
Saat Alice sampai di parkiran mobilnya, dia melihat puluhan telepon tak terjawab dan pesan dari Galih. Kemudian dia menggunakan earphonenya dan menelpon Galih, dan dia menjalankan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit.
“Alice ke mana saja kau? Aku khawatir, Bu Ani dan Pak Aryo bilang tadi ada seorang wanita datang ke toko dan melabrakmu dan datang seorang pria setelah itu ada ceceran darah juga di lantai. Tadinya aku akan pergi ke rumah sakit, namun aku khawatir itu malah akan membuat target curiga. Jadi aku menahan diriku dan aku masih diam di depan toko mu.” Ucap Galih panjang lebar.
“Ohh baiklah, aku akan pulang ke toko sekarang.” Ucap Alice dan menutup telponnya.
Beberapa saat Alice sudah tiba di depan tokonya, dia melihat mobil kuning itu di parkiran depan tokonya.
“Astagaaa Al tak bisa kah kau bicara atau jelaskan apapun itu, kau hanya bilang oh dan menutup telepon ku. Kau tau aku sangat khawatir kepada mu.” Papar Galih panjang lebar sesaat Alice keluar dari mobilnya.
“Kau berisik. Aku tadi kan di jalan, aku bisa menjelaskannya di dalam. Masuklah.” Ujar Alice santai sambil jalan menuju ke dalam rumah.
“Duduklah dahulu.” Ucap Alice sambil pergi ke dapur dan mengambil dua botol minuman dari dalan kulkas, satu dia serahkan di atas meja untuk Galih. Kemudian Al duduk di sofa di samping Galih dan menyesap minumannya.
“Tadi siang Zeline datang melabrakku, wanita itu ingin menamparku namun Johan datang kemudian dan melindungiku. Itu membuat wanita itu marah dan hendak memukulku dengan Vas namun Johan melindungiku dan dia cedera, dislokasi bahu dan terdapat luka sobekan di lengan atas kanannya.” Jelas Alice mengenai kejadian siang tadi.
“Dan saat dia masih dipengaruhi obat, aku membuat ini.” Alice menyerahkan kedua pass card kepada Galih.
“Aku sudah menjalankan tugas ku, sekarang tinggal tugasmu.” Ucap gadis itu.
“Kau benar tidak apa-apa kan Al?" Ucap Galih khawatir.
“Aku tidak apa-apa, hanya seorang wanita bukan singa betina.” Ucap Alice menenangkan Galih.
“Astaga kau ini.” Ucap Galih tak habis pikir bahwa gadis ini masih bisa bercanda dengan menyamakan Zeline dengan singa betina yang bisa dia jinakan.
“Tunggu dahulu, ini 2 kartu. Ini milik Johan?” Tanya Galih baru menyadarinya.
“Iya satu kartu, kartu pass Tiger Woods dan satunya lagi Black Phanter.” Jelas Alice.
“Apa? Black Phanter? Kau yakin itu Al? kita harus segera menghubungi Roy dan Juna.” Ucap Galih dan dia segera menelpone keduanya.
“Mereka menyuruh kita ke markas sekarang untuk memastikannya.” Ucap Galih setelah beberapa saat lalu menghubungi kedua bos sekaligus kedua sahabatnya.
“Oh baiklah, tetapi aku akan mandi dan ganti baju dahulu.” Ucap Al dan segera bergegas ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, bagaimanapun juga dia sudah tidak nyaman menggunakan pakaian itu seharian ini.
Alice dan Galih sudah sampai di perusahaan mereka dan segera masuk ke ruang meeting khusus. Di sana sudah ada Roy dan Juna. Mereka segera duduk di kursi di ruangan itu
“Aku mendapatkan 2 pass card yang mencolok perhatian di dalam dompetnya Johan target kita, satunya Tiger Woods dan satunya lagi Black Phanter.” Ujar Alice menjelaskan kepada kedua orang itu.
“Aku akan mengeceknya ke dalam sistem yang ku buat.” Ucap Galih dan mulai dengan berbagai perangkat computer di depannya dia tampak serius.
“Benar aku sudah mengecek semuanya. Satu kartu pass Tiger Woods ini adalah kartu Anggota yang dimiliki Johan dan dia sudah bergabung sejak 2tahun yang lalu, dan untuk kartu yang satu ini, ini adalah kartu pass untuk undangan di acara kapar pesiar itu. Ini bukan kartu pass anggota mereka, ini sebagai kartu undangan untuk anggota di luar Black Phanter.” Papar Galih kepada rekan-rekannya.
__ADS_1
“Adakah kemungkinan Black Phanter berkerja sama dengan Tiger Woods dalam pengedaran narkoba ini?” Tanya Alice tiba-tiba.
“Tidak mungkin. Biasanya Black Phanter tidak akan menginjakkan kakinya dalam hal pengedaran narkoba meskipun mereka adalah mafia yang kejam, mereka masih memiliki prinsip dari awal pendiri mereka. Mereka hanya menyediakan barang-barang antic ataupun senjata yang langka selain itu mereka juga memilih kliennya dengan teliti, tidak sembarangan orang bisa bekerja sama dengan mereka. Berbeda denga Tiger woods yang menghalalkan segala cara dan tidak memiliki etika dalam hal ini. Namun aku dengar 2 tahun ini Black Phanter sudah mengganti kepemimpinannya di karenakan suatu alasan dan aku tidak tau apakah kepala pemimpinnya yang sekarang ini akan melakukan hal yang selama ini menjadi citra mereka atau mereka akan bekerja sama dengan Tiger Woods karena suatu alasan. Astaga ternyata masalahnya malah menjadi lebih rumit. Aku berharap dia tidak akan menjadi musuh yang tak terduga. Kita harus lebih memastikan semuanya.” Jelas Roy.
“Jun, lebih teliti dan perhatikan sekitar. Suruh mata-mata yang kau kirim lebih memperketat keamanannya dan jangan berhubungan jika tidak ada informasi yang penting.” Ujar Roy.
“Siap Pak.” Ucap Juna tegas.
“Galih, cari lebih banyak informasi mengenai mereka dan selidiki apakah mereka memang bekerja sama atau hanya sebatas kenalan antar gank.” Perintah Roy.
“Siap Pak.” Jawab Galih tegas.
“Alice, tetap ikuti dan pantau Johan. Apapun yang terjadi kau harus lebih mengutamakan keamananmu dan jangan ke markas dahulu hingga 'pesta' ini selesai.” Perintah Roy padanya.
“Siap Pak.” Jawab Alice.
“Baiklah semua bubar, selesaikan hal yang perlu kalian selesaikan.” Tutup Roy dan bergegas pergi dari sana.
Alice pergi menuju ruangannya dan menggambil barang-barang yang sebelumnya di berikan oleh Roy dan akan membawanya ke rumahnya di atas toko bunganya. Sedangkan Juna dan Galih kembali mengerjakan pekerjaan mereka sesuai intruksi Roy.
Alice sampai di rumahnya dan menyembunyikan barang-barang yang di berikan Roy di dalam lemarinya yang memiliki ruangan khusus yang tersembunyi. Kemudian Alice merebahkan dirinya dan tidur dengan cepat karena besok dia masih harus mendekati dan menemani Johan.
***
Tanpa terasa sudah lima hari berlalu, Alice menemani dan merawat Johan di rumah sakit, selain itu Al juga sempat datang ke ruang perawatan Tasya saat gadis kecil itu akan menjalankan oprasinya dan mengunjunginya kembali saat gadis kecil itu telah tersadar dari bius oprasinya yang berjalan lancar.
“Tenanglah Johan nanti sore kau sudah boleh pulangkan. Sabarlah sebentar.” Ucap Alice sambil tersenyum.
“Ohya aku akan pergi membeli makan siang dahulu, ada yang kau inginkan Johan?” Ucap Alice.
“Tidak, aku hanya menginginkan mu di sampingku saja Ara.” Ucap Johan sambil bercanda.
“Baiklah itu tandanya tidak, aku akan pergi sekarang.” Ucap Alice sambil beranjak pergi keluar kamar rawat Johan. Saat Alice memilih akan menaiki lift, dia menunggu di depan lift. Kemudian ada seseorang yang menepuk bahunya.
“Bisa kita bicara sebentar Ara?” Ucap pria itu. Pria itu tampak sangat tampan menggunakan kemeja biru langit dan celana bahan hitam. Rambutnya tampak lebih rapi, sepertinya dia habis memotong rambutnya dan wajahnya tampah bersih sepertinya dia juga mencukur jambangnya.
“Ahh Anton, tentu. Mau sambil makan siang? Di sini atau di luar?” Tanya gadis itu.
“Kita keluar saja, tak masalah kan?” Tanya dokter tampan itu.
“Tentu.” Ucap Ara dan mengikuti Anton menuruni escalator menuju mobil anton di parkir. Mereka berdiam diri selama di perjalanan menuju mall itu. Sepertinya Anton sedang memikirkan sesuatu.
“Silakan duduk.” Ucap Anton sambil menarik kursi duduk untuk Alice di restoran jepang yang mereka datangi sebelumnya.
__ADS_1
“Terima kasih.” Ucap Alice sambil tersenyum manis. Kemudian mereka memesan makanan yang sama seperti terakhir kalinya. Dan makananpun datang tak lama kemudian. Mereka membicarakan hal umum dan saling menanyakan kabar hingga Anton terlihat seperti sangat serius.
“Ada apa? Apakah ada hal yang terjadi pada Tasya?” Ucap Alice khawatir.
“TIdak semuanya baik-baik saja.” Jawab Anton.
“Ara, bolehkah aku bertanya hal pribadi kepada mu?” Tanya Anton meminta izin.
“Tentu. Astaga aku kira ada apa.” Ucap Alice lega.
“Ara, siapa Galih bagimu?” Tanya Anton serius.
“Ah, Galih adalah salah satu temanku, aku dan dia sudah saling kenal sekitar 5tahun yang lalu.” Jelas Gadis itu.
“Sepertinya pria itu tidak hanya mengganggap mu teman, benarkan?” Tanya Anton.
“Hemmm.. ya..” Ucap Alice lama.
“Lalu bagaimana perasaan mu padanya Ara?” Ucap Anton tanpa basa-basi.
“Saat ini aku hanya mengganggapnya sahabat, saudara tak lebih.” Ucap Alice, entah mengapa Alice tidak ingin Anton salah paham padanya.
“Lalu siapa pria yang menempati ruang melati kelas 1? Kalau tidak salah namanya Johan.” Ucap pria tampan itu.
“Ahh kau tau itu.” Ucap Alice.
“Ya aku tidak sengaja melihatmu ke ruangannya beberapa hari yang lalu. Ma'af.” Ucap Anton tidak enak.
‘Apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin Anton salah paham terhadap Johan, tetapi aku tidak bisa menjelaskannya bahwa dia adalah seorang target.’ Batin Alice.
“Emhh ahh dia saat ini teman ku, aku yang menyebabkannya cedera, sehingga aku membantunya untuk bertanggung jawab.” Jelas Alice.
“Sepertinya pria itu juga menganggapmu tidak hanya seperti teman bukan?” Tanya Anton.
“Emhh.. mungkin.” Ucap Alice ragu.
“Baiklah Ara, aku ingin jujur kepadamu, aku tertarik padamu saat ini, aku menyukaimu, aku tau ini mungkin terdengar aneh bagimu karena kita belum lama bertemu. Awalnya aku tidak menyadarinya, aku menyadarinya saat kemunculan Galih pertama kali kemudian aku lebih mempercayai perasaan ini saat aku melihatmu di dalam ruang rawat pria itu. Tetapi aku akan bicara jujur pada diri ku sendiri karena aku ingin mengejarmu, meski aku tau pasti aku memiliki banyak saingan nantinya. ” Ucap pria itu sambil sedikit tersenyum. Wajah Alice sedikit memerah, entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat.
“Bolehkan seperti itu Ara? Kau janji tidak akan menjauhi ku karena ini kan?” Ucap Antonius serius.
“Tentu tidak, aku akan seperti biasanya.” Jawab Alice.
“Baik kalau begitu berarti kau setuju aku mengejarmu, kau harus siap-siap ya jatuh cinta kepadaku.” Ucap lelaki itu penuh dengan percaya diri.
__ADS_1
“Ihh dasar PD banget kamu.” Keluh Alice dan lelaki itupun tertawa.
Bersambung...