
Di negara X, kota X di dalam Mansion Baskoro.
Alice bersandar di bahu suaminya di sofa yang ada di dalam kamar mereka yang sebelumnya adalah kamar dari orang tua Alice.
Beberapa hari ini Alice sibuk dengan pengambil alihan keseluruhan kepemilikan properti milik keluarga Baskoro. Mengenai penuntutan paman Fiktornya sudah di dengar oleh seluruh warga di negara X.
Calon ibu muda itu sibuk kesana-kemari untuk mengurus banyak hal dan suaminya Anton dengan setia selalu menemaninya dan membantunya memecahkan beberapa masalah jika gadis itu tidak mengerti.
"Sayang.. Besok Paman Fiktor sudah masuk kedalam sel tahanan kota.. Maukah kau menemani ku kesana untuk menjenguknya?" Tanya Alice saat Anton melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.
"Tentu." Jawab Anton cepat dan mengecup puncak kepala istrinya.
Ya.. Sidang hukuman Fiktor sudah di putuskan karena pria itu mau bekerja sama dengan pihak penyidik maupun pihak penuntut sehingga sidang itu berjalan cepat dan lancar.
Beberapa nama yang ikut terlibat juga mau tidak mau langsung terjerat hukum dan masuk sel dengan berbagai variasi hukuman yang mereka terima.
Fiktor mendapatkan hukuman dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit 120 juta untuk kasus penjual belian manusia.
Dan terjerat pidana dalam kategori perantara dalam jual beli Narkotika Golongan 1 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua luluh) tahun dan pidana denda paling sedikut 1 miliar dan paling banyak 10 miliar.
Fiktor mengalami tindak pidana berlapis kerena telah melanggar beberapa pasal selain dua tindakan tersebut dengan maksimal penjara 40 tahun namun dengan usianya yang sekarang tidak muda lagi, hukuman penjara dengan batas waktu tersebut sama saja dengan hukuman mati untuknya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Anton saat melihat Alice melamunkam sesuatu.
"Tidak.. Aku hanya tidak menyangka paman yang biasanya bermain dengan ku dan bercanda tawa bersama bisa berubah menjadi orang yang benar-benar berbeda. Dia sudah terlalu jauh melangkah dan menyia-nyiakan semuanya. Bahkan mau saja menuruti keinginan Belinda yang menyesatkan." Ucap Alice sendu.
"Sudah.. Paman mu sudah melakukan hal yang benar kali ini. Dia ingin menebus semua kesalahannya dengan menyerahkan bukti-bukti dan bahkan mau bekerja sama dalam proses penyidikan agar semua proses ini berjalan cepat dan lancar." Anton mengusap lembut rambut istrinya dan mencium pelipis gadis itu.
"Aku mengerti meski dalam tutur katanya Fiktor tidak pernah mengucapkan kata maaf kepada mu karena tahu mengenai tindakan Belinda yang telah menghilangkan nyawa kakek, kakek Buyut maupun Ayah dan Ibu mu, Aku yakin di dalam hati kecilnya dia merasa bersalah namun tidak bisa menebus semuanya. Maka dari itu dia memilih menyerahkan dirinya terlebih dahulu dan memberikan bukti untuk menangkap Belinda. Kau sudah melakukan semuanya yang kau bisa untuk menangkap mereka semua dan menemani jalannya sidang untuk paman mu. Sekarang kau hanya perlu mendukung tindakan paman mu saja." Ujar Anton lagi.
"Heem.. Terima kasih karena selalu menemani ku dan menjaga ku." Ucap Alice dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Anton.
"Kau lupa.. Kau istriku sekarang tentu saja aku akan menemani dan menjaga mu." Ucap Anton dan mengecup pipi istrinya gemas.
"Emhh tapi bagaimana dengan sidang Belinda?" Tanya Alice lagi.
"Ehemm.. Untuk itu lebih baik kau tidak perlu terlibat." Jawab Anton sedikit enggan.
"Ada apa? Memang bagaimana dengan kelanjutan kasusnya? Aku terlalu sibuk mengikuti sidang Paman Fiktor dan mengurus beberapa perusahaan dan juga mengurus beberapa properti. Aku tidak sempat melihat kelanjutan kasus Belinda." Ucap Alice penasaran.
"Haish.. Untuk kasus Belinda kita sedikit mengalami kendala." Ucap Anton dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Kau bisa bertanya nanti kepada penyidik yang mengurusnya. Aku tidak tahu bagaimana detailnya tapi intinya ini sedikit rumit." Ucap Anton lagi dan enggan untuk menjelaskan.
"Apa yang terjadi?"
"Sudah-sudah ini sudah larut malam dan kau harus istirahat. Kau dan janin yang ada di sini perlu istirahat." Tolak Anton dan memilih mengangkat tubuh Alice dalam gendongannya lalu membawanya menuju kasur mereka.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian.. Istirahatlah.. Ini sudah larut, kau boleh menanyakan apapun besok. Saat ini tidurlah." Ucap Anton dan menyelimuti Alice kemudian mematikan lampu utama kamar dan menyalakan lampu tidur yang berada di samping ranjang.
"Nite My Wife.."
"Nite My Husband.."
***
Sedangkan di kota A negara A.
"Argh.. Kemana wanita itu pergi?" Umpat Juna kesal dengan mengacak-acak rambutnya frustasi dan menghempaskan tangannya kasar ke stir mobil yang dia kendarai.
__ADS_1
Wajahnya tampak kusut dan sedikit pucat. Pria itu lupa untuk sarapan dan kini matahari sedang tinggi-tingginya dan dia tidak menemukan apapun.
Maya tidak ada di apartemennya, bahkan di kostan sebelumnya wanita itu juga tidak ada. Juna berinisiatif mencari jejak Maya melalui kartu identitasnya.
Juna kembali memutar stir mobilnya dan akan meminta tolong kepada Galih untuk mencaritahu keberadaan wanita itu.
Juna segera bergegas mengendarai mobilnya menuju RJP dan berhenti tepat di plataran depan pintu masuk kantor dan segera melesat masuk menuju lift dimana Galih bekerja.
Brak! Pintu ruang kerja Galih di buka dengan keras.
"Wow.. Mengagetkan ku saja." Keluh Galih saat melihat di depannya adalah Juna dengan wajah kusutnya, "Ada apa dengan mu?" Lanjutnya heran.
"Aku butuh bantuan mu.." Ucap Juna dengan wajah memelas, "Cari keberadaannya." Ucap Juna lagi sambil menyodorkan foto Maya.
"Maya? Memang kemana wanita itu?" Tanya Galih heran.
"Jika aku tahu dia dimana untuk apa aku meminta bantuan mu." Ucap Juna kesal.
"Oke oke baiklah.." Ucap Galih dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya Juna sedang tidak bisa di ajak bercanda.
Galih dengan cepat membuka akses data Maya yang sebelumnya merupakan surat lamaran kerja wanita itu. Kemudian mengetikkan sesuatu di layar oencarian menggunakan no identitas wanita itu.
"Ahh dapat.. Tapi ini sedikit aneh.." Ucap Galih lagi dan bingung dengan data yang di temukan.
"Ada apa?" Tanya Juna penasaran.
"Wanita itu memesan 3 tiket penerbangan ke luar kota dengan waktu yang sama namun dengan kota yang berbeda beda sangat jauh.. Dan ketiganya sudah masuk daftar check in. Satu di kota C yang ini merupakan kota tempat kerja dia sebelumnya sesuai dengan lamaram kerjanya. Kemudian kota W dan kota P." Jelas Galih panjang lebar.
"Tak bisakah kau mencari tabu dimana dia tinggal atau hotel mana yang sudah terdaftar check in?" Pinta Juna lagi dengan raut wajah memelas.
"Tidak ada daftar yang lainnya Jun.. Jika adapun aku pasti akan langsung memberitahu mu Bro.. Apakah ada hal serius? Lagipula bukankah dia nanti akan balik kerja lagi. Mungkin dia ingin liburan sementara waktu." Ucap Galih lagi.
"Dia mengajukan surat pengunduran dirinya tadi lagi." Ucap Juna semakin terlihat terpuruk.
"Ya terima kasih." Ucap Juna dan melangkah duduk di sofa.
"Woah.. Kalian berkumpul lagi tanpa ku." Keluh Roy yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja Galih.
"Ohya Gal kau sudah mengirimkan berkasnya ke penyidik untuk kasus Belinda?" Tanya Roy lagi.
"Sudah aku kirimkan dari semalam. Ada apa?" Galih heran.
"Ohh begitu, namun kasus itu sedikit memiliki kendala. Belinda mengaku memiliki oenyakit jiwa sehingga ada kemungkinan dia akan menerima keringanan atau bahkan di lepaskan dari jerat hukum." Jelas Roy lagi.
"Hah apa? Bagaimana bisa dia tiba-tiba mengaku sebagai orang gila agar bisa terlepas dari jarat hukum.. Astaga wanita itu benar-benar licik!" Ucap Galih kesal.
"Nah itulah yang sedang di usahakan oleh para penyidik untuk menolak permohonan pembatalan pidana karena tersangka memiliki kondisi mental yang tidak baik. Haishh ada manusia seperti ini.. Sudah membunuh dan menyakiti banyak orang lalu berpura-pura sakit jiwa. Haishh membuat orang tambah pusing saja." Keluh Roy lagi.
"Tapi bay the way aku melihat mu tampak kusut, apa yang terjadi Jun?" Tanya Roy yang baru menyadari dengan penampilan Juna.
"Dia sedang mencari Maya. Wanita itu tiba-tiba menghilang." Ucap Galih jujur.
"Mengapa kau mencarinya? Kau jatuh hati padanya?" Tanya Roy lagi.
Galih yang mendengar itu hanya memutarkan bola matanya jengah, "Astaga.. Kemana saja kau selama ini, Juna memang tertarik pada wanita itu dan sedang mengejarnya ehh tiba-tiba wanita itu menghilang. Kelabakanlah dia." Jawab Galih lagi dan malah mendapatkan lirikan maut dari Juna.
"Hilang? Memang dia tidak kerja?" Tanya Roy heran.
"Dia mwngundurkan diri tadi pagi. Mungkin karena kesal Juna mengejarnya." Ejek Galih dan mendapatkan lemparan bantal sofa dari Juna.
"Lalu mengapa tidak segera mencarinya?" Tanya Roy lagi.
__ADS_1
"Sudah, namun hasilnya wanita itu terbang ke tiga tempat di waktu yang bersamaan dan tidak diketahui di kota mana dia berada sebenarnya karena tidak ada penggesekan kartu atau penggunaan lainnya dengan udentitas itu di ketiga kota itu maulun di kota lainnya." Jelas Galih lagi.
"Dia benar-benar menghilang? Sepertinya dia bukan wanita biasa." Ujar Roy menganalisa.
"Betul katamu.. Kita masih belum bisa mengetahui siapa dia sebenarnya. Namun untungnya wanita itu bukanlah musuh kita, dia selalu menolong Alice jika gadis itu dalam bahaya. Untuk tujuan lainnya aku tidak mengerti." Ucap Galih lagi.
"..." Juna hanya diam saja.. Pria itu sudah tahu bahwa Maya adalah mata-mata namun mata-mata dari mana pria itu belum mengetahuinya. Yang dia tahu adalah Maya tidak akan menyakiti Alice.
"Kau sangat kusut broo.. Kau sudah makan siang? Bagaimana jika kita makan siang bersama?" Tawar Roy.
"Tidak aku tidak lapar." Tolak Juna.
"Aku yakin dia bahkan tidak sarapan melihat wajah kusutnya itu.. Kita makan bersama.." Ujar Galih dan menarih bahu Juna agar pergi makan siang mengikuti mereka.
"Aku benar tidak lapar." Tolak Juna lagi.
"Jika kau tidak mau makan, jangan harap aku akan membantu mu mencari keberadaan wanita itu." Ancam Galih dan berhasil membuat Juna melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Galih.
"Aku sudah tahu bagaimana perasaan mu, tapi tubuh dan otak mu tetap membutuhkan nutrisi broo.." Ucap Galih lagi.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian ucapkan." Ucap Roy menyela pembicaraan Galih dan Juna.
"Kau tidak akan tahu karena kau hanya anak ayam.." Ucap Juna dan Galih hanya tertawa mendengar sindiran itu.
"Aku penasaran siapa wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta. Wanita itu haruslah sangat kuat dan tangguh." Ujar Juna lagi.
"Dan kurasa wanitanya harus siap mental menghadapi tembok es ini." Ucap Galih lagi menimpali.
"Sudahkah kalian puas mengkritik ku.. Bagaimana jika kalian berdua aku potong gaji saja selama 3bulan." Ancam Roy yang kesal karena kehidupan pribadinya di kritik.
"Hahahah ampun Bos.. Kami mengaku kalah.. Kau adalah orang yang sangat menyenangkan.. hahaha.." Ucap Juna dan malah membuat Juna dan Galih tertawa.
Untuk sejenak Juna bisa melupakan sedikit kegundahan di hatinya berkat kedua sahabatnya itu. Setelah ini dia akan benar-benar mencari dimana keberadaan wanitanya itu.
Bisakah Maya si panggil wanitanya? Mereka bahkan belum berkomitmen untuk bersama lalu. Tapi apapun sebutannya itu Juna tidak perduli. Yang dia tahu Maya adalah miliknya dan akan tetap menjadi miliknya.
***
Sedangkan di Rumah Sakit Jiwa kota X.
"Sialan! Wanita J@l@ng itu berani-beraninya mencoba menjebloskan ku kepenjara! Aku tidak akan membiarkan mu melakukan itu. Aku akan berkelit bahwa aku memiliki gangguan kejiwaan sehingga aki bisa terbebas dari tuduhan-tuduhan itu. Keluarga Stary oasti tidak akan membiarkan ku di penjara." Ucap wanita tua itu dengan penuh emosi.
Saat waktunya makan siang, semua kamar pasien di buka dan membebaskan pasien untuk mengambil makanannnya sendiri di aula ruang makan.
Tempat makan dari stainlestil dengam beberapa ruang untuk menaruh nasi dan lauhan. Banyak orang berjajar mengantri untuk mengambil makan.
Belinda melihat itu dengan mata yang menyipit, "Aku akan membalas mu karena telah memasukkan ku kedalam tempat sialan ini.. Meski kini aku harus berpura-pura seperti ini." Gumam Belinda sambil mengepalkan kedua tangannya erat di samping tubuhnya.
Setelah mendapatkan jatah makanan, Belinda duduk di pojok kursi dan melihat makanannya dengan tidak selera. Biasanya dia makan di restoran bintang5 dengan berbagai menu dan bentuh yang menggugah selera namun kini makanan ini terlihat seperti makanan sisa untuk peliharaannya.
Belinda hanya menatapnya dengan menggertakan giginya kesal. Saat seorang petugas dapur melewatinya Belinda sedikit berbicara diam-diam dengan petugas dapur itu.
"Hubungi nomor disini.. Bilang kunjungi aku.. Nanti kau aka mendapatkan uang saku yang besar dari orang itu." Bisik Belinda pelan.
"Tapi.." Tolak petugas dapur itu enggan.
"Kau bisa membuka kafemu sendiri dengan upah yang di berikan orang itu. Kau hanya perlu menghubungi nomor itu dan suruh dia datang kesini berkunjung untukku. Tidak sulit bukan." Gumam Belinda lagi pelan sambil berpura-pura menyuapkan kerupuk kedalam mulutnya.
"Aku tidak di suruh macam-macamkan nyonya?" Tanya petugas dapur itu lagi meyakinkan permintaan Belinda.
"Tidak.. Hanya perlu menghubungi nomornya dan bilang dimana tempat ini. Ini tidak melanggar hukum, dan kau tidak melakukan apapun." Bujuk Belinda lagi dengan senyuman yang di sembunyikan dari balik kerupuk.
__ADS_1
"Baiklah saya akan menghubungi nomornya." Ucap petugas dapur itu dan mengambil kertas yang dilipat kecil oleh Belinda ke tangan wanita itu.
Bersambung....