
Alice dan Diego sampai di tempat lebih awal. Sehingga Alice mencoba menghubungi Auristela dan memberitahukan tempat pertemuan mereka di Lobby Oval yang merupakan pintu lobby utama mall tersebut.
“Kenapa kita tidak menunggu di café saja La.” Ucap Diego.
“Tidak perlu, sebentar lagi mereka akan tiba.” Ucap Alice cepat. Bagaimanapun dia seharusnya berada bersama Namira bukan malah bersama pria muda ini.
“Tapi bukannya lebih nyaman menunggu di café saja.” Diego tetap bersikeras.
“Itu mereka.” Ucap Alice dan berjalan cepat menghampiri pintu lobby saat melihat sebuah taksi menurunkan ketiga gadis yang masih mengenakan seragam sekolahnya.
“Langsung ke lantai 3 saja ya, itu sepertinya counter ponsel.” Ucap Alice saat mereka bersamaan berjalan menaiki escalator.
“Yuk aku juga mau lihat-lihat siapa tau ada casing ponsel terbaru.” Ucap Auristela semangat.
“Ponselmu rusak La.” Tanya Diego penasaran saat melihat Alice yang sedang memilih beberapa ponsel di depannya.
“Tidak, ini untuk Jeni. Aku tidak sengaja menghancurkan miliknya.” Jelas Alice.
“Harusnya kau tidak perlu melakukan itu, itu merupakan kesalahan ku juga.” Ucap Jeni, sambil melirik kearah Namira yang berdiri di samping kiri Alice.
“Tak masalah, ini sepertiny beberapa tipe yang sama dengan ponselmu, aku tidak tahu pasti yang mana. Atau mungkin kau ingin menggantinya dengan yang lain, kau ambil saja.” Ucap Alice sambil memberikan beberapa tipe ponsel yang sepertinya mirip dengan yang dia rusakkan.
“Emhh aku ambil yang ini saja. Ini tipe ponselku yang sebelumnya.” Ucap gadis itu.
“Baiklah, Mbak tolong bungkuskan itu.” Ucap Alice kepada pelayan toko itu.
“Kau jadi membeli sesuatu?” Tanya Alice kepada Auristela.
“Lihat gantungan ponsel ini lucu sekali.” Tunjuk Auristela mengenai gantungan ponsel dengan bentuk unik seperti dream catcher turkish evil eyes yang terlihat manik bulat berwarna biru tua dan di padukan dengan warna putih biru muda dan hitam yang menyerupai seperti mata di dalamnya dan di luar lingkaran terdapat tiga juntaian bulu di bagian tegah kiri dan kanan bawah.
Evil eye ini merupakan budaya Turki Manik-manik tersebut adalah nazar boncugu, yang banyak dikenal juga sebagai evil eye atau mata setan. Jimat ini konon dapat menangkal evil eye yang membawa sial. Namanya memang sama-sama evil eye.
Sedangkan Dream catcher adalah bentuk lingkaran dengan jaring-jaring di tengahnya berasal dari Amerika. Menurut suku Indian Amerika, benda ini bisa menangkap mimipi baik dan membuang mimpi buruk. Salah satu suku yang pertama kali di buat oleh suku Ojibwe.
“Hemm itu bagus.” Jawab Alice.
“Bagaimana menurutmu kalau kita beli bersama saja?”Ucap Auristela.
__ADS_1
“Hemm boleh.” Ucap Alice.
“Mbak,, sekalian ya gantungan ini empat, warnanya yang berbeda-beda ya. Aku ingin pink, lalu ini biru untuk Laila, unggu untuk Jeni, dan putih untuk Namira.” Ucap Auristela kepada pelayan toko itu.
“Baik Nona.” Ucap pelayan itu dan mulai mengambil barang itu di tangan Auristela.
“Silahkan ke bagian kasir di sebelah sini Nona.” Ucap pelayan itu dan akan menunjukkan jalannya. Auristela akan mengikuti pelayan toko itu namun di hentikan oleh Alice.
“Aku saja yang bayar, biar sekalian saja. Kalian tunggu di sini saja.” Ucap Alice mengikuti pelayan toko itu dan tanpa di ketahui Alice, Diego juga mengikutinya.
Pelayan toko menscan ponsel dan keempat gantungan kunci itu, “Totalnya 6.900.000.” Ucap petugas kasir itu.
“Ini mbak.” Ucap Diego sambil menyerahkan kartu debitnya. Petugas kasir itu menggambil kartu yang di berikan Diego.
“Pakai kartu ini mbak.” Ucap Alice mengambil kartu milik Diego di tangan kasir sebelum sang kasir menggesekkan kartunya. Dan menyerahkan kartu miliknya.
“Baik, saya pakai kartu yang ini ya. saya proses, mohon di tunggu sebentar.” Ucap sang kasir dan menggesekkan kartu Alice.
“Tidak perlu kau yang bayar, ini barang belanjaan ku.” Ucap Alice. Gadis itu menarik tangan kanan Diego dengan tangan kirinya kemudian membukakan telapak tangan pria itu dan memberikan kartu debit milik Diego tepat di atas telapak tangan pria itu.
“Aku ingin memberikannya untuk mu La.” Ucap Pria itu sambil menggenggam tangan kanan Alice dengan tangan kirinya cepat.
“Ehhem.. kau terlalu lama, jadi aku mencoba menghampiri mu, apakah masih belum selesai?” Tanya Auristela dengan tidak enak hati melihat kejadian itu.
“Ini Nona barangnya dan kartu anda.” Ucap sang kasir sebelum sempat Alice membalas ucapan Auristela. Alice mengambil kartu serta barang belanjaannya.
“Sudah selesai. Yuk kita pergi.” Jawab Alice dan berlalu begitu saja meninggalkan Diego yang tepat membuntutinya.
“Jeni, ini milik mu.” Ucap Alice memberikan Ponsel dan gantungannya untuk Jeni, “Namira dan Auristela ini untuk kalian.” Ucap Alice menyerahkan kepada mereka berdua satu satu gantungan ponsel itu.
“Dan ini milikku.” Ucap Alice memperlihatkan gantungan ponselnya dan memasangnya langsung.
“Bagaimana baguskan?” Tanya Alice kepada ketiganya.
“Hemm bagus. Aku juga akan langsung memakainya.” Ucap Auristela dan segera memasangkannya ke ponselnya.
“Aku juga akan ku pasangkan.” Ucap Jeni dan Namira bersamaan, kemudian mereka berdua bersitatap dan tersenyum setelah mendengar ucapan mereka yang spontan secara bersamaan.
__ADS_1
‘Akhirnya, setidaknya canggung di antara mereka sudah mulai mencair.’ Batin Alice.
“Baiklah yuk kita makan, sudah jam makan malam nih.” Keluh Diego yang sepertinya sedikit tidak senang karena tidak bisa ikut dalam keceriaan para gadis itu.
“Bilang saja kau kesal karena tidak mendapatkan ini.” Ucap Auristela menunjukkan gantungannya kepada Diego.
“Astaga masa aku mau menggunakan itu di ponselku. Tidak terima kasih. Udah yuk cepatan makan.” Keluh Diego lagi.
“Baiklah yuk, food court sepertinya di lantai atas. Yuk ke atas.” Ajak Alice kepada ketiga gadis dan pengawal kecil yang cemburu itu.
Memasuki area food court mereka berjalan menyusuri jalan melihat beberapa meja makan pengunjung lainnya telah penuh. Tempat ini sedikit ramai sehingga mereka memilih sebuah restoran chinese yang sepetinya sepi dan berjalan melewati pintu masuknya.
“Di sana kosong.” Ucap Auristela menunjukan sebuah meja yang kosong dekat dengan jendela.
Saat mereka akan melewati sebuah meja tiba-tiba seorang pelayan dengan membawa hot coffe di atas nampannya, tersandung tepat di depan Diego.
“Ahhh.” Keluh Diego saat cairan panas itu sedikit mengenai tubuhnya.
“Diego.. kau tidak apa-apa?” Tanya Auristela yang langsung menghampiri Diego dan dengan cepat membersihkan jaket pria itu, dan membantu melepaskan jaket almamater sekolah pria itu.
“Diego kau tidak apa-apa?” Tanya Alice, Namira dan Jeni berbarengan. Kedua orang yang sedang duduk di meja tak jauh dari tempat itu langsung berdiri mendengar kejadian itu dan melihat kearah mereka.
“Emhh tidak apa-apa, hanya sedikit terciprat. Untunglah jaketnya tebal aku tidak apa-apa.” Ucap Diego menenangkan para gadis itu.
“Maaf tuan, su sungguh aku tidak sengaja. Tiba-tiba kaki saya tersandung.” Ucap pelayan itu cepat dengan terbata-bata dan dengan takut beserta cemas dengan kecerobohannya itu.
“Iya tak apa. aku baik-baik saja. Silahkan lanjutkan pekerjaan anda.” Ucap Diego menenangkan pelayan itu.
“Terima kasih tuan.” Ucap pelayan itu.
“Aku akan ke toilet sebentar.” Pamit Diego.
“Aku akan membantumu membersihkan itu.” Ucap Auristela dan mengikuti Diego menuju toilet.
“Apakah kalian memiliki obat luka bakar?” Ucap seseorang bertanya kepada pelayan itu. Alice baru menyadari ternyata ada dua orang lain di sana, dan dia terkejut saat melihat salah seorang yang sedang berbicara itu. Seseorang itu juga terkejut dengan kehadiran Alice.
“Ada tuan, saya akan mengambilkannya.” Ucap pelayan itu menyadarkan kedua orang yang sedang terkejut itu. Dan kemudian pelayan itu segera membereskan tumpahan kopi itu dengan lap yang di bawanya dan segera pergi mengambil obat itu.
__ADS_1
Bersambung....