JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Persiapan


__ADS_3

Matahari pagi mulai menyinari ruang kamar perawatan Alice. Gadis itu baru saja selesai membersihkan dirinya dan saat ini sedang membereskan barang-barang di ruangan perawatannya.


Hari ini dia akan keluar dari rumah sakit dan pergi menuju ke kota X. Meski sedikit berat hati untuk meninggalkan Anton dalam kondisi sakit, gadis itu tidak ada pilihan lain untuk segera menyelesaikan masalah ini.


Alice berjalan ke luar dari kamarnya menuju ruang perawatan Anton.


"Selamat lagi sus.. " Sapa Alice saat melihat seorang suster sedang mempersiapkan air hangat untuk memandikan pasiennya.


"Pagi nona Alice.." Sapa suster hangat.


"Biar saya saja sus yang melakukannya untuk Anton." Ucap Alice meminta beberapa kebutuhan untuk membersihkan pria itu.


"Baik nona Alice.." Ucap suster dan memberikan beberapa perlengkapan untuk gadis itu.


Alice dengan cepat mendekatkan baskom air hangat dan membersihkan wajah Anton dengan kain waslap yang sudah di basahi oleh air hangat, gadis itu membersihkan tubuh Anton dengan telaten dan bercerita tentang banyak hal yang dia lakukan. Alice juga melakukan beberapa pijatan pada anggota gerak Anton untuk membantu merangsang pergerakan pria itu.


Setelah dia selesai membersihkan pria itu, Alice merapihkan kembali peralatannya. Alice menunduk dan menggenggam tangan pria itu lembut.


"Aku harus pergi mengurus sesuatu di kota X.. Aku tidak tahu kapan aku akan kembali.. Namun aku pasti akan segera kembali.. Aku harap di saat itu kau sudah bangun dari tidur mu.." Bisik Alice di telinga pria itu kemudian dia mencium tangan dan kening pria itu.


Alice pergi meninggalkan ruangan perawatan Anton tanpa menoleh kebelakang lagi.


"Kalian sudah siap?" Tanya Alice saat gadis itu melihat Galih dan Juna berdiri di depan ruang perawatan Alice.


"Ya.. Kita sudah siap.. Aku juga sudah membawa barang-barang mu ke dalam mobil dan aku juga sudah mengurus surat kepulangan mu dari rumah sakit." Jelas Galih.


"Ya sudah ayo kita berangkat ke bandara." Ucap Alice dan di angguki Galih.


"Kalian duluan saja ke bawah.. Aku sebentar lagi menyusul." Ucap Juna meminta sedikit waktu.


Alice dan Galih berjalan beriringan menuju lantai dasar, sedangkan Juna berdiri di depan ruang perawatan Maya.


Tok tok pintu kamar perawatan Maya di ketuk dari luar.


"Masuk.." Ucap Wanita itu.


Galih menggeser pintu itu dan masuk ke dalam. Maya tampak segar dengan duduk bersandar di ranjang setengah duduknya. Sepertinya dia sudah di mandikan dengan bantuan perawat di sana.

__ADS_1


"Pagi.. Kau sudah sarapan?" Tanya Juna dan mendekati wanita itu.


"Sudah.." Ucap Maya singkat.


"Seperti yang aku jelaskan kemarin, aku akan pergi ke kota X bersama Alice dan Galih untuk beberapa hari. Jika kau membutuhkan sesuatu, nanti akan ada seorang yang akan datang membantu mu. Kau minta saja langsung kepadanya apapun itu jangan sungkan." Ucap Juna mengingatkan wanita itu.


"Kau tidak perlu melakukan itu.. Aku bisa sendiri." Ucap Maya tidak enak.


"Tidak ada penolakkan.. Kau masih sakit dan membutuhkan bantuan.. Dia bisa membantu mu dan menemani mu ketika aku pergi.. Tugas mu hanya satu, segera pulih." Ucap Juna tegas.


"Baiklah terima kasih.." Ucap Maya akhirnya mengalah.


"Aku pergi sekarang." Ucap Juna.


Sebelum beranjak pergi, pria itu sedikit mengacak rambut Maya lembut dan kemudian pergi meninggalkan wanita itu sendirian di ruang perawatannya.


"Aku pasti akan merindukan mu.. Tapi aku jadi tidak perlu khawatir karena Bu Mae akan menjaga mu dengan baik untuk ku.." Gumam Juna dan segera masuk ke dalam lift menuju lantai dasar.


Flashback On


"Pak Yoyok.. Bu Mae di mana ya?" Tanya Juna cepat saat melihat pria tua di depannya.


"Istri saya ada di dapur den.. Ada apa ya?" Tanya Yoyok bingung melihat tuan mudanya tergesa-gesa mencari istrinya.


"Saya ingin meminta bantuannya untuk menjaga seorang rekan kerja saya. Saat ini dia sedang di rawat di rumah sakit." Ucap Juna kepada pria tua itu.


"Ahh begitu.. Mari saya antar ke dapur den." Ucap Yoyoj dan mengantar tuan mudanya menemui istrinya.


"Bu Mae.. Saya bisa minta tolong?" Ucap Juna saat pria itu sudah berdiri di depan wanita yang lebih tua darinya.


"Iya den.. Ada yang bisa saya bantu.." Ucap Mae sedikit bingung dan takut tentang sesuatu hal itu.


"Begini, ada rekan kerja saya saat ini dia sedang di rawat di rumah sakit, beberapa hari ke depan saya harus bekerja ke luar kota dan dia tidak memiliki keluarga di kota ini. Saya sedikit khawatir jika dia akan membutuhkan sesuatu. Jadi bolehkah saya minta tolong bu Mae untuk menjaganya selama saya tidak ada." Jelas Juna panjang lebar kepada sepasang suami istri itu.


"Saya sih tidak keberatan den.. Tapi seharusnya aden tanyakan dahulu ke nyonya besar." Ucap pasangan suami istri itu.


"Ahh iya.. Saya lupa.." Ucap Galih menepuk jidatnya lupa akan hal penting itu.

__ADS_1


"Bagus ya.. Pulang-pulang yang langsung di cari bu Mae bukan ibunya sendiri.. Padahal kamu udah jarang banget pulang dan sekalinya pulang ibunya selalu di bekangkan." Ucap suara seseorang yang ternyata ada di salah satu kursi meja bar di sana.


"Ehh ibu.. Enggak gitu juga kok bu.. Juna tetep kangen dan sayang ibu.. Cuma ini sedikit lebih darurat bu.." Ucap Juna yang langsung menghampiri ibunya dan memeluk tubuh tua yang sedang merajuk itu.


"Heh.. Ada maunya langsung manja-manja." Ucap wanita itu masih kesal dengan kelakuan anaknya.


"Bu.. Maaf Juna sedikit sibuk.. Besok Juna harus keluar kota untuk beberapa hari.. Ibu jangan marah lagi ya? Ibu tidak rindu dengan Juna." Ucap Juna yang masih membujuk ibunya agar tidak marah lagi.


"Baiklah-baiklah ibu tidak marah lagi.. Tapi siapa wanita yang kamu bilang? Dia kekasih mu?" Tanya wanita itu penasaran.


"Bukan bu.. tapi teman kerja." Ucap Juna.


"Teman kerja tapi kamu buru-buru datang dan meminta bu Mae untuk membantu wanita itu? Mengapa kamu ingin repot-repot seperti itu jika dia hanya teman biasa." Ucap ibunya tidak percaya.


"Baiklah ibu benar.. Dia wanita yang aku suka, tapi wanita itu masih menganggap Juna temannya. Juna tidak memiliki orang yang bisa Juna percaya untuk merawatnya selain Bu Mae." Ucap Juna menjelaskan.


"Hemm baiklah.. Ibu izinkan bu Mae untuk menjaganya." Ucap ibunya memberikan izin.


"Benarkah? Terima kasih banyak ibu.." Ucap Juna bahagia dan mengecup kedua pipi ibunya.


"Bu Mae dan pak Yoyok tidak keberatankan?" Tanya Juna menoleh kepada pasangan suami istri itu.


"Tentu tidak den.." Ucap pasangan suami istri itu kompak.


"Baiklah nanti aku akan minta Yoga mengantar kalian ke rumah sakit dan memberitahukan ruangannya. Sekarang Juna harus pergi dahulu Bu.. Urusan kerjaan Juna masih belum selesai untuk besok." Ucap pria itu cepat.


"Haihh baru bertemu sudah ingin pergi lagi.. Ya sudah sana pergi.. Jika waktu senggang pulang ke rumah Ayah dan Adik mu sudah rindu." Ucap ibunya dan di angguki oleh Juna.


"Siap bu.. Sekarang Juna pamit ya bu.. Bu Mae, pak Yoyok." Ucap Juna dan mengecup kedua pipi ibunya dan mencium punggung tangan ibunya.


"Ya hati-hati nak."


Juna dengan cepat bergeges menuju mobilnya untuk kembali ke RJP dan menyelesaikan pekerjaan yang akan di tinggalkannya beberapa hari kedepan.


Flashback Off.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2