
Maya sudah tertidur tidak lama setelah Juna memberitahukannya untuk tidur, dan kemudian gadis itu tertidur sendiri karena dia begitu lelah. Bahkan kepalanya terbentur kaca jendela samping kursinya pun wanita itu tidak terbangun.
Juna memelankan laju mobilnya dan menepikan mobilnya, kemudian membenarkan posisi tidur wanita itu agar sandaran kursinya sedikit di turunkan dan gadis itu tidur dengan menengadah keatas agar dia tidak terantuk kaca jendela mobil lagi.
“Sepertinya kau sangat lelah.” Ucap Juna pelan, wanita itu masih tidak tersadar dan masih tidur dalam posisinya itu.
Setengah jam kemudian mereka tiba di depan hotel Transilvenia saat tengah malam.
“Maya.. bangun sudah sampai.” Ucap Juna, namun sepertinya wanita itu benar-benar lelah dan tidak terbangun dari tidurnya. Juna berinisiatif keluar dari mobilnya dan menuju petugas di depan lobby hotel itu.
“Velvet.. kamar presidential suit 2021..” Ucap Juna memberi tahukan nomor kamarnya. Penjaga itu menggangguk dan menyuruh seseorang untuk mengikuti Juna.
Juna pergi ke arah kursi penumpang, pria itu membuka seat belt dan menganggat wanita itu hingga memasuki lobby utama. Tak berapa lama kepergian mereka, mobil mereka memasuki parkiran hotel.
Juna di ikuti oleh salah seorang petugas hotel lainnya dan membantunya membukakan pintu lift menuju kamar hotel mereka.
“Terima kasih.” Ucap Juna saat pintu kamar hotel sudah di bukakan oleh petugas hotel itu.
“Sama-sama pak. Saya permisi.” Ucap petugas hotel itu meninggalkan Juna dan Maya dari sana.
Juna masuk kedalam ruangan kamar mereka dan menuju depan kamar Maya. Juna membuka pintu kamar maya dengan sebelah tangannya yang menggendong Maya meski agak kesulitan, pria itu berhasil masuk ke dalam kamar gadis itu dan meletakkannya di atas kasur gadis itu.
Kemudian Juna berinisiatif membukakan sepatu high heels Maya dan menyelimuti gadis itu, bahkan sebelum keluar kamar Maya, Juna mengatur cahaya redup untuk Maya tidur dan mengatur suhu pendingin udara kamar itu.
“Huftt.. untunglah wanita di RJP tidak banyak.. jika banyak bisa lelah berhadapan dengan mereka terus.” Keluh Juna pelan dan meninggalkan kamar gadis itu.
__ADS_1
Juna pergi ke pantry dan menuju kulkas di sana. Pria itu mengambil sebotol air mineral dingin dan meminumnya hingga habis. Kemudian pria itu berjalan masuk ke dalam kamarnya.
“Sepertinya aku harus mandi.. gerah sekali..” Ucap Juna dan pergi ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya dari keringat yang lengket di tubuhnya. Meski menaiki lift, tapi membawa beban 40-45kg dari depan lobby hingga lantai 20 menuju ruang kamar mereka tetap saja itu rasanya melelahkan.
Juna masuk ke dalam kamar mandi dan melepaskan seluruh pakaiannya. Entah mengapa dia malah terbayang akan wajah dan bau tubuh wanita itu.
“Astaga… apa yang terjadi padaku.. sepertinya aku terlalu lama bekerja.. setelah ini, aku akan mengambil cuti untuk memusakan mu broo.. sabar broo..” Keluh Juna saat melihat respon tubuhnya sendiri saat membayangkan wajah tidur wanita itu dan bau tubuh wanita itu.
Juna yang tadinya akan mandi air hangat membatalkan niatnya dan malah menyalakan shower dengan air dingin.
“Sial.. tengah malam bengini malah mandi air dingin..” Gerutu Juna lagi kepada dirinya sendiri.
Satu jam sudah berlalu, Juna keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono handukknya dan pergi ke arah kasurnya. Pria itu sungguh sudah lelah dan malas untuk pergi menuju lemari pakaiannya. Pria itu memilih tidur menggenakan kimono handuknya saja dan langsung tertidur pulas dengan posisi tidur tertelungkup di atas kasur dan selimutnya untuk segera memeluk mimpinya.
***
“Paul cari tahu di mana keberadaan Alice sekarang.” Ucap Anton frustasi.
Ternyata gadis itu sepertinya serius dengan ucapannya. Alice tidak muncul lagi di rumah sakit itu bahkan saat Anton masih di rawat di rumah sakit. Kedua orang tua Anton juga sudah tahu alasan gadis itu tidak muncul. Anton menjelaskan bahwa gadis itu mendengarkan pembicaraan mereka dan bahkan setelah mendengarkan hal itu, Lidia dan Bram pun tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya menyesalinya karena gadis itu mendengarkan pembicaraan mereka dari belakang, seharusnya mereka membicarakannya langsung di depan gadis itu dan menjelaskannya atau bahkan menyelesaikannya. Lidia juga sedikit terpukul namun dia tidak dapat berbuat banyak hal, menurutnya ini adalah pilihan terbaik untuk mereka berdua.
“Tuan.. saya sudah menemukan di mana nona Alice berada.” Ucap Paul saat dia mendapatkan lokasi di mana Alice berada dari laptopnya.
“Di mana dia?” Tanya Anton cepat.
“Nona Alice terdaftar dalam penerbangan semalam menuju kota A Tuan.” Ucap Paul.
__ADS_1
“Dan bahkan tadi pagi terlihat di RJP Corp dan kemudian kembali ke kediamannya di ARA Florist.” Lanjut Paul.
“Baiklah kalau begitu. Siapkan kepulangan besok pagi. Siapkan penerbangan pertama.” Perintah Anton.
“Baik Tuan.” Ucap Paul cepat. Namun setelah mengucapkan itu Paul sedikit mengerutkan keningnya.
“Ada apa?” Tanya Anton melihat sepertinya Paul ingin mengatakan sesuatu.
“Nona Alice di temani oleh seorang pria di kediamannya dan laporannya sampai saat ini pria itu belum meninggalkan tempat tinggal Nona Alice Tuan.” Ucap Paul akhirnya.
“Ha? Siapa pria itu?” Tanya Anton cepat dengan kecemburuan yang membara.
“Informasinya rekan kerjanya sekaligus atasannya. Galih Adiwarman. Anak bungsu dari keluarga Adiwarman yang merupakan pengusaha tambang Emas dan berlian.” Ucap Paul dengan datar.
Sedangkan Anton yang mendengarnya sudah terbakar api cemburu yang membara. Namun meski demikian, Anton masih mencoba berfikir jernih. Jika pria itu terbang ke kota A sekarang juga dan langsung pergi ke tempat gadis itu, dia yakin yang ada malah dia dan Alice akan mengalami masalah lain lagi.
Untuk itu pria itu mencoba meredam cemburunya sebisa mungkin dan mencoba menunggu hingga esok hari. Dengan begitu dia berharap emosinya juga sudah reda dan bisa bertemu dengan pujaan hatinya dengan hati dan pikiran yang dingin sehingga bisa menyelesaikan masalah mereka dengan segera.
“Apakah harus berangkat sekarang tuan?” Tawar Paul yang mengerti keinginan Tuannya itu.
“Tidak perlu. Urus kepulangan besok pagi dan ambil penerbangan pertama sesuai ke inginan awal ku.” Ucap Anton menahan emosi dan rasa cemburunya.
“Baik Tuan, sesuai keinginan anda. Ada lagi yang bisa saya bantu Tuan?” Tanya Paul lagi.
“Tidak. Kau bisa pergi dan istirahat Paul, Alex.” Ucap Anton. Paul dan Alex mengganggukkan kepalanya kemudian pamit kepada Anton dan meninggalkan ruangan kamar rawat inap itu.
__ADS_1
“Alice.. aku akan melakukan apapun dan dengan cara apapun untuk membuat mu mau memaafkan aku dan kembali bersama ku lagi.. aku tahu ini terdengar konyol.. Tapi aku tidak bisa hidup tampa mu Al.. ku mohon jangan tinggalkan aku dan tetap di sisi ku.” Ucap Anton monoton kepada layar ponsel yang menyala dengan wajah Alice yang tersenyum cerah di tangannya itu.
Bersambung....