
Alice dan Maya berdiri bersisian melindungi kelima gadis lainnya. Ingin rasanya Alice segera menyelesaikan mereka karena perbuatan mereka yang membuatnya sangat jengkel. Alice tahu ini pasti bukan pertama kalinya mereka melakukan hal semena-mena karena status sosial dan kekayaan mereka. Tapi jika dia benar-benar menghabisi mereka, bukankah mereka tidak akan pernah merasakan penderitaannya?
Alice memiliki ide lainnya. Hal yang paling buruk adalah penghakiman sosial. Baiklah dia akan melakukan sedikit pancingan untuk para pria tua itu.
"Tuan! Bukankah anda semua seharusnya malu dengan apa yang sendang kalian lakukan? Bagaiman jika istri dan keluarga anda tahu perbuatan yang kalian lakukan? Bahkan Anda adalah calon wakil rakyat." Ucap Alice tenang. Maya yang mendengar itu sedikit mengerutkan dahinya, apa yang di inginkan Alice saat ini.
"Heh! Tahu apa kau! Aku adalah orang terpandang di kota ini, bahkan aku adalah penguasa kota ini di masa depan. Apa lagi yang perlu aku takutkan? Bahkan meskipun kau melaporkan ku, kau tidak memiliki bukti dan jangan kau lupakan banyak yang mendukung di belakang ku. Jikapun aku tertangkap, mereka pasti akan segera membersihkan nama ku." Ucap pria itu sombong.
"Nona kecil.. Asal kau tahu uang dan kekuasaan adalah segalanya saat ini, sebentar lagi aku akan menguasai kota ini dan aku jadi lebih bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Selain itu aku memiliki banyak pendukung. Bukankah kalian seharusnya bangga jika bisa bersama ku?" Ucap pria itu sombong.
"Kemarilah jangan bermain-main lagi. Untuk hal yang tadi aku bisa memaafkanmu. Ayo kemarilah." Ucap pria itu lagi dengan wajah menjijikkan mendekati Alice dan memegang bahunya.
Alice mengangkat tangannya dan meletakkannya tepat di atas tangan pria tua itu yang berada di bahunya. Pria tua itu terasa di atas awang mengira Alice menyambutnya, namun sedetik kemudian dia merasakan nyeri pada tangannya karena Alice ternyata memutar tangannya hingga memelintir.
"Arghh.." Suara yang keluar dari mulut pria tua itu.
"Terima kasih atas informasi anda dan kemurahan hati anda untuk mengungkapkan hal itu. Bagaimana jika kita buktikan siapa saja orang yang berani mengeluarkan anda dari jerat hukum, akan di pastikan dia juga masuk ke dalam sel untuk menemani anda." Ucap Alice sinis dan kemudian menghempaskan tangan pria itu begitu saja.
"Kurang ajar! Pengawal masuk dan tangkap semua wanita itu! Bawa dan ikat mereka semua!" Perintah pria tua itu yang nampaknya sudah kehabisan kesabarannya.
Brak!!
Tiba-tiba pintu di terbuka dan masuk segerombolan pria bertubuh tegap dengan wajah dingin mengenakan seragam berwarna hitam layaknya seorang mafia.
"Heh biar kalian rasakan bagaimana rasanya tidak berdaya!" Ucap pria itu masih dengan arogansinya tersenyum sinis ke arah Alice dan para wanita lainnya.
Grep!!
__ADS_1
Para pria berbaju hitam itu dengan cepat menangkap dan memegang tangan para pria tua itu ke belakang tubuh mereka sendiri, tidak terkecuali pria tua yang dari tadi banyak bicara itu.
"Hei!! Tunggu apa yang kalian lakukan! Kalian salah, harusnya kalian menangkap para gadis itu!" Ucapnya kaget karena tidak mengira bahwa dialah yang di amankan oleh pria berbaju serba hitam itu.
Saat menoleh kepalanya kebelakang, dia baru menyadarinya bahwa dia tidak mengenali salah satu pria berbaju hitam itu.
"Tunggu!! Kalian bukan pengawal ku!! Kalian siapa? Kalian mau apa?" Tanya pria tua itu akhirnya menyadari situasinya.
Tiba-tiba seorang pria tampan mengenakan baju kemeja pendek berwarna oranye masuk dengan santai.
"Maaf, mereka adalah anak buah ku. Mereka hanya akan menuruti akan ucapan ku." Ucap pria itu datar.
"Hei tuan! Apa masalah mu! Lepaskan aku!" Ucap pria tua itu lagi.
"Kau di tangkap karena di duga telah melakukan banyak pelecehan dan kekerasan terhadap wanita." Ucap pria itu santai.
"Benar! Kami tidak bersalah! Kami yang di jebak oleh para wanita itu!" Ucap pria tua lainnya.
"Heh! Memalukan! Dari tadi kalian bersikap seperti dunia berada di bawah kaki kalian, sekarang kalian memelas dan berbicara seperti pengecut! Memalukan!" Ucap Alice dengan sinis memandang wajah para pria tua itu.
"Baiklah.. Bawa mereka semua ke kapal! Dan temukan pria itu!" Ucap Juna memerintahkan para pria berseragam hitam yang merupakan bawahannya.
"Siap pak!" Ucap mereka semua dan menyeret kelima pria tua itu dengan paksa. Dan mencari keberadaan pria yang sebelumnya mengantarkan Alice dan teman-temannya.
"Kalian bawa wanita-wanita itu kembali ke dermaga untuk jadi saksi." Ucap Juna lagi.
"Zara.." Ucap salah satu wanita takut dengan pria berbaju hitam itu dan mereka masih bersembunyi di balik punggung Alice dan Maya.
__ADS_1
"Tenang nona kami dari RJP." Ucap Juna dan memperlihatkan lencana kerjanya.
"Kau sudah aman. Kalian ikutlah dengannya nanti kalian akan di mintai keterangan sebagai saksi." Ucap Juna menjelaskan dengan baik dan memerintahkan dua orang pria berseragam hitam untuk menuntun kelima wanita itu.
"Tunggu! Kami tidak bersalah! Ini jebakkan!" Ucap salah satu pria tua itu dan masih terus meronta.
Hingga Juna memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk membungkam mulut pria itu. Bagaimanapun mereka masih ada misi lainnya, mereka tidak boleh membocorkan misi kali ini.
Para wanita masih salih berpandangan kemudian mereka mengangguk bersamaan.
"Baiklah kami akan ikut kalian" Ucap salah satu wanita itu percaya bahwa mereka sekarang telah selamat. Semua wanita itu menghembuskan nafasnya lega dan mengikuti pria berseragam hitam itu.
"Bagaimana situasinya?" Tanya Alice saat di ruangan itu hanya ada Maya dan Juna.
"Aku membawa kapal dan mereka akan langsung di bawa ke dermaga terdekat. Tenang saja sesuai permintaan mu, para wartawan sudah menunggu di dermaga terdekat. Mereka tidak akan bisa lolos lagi. Siapapun yang mencoba meloloskan mereka akan langsung masuk terjerat kedalam jeruji besi." Ucap Juna menenangkan Alice.
"Baiklah.. Ini rekaman semua tadi." Ucap Alice dan menyerahkan kalung yang dia pakai.
"Ohya bagaimana persiapan untuk nanti malam? Kau sudah memastikannya tidak akan ada seorangpun yang tahu dengan kejadian penyergapan ini bukan?" Ucap Alice memastikan lagi.
"Tenang tim utama masih di dalam belum bergerak. Dan seperti yang kau tahu kami bermain bersih. Tidak akan ada yang tahu misi kali ini, para wartawan juga sudah siap bekerja sama akan merahasiakan hingga misi nanti malam selesai. Semua dalam kendali." Ucap Juna lagi.
"Baiklah aku akan ke kamar ku. Aku mengantuk." Ucap Alice dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Bagaimana mungkin tidak lelah setelah seharian bekerja dan saat ini sudah pukul 02.00 AM. Sedangkan nanti malam dia masih harus menyelesaikan misi satunya lagi.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Juna kepada Maya saat kepergian Alice sudah tidak terlihat lagi dari sana.
Bersambung....
__ADS_1