
Setelah kepergian Amanda dan Sisilia, Alie mengambil ponselnya dan kemudian menghubungi seseorang dari kontak ponselnya. Panggilan langsung di angkat saat deringan kedua.
📞"Halo Gal.. Aku ada di Mall dekat rumah.. Kau mau makan malam di mall ini saja.?" Tanya Alice menawarkan.
📞"Ya.. Di sana saja.. Aku akan menuju kesana sekarang kau tunggu aku." Ucap Galih cepat kemudian mematikan ponselnya.
Alice memilih masuk ke dalam restoran cepat saji dan memesan es cream vanila dengan lelehan dan potongan selai stroberi dan kemudian duduk di dekat kaca agar dapat melihat beberapa orang yang berlalu lalang dengan bebas.
30menit kemudian ponsel Alice bergetar dan menunjukkan Id si penelpon yang masuk adalah milih Galih. Alice segera menggeser layar hijau dan mendekatkan ke telinganya.
📞"Hai Al aku sudah masuk mall, posisi mu di mana?" Tanya Galih saat panggilan itu baru saja masuk.
📞"Ah.. Aku ada di restoran cepat saji yang ada di lantai 3." Ucap Alice memberitahukan lokasinya berada.
📞"Ahh.. Sudah ku duga kau pasti di sini." Ucapnya dan mematikan ponselnya. Pria itu dengan tenang duduk di depan Alice.
"Jika kau tahu mengapa kau harus bertanya." Ucap Alice dan kembali menyendok es cream vanilanya.
"Hanya memastikan tebakan ku saja." Ucap pria itu.
"Mau dong aku haus." Ucap pria itu cepat.
"Ini es cream bukan minuman, beli saja di sana minumannya." Tunjuk Alice pada depan konter makanan ceoat saji itu.
"Sama saja.. Jika sudah masuk akan mencair juga. Aaaaaa." Pria itu dengan percaya dirinya membuka mulutnya lebar.
"Kau menggangguku makan." Ucap Alice ketus dan melanjutkan menyendok es cream ke dalam mulutnya.
"Ishh pelitnya.. Beri aku sedikit nanti aku akan menggantinya saat kita makan malam.. Akan aku ganti dengan desert yang kau sukai." Ucap Galih lagi.
"Tentu aku setuju.. Buka mulut mu cepat." Ucap Alice segera dan menyuruh Galih membuka mulutnya. Dengan menurut pria itu membuka mulutnya dan mendapatkan suapan es cream dari sendok gadis itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Galih penasaran.
"Bertemu dengan kak Amanda dan Sisil." Jelas Alice. Galih mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Buka mulut mu lagi.. Masih mau kan?" Ucap gadis itu memerintah.
Galih dengan menurut membuka mulutnya dan memakan es cream yang masuk kedalam mulutnya. Meski penasaran dengan pertemuan kedua menantu Hadi Jaya dengan Alice, namun saat melihat gadis itu ceria seperti biasa tanpa di buat-buat atau di paksakan. Galih tidak ingin memperpanjangnya dan hanya mengabaikannya saja. Yang terpenting sekarang gadis itu bisa tersenyum dan bahagia kembali itu sudah cukup untuknya.
"Kau sudah lapar belum?" Tanya Galih saat suapan es cream terakhir Alice sudah habis.
"Belum.. Jalan-jalan dulu yuk.. Tadi aku ada melihat beberapa barang yang menarik perhatian ku. Yuk jalan." Perintahnya dan Galih dengan setia mengekor di belakang gadis itu.
"Al.." Ucap Galih kemudian terputus.
"Apa?"
"Tidak ada kah tempat yang lainnya." Ucap pria itu kemudian terdiam lagi.
"Kenapa memangnya?"
"Emhh atau aku menunggu di luar saja ya." Ucap pria itu lagi sambil melihat lantai.
"Ha? Kenapa? Bukankah kau sudah sering melihat hal seperti ini? Namun kenapa kau grogi bagaikan anak usia belasan tahun." Ucap Alice tidak percaya dengan pria itu.
"Aihh.. Ini masalahnya berbeda." Ucap pria itu ambigu.
"Haih.. Aku biasa melihatnya di pakai seseorang, bukan di pajang sebanyak ini juga Al.. Hampir semua pengunjung toko ini memperhatikan ku bagaikan aku seorang pria hidung belang. Bisakah aku menunggu di luar saja?" Ucapnya memelas. Namun Alice sama sekali tidak menghiraukannya.
Toko yang mereka datangi adalah toko bernuansa pink dengan berbagai macam model pakaian dalam untuk wanita. Semua mata pengunjung maupun penjaga toko terpaku pada wajah tampan dan bertubuh kekar pria itu.
"Aihh. terseralah.." Ucap pria itu cuek dan sekarang lebih memilih memperhatikan Alice dari pada lantai.
"Gal ini lucu ya?" Ucap gadis itu memperlihatkan satu setel pakaian berwarna pink dengan gambar wajah babi dan terdapat kuping di kedua sisinya.
"Hahaha.. huft.." Galih yang melihat itu tertawa dan kemudian tersadar bahwa dia sedang ada di dalam toko dan langsung diam seketika.
"Pilihan mu memang unik Al." Ucap pria itu dan menahan tawanya.
"Ishh aku hanya lucu melihat ini.. Bukan untuk ku pakai." Kesal gadis itu.
__ADS_1
"Aku sudah dapat yang ingin aku beli. Kau ada sesuatu yang ingin kau beli?" Tanya Alice saat dia sedang berjalan di depan kasir dan akan melakukan pembayaran.
"Ha? Kau serius menanyakan ku apakah aku ingin membeli sesuatu di sini? Apakah kau pikir aku akan memakainya?" Tanya Galih tidak percaya.
"Haha maksud ku adalah barang di suatu tempat. Tidak mesti di toko ini. Jika adapun aku tidak akan mengomentarinya." Ucap Alice sambil terkekeh geli.
"Astaga.. kau pikir aku akan berubah saat malam hari menjadi Giana?" Ucap pria itu mendengus kesal.
"Hahah mungkin bisa jadi Gal." Ucap Alice yang tidak henti-hentinya tertawa sampai petugas kasir beberapa kali memanggilnya untuk memberikan paperbag dan kartu beserta kuitansi pembayarannya.
Anton yang mengambil barang-barang itu mendengus kesal dan menggelengkan kepalanya meski senyum terbit di kedua sudut bibirnya. Pria itu berjalan ke arak keluar toko yang kemudian di susul oleh Alice di belakangnya.
"Kau marah Giana?" Ucap Alice dan kemudian tertawa lagi.
"Aku hanya bercanda Gal.. Apakah kau marah?" Ucap Alice lagi namun tidak ada jawaban.
Galih berjalan lurus sampai ke sebuah toko pakaian pria dan kemudian memasukinya di ikuti oleh Alice di belakangnya. Pria itu kemudian masuk dan berjalan menuju etalase pakaian dalam pria.
"Sekarang gilaran mu.." Ucap Galih pelan seperti bisikan.
Alice yang mendengar itu tertawa dan tetap mengikuti Galih meski gadis itu tahu Galih pasti ingin membalasnya. Namun Alice dengan santai berjalan tenang dan mengikuti pria itu.
"Al.. Bagaimana ini menurut mu?" Ucap Galih menggoda Alice saat memperlihatkan sebuah model celana pria.
"Emhh menurtku itu terlalu biasa.. Bagusan ini Gal.." Ucap Alice mengambil model yang lain yang lebih unik seperti satu bentuk belalai gajah atau satu lagi bentuk tapak kaki unta.
Galih yang melihat itu membelalakan kedua matanya, Alice bukannya malu atau segan, gadis itu malah menggoda balik dirinya.
"Al.. Kau tidak malu atau segan gitu?" Tanya Galih bingung.
"Kenapa? Bahkan para pramuniaga di sini juga wanita.. Mengapa aku harus merasa segan atau malu? Jadi kau mau pilih yang mana yang ini atau ini?" Tunjuk Alice kepada Galih dengan kedua benda yang di pegang oleh kedua tangannya.
"Haishh.. Tidak ada!!" Ucap pria itu kesal dan meletakkan kedua benda di tangan Alice dan menarik tangan gadis itu keluar dari tempat itu.
"Sepertinya aku salah memilih tempat membalas dendam.." Gumam pria itu yang membuat Alice tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Terlalu dini untuk mu membalasku Gal.." Goda Alice di sela-sela tawanya.
Bersambung....