
Tok tok tok.. Pintu di ketuk dari luar rumah Alice.
"Biar aku yang bukakan." Ucap Galih cepat melarang Alice yang akan berdiri. Pria itu beranjak berdiri dan pergi menuju pintu depan.
Hmmm Galih sedikit mengerutkan keningnya saat melihat sosok pria dari balik jendela sebelum membukakan pintu.
Ceklek terdengar suara pintu terbuka.
"Haih.. Kirain siapa.. Biasanya juga langsung masuk sendiri." Ucap Galih saat pintu di buka dan terlihat sosok Juna yang ada di balik pintu.
"Hehe biar kerasa kayak tamu di bukain pintu." Ucap Juna asal dan kemudian meringsek masuk kedalam rumah melewati tubuh Galih.
"Malam pak Galih.. Maaf menggaggu." Ucap Maya yang ternyata ada di belakang Juna tadi wanita itu sedikit kikuk saat melihat pria itu yang membuka pintu rumah Alice.
"Ahh.. Ohh.. Ya silahkan masuk." Ucap Galih jadi ikut sedikit kikuk dan kemudian menutup kembali pintu itu dan ikut masuk ke dalam rumah.
"Al.. Kamu tidak apa-apa?" Tanya Galih saat gadis itu melamun di depan makanannya.
"Ehh kak Jun.. Kapan datang?" Tanya Alice yang bingung tiba-tiba Juna muncul di depan wajahnya.
"Hadeh.. Dari tadi aku panggil-panggil loh.. Aku baru saja tiba kok sama Maya." Ucap Juna santai dan menunjuk kebelakangnya di mana Maya berada.
"Ahh begitu.. Maaf sepertinya aku sedang melamun.. Ahh Maya.. Kalian berdua sudah makan malam? Makan bersama yuk." Ajak Alice saat melihat Maya muncul di ruang makan tepat berada di belakang Juna.
"Terima kasih tawarannya Bu Al.. Saya sudah makan bersama Juna.. Ehemm maksud saya bersama Pak Juna." Maya membetulkan ucapannya.
"Tidak perlu seformal itu.. Panggil Alice saja jika di luar kantor.. Lagipula kakak lebih tua dari aku." Ucap Alice santai.
"Baiklah Alice.. Kamu tidak apa-apa Al?" Tanya Maya saat melihat mata Alice yang sembab dan hidungnya yang memerah.
__ADS_1
"Ahh.. Aku hanya flu ringan dan kurang tidur.. Tidak apa-apa." Ucap Alice berbohong.
"Kau masih belum menyelesaikan makan mu?" Tanya Galih yang tiba-tiba muncul di ruang makan.
"Aku sudah kenyang." Ucap Alice dan mendorong piring nasi dan ayam bakar yang masih banyak.
"Kenyang dari mana? Apa yang sudah kamu makan.. Makan sekarang atau aku suruh dokter memberikan infus nutrisi untuk mu!" Ancam Galih yang membuat Alice mengkerut san menarik kembali piring nasinya dan mulai memakannya.
"Kalian ikut makan juga sana temani dia biar sedikit mau makan dia.. Dia tidak mau makan dari siang.." Ucap Galih meminta Juna dan Maya duduk dan ikut makan juga.
"Baiklah-baiklah.." Ucap Juna mengikuti keinginan Galih dan duduk di meja makan itu. Pria itu memilih mengambil es campur yang ada di sana.
Sedangkan Maya mau tak mau mengikuti perintah Galih dan duduk di samping Alice. Wanita itu mengambil satu ice cream cup yang berada di atas meja makan.
Galih tersenyim melihat kedua orang yang baru muncul itu membuat Alice jadi mau makan lagi meski gadis itu tampak enggan. Galih mengambil nasi dan pecel lele dan kemudian memakannya dengan lahap.
"Kalian makan malam bersama kalian sudah jadian?" Celetuk Galih yang membuat Juna menyemburkan es buahnya yang sedang di minumnya. Sedangkan Maya yang memegang sendok untuk menyuapkan es creamnya dia tertegun sebentar.
"Hahaha.. Malang sekali nasib mu.. Kau terlalu banyak bermain-main sih selama ini, jadi wanita manapun tidak akan ada yang mempercayai omongan mu." Ucap Galih menyindir Juna.
"Bagus Maya.. Abaikan saja pria ini.. Biarkan dia membuktikannya dahulu.. Kalau perlu kau siksa dahulu dia baru kau terima." Ucap Galih memberi saran. Maya yang mendengar itu mengabaikan ucapan Galih dan memalingkan wajahnya malu.
"Hei!! Ucapan mu! Aku tidak pernah main-main ya sejak bertemu dengan dia! Kaukan tahu seserius apa aku mengerjarnya. Jangan buat dia berfikir untuk menjauhi bodoh! Teman macam apa kau malah senang membuat ku menderita!" Keluh Juna bersungut-sungut kesal.
Galih yang mendengar itu hanya tertawa dan Alice juga ikut menertawakan kelakukan kedua pria itu.
"Abaikan mereka berdua kak Maya.. Selesaikan saja makan mu." Ucap Alice yang melihat sepertinya Maya sedikit jadi tidak enak.
Alice menghabiskan nasi dan lauhannya. Gadis itu kemudian melanjutkannya dengan memakan ice cream cup dengan lelehan coklat.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan malamnya, mereka semua pindah ke ruang keluarga untuk menonton acara televisi. Sedangkan Alice izin pamit untuk membersihkan tubuhnya. Bagaimanapun wajahnya pasti sungguh tidak enak di lihat dengan bekas lelehan air mata dan wajah sembabnya.
"Maya.. Bisa tidak aku meminta bantuan mu." Ucap Galih serius saat Alice sudah pergi ke kamar mandi.
"Ya.. Tentu saja." Ucap Maya menyanggupi.
"Aku dan Juna piket malam.. Kami tidak bisa menemani Alice.. Bisakah kau menginap di sini untuk menemaninya.. Emhh maksud ku saat ini dia dalam kondisi sedikit tidak baik.. Tapi maaf aku tidak bisa menjelaskannya. Namun bisakah kau tinggal di sini menemaninya dahulu untuk malam ini?" Tanya Galih panjang lebar.
"Ya.. Tidak masalah.. Aku bisa menginap di sini jika Alice tidak keberatan." Ucap Maya langsung menyetujinya. Bagaimanapun misinya adalah melindungi gadis itu.
Beberapa saat kemudian Alice keluar dengan baju rumahan dan handuk yang melilit di rambutnya.
"Ehh.. Kemana Kak Juna dan Galih?" Tanya Alice saat melihat di ruang tamu hanya ada Maya seorang.
"Mereka ada piket malam.. Bolehkah aku menginap malam ini?" Tanya Maya langsung kepada gadis itu.
"Hemm.. Tentu saja boleh.. Kakak bisa tidur di kamar di sebelah sana. Kakak mau mengganti baju? Jika kakak tidak keberatan, kakak bisa memakai piyama ku." Tawar Alice dan gadis itu memberitahukan dimana letak kamar tamu berada.
"Ya.. Aku pinjam baju mu ya." Ucap Maya. Bagaimanapun wanita itu tidak memiliki persiapan untuk menginap. Dia perlu baju untuk tidur, tidak mungkin dia menggunakan dress untuk tidur, pasti akan terasa kurang nyaman.
"Hmmm.." Alice mengangguk dan segera masuk ke dalam kamarnya dan keluar beberapa saat kemudian sambil membawa pakaian di tangannya.
"Kakak bisa memakai ini." Ucap Alice menyerahkan piyamanya kepada Maya.
"Baiklah.. Aku mau membersihkan diri dahulu." Ucap Maya.
"Di dalam lemari sudah ada handuk dan semua keperluan lainnya kak.. Kakak bebas menggunakannya. Kakak bisa menggunakan kamar mandi di dalam ataupun di luar." Ucap Alice lagi memberitahukan letak kamar mandi luarnya.
Maya menggangguk dan kemudian masuk kedalam kamar itu kemudian membersihkan dirinya. Selesai mandi Alice dan Maya menonton televisi dan mengobrol di ruang tamu dengan menggelar karpet dan membawa bantal dan guling ke ruang tamu. Beberapa cemilan ringan dan minuman soda menjadi teman mengobrol mereka hingga tanpa terasa semalaman mereka mengobrol dan kemudian tertidur di ruang tamu.
__ADS_1
Bersambung....