
"Bagaimana keadaan Juna?" Tanya Anton saat pria itu baru saja selesai mengganti baju basahnya dengan pakaian kering di salah satu toilet rumah sakit.
"Juna sudah mendapatkan perawatan.. Doker bilang tangannya patah dan perdarahan di punggungnya sudah di tangani. Untunglah tidak ada luka bakar di tubuh Juna." Jawab Alice cepat.
"Syukurlah tidak ada luka yang serius.. Biarkan dia beristirahat.. Bukankah kalian juga perlu berganti pakaian dan beristirahat? Kalian pergilah aku akan menemani Juna hingga dia sadar." Ucap Anton lagi.
"Tidak.. Biar aku saja yang menjaganya.. Aku akan mengganti pakaian dan membawa beberapa pakaian juna kesini." Ucap Laristha memotong ucapan Anton.
"Baiklah jika begitu.." Anton tidak bisa menolak keinginan Laristha untuk menjaga kekasihnya yang sedang terluka itu.
"Sayang bagaimana dengan mu?" Tanya Anton.
"Aku akan menemani kak Laristha untuk mengambil pakaian kak Juna dan setelah itu aku akan kesini lalu pergi ke kantor pusat untuk memberikan laporan." Jawab Alice.
"Aku yang akan mengantar mu ke kantor nanti.. Kau temani saja Laristha mengambil pakaian dan keperluan yang lain." Ucap Anton dan Alice mengangguk mengerti.
Alice menemani Laristha ke Penthouse milik Roy yang menjadi tempat tinggal Juna di kota X itu dan mengambil beberapa pakaian dan keperluan lainnya milik pria itu.
"Maaf merepotkan mu.." Ujar Laristha saat gadis itu sudah mengepak beberapa pakaian untuk Juna.
"Kak Juna juga keluarga ku.. Kau tidak perlu berterimakasih apapun kepada ku." Ucap Alice sambil memeluk tubuh Laristha hangat. Menenangkan dan menguatkan wanita itu.
"Hem.. Sungguh.. Aku sangat ketakutan saat aku melihatnya seperti itu tadi, aku hampir berfikir dia akan meninggalkan ku untuk selama-lamanya.. Syukurlah Tuhan masih menyayangi ku, dia masih ada di sini untuk ku.." Laristha akhirnya mengeluarkan semua sesak di dadanya kepada Alice.
"Ya.. Semuanya akan baik-baik saja kak.. Semua akan baik-baik saja.." Ucap Alice sambil memeluk tubuh Laristha dan menenangkan wanita itu yang masih menangis dan terisak.
Beberapa saat setelah Laristha sudah tenang, Alice dan juga Lariatha membersihkan dirinya dan kembali ke rumah sakit.
"Kalian sudah selesai?" Tanya Anton saat melihat Laristha masuk kedalam kamar ruang perawatan dengan menarik koper kecil dan meletakkannya di depan lemari kecil yang ada di kamar itu.
"Iya kami sudah selesai.. Terima kasih sudah menjaganya Tuan.. Selanjutnya biar saya saja yang menjaganya." Ucap Laristha sopan.
"Baiklah kalau begitu.. Kami pergi dahulu.." Ucap Anton dan Alice dengan sigap mengikuti Anton pergi keluar dari ruang perawatan itu.
"Aku akan memberikan laporan ku.. Tidak apa-apakan kita ke kantor pusat dahulu?" Tanya Alice lagi untuk memastikan Anton bersedia untuk menunggunya.
__ADS_1
"Iya aku paham.." Jawab Anton dan merangkul istrinya itu sambil berjalan menelusuri koridor rumah sakit sampai tempat parkiran mobil yang Alice parkir tepat di samping pintu masuk rumah sakit.
Anton membukakan pintu mobil untuk Alice dan kemudian gadis itu masuk kedalam mobil, Anton kembali menutup pintu mobil itu untuk Alice dan berlari kecil hingga sampai di pintu lainnya dan membuka pintu itu dan kemudian duduk di belakang kemudi.
"Sudah siap?" Tanya Anton memastikan kepada istri kecilnya itu.
"Sudah.. Yukk.." Jawab Alice singkat.
"Baiklah.." Ujar Anton lalu mengemudikan mobil Alice keluar parkiran rumah sakit dan masuk ke jalur jalan besar. Pria itu masuk kedalam jalur utama menuju pusat kota X.
Sesampainya mereka di kantor pusat RJP, Alice langsung keluar dari mobil itu dan memasuki gedung utama RJP di pusat kota X.
"Bu.." Sapa salah satu staf hormat dan mempersilahkan Alice menggunakan lift dan mengantarkan gadis itu menuju ruang rapat.
"Maaf saya terlambat.." Ujar Alice saat memasuki ruangan rapat itu dan duduk di kursi yang berada di ujung meja. Beberapa orang sudah duduk di kursi masing-masing yang merupakan meja berbentuk oval yang besar.
"Bagaimana situasinya? Bagaimana dengan keadaan Jhon dan pria yang di tangkap bersama Jhon itu?" Tanya Alice langsung to the point.
"Pemuda itu mengaku bahwa dia hanya supir pengganti saja.. Dan kami memang sudah memeriksa bukti pesanan yang memang terekam di kantor penyedia supir lepas itu. Lalu untuk pembuktian pria itu di ancam untuk melarikan diri dari lokasi sebelumnya hingga terjadinya kecelakaan dengan Pak Juna, ada rekaman suara di dalam mobil yang tertangkap yang memang memperdengarkan bahwa pemuda itu melakukannya atas suruhan Jhon di bawah tekanan todongan pistol." Jelas salah satu pria yang sudah memeriksa semua barang bukti maupun kesaksian dari tersangka.
"Jhon kini masih di rawat di rumah sakit pusat kota X Bu.. Dia mengalami patah tulang di kedua kakinya. Para petugas juga sudah berjaga di depan ruang perawatannya sehingga tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam sana." Jelas pria lain yang melaporkan keadaan situasi yang dia tangani.
"Baiklah jika begitu.. Jaga keamanannya bagaimanapun kita tidak ingin kehilangannya lagi untuk kembali kabur bukan.. Yang lainnya tetap kepada tugas masing-masing cari semua bukti keburukannya agar memberatkan tersangka. Lalu bagaimana dengan kaki tangannya Marina dan juga Belinda?" Tanya Alice lagi.
"Bu Marina di temukan sedang di sekap di dalam sebuah gudang dibawah tanah di dalam rumahnya di kota F. Kondisinya sedikit lemah dan tidak berdaya, wanita itu sedang mendapatkan perawatan di lantai lain rumah sakit itu. Sedangkan untuk Belinda yang sebelumnya berputa-pura memiliki gangguan kejiwaan kembali mendapatkan dakwaan dan di lepas dari rumah sakit jiwa dan mendapatkan hukuman penjara sesuai dengan perbuatan jahatnya yang mencoba untuk melakukan pembunuhan berulang." Jawab salah seorang pria yang menangani kasus lainnya yang saling berhubungan itu.
"Baiklah kalau begitu tetap pantau semuanya dan laporkan kepada ku jika terjadi sesuatu apapun itu. Untuk sementara semua kasus ini aku yang akan menanganinya dan sebagai penanggung jawabnya." Ucap Alice tegas.
"Baik Bu.." Ucap semua orang di dalam ruangan itu tegas.
"Baiklah untuk saat ini rapat kita akhiri sekarang.. Kalian bisa kembali melakukan tugas kalian lagi.." Ujar Alice dan membubarkan rapat itu.
"Baik Bu.. Kami permisi.." Ucap semua yang ada di dalam sana dan satu persatu mulai keluar dari ruang rapat itu.
Alice kembali menyandarkan punggungnya di kursi dan sedikit memijat keningnya. Dia sedikit tidak mengerti dengan prilaku Jhon Markus dimana seorang suami tega mengurung istrinya di dalam penjara bawah tanah dan yang buruknya wanita itu di perlakukan buruk dengan tidak di beri makan dan di abaikan hingga lemas dan terluka.
__ADS_1
Belum lagi anak yang dia besarkan selama ini malah dia buat seperti seorang boneka memperalat anaknya itu untuk melakukan tindakan buruk dengan memberikan racun yang tidak berbau dan berwarna untuk kedua kakek dan kakek buyutnya agar kekayaannya bisa dimiliki oleh menantunya yang tidak langsung akan di miliki oleh anaknya, bahkan tega membuat skenario mengenai kecelakaan kedua orang tua Alice yang sudah menganggap keluarga itu sebagai keluarganya sendiri.
Sungguh ironis semua kejadian ini.. Padahal sebelumnya kedua keluarga ini keluarga Stary dan Baskoro tampak harmonis dengan beberapa kerja sama yang erat di masa lampau. Dan kini malah kehancuran yang terjadi dalam keluarga Stary akibat perbuatan kelicikan mereka untuk mendapatkan harta.
Sungguh Alice sedikit tidak mengerti bagaimana bisa moral yang sangat dangkal hanya demi sebuah kekuasaan yang memang bukan hak mereka. Dan kini mereka harus membayar semua perbuatan mereka di mata hukum.
Alice menghembuskan nafasnya panjang dan menarik nafasnya perlahan dan kembali menghembuskan nafasnya perlahan, "Aku tidak ingin pembalasan dendam yang akan membuatku terpuruk dan terperangkap oleh lingkaran setan itu.. Aku tidak ingin menyiksa diri ku sendiri dalam pembalasan dendam itu.. Lebih baik aku melepaskan semua dendam yang membelenggunya dan menikmati nikmat atas kehidupan yang telah tuhan berikan.." Alice kembali menghembuskan nafasnya panjang gadis itu sudah memutuskan untuk melepaskan seluruh dendamnya dan dia berharap seluruh hal yang terjadi di dalam keluarganya sudah cukup merasa puas dengan keputusan yang dia ambil.
"Aku setuju.. Aku akan mendukung semua keputusan mu istri ku." Ujar Anton yang tiba-tiba muncul di belakang kursi Alice.
Yaa.. Ternyata pria itu sudah tiba di ruangan itu bahkan saat Alice sedang menyandarkan punggungnya tadi dan kemudian menggumamkan sesuatu. Sepertinya istrinya itu terlalu memikirkan hal itu hingga tidak sadar bahwa dirinya sedang berada di dalam ruangan itu.
"Anton, sejak kapan kau ada disini?" Tanya Alice heran.
"Sejak seluruh anggota mu keluar dari ruangan.. Namun sepertinya kau tidak menyadari kedatangan ku saat kau sedang melamun, dan aku tidak ingin mengganggu mu jadi aku hanya berdiri diam di belakang mu.." Jawab Anton santai sambil mengelus rambut Alice lembut.
Alice memeluk pinggang Anton dan menyandarkan kepalanya di perut pria itu. Terima kasih.. Terima kasih karena sudah menemani ku dan menjaga ku selama ini.. Aku tahu kau pasti sudah banyak melakukan banyak hal untuk ku.. Sekali lagi terima kasih." Ucap Alice yang mendonggakkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya.
"Tidak perlu berterima kasih.. Kita keluarga bukan.. Aku suami mu.. Sudah sepantasnya aku melindungi dan menjaga mu." Ucap Anton sambil mencuil hidung mancung Alice.
"I love you my husband.." Ucap Alice tulus.
"I love you more my wife.." Jawab Anton dan menundukkan kepalanya mendekati bibir kecil Alice dan mencium bibir istrinya lembut.
Cup..
"Anton.. Ini kantor.." Ucap Alice segera mendorong dada Anton saat kecupan itu berakhir.
"Hemm sepertinya kita harus segera pulang sayang.. Aku tidak ingin merusak reputasi mu di sini dengan keluar dari ruangan ini dengan pakaian yang terkoyak.." Goda Anton dan ucapan pria itu sukses membuat wajah Alice bersemu memerah.
"Kau menyebalkan.." Ucap Alice dan segera bangkit dari kursinya dan segera meninggalkan Anton yang tersenyum jahil.
Anton yang melihat itu tertawa dan kemudian dengan cepat menyusul istrinya itu dan berjalan perlahan dari belakang Alice.
Bersambung....
__ADS_1