JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Dunia milik berdua


__ADS_3

"Kau sudah membuat ku sulit Nona.. Dan lihat semua drama mu ini akan membuat ku juga kesulitan." Ujar Galih saat pria itu sedang berjalan hendak mendekati mobilnya.


"Maafkan tindakan impulsif ku.." Ucap Naira sambil menunduk menyesal.


"Haishh.. Ya sudahlah.. Kau nanti tinggal bicarakan jujur kepada orang tua mu sendiri mengenai hubungan kita.. Aku akan menyelesaikan masalah orang tua ku sendiri." Ucap Galih akhirnya.


"Maaf.. Sungguh aku tidak tahu bahwa mereka malah bersahabat dekat.. Bahkan Ayah ku langsung menelpon Ayah mu sesaat setelah sarapan itu." Ujar Naira menjelaskan keadaan situasi tadi saat di meja makan.


"Huft.. Sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.. Tohh sudah terjadi bukan.. Tinggal kau selesaikan bagaimanapun caranya memberikan pengertian kepada keluarga mu terutama Ayah dan Ibu mu.. Aku yakin kalau Juna pasti sudah mengerti dengan situasi kita.. Dia pasti tidak akan percaya jika aku sedang menjalin hubungan dengan mu." Jelas Galih lagi.


"Kenapa? Bahkan Kak Juna tidak berkomentar.. Bukankah dia percaya juga?" Bantah Naira.


"Tidak.. Dia hanya ingin melihat apa yang kau lakukan.. Dan sepertinya dia akan mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan sebelum kau terlalu banyak bersandiwara, Juna sudah tau kau berbohong saat kau bilang aku kekasih mu." Ucap Galih lagi.


"Tidak mungkin! Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kakak hanya diam saja." Ucap Naira masih tidak percaya.


"Aku mencintai orang lain dan Juna sangat tahu itu, jadi sudah pasti aku tidak akan menjalin hubungan dengan wanita manapun. Kau salah menggunakan ku sebagai tameng Nona.." Galih menghembuskan nafasnya panjang dan kemudian membuka pintu mobil dan segera masuk dan duduk di belakang kemudi.


Naira yang mendengar itu membelalakan matanya tidak percaya, jika kakaknya sudah tahu jika dia berbohong dari awal, mengapa kakaknya masih saja tidak menghentikan aksinya membohongi kedua orang tuanya? Apa sebenarnya yang kakaknya pikirkan?.


"Maaf bisa bergeser sedikit? Aku takut akan menyenggol mu.." Ucap Galih dingin dan meminta gadis itu agar bergeser dari mobilnya agar gadis itu tidak terluka.


"Ahh.. Maaf.." Naira bergeser kesamping dari tempat berdirinya semula.


"Aku pergi.. Selesaikan masalah yang sudah kau mulai.." Ucap Galih sebelum mobil itu benar-benar meninggalkan lapangan parkir yang ada di halaman rumah mewah itu.


"Aihh.. Naira. Bodohnya kau.. Bahkan kakak mu sendiri saja sudah tau kebohongan mu dan kini malah membuat masalah dengan kedua orang tua mu.. Aihh apa yang harus aku ucapkan ke mereka? Tidak mungkin aku bilang kami sudah putus begitu saja bukan? Aku harus bilang apa ke Ayah dan Ibu?" Rutuk Naira dengan kebodohannya sendiri membuat masalah. Gadis muda itu masih saja berdiri di lapangan tempat parkir sebelumnya dan tidak beranjak dari sana. Gadis itu sedang berpikir untuk menyelesaikan masalah yang sudah dia buat.


"Aihh sudahlah.. Tinggal bilang saja beberapa minggu kedepan aku sudah putus dengan alasan kami tidak cocok.. Ayah dan Ibu pasti akan mengerti.. Bukankah wajar jika anak muda melakukan putus dan nyambung dalam hubungan mereka.." Ucapnya yang kemudian mendapatkan sebuah ide.


"Yaa seperti itu saja.. Wahh Naira kau memang sangat pintar.." Pujinya kepada dirinya sendiri dan kemudian dengan senang hati masuk kembali kedalam rumah menemui kakak dan juga kekasih kakaknya itu.

__ADS_1


***


"Maya.. Ehh maksud tante Laristha bagaimana keadaan mu Nak? Sepertinya sudah lama ya kita tidak bertemu, syukurlah hubungan kalian kini sudah jelas ya.." Goda Nesrine yang membuat wajah Laristha bersemu merah.


"Iya tante.. Sebelumnya terima kasih karena tante sudah mau menjaga dan merawat saya sebelumnya bahkan saya masih belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung." Laristha sedikit tidak enak hati.


"Sudah tidak apa.. Tante melakukannya memang karena suka dan sedang senggang kok.." Ucap Nesrine menenangkan wanita itu.


"Ahh jadi kalian sebelumnya sudah pernah bertemu ya?" Tanya Arsenio heran.


"Iya Yah.. Ini loh yang Ibu bilang temannya Juna yang sedang sakit waktu itu.. Bu Mae yang membantu merawatnya selama beberapa minggu." Jelas Nesrine kepada suaminya Arsenio.


"Ohh begitu.. Maaf sebelumnya paman tidak bisa menjenguk, paman sedang ada di luar negeri.. Tapi tante selalu menceritakan tentang mu di telepon.. Tante mu ini selalu menceritakan semua perkembangan tentang mu pada paman.." Jelas Arsenio lagi yang sukses membuat Laristha tersentuh.


"Sayang sudah.. Ini sudah siang bukankah kau akan terlambat pertemuan?" Nesrine mengingatkan suaminya Arsenio mengenai jadwal pria itu.


"Ahh benar juga.. Jun, Laristha.. Ayah berangkat dulu ya.." Ucap Arsenio dan memeluk anak sulungnya itu dan kemudian mengusap kepala Laristha lembut.


"Mereka sangat harmonis.." Ucap Laristha saat melihat kepergian Nesrin dan juga Arsenio.


"Hemm.. Kita juga bisa seperti itu jika kau ingin.." Goda Juna yang sukses langsung mendapatkan cubitan dari Laristha di perut pria itu.


"Awh.." Ringis Juna saat mendapatkan sentuhan tangan yang terasa panas dan sakit di bagian perutnya.


"Ini karena kau yang menggoda ku duluan.." Ucap Laristha ketus namun raut wajah wanita itu sedikit merona.


Juna tersenyum melihat sisi wanitanya yang dahulu perlahan lahan mulai kembali lagi..


'Aku tidak akan pernah membiarkan mu bersedih ataupun terluka lagi.. Aku akan selalu ada di samping mu menjaga dan melindungi mu.' Batin Juna sambil menatap kedalam mata kekasihnya itu.


***

__ADS_1


Disisi lain Anton dan juga Alice kedatangan tamu Bram dan Lidia yang menjenguk gadis itu.


"Kalian sudah sarapan Nak?" Tanya Lidia dan melanjutkan ucapannya, "Ibu membawakan beberapa sarapan siapa tau kalian bosan dengan masakan khas rumah sakit.. Kalian makanlah yang banyak, ibu sudah berkonsultasi dengan dokter mu Al dan semua ini baik untuk pemulihan mu." Jelas Lidia lagi sambil meletakkan beberapa makanan di atas meja makan ruang perawatan Alice.


"Baik Bu.. Terima kasih.." Ujar Alice dan gadis itu ingin bangkit dari ranjang namun tangannya di tahan oleh Anton.


"Kau duduk saja.. Biar aku yang ambilkan." Ucap Anton mencegah Alice bangkit dari duduknya di ranjang pasien.


"Aku bisa sendiri.. Perut ku sudah tidak sakit lagi.." Tolak Alice. Gadis itu tidak ingin diperlakukan seperti orang sakit.


Anton tidak mendengarkan penolakan Alice dan pria itu memilih bangkit dari duduknya di kursi di samping Alice dan berjalan mendekati meja makan.


"Sudah.. Kau istirahat saja di sana Al.. Bukankah lebih banyak istirahat bisa lebih cepat membuat mu pulih.. Dengarkan saja suami mu itu." Ucap Lidia mendukung Anton.


"Baiklah Buu.." Ucap Alice dan kembali duduk bersandar di kasur yang sudah di setting setengah duduk.


Anton dengan sigap membawa beberapa makanan dalam porsi banyak dalam satu piring dan mendekati ranjang Alice.


"Banyak sekali?" Tanya Alice bingung saat melihat porsi yang sangat banyak di bawa kehadapan gadis itu dan meletakkan makanan itu di atas meja yang didekatkan ke ranjang Alice.


"Aku juga lapar.." Ucap Anton dan segera menyendok makanan itu dan menyodorkan makanan itu tepat kedepan mulut Alice.


"Tunggu Anton.. Aku bisa makan sendiri.." Tolak Alice karena malu di depan kedua orang tua pria itu.


"Tidak aku mau menyuapi mu.." Tolak Anton dan masih setia menunggu Alice membuka mulutnya.


Alice sedikit melirik kearah Lidia dan Bram dan bahkan kedua pasangan berumur itu keduanya sedang makan dalam satu piring berdua juga.. Bram dengan telaten menyuapi istrinya dan sesekali mereka berbicara dan juga bersenda gurau.


"Ahh kau malu kepada mereka? Mereka tidak akan menghiraukan kita.. Mereka juga sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri." Ucap Anton dan kembali menggerakkan sendoknya mendekati mulut Alice dan gadis itu dengan patuh membuka mulutnya dan melahap makanan yang di berikan suaminya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2