika memotongnya hanya sedikit-sedikit.. Tidak terasa.. Boleh aku minta lagi? Sepertinya aku benar-benar lapar." Ucap Alie sambil menyuapkan sepotong besar kue itu dengan sendok.


"Baik aku akan memesan lagi.. Mau dengan rasa yang sama atau pilihan yang lain?" Tanya Anton lagi yang hendak berdiri dari duduknya untuk mengambil beberapa kue yang di inginkan oleh istrinya itu.


"Kue yang berbeda please.. Mau yang banyak coklatnya.." Ucapnya Alice sambil makanan yang masih ada di dalam mulutnya.


Dan itu sukses membuat Anton kembali tersenyum. Pasalnya kini wajah Alice sudah seperti hamster yang pipinya sudah penuh oleh makanan namun mencoba untuk memasukkan beberapa biji bunga matahari lagi kedalam mulutnya.


"Baiklah.. Sesuai permintaan mu Nyonya." Ucap Anton tersenyum lebar dan kemudian meninggalkan Alice sendirian dengan kuenya dan pergi menuju kasir dimana etalase kue ada di sana.


Anton memesan dua potong kue lagi dengan berbeda rasa untuk menemani pagi Alice. Pria itu dengan tenang membawa dua potongan kue itu dihadapan Alice.


"Silahkan nyonya Hadi Jaya.." Goda Anton sambil meletakkan dua potongan kue itu di meja di hadapan Alice.


"Tentu.." Jawab Anton hangat dan kembali membersihkan coklat yang kini menempel di atas sudut bibir istrinya.


"Kau benar-benar berantakan memakannya sayang.. Aku jadi seperti melihat bocah kecil saat melihat mu memakan kue." Goda Anton lagi.


"Hentikan itu, aku benar-benar membutuhkan ini dan aku juga sedang lapar ini semua kan juga karena perbuatan mu.." Ucap Alice dan kembali memasukkan potongan kue itu dan mengabaikan ejekan suaminya itu.


"Ya.. Kau benar.. Itu semua karena perbuatan ku.. Jadi maafkan aku ya sayang.." Ucap Anton kembali menggoda Alice.


"Hmm.." Alice hanya bergumam dan kembali fokus kepada kue miliknya itu.


"Setelah ini bisakah kau menemaniku ke penjara?" Tanya Alice dengan wajah yang kini tampak serius.


"Tentu.. Kau ingin menemui siapa?" Tanya Anton heran.


"Billy.. Bagaimanapun pria itu pasti tahu siapa saja musuh besar keluarga Stary, karena bagaimanapun dia orang yang bekerja lama sepanjang hidupnya kepada Jhon.." Ujar Alice lagi.


"Ya.. Kau benar.. Namun sepertinya kita akan sedikit kesulitan untuk meminta bantuan pria itu lagi, dia pasti tidak akan mengabulkan keinginan mu karena semenjak dia membantu memeberikan kita informasi, pria itu belum mendapatkan sesuatu yang dia inginkan." Ucap Anton cepat.


"Hah? Benarkah? Memang apa yang pria itu inginkan?" Tanya Alice penasaran, sepertinya informasi ini dia belum tahu sama sekali.


"Huft.." Anton menghembuskan nafasnya panjang.


"Sesungguhnya pria itu mau membantu kita karena kita sudah berjanji akan mempertemukannya dengan Marina dan juga Belinda. Namun situasi sebelumnya sedikit tidak menguntungkan dan sedikit berbahaya belum lagi beberapa kasus tiba-tiba terjadi dan membuat rencana sedikit berantakan." Ucap Anton lagi.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo pertemukan Billy dan Marina agar kita bisa segera menyelesaikan kasus ini.. Bukankah Marina sudah di temukan? Aku aka. mencoba menjenguknya di ruangan lain di rumah sakit ini." Ucap Alice yakin.


"Baiklah jika itu mau mu, aku bisa membantu mu.. Tapi untuk keamanan, bawa beberapa anggota mu untuk mengawal Marina agar tidak terjadi kecolongan lagi." Saran Anton.


"Iya.. Aku mengerti.." Ucap Alice cepat dan kemudian gadis itu kembali menyuapkan kuenya kembali kedalam mulutnya karena tadi sempat terpotong oleh pembicaraan.


Alice sudah menyelesaikan memakan kuenya hingga potongan terakhir dan menyelesaikan minuman coklat hangatnya.


"Ini masih terlalu pagi untuk berkunjung bukan.." Gumam Alice sambil melihat arloji di pergelangan tangannya.


Ya.. ini masih pukul 06.00 AM dan tidak mungkin dia menjenguk seorang pasien pagi-pagi sekali seperti itu.


"He'em.. Kita bisa menunggu disini selama satu jam kedepan.. Kau bisa menghubungi kantor pusat di kota A mengenai semua ya g terjadi di sini.. Bukankah dari semalam kau belum melaporkan apapun.." Anton mencoba mengingatkan Alice untuk memberitahu Roy maupun Galih.


"Astaga aku lupa! Kalau begitu aku akan menghubungi mereka." Ujar Alice dan segera pergi dari kafe itu menuju toilet agar memiliki sedikit privasi dan tidak bising.


Anton hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.. Ya.. Semalam gadis itu ingin menghubungi Roy namun sepertinya dia lupa dan memilih akan menghubunginya di esok paginya namun karena keadaan darurat tadi pasti membuatnya kembali melupakan niat awalnya.


Alice memasuki sebuah bilik toilet wanita dan segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil miliknya.


Alice segera mencari kotak dengan nama Kak Roy dan dengan cepat menggeser ikon hijau untuk menghubungi pria itu.


Setelah deringan ke tiga panggilan itu tersambung..


"Alice..." Ucap suara di seberang sana terdengar sedikit khawatir.


"Maaf kak, semalam aku tidak sempat memeberikan laporannya secara langsung, tapi aku yakin beberapa orang pasti sudah memberikan hasil laporan kepada mu kak.." Ucap Alice cepat.


"Ya.. Aku sudah menerima laporan.. Tapi aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba tugas menjadi di bawah kendali mu? Bukankah semua seharusnya di bawah kendali Juna?" Tanya Roy lagi tidak mengerti bagaimana situasinya secara detail.


"Kau masih sakit bukan? Kapan kau tiba di sana dan malah menyelesaikan tugasnya." Rentetan pertanyaan yang Roy berikan membuat Alice memijat kepalanya pelan.


"Tenang kak.. Satu satu pertanyaannya.. Biar aku jelaskan satu persatu saja ya.." Ucap Alice akhirnya.


"Baiklah.. Aku mendengarkan.." Ucap Roy dan terdengar nada suaranya sudah lebih tenang.


"Aku kemarin siang sampai.. Tadinya aku hanya ingin membantu menyelesaikan tugas kak Juna, namun sesuatu hal terjadi.. Kak Juna mengalami kecelakaan dan kita hilang kontak dengannya.. Untuk menghindari hancurnya sistem dan pengaturan sebelumnya, aku jadi yang mengambil alih semuanya dan terus melakukan tugas seperti yang di rencanakan sebelumnya." Jelas Alice.


"Kami sudah menangkap Jhon beserta salah satu anak buahnya, selain itu kami juga sudah menemukan Marina yang di sekap di rumahnya di kota F. Kak Juna mengalami kecelakaan dan dia sedang di rawat di rumah sakit di pusat kota F." Jelas Alice lagi.. Namun belum sempat Alice menjelaskannya lebih lanjut, Roy sudah memotong ucapan Alice.


"Apa? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Juna?" Rentetan pertanyaan kembali di ucapkan Roy.


"Tenang kak Roy.. Kak Juna keadaannya saat ini sudah siuman, Kak Laristha yang menjaganya di kota F. Kak Juna kecelakaan mobil dan terhempas dari mobilnya yang masuk kedalam rawa dan meledak. Untunglah kami segera menemukannya. Saat ini semuanya dalam kondisi baik." Jelas Alice lagi.


"Syukurlah.." Terdengar nada lega dari ucapan Roy.


"Untuk sementara mungkin kak Juna tidak bisa melakukan aktifitas berat, tangan kanannya patah untungnya tidak perlu di lakukan operasi. Situasi di sini aman terkendali.. Jhon yang sudah di tangkap karena mencoba melarikan diri dengan melompat keluar lantai empat mengakibatkan kedua kakinya terluka, dan mendapatkan perawatan di rumah sakit kepolisian dan dalam keadaan baik.. Namun saat pagi tadi tiba-tiba ada seseorang yang mencoba untuk meracuninya, untunglah tim medis segera bergerak dan memberikan pertolongan.. Namun kini kondisi Jhon tidak sadarkan diri dan di rawat di ruang ICU dan masih membutuhkan pemantauan." Jelas Alice pa jang lebar.


"Apa? Mengapa bertubi-tubi masalah datang silih berganti.." Gumam Roy dengan nada sedikit frustasi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2