
Keesokan Paginya..
“Pagi Laila..” Ucap Namira saat melihat Alice sedang berada di dapur mempersiapkan sarapannya.
“Pagi Namira.. ini untukmu..” Ucap Alice dan memberikan sepiring pancake kepada Namira.
“Terima kasih, maaf aku tidak membantu mu, aku bangun kesiangan.” Ucap Namira merasa sedikit bersalah.
“Tidak masalah Namira, bukankah kita sekarang tinggal bersama, maka kita bisa saling membantu Namira.” Ucap Alice dan memulai sarapannya bersama Namira.
“Biar aku yang bereskan.” Ucap Namira saat mereka telah menyelesaikan sarapannya dan Namira mencuci piring kotornya.
“Yuk kita berangkat sebelum terlambat.” Ucap Alice dan Namira membawa tas sekolah mereka masing-masing.
Mereka pergi keluar dan mengunci pintu rumah kontrakkan itu, kemudian mereka berjalan menyusuri rumah-rumah lain dan masuk kedalam lift. Keluar dari kawasan rumah susun itu mereka berjalan santai sambil berbincang-bincang menuju sebuah halte bus yang ada di sisi jalan raya itu.
Sebuah bus bernomor 1339 berwarna merah berhenti di depan halte bus.
“Kita naik ini.” Ucap Namira, dan menarik Alice untuk mengantri masuk ke dalam bus itu.
Mereka mulai memasuki bus, mereka medapatkan tempat untuk berdiri dengan cara menerobos masuk ke dalam dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya, bukan hal yang baru jika pagi hari merupakan waktu yang padat untuk menaiki bus, apalagi ini juga merupakan bus kota, yang merupakan salah satu alat transportasi menuju beberapa tempat sekolah bahkan beberapa perkantoran dan pusat perbelanjaan di kota itu.
“Kita berhenti di sini.” Ucap Namira, dan menekan tombol untuk meminta berhenti di sebuah halte bus tepat berada tak jauh dari sekolahnya.
Beberapa penumpang yang megenakan baju serupa dengannya juga mengikutinya turun. Mereka berjalan memasuki gerbang sekolah sambil bercengkrama dengan teman-temannya masing-masing.
Alice dan Namira segera masuk ke dalam kelasnya dan duduk di kursi mereka.
“Pagi cantik.” Sapa Diego menghampiri kursi Alice saat gadis itu baru saja menduduki kursinya.
“Pagi Diego.” Balas Alice bersikap ramah kepada pria manis itu.
“Nanti siang makan bersama yuk.” Tawar pria itu.
“Aku akan makan bersama Namira.” Ucap Alice cepat.
“Ahh begitu, kalau begitu aku nanti ikut bergabung juga, tak masalah kan?” Ucap Diego tidak mau kalah.
“Ahh,, emhh..” Belum selesai Alice menjawab, seseorang menimpali perkataannya.
“Kau mengganggu saja pagi-pagi, sana menyingkir.” Ucap Auristela merasa Diego menghalangi kursinya yang tepat berada di depan Alice.
“Ish kau mengganggu saja Tela..” kesal Diego dan sedikit bergeser namun tetap berada di meja Alice.
“Bagaimana kalau nanti malam aku ajak kau makan atau jalan-jalan di daerah sini? Kau pasti belum pernah berkeliling kota ini bukan. Aku memiliki motor, jadi bisa memudahkan berkeliling kota ini” Diego masih terus berusaha mendekati Alice.
“Maaf Diego, aku ada kegiatan lain.” Tolak Alice.
__ADS_1
“Kalau malam berikutnya?” Diego masih berusaha.
“Aku akan menghubungi mu jika aku membutuhkan bantuanmu Diego.” Ucap Alice lelah terus menolak pria manis ini.
“Nah bagus itu, aku suka itu. Kalau begitu berikan nomer ponsel mu.” Ucap Diego pantang menyerah, Alice yang mendengar itu langsung terdiam karena dia salah ucap.
‘Ohh god apa salah ku, terus di pepet oleh bocah ini.’ Keluh Alice dalam hatinya.
Teng tong teng bel tanda mulai pelajaran pertama telah berbunyi.
“Diego sana duduk di tempat mu. Bell sudah berbunyi.” Ucap Alice mengalihkan perhatian pria itu.
“Kontakmu..” Pria itu masih belum menyerah.
“Baiklah ini.” Ucap Alice menyerah dengan kegigihan pria itu. Alice memperlihatkan barcode di ponselnya untuk di scan penambahan pertemanan dengan Diego.
“Baiklah jangan lupa untuk menghubungi ku.” Ucap Diego bersamaan dengan datangnya guru ke ruang kelas, lelaki manis itu langsung pergi ke tempat duduknya.
***
Alice dan Namira bersiap-siap menggunakan seragam Tosima Toserba di ruang ganti karyawan wanita, hari ini kedua gadis itu melakukan pekerjaan sampingannya. Gadis itu juga memberitahukan bagaimana sistem kerjanya dan pengaturan barang-barang dan sistem pengkodeannya. Namira membantu Alice dan selalu mendampinginya hingga jam kerja mereka berakhir.
“Apakah kau lelah?” Tanya Namira saat kedua gadis itu baru saja selesai mandi sepulang berkerja tadi.
“Tidak terlalu.” Ucap Alice.
Alice hanya tersenyum tanpa membalas ucapan Namira, karena sesungguhnya gadis itu sudah melakukan banyak hal pekerjaan baik yang melelahkan pikiran maupun fisiknya.
“Hoammm.. aku mengantuk, aku tidur dahulu La..” Ucap Namira.
“Oke aku juga akan ke kamarku.” Ucap Alice dan bersamaan pergi dengan Namira masuk ke dalam kamar masing-masing.
Tak terasa seminggu sudah Alice tinggal di kota S, semuanya sepertinya berjalan baik-baik saja. Namun meski begitu, gadis itu tidak pernah mengendurkan kewaspadaannya terhadap sesuatu hal yang bisa saja terjadi. Alice tidak pernah meninggalkan Namira sendirian, bahkan keempat gadis itu tidak pernah muncul atau bahkan mengganggu Namira lagi.
“Jeni.. bisakah kita keluar sepulang sekolah? Aku belum mengganti ponsel mu. Maaf aku terlalu sibuk akhir-akhir ini sehingga hampir melupakannya.” Ucap Alice kepada Jeni yang berada di kursi depan tepat di depan meja guru.
“Emhh ti tidak perlu. aku memiliki yang lainnya” Ucap Jeni terbata-bata.
“Tidak bisa begitu, aku akan menggantinya, dan aku sudah berjanji. Sepulang sekolah kita pergi bersama.” Ucap Alice dan Jeni mengiyakan keinginan gadis itu.
Pukul 08.00AM waktu masuk sekolah sedangkan pukul 04.30PM merupakan jam pulang sekolah mereka. Alice dan Namira bekerja dari Pukul 06.00PM hingga 12.00PM. Hari ini merupakan hari libur mereka berdua sehingga Alice mengajak Namira dan Jeni untuk pergi keluar bersama.
“Kalian mau kemana?” Tanya Auristela saat melihat Alice, Namira dan Jeni yang akan berjalan keluar bersamaan.
“Kami mau ke Mall SS.” Ucap Alice kepada Auristela.
“Aku ikut ya?” Pintanya memelas kepada Alice.
__ADS_1
“Tentu saja. Ayoo.” Ucap Alice kepada Auristela.
“Tunggu kalian mau pergi tapi tidak mengajakku?” Ucap Diego yang mendengarkan percakapan mereka.
“Astaga Diego kau tidak lihat kita semua kan wanita, masa kamu mau ngintilin kita sih, emang kamu gak risih apa?” Kesal Auristela yang melihat Diego inggin mengikuti acara jalan-jalan mereka.
“Aku tidak masalah, malahan berbahaya kalau kalian para wanita saja yang pergi. Kalau ada aku kan, aku bisa melindungi kalian semua.” Ucap Diego dengan percaya diri.
“Bagai mana Laila, aku boleh ikut kan?” Tanya Diego memelas. Alice tahu selama seminggu ini pria itu selalu saja memintanya untuk pergi bersama, namun selalu saja Alice tolak dengan berbagai macam alasan.
“Baiklah ikut saja.” Ucap Alice yang tidak tega jika harus menolaknya, lagi pula ini perjalanan banyak orang.
“Yess, yuk kita pergi.” Ajak Diego. Mereka semua berjalan menyusuri lorong sekolah dan lapangan sekolah kemudian mereka berencana akan menunggu di halte bus.
“Naik taksi saja biar cepat. Tuh ada..” Usul Diego saat mereka sampai di tepi jalan sebelum halte bus, dan Diego menghentikan taksi yang kebetulan akan melewati mereka tanpa adanya penumpang.
“Gak muat Diego.” Kesal Auristela. Saat Mobil taksi mulai memelankan lajunya.
“Kalian naik taksi aja, aku sama Laila naik motor.” Ucap Diego saat taksi benar-benar berhenti.
“Sana cepat kalian naik.” Perintah Diego dan menarik lengan Alice agar gadis itu tidak ikut naik. Namira dan Jeni terpaksa masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.
“Kenapa kau tidak naik motormu saja dan Laila bersama kita naik taksi.” Kesal Auristela karena Diego mencari kesempatan untuk membonceng Laila.
“Sudah sana kau masuk,nanti pak supirnya kesal menunggu lama.” Perintah Diego dan sedikit mendorong Auristela masuk kedalam mobil.
“Dasar menyebalkan.” Keluh Auristela namun tetap duduk manis di dalam mobil.
“Ke Mall SS Pak.” Ucap Diego kepada supir dan menyerahkan uang untuk biaya taksi itu.
Setelah mobil jalan, Diego mengajak Alice menghampiri parkiran motornya yang tidak jauh dari sana.
“Kenapa kau sampai melakukan itu Diego.” Tanya Alice.
“Hanya merasa tidak muat untuk kita semua duduk, lagi pula aku ada motor dan kebetulan aku tidak ingin sendirian. Lagi pula tidak masalahkan kita naik apa ke sana. Yang penting kita bertemu di sana.” Jelas Diego.
“Huftt..” Alice menghembuskan nafasnya kasar, lelah dengan pemikiran pria manis itu.
“Ayo naik.” Ucap Diego saat menaiki motor sportnya.
“Kau benar-benar menyebalkan.” Keluh Alice pelan. Namun Alice tetap menaiki motor itu dengan menginjak footstep dengan kaki kirinya dan memegang bahu pria itu untuk pegangan saat tubuhnya akan menaiki motor tinggi itu.
“Pegangan.” Ucap Diego saat Alice sudah duduk dengan aman. Motor sport yang agak menukik itu mau tidak mau membuat Alice mendekatkan tubuhnya kepada Diego. Untung sebelumnya gadis itu berinisiatif meletakkan tasnya di depan dadanya dan ada tas Diego pula di punggung pria itu, sehingga gadis itu tidak terlalu menempel dengan Diego.
Tanpa mereka ketahui mobil hitam memperhatikan setiap gerak-gerik mereka dari saat mereka keluar gerbang sekolah dan mengikuti mereka berdua dengan tatapan menyelidik.
Bersambung....
__ADS_1